
"Ehem ... hem! Kalian itu pada ngapain ngobrol di anak tangga begitu? Mau meniru di film-film begitu?" celetuk Marta melihat Ara dan Dean yang memang dari tadi ada di anak tangga.
"Marta? Kamu sudah datang?"
"Tentu saja aku sudah datang dari tadi, kamu lupa kalau aku ini mahasiswi yang rajin, jadi kalau ada gosip pagi-pagi aku itu paling cepat tau. Kalian pada bicara apaan sih? Atau kalian diam-diam pacaran ya?" Kedua mata Marta menyipit seolah sedang mencari tau.
"Siapa yang pacaran, kita tadi hanya bertemu dan mengobrol biasa."
"Bohong, jangan bohong sama aku, aku tau kalian pasti sebenarnya sudah jadian, dan mencoba menyembunyikan hal ini sama sahabat kamu."
"Ara tidak berbohong. Ara dan aku tidak ada apa-apa, malahan sahabat kamu ini malah akan dijodohkan dengan David," jelas Dean.
Marta melihat pada Ara dengan mata membulat. "Kamu serius, Ara?"
Gadis bernama Ara itu mengangguk perlahan. "Iya," ucapnya lirih.
"David pria yang kemarin ke sini itu?"
"Iya, dia."
"Kamu tidak mau?"
__ADS_1
"Aku bingung mau menerima atau tidak. Aku hanya katakan sama mamaku kalau aku belum memikirkan hal tentang itu."
"Bodoh sekali kamu! David itu pria yang tampan dan sudah mapan. Kamu itu harusnya menerimanya, apalagi aku lihat dia sangat baik sama kamu."
"Maksud kamu?"
"Ya kamu terima perjodohan itu, apalagi sekarang susah mencari seorang kekasih bahkan pendamping yang setia dan baik buat kita. Apalagi kamu anaknya sangat polos dan lugu. Bisa-bisa ditipu jika ada yang pura-pura mendekati kamu."
Ara hanya terdiam di tempatnya. "Apa yang dikatakan oleh Marta benar, Ara. David orang yang sangat baik dan kalian cocok." Dean malah tersenyum dan berlalu dari sana. Ara melihat terus pada punggung Dean sampai Dean menghilang dari sana.
"Ara! Kamu mikirin apa lagi, Sih? Ayo kita masuk ke dalam kelas." Marta menggandeng Ara.
"Aku hanya masih bingung saja dengan perjodohan itu. Aku sebenarnya sudah menolak, hanya saja aku jadi merasa tidak enak."
"Aku tidak jatuh cinta pada siapapun. Lagian siapa pria yang mendekatiku selama ini. Aku bahkan tidak pernah dekat dengan siapa-siapa, hanya David yang pernah mengajakku makan bersama."
"Siapa tau kamu jatuh cinta sama Dean." Marta terkekeh.
"Dean itu hanya berbuat baik sama aku."
Mereka sudah tiba di kelas, dan saat Ara baru saja duduk, tiba-tiba ponselnya berdering dan dia melihat nama David pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Siapa yang menghubungi kamu pagi-pagi begini?" tanya Tania yang memang sudah ada di sana.
"David."
"Cie ... cie ...! Pagi-pagi sudah di hubungi oleh kekasih hati," ledek Tania dan Sifa.
Ara memutar bola matanya jengah dan dia beranjak dari kursinya memilih agak menjauh dari mereka.
"Halo, David. Ada apa? Eh maaf, Mas David." Ara meralat ucapannya.
"Apa? Kamu memanggilku dengan nama apa tadi, Ara?"
"Mas David. Memangnya kenapa?"
"Oh tidak apa-apa. Aku senang saja kamu memanggil dengan sebutan seperti itu, kedengarannya lebih enak di dengar di telinga."
"Sebenarnya, kemarin mamaku yang menasehatiku agar aku memanggil kamu dengan sebutan Mas karena usia Mas David, kan, lebih di atas aku."
"Ya ... aku jadi terkesan tua lagi kalau begitu."
"Hihihi! Bukan begitu. Itu kan kita menunjukkan kita lebih sopan sama orang yang lebih tua."
__ADS_1
"Tuch, kan! Ujung-ujungnya lebih tuanya di sebutkan."
"