
Uni membuatkan jus untuk Rian. Aro hanya berdiri dengan salah satu tangan masuk ke dalam saku celananya.
"Kamu bukannya kekasihnya Uni?" Rendy menyeletuk sambil menunjuk Aro.
Rian langsung melihat ke arah Aro begitupun dengan Uni. Kedua mata Uni tampak membulat lebar.
"Rendy, kamu kan sudah aku beritahu soal tadi. Aro itu bukan kekasih Uni, waktu itu Uni hanya ingin membuat kamu tidak mengejar-ngejarnya terus, lagian kamu dan Uni kan sudah sepakat untuk berteman baik," jelas Via.
"Iya, aku minta maaf."
"Kamu siapanya Uni memangnya?" tanya Rian sambil menyeruput jusnya.
"Aku mantan kekasihnya Uni, dan hanya baru denganku Uni berpacaran. Iya, kan, Uni?" Rendy malah tertawa polos. Uni tidak menanggapi ucapan Rendy.
"Oh ... jadi kamu mantan kekasihnya. Lalu sekarang kamu sama siapa, Uni?"
"Uni tidak punya pacar dan dia tidak mau memikirkan masalah itu dulu karena dia ingin menata hidupnya dulu. Iya, kan, Uni?" Uni mengangguk kepalanya.
"Pemikiran yang bagus, tapi kalau kamu butuh seseorang untuk bersandar akan masalah kamu, aku siap menjadi seseorang itu," terang Rian.
"Kamu sudah selesai, Rian? Kalau sudah ayo kita ke belakang panggung sekarang," ucap Aro tegas.
"Bentar, Aro, jus aku saja belum habis. Kamu tidak mau jus? Biar kamu lebih tenang, jujur saja ini jus buatan Uni sangat enak."
"Tuan Muda Aro, apa mau jus juga?"
"Panggil saja aku Aro. Kita tidak sedang di rumahku." Aro berkata tanpa melihat pada Uni.
"Aku buatkan saja. Kamu pasti capek Uni." Via mengambil posisi Uni.
"Tidak perlu Via, aku tidak suka jus. Rian, kita ke belakang panggung sekarang karena acara akan di mulai." Aro berjalan dengan tegap meninggalkan stand Uni.
"Dia memang begitu ya orangnya? Sombong sekali," ujar Rendy.
"Apa kamu bilang? Dia itu tidak sombong, dia pria sejati dan tidak banyak omong seperti kamu. Jangan bicara aneh-aneh tentang temanku, atau kamu aku buat terusir dari sini."
Rendy seketika terdiam, sedangkan Uni dan Via hanya saling melihat. "Sukurin kamu, Ren," ucap Via pelan.
"Uni, ini uang jusnya." Rian memberikan selembar uang lima puluh ribuan.
__ADS_1
"Tidak perlu membayarnya, Rian. Aku memberikan jus itu untuk kamu."
"Jangan begitu, Uni. Kamu di sini untuk berjualan, jangan memberikan cuma-cuma."
"Sini! Biar aku yang memberikan kembalian." Via langsung mengambil uang dari tangan Rian."
"Ambil saja kembaliannya." Rian berlari pergi dari sana.
Acara akhirnya di mulai. Saat Aro naik ke atas panggung untuk memberi sambutan sebagai ketua panitia acara itu. Via izin untuk melihat Aro di atas panggung karena dia juga ingin mengambil foto Aro.
"Kalau begitu biar aku dan Uni saja yang menjaga stand bazaarnya."
Via tampak senang berada tepat di bawah panggung melihat pria yang sangat dia cintai. Dia tidak henti-hentinya mengabadikan wajah Aro yang sedang memberi sambutan. Aro mengedarkan matanya mencari apa Uni ada di bawah panggung sedang memperhatikannya. Namun, dia hanya melihat Via yang ada di sana.
"Uni ...!" seru seseorang yang tiba-tiba datang di stand Uni.
"Ara!" Uni memeluk Ara. "Lainnya mana?"
"Mereka sedang melihat Aro di panggung." Ara melihat pada Rendy. "Dia siapa, Uni?"
"Ini teman kampusku yang juga ikut membantu di sini."
"Halo, namaku Rendy. Aku sebenarnya mantan kekasih Uni di kampus."
"Hai! Aku Ara dan aku saudara kembarnya Aro. Oh ya! Ini kenalkan temanku, namanya David."
"Halo, semua." David berjabatan dengan Uni dan Rendy.
"Kamu sudah tau siapa Uni, kan? Uni yang aku ceritakan sama kamu."
"Iya, aku tau, Ara." Ternyata tadi saat akan pergi ke kampus Aro. David menghubungi Ara dan ingin mengajaknya pergi, tapi akhirnya Ara yang mengajak Mas David ke acara bazaar Aro.
"Ara, kamu mau jus leci? Aku buatkan sekarang ya?"
"Tentu saja, aku sangat haus. Mas David apa juga mau jus?"
"Boleh, aku jus jeruk saja."
"Uni, aku bantu ya?" Uni mengangguk. Ara melihat aneh pada Uni. Apa Uni benar-benar tidak mencintai saudara kembarnya? Kenapa dia malah membiarkan mantan kekasihnya ada di sini?"
__ADS_1
Tidak lama keluarga Ara yang lainnya datang ke stand Uni dan Uni terlihat sangat senang sekali. "Wah! Laris ya jualan jusnya, Uni?" tanya nenek Anjani.
"Allhamdulillah, Nek. Nenek mau saya buatkan jus juga?" Nenek Anjani menganggukkan kepalanya.
"Uni, dia siapa?" tanya Ibu Nala.
"Ini Rendy teman kampus saya, Ibu Nala. Dia ikut ke sini karena mau membantu juga."
"Apa dia pacar kamu?" celetuk Akira.
"Bukan, Ayah Akira."
"Saya mantan kekasih Uni, bahkan sampai sekarang saya masih menyukai Uni," sekali lagi Rendy bicara dengan asal.
"Oh ... mantan! Jadi kamu masih usaha ini untuk mendekati Uni lagi?"
"Bisa di bilang begitu. Apa Uni boleh jika memiliki pacar?"
"Rendy! Siapa yang ingin pacaran? Aku kan sudah menjelaskan sama kamu kalau aku tidak mau memikirkan hal itu. Aku mau fokus bekerja dan menata hidupku."
"Kamu dengar sendiri apa yang Uni katakan, Anak Muda. Walaupun Uni bekerja di rumahku, aku tidak akan melarang Uni jika ada seseorang yang menyukainya, tapi aku akan memantaunya. Bagaimanapun juga, Uni sudah seperti anakku sendiri," terang Akira.
"Jangan dengarkan Rendy, Ayah Akira. Saya tidak mau memikirkan hal itu karena sekarang kuliah adalah hal yang utama yang aku pikirkan."
"Selamat malam semua," sapa Via. "Uni, ini siapa?"
"Ini keluarga dari Tuan Muda Aro, Via."
"Oh jadi mereka keluarga Aro, di mana kamu bekerja?" Uni menganggukkan kepalanya. "Perkenalkan nama saya Via, saya teman satu kelas sama Aro."
Mereka saling bejabatan tangan dan berkenalan. "Uni, apa ini Via yang kamu ceritakan itu? Sahabat baik kamu yang katanya baik, pintar dan menyukai Aro?"
Seketika wajah Via tampak merona malu. "Unix kamu cerita apa memangnya sama orang tua Aro?" Via berbisik lirih.
"Mengatakan hal yang sebenarnya. Memangnya ada yang salah?"
"Tidak apa-apa, tidak perlu malu. Tante dan Om tidak pernah melarang Aro untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Apalagi jika dia memiliki pacar yang baik dan bisa membawa Aro dalam kebaikan juga, tapi tetap itu semua tergantung Aro."
"Saya dan Aro masih berteman biasa, Tante. Aro orangnya sangat pendiam dan hal itu yang membuat aku menyukainya, walaupun Aro terlihat sangat dingin."
__ADS_1
"Sifat putraku memang begitu, makannya dia susah mendapat kekasih."
"Aro itu tidak akan dengan mudah menyukai seorang gadis kalau bukan dia sendiri yang memilihnya. Jadi, kamu harus benar-benar berusaha, dan jangan kecewa jika Aro tidak memilih kamu." Ara melirik sekilas pada Uni.