
Akira mendekat ke arah paketan yang di kirima untuk Nala. Akira melihat itu sebuh gaun pengantin yang di olesi darah ayam.
"Tidak mungkin nyonya Kei mengirimkan hal ini pada Nala."
"Bukan mommyku yang mengirim, Bi. Ini ada orang lain yang mengirim paketan misterius ini." Kedua sorot mata Akira menatap tajam pada baju yang di bawahnya.
Tidak lama terdengar lagi suara bel pintu rumah Akira. Dengan cepat Akira berjalan dan membuka pintu, ternyata itu supir pribadi keluarga Akira yang mengantarkan paketan dari mommynya.
"Terima kasih, ucapkan salamku kepada mommyku."
"Baik, Tuan Muda."
Akira menutup pintunya dan memberikan paketan itu kepada Nala. Nala membukanya dan melihat ada banyak sekali baju bayi dan mainan serta ada kalung emas putih bermata berlian yang memang dikhususkan untuk Nala.
"Ya Ampun! Ibu mertua kamu memberikan semua ini untuk kamu, Nala." Kedua mata Bibi Anjani membelalak takjub.
"Iya, Bi. Akira, jujur saja aku masih takut dengan semua ini. Itu tadi siapa yang mengirimnya dan apa maksdunya?"
Nala teringat lagi pada baju yang di lumuri darah itu. "Aku akan mencari tau siapa yang melakukan semua ini dan apa tujuannya. Kenapa dia seolah meneror, Nala." Kedua rahang Akira mengeras.
Malam itu mereka makan malam seperti biasa, tapi dengan hati yang waspada.
Keesokan harinya Nala dan bibinya sudah terbangun untuk menyiapkan makan pagi dan tidak lama terdengar lagi suara bel pintu berbunyi. Sontak Bibi Anjani dan Nala saling melihat. Jujur saja mereka berdua tampak takut.
"Biar aku yang membukakan pintunya," suara Akira terdengar di sana. Dia berjalan tegas dan menuju pintu rumahnya. Saat dibuka tidak ada siapa pun di sana, hanya ada sepucuk surat di letakkan di bawah.
"Siapa, Sayang?" tanya Nala cemas.
"Tidak ada orang, hanya sepucuk surat yang di tinggalkan di bawah."
"Surat? Coba kamu baca, bibi penasaran siapa orang yang mengirim surat itu."
Akira membaca surat itu dan kedua alisnya mengkerut setelah membaca surat itu. Nala yang melihatnya merasa ada hal yang tidak benar.
"Akira, apa yang di tulis oleh si pengirim surat itu?" tanya Nala penasaran.
Akira tanpa menjawab langsung merobek-robek kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Tidak ada hal penting," jawabnya singkat.
Nala mendekat ke arah Akira dan memegang lengan suaminya, wajah Nala menatap nanar pada Akira. "Akira, jangan berbohong padaku? Katakan apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
"Iya, Akira, jangan menyembunyikan sesuatu dari Nala."
Akira melihat ke arah istrinya. "Itu surat ancaman yang di tujukan untuk kamu, Nala."
"Surat ancaman? Memangnya aku salah apa sama dia? Kenapa dia mengancamku?" Nala tampak bingung.
"Jangan memikirkan hal ini, aku akan mencari tau siapa yang melakukan ini sama kamu."
"Apa Anabella yang melakukannya?"
"Anabella sudah tidak akan berani melakukan hal ini, sekali aku tau dia merencanakan hal buruk tentang kamu, akan aku hancurkan impiannya menjadi model. Kariernya tidak akan bisa dia capai."
"Serius? Apa tidak kasihan sama dia?" sindir Nala.
"Aku serius, lagian aku sudah tidak memilik perasaan apa-apa sama dia." Akira memeluk Nala dari depan.
"Lalu siapa yang melakukan ini?"
"Nanti pasti akan aku cari tau. Aku mau menghubungi seseorang." Akira menuju kamarnya dan dia menghubungi seseorang di sana.
"Bi, siapa kira-kira yang menaruh dendam sama aku?"
"Lalu siapa?" Nala melihat ke arah bibinya.
Bibi Anjani pun melihat ke arah Nala. "Apa daddynya Akira? Dia marah dan ingin agar kamu meninggalkan dia."
"Bibi, jangan mencurigai daddynya Akira terus."
"Bukan mencurigai, tapi siapa lagi yang akan melakukan hal ini? Siapa lagi yang tidak suka melihat kehadiran kamu dekat dengan Akira?"
Nala terdiam dan berpikiran sejenak. Perkataan bibinya memang bisa diterima, siapa lagi yang melakukan hal ini yang tidak suka dengan Nala?
Beberapa jam kemudian mereka sarapan pagi bersama dan tidak lama bel pintu berbunyi lagi. Nala langsung saja merasa gugup, dia takut sejak mendapat paketan itu. Takut saat mendengar bel rumahnya berbunyi.
"Biar aku yang membukakan pintunya." Akira beranjak dan membuka pintu rumahnya. Tidak lama ada beberapa orang-orang dengan tubuh besar dan pakaian jas serba hitam berdiri berjejer di dalam rumah.
Nala dan Bibi Anjani tampak bingung dengan semua orang-orang ini. "Sayang, mereka siapa?"
"Mereka adalah bodyguard yang aku tugaskan menjaga kamu di rumah selama aku pergi ke kantor, dan aku nanti akan mengawasi kamu dari kantor karena aku memasang kamera pengawasan yang langsung bisa menyambung dengan macbook yang aku bawa."
__ADS_1
"Apa harus seperti itu?"
"Tentu saja harus seperti itu, dan aku akan mencari siapa yang melakukan ini."
Nala dan Bibi Anjani hanya bisa mengangguk perlahan. Dia menurut saja apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Pagi itu Akira harus ke kantor karena memang dia ada meeting penting dengan rekan kerjanya yang hari ini datang dari LA.
Nala di rumah dengan pengawasan yang ketat. Tidak lama salah satu pengawal Akira mengetuk pintu dan di luar Nala melihat ada mommynya dengan Orlaf datang ke sana.
"Mommy."
"Nala, ini ada apa?" tanya mommy Akira bingung melihat banyak penjaga di rumah Nala.
Nala mengatakan pada para penjaga agar mengizinkan ibu mertuanya masuk, penjaga yang sudah mengkonfirmasikan hal itu pada Akira dan Akira mengatakan agar memperbolehkan mommynya masuk akhirnya dia memperbolehkan Kei masuk ke dalam rumah.
"Nala, sebenarnya ada apa ini? Kenapa banyak sekali penjaga? Apa ada masalah yang serius?"
Bibi Anjani menceritakan tentang hal yang terjadi dengan Nala. Kei sangat terkejut dengan apa yang terjadi dengan Nala.
"Akira sedang mencari tau siapa yang melakukan hal ini pada Nala."
"Memangnya ada yang dendam sama kamu, Nala?"
"Aku merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun, Mom. Hanya Anabella, tapi Akira menyakinkan jika Anabella tidak akan berani melakukan hal ini karena Akira sudah memperingatkannya."
"Lalu siapa?"
"Maaf sebelumnya nyonya Kei. Bukannya saya menuduh, tapi apa daddynya Akira tidak akan melakukan hal seperti ini?" Kei seketika melihat ke arah bibi Anjani.
"Apa benar daddy yang melakukannya, Mom? Kalau daddy, itu berarti daddy sangat jahat. Kenapa dia tega melakukan hal itu?"
"Mommy juga tidak tau, tapi nanti pasti akan bertanya pada daddy kamu."
"Lalu, mommy ke sini apa Tuan Besar Addrian tidak tau?" tanya Nala.
"Dia tau, aku izin sama dia ingin pergi ke sini karena di rumah juga aku bosan, Nala. Apalagi Orlaf juga masih liburan sekolah."
Kakak semua, mau tidak aku bikin season 3 cerita tentang anak kembar Nala dan Akira. Kisah cinta mereka yang penuh lika liku yang manis?
__ADS_1
"