My Secret Love

My Secret Love
Menjodohkan


__ADS_3

Siang itu Aro sudah izin pergi ke kampusnya karena akan mengurusi tentang bazar amal. Nala pun pergi untuk berbelanja dengan  diantar oleh supir pribadi keluarga.  Di rumah Ara di jaga oleh bibi Anjani.


“Ara apa kamu membutuhkan sesuatu?


Biar nenek ambilkan yang kamu butuhkan?”


“Tidak ada, Nek, aku sudah kenyang tadi makan banyak sekali, aku mau rebahan saja sambil nonton televisi.”


“Ya sudah kalau begitu nenek mau ke dapur dulu, nenek sebenarnya mau membuat puding coklat buat kamu.”


“Puding susu coklat?”Wajah Ara tampak sangat bahagia. “Iya, aku mau, Nek. Nenek tau sekali makanan kesukaan aku, tapi maaf aku tidak bisa membantu nenek membuatnya,” ucapnya sedih.


“Kamu istirahat saja biar nenek yang membuatkannya sendiri, kamu duduk manis saja.” Ara mengangguk dan nenek Anjani pergi menuju dapur.


Sekitar setengah jam puding susu coklat buatan nenek Anjani sudah jadi. Nenek Anjani membawakan ke tempat Ara. “Sudah jadi, Nek?”


“Sudah, kamu mau mencobanya? Tapi belum terlalu keras karena tadi Cuma sebentar nenek masukkan kulkas.


“Tidak apa-apa, pasti rasanya tetap enak.”


Saat Ara sedang menikmati puding kesukaannya tiba-tiba pintu rumah Ara diketuk oleh seseorang dari luar. “Siapa yang datang? Ara nenek mau membukakan pintu dulu, kamu habiskan pudingnya.” Ara mengangguk.


“Selamat siang Nenek,” suara riuh terdengar di depan pintu karena ternyata teman-teman Ara datang beramai-ramai ke sana.


“Kalian, mau menjenguk Ara?”


“Iya, tapi kami juga membawa teman-teman cowok lainnya.” Marta menengok ke arah belakang di mana ada para cowok yang tak lain adalah teman-teman Dean.


“Mereka siapa?”


“Nek, mereka itu juga teman kampus kita, kok. Ara juga kenal, apalagi si Dean ini, dia yang kemarin sudah menolong Ara waktu jatuh di kamar mandi,” jelas Marta.


Nenek Anjani memindai satu persatu teman-teman cowok yang datang ke sana. “Ya sudah kalian silakan masuk.”


Mereke berenam masuk ke dalam rumah. Ara yang sedang menikmati pudingnya sontak membulatkan kedua matanya melihat siapa yang datang. “Kalian, kenapa bisa datang ke sini?” Ara menghentikan makannya dan membuka tutup kedua matanya beberapa kali.

__ADS_1


“Hai, Ara! Bagaimana keadaan kamu?” tanya Rio.


“Rio, aku baik – baik saja.” Dan sekarang pandangan Ara tertuju pada pria yang berdiri dengan baju kasual. Kaos berwarna putih dan celana panjang berwarna senada. Penampilan Dean kali ini benar-benar terlihat lebih tampan.


“Kalian duduk dulu, biar nenek akan buatkan minuman dan bawakan camilan untuk kalian.”


“Wah ada puding! Aku mau juga jika dibawakan puding seperti itu, Nek,” celetuk Marta.


“Kamu tau sekali kalau hari ini nenek membuat puding, makannya kamu datang ke sini.”


“Berati kita datang di waktu yang pas ya,” celetuk Sifa. Mereka semua duduk di sana dan saling bercengkrama.


“Ara, apa benar kemarin teman aku yang cool ini yang menggendong kamu dan membawa kamu ke ruang kesehatan? Bahkan dia yang membawa kamu juga ke kelas?” tanya Rio. Ara tampak malu dengan pertanyaan Rio, dia kemudian melihat ke arah Dean. “Lah! Kalian malah saling melihat?”


“Kamu kenapa tidak tanya sendiri sama sahabat kamu itu, Rio?” celetuk Sifa.


“Tanya sama Dean? Males, yang ada aku malah di cuekin dan digantungkan Dia kan memang begitu anaknya, suka membuat penasaran orang.” Rio melirik pada Dean yang malah melihatnya malas.


“Aku malah suka dengan cowok yang membuat orang penasaran.” Marta melirik pada Dean.


“Kamu meragukan kemampuanku, Rio?”


“Apa tidak ada pembicaraan yang lebih baik daripada ini?” celetuk Dean malas.


“Tuh, kan, kalau menyangkut hal begini dia malah mau membahasnya. Eh, tapi kamu masih normal kan Dean?” tanya Rio melihat curiga pada Dean. Dean hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh temannya itu.


“Dia normal, Rio. Dasar kamu bisa-bisanya bicara seperti itu.” Teman Rio satunya memukul kepala Rio pelan.


“Ini, minuman dan puding untuk kalian.” Bibi Anjani datang membawakan mereka makanan dan minuman.


“Wah! Terima kasih ya, Nek,” ucap mereka serentak.


“Oh ya siapa yang kemarin sudah menolong cucu Nenek?” tanya Nenek Anjani.


“Ini, Nek.” Tania dengan cepat menunjuk pada Dean yang terlihat agak kaget.

__ADS_1


“Kalau begitu ini puding spesial buat kamu karena kemarin sudah menolong cucu kesayangan nenek.” Dean diberi puding agak banyak. “Terima kasih ya sudah menolong cucu nenek kemarin.”


Dean menerimanya dengan agak canggung. “Tidak apa-apa, Nek. Waktu itu aku kebetulan melihat Ara terjatuh.”


“Nek, menurut Nenek, Ara cocok tidak kalau berpacaran dengan Dean?” Ini Sifa bicaranya tidak pakai di filter, langsung saja to the poin.


“Sifa! Kamu bicara apa sih?” Ara melotot pada Sifa dan mukanya bersemu malu.


Nenek Anjani agak kaget mendengar pertanyaan Sifa. “Memangnya Ara berpacaran sama Dean?” tanya Nenek Anjani.


“Aku tidak berpacaran sama Dean kok, Nek. Ini Sifa asal saja kalau bicara.” Sekali lagi Ara melotot pada Sifa, Sifa malah cekikikan.


“Seumpama kok, Nek,” jelas Tania.


“Nenek tidak tau, nenek terserah sama Ara saja dan yang terpenting pria itu harus baik dan kedua orang tua Ara menyetujuinya.”


“Aduh, Nek! Jangan dengarkan perkataan Sifa ini, kalian makan saja pudingnya.”  Kali ini Ara tidak berani melihat ke arah Dean.


“Iya, kapan kita makan pudingnya kalau bicara terus,” timpal Marta. Mereka berenam akhirnya makan bersama.


Nala yang sudah selesai berbelanja ingat jika putrinya suka dengan burger, jadi dia berjalan ke luar toko dengan membawa beberapa belanjaannya masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji untuk membelikan Ara burger.


Saat Nala sedang mengantri dia tidak sengaja menjatuhkan beberapa barang belanjaannya dan Nala berjongkok memunguti barang-barangnya. “Biar saja bantu, Bu.” Tiba-tiba ada seorang gadis seusia Ara membantu Nala mengambil barang-barang belanjaannya.


“ Terim kasih, Ya.” Nala melihat tag name yang ada di dada sebelah kiri gadis itu. “Nama kamu Uni?”


“Iya, nama saya Uni. Ini barang-barang milik Ibu.” Uni memberikan barang yang di bawanya pada Nala. “Kalau begitu saya permisi dulu.” Uni berjalan menuju meja yang akan dia bersihkan.


Nala melihatnya dengan tersenyum kemudian dia kembali berdiri mengantri. Saat Nala sudah dilayani dan berbalik akan pergi dari sana tiba-tiba Nala tidak sengaja menabrak Uni yang sedang membawa beberapa piring dan gelas.


Terdengar suara benda jatuh dan pecah. Sontak Uni tampak sangat kaget dan kedua matanya membulat lebar melihat piring dan gelas pecah di lantai.


“Ya ampun! Saya minta maaf, kamu tidak apa-apa, Kan?” tanya Nala kaget.


“Pecah semua,” ucap Uni terdengar sedih dan tubuhnya sampai bergetar.

__ADS_1


“Saya akan mengganti semuanya, kamu tidak perlu takut karena ini semua kesalahan saya."


__ADS_2