
Nala bertanya dengan wajah penasaran, siapa yang menyebarkan gosip yang tidak benar itu?
“Kamu tidak perlu tau akan hal itu, kamu jujur saja sama kita, Nala. Kita tidak akan marah sama kamu, malahan aku akan mengingatkan kamu supaya jangan lanjutan hubungan tidak baik ini untuk menjaga nama baik kamu dan
pak Akira.”
Saat Nala akan mengatakan sesuatu tiba-tiba Pak Akira menghubungi dia di telepon yang ada di pantry dan menyuruh Nala membawakan
coklat hangatnya ke ruangannya. Akira sendiri sebenarnya ingin berbicara sesuatu dengan Nala.
"Maaf, aku mau ke ruangan Pak Akira dulu." Nala membuatkan coklat untuk Pak Akira. Kedua temannya memperhatikan Nala yang sedang membuatkan coklat untuk Pak Akira dengan rasa canggung sekarang.
"Kamu pasti mau mengadu tentang ucapan kami ya, Nala?"
"Tidak akan yang aku adukan, kalian tidak ada yang salah dan aku jamin kalian tidak akan mendapat masalah."
"Nala, aku tau kamu wanita yang baik. Tolong jangan teruskan hubungan kamu dan Pak Akira," nasehat mba Sari.
Nala hanya tersenyum dan dia pergi ke ruangam Akira dengan membawa secangkir coklat. Saat Nala berjalan melewati meja para karyawan utama, Nala dilihati dengan mata yang sangat tidak bersahabat oleh karyawan di sana.
"Kamu mau mengantarkan coklat hangat, atau mau bermesraan dengan Akira di ruangannya? Dasar! OB tidak tau diri!" Hina Silvia.
"Apa maksud kamu? Kenapa kamu mengataiku seperti itu?" Nala menatap kesal pada Silvia.
"Kamu pikir aku tidak tau jika kamu dan Pak Akira ada hubungan gelap. Kamu tidak tau malu, kamu sudah mempunyai suami dan sedang hamil."
"Iya, Nala, kamu kelihatannya saja polos, tapi ternyata kamu wanita murahan," hina salah satu karyawan di sana.
"Aku bukan wanita murahan!"
"Lalu apa? Kamu diam-diam selingkuh dengan bos di sini, padahal kamu tau dia sudah mempunyai istri." Silvia menatap marah pada Nala.
"Kalian salah paham."
Silvia mendekat ke arah Nala dia berbisik pada Nala. "Aku akan menyingkirkan kamu dari sini, Nala. Aku tidak akan membiarkan kamu menghalangi jalanku untuk mendapatkan Akira karena hanya aku yang bisa mendapatkan Akira."
Nala malah tersenyum.pada Silvia. "Kamu kan yang ingin mendekati Pak Akira. Kamu yang wanita murahan Silvia."
__ADS_1
"Apa kamu bilang?" Tangan Silvia sudah mengangkat ke atas.
"Berani kamu memukul istriku, aku akan lupa jika kamu seorang wanita!" suara tegas dan terdengar mengintimidasi terdengar dari belakang Silvia.
"Pak Akira." Semua karyawan di sana melihat ke arah Akira yang berdiri dengan muka dinginnya.
"Pak Akira, kami--."
"Cukup!" Telapak tangan Akira membuka lebar menandakan dia tidak ingin mendengar pembelaan apapun dari mulut karyawannya.
Mba Sari dan teman Nala yang mendengar ada keributan segera keluar ke ruang utama.
"Akira." Nala mendekat ke arah Akira.
"Aku sudah melihat dan menyaksikan bagaimana kalian menghina Nala dengan seenaknya dari CCTV dari ruanganku." Akira melihat ke arah Silvia. "Kamu wanita yang tidak tau diri, Silvia." Rahang Akira mengeras melihat ke arah Silvia.
"A-Akira apa maksud kamu? Aku sangat mencintai dan menyayangi kamu. Aku--." Silvia mencoba menyentuh Akira, tapi dengan cepat Akira menangkis tangan Silvia.
"Akira, jangan berbuat kasar dengan seorang wanita." Nala mencoba menenangkan suaminya.
"Kalian semua dengar, apa yang kalian lontarkan pada Nala itu semua tidak benar. Nala bukan selingkuhanku atau wanita murahan yang sengaja merayuku. Dia adalah istriku, istri sahku, dan bayi yang ada di dalam kandungan Nala adalah anakku. Istri yang aku bilang dan ceritakan selama ini adalah Nala."
"Kamu tidak serius, Kan Akira?" tanya Silvia dengan muka tidak percaya.
"Apa wajahku terlihat berbohong? Dan kalian tau yang sebenarnya wanita murahan dan penggoda adalah Silvia. Silvia, katakan? Siapa yang sudah menyuruh kamu untuk hadir dalam hidupku dan ingin menjebakku?"
"Apa maksud kamu, Akira?"
"Jangan bertele-tele dan sok tidak tau maksudku? Kenapa bisa ada foto kamu denganku saat kita berpelukan di hotel waktu itu? Lalu foto itu di kirim ke pantry seolah tau siapa istriku di sini."
"Aku benar-benar tidak tau."
'Kenapa pria itu tidak bilang padaku jika foto itu dikirim ke pantry dan dia tidak mengatakan jika Nala lah ternyata istri dari Akira. Dia memang brengsek!'
"Jangan bohong, Silvia?" bentak Akira marah.
"Aku tidak bohong, Akira."
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus memakai caraku." Akira mencengkeram dengan erat tangan Silvia dan ingin menyeretnya ke ruangannya.
"Akira, sakit!" rintih Silvia.
"Akira, aku mohon jangan bertindak kasar. Lepaskan saja Silvia, kita tidak perlu mencari tau lagi." Nala mencoba melepaskan tangan Akira.
"Baiklah! Kalau begitu kamu mulai sekarang pergi jauh dari hadapanku, atau aku tidak akan mau bertindak baik lagi sama kamu."
Silvia mengambil tasnya dan segera pergi dari kantor Akira. Semua melihat ke arah Akira dan Nala.
"Semua sudah jelas, sekarang kalian bisa kembali bekerja, jangan ada kata-kata buruk lagi tentang istriku dan kenapa Nala yang istriku malah bekerha sebagai office girl di sini. Ini adalah urusan aku dan Nala."
"Kami minta maaf, Pak Akira."
"Lanjutkan kerja kalian." Akira membawa Nala masuk ke dalam ruangannya.
Akira duduk lesu di atas sofa sambil memijit kepalanya perlahan. "Kamu kenapa? kelihatannya sedang ada masalah selain masalah ini?" Nala duduk di sebelah suaminya sambil mengusap pipi suaminya.
"Maaf karena aku tidak bisa menahan emosi dan akhirnya status kamu terbuka, kita juga tidak mendapatkan informasi siapa yang mengirim Silvia."
"Tidak apa-apa, coba kamu katakan saja apa ada masalah lainnya?" Nala ini seolah tau jika suaminya sedang memikirkan hal lainnya.
"Nala, mommyku sedang sakit dan dia dirawat di rumah sakit."
"Apa? Mommy kamu sakit? Kamu tau kabar itu dari mana?"
"Aku tadi mendapat kabar dari Orlaf, dia menghubungiku dan mengatakan jika mommy masuk rumah sakit. Mommy mungkin memikirkan masalah kita." Akira tampak cemas.
"Ya sudah, kalau begitu kita ke kota untuk melihat keadaan mommy kamu, Sayang. Kamu jangan seperti ini. Aku jadi merasa khawatir sama kamu."
"Mommy tidak pernah sampai masuk rumah sakit seperti ini makannya aku benar-benar khawatir dengan mommyku."
"Aku minta maaf, ini semua karena aku, Akira."
"Bukan salah kamu, ini semua karena daddy tidak bisa menerima kamu, daddy masih sangat menjunjungi tinggi status seseorang."
"Aku juga mau melihat mommy kamu, Akira."
__ADS_1
"Nala, sebaiknya kamu tidak ikut dulu denganku untuk melihat mommy. Aku tidak mau kalau sampai kamu bertemu dengan daddyku yang ada malah membuat kamu sakit." Akira menelungsupkan tangannya pada sela rambut Nala. "Aku harap kamu mengerti maksudku?"
"Iya, aku tau, Sayang. Ya sudah kalau begitu kamu segera berangkat sekarang."