
Kini Husna dan Azzam pun sudah dalam perjalanan pulang ke kediaman.
Mereka saling bercerita satu sama lain. Kecanggungan di antara mereka mulai menghilang. Mereka menjadi akrab satu sama lain. Sungguh, dalam pikiran Husna bahwa dia akan sulit akrab dengan suami nya itu saat sebelum menikah dua hari lalu. Saat dia belum mengetahui siapa pria yang menjadi pasangan nya.
Tapi ternyata semua nya sekarang menjadi mudah. Baru dua hari status nya sebagai istri itu di sandang nya. Namun kini dia merasa nyaman bersama suami nya yang tidak lain adalah dosen di kampus nya. Sungguh, begitu mudah untuk nya merasa nyaman bersama suami nya pada hal selama ini dia selalu menjauh dari orang-orang. Dia selalu menghindari untuk memiliki hubungan dengan orang lain. Tapi semua itu entah kenapa tidak berlaku dengan Azzam suami nya.
Perlakuan lembut yang dia dapat dari Azzam membuat nya begitu mudah terbuai dan percaya akan Azzam bahwa suami nya itu tidak akan mungkin melakui nya. Semoga saja begitu.
Kini Azzam dan Husna sudah tiba di kediaman utama. Azzam dan Husna saling bergandengan tangan satu sama lain. Percaya lah, apa yang terjadi pada nya itu semua terasa seperti dalam novel. Dia merasa di perlakukan layak nya tokoh utama dalam novel buatan nya. Karena suami nya yang memperlakukan nya dengan romantis dan penuh kelembutan.
Husna yang tidak terbiasa dengan di gandeng atau pun di genggam tangan nya. Husna yang risih jika di sentuh apa lagi jika sentuhan dengan lawan jenis. Dia yang sangat canggung jika bersentuhan. Dia yang selalu menjaga diri dari sentuhan. Entah kenapa kini menjadi nyaman dengan sentuhan hang di berikan suami nya itu.
Kissing. Pelukan. Berbagi tempat tidur. Rambut nya di lihat oleh suami nya. Sudah dia lakukan. Padahal semua itu sangat dia hindari namun semua nya menjadi sesuatu yang wajar untuk nya saat ini.
Husna memang sadar bahwa hal itu adalah sesuatu yang wajar di lakukan bersama dengan Azzam karena pria itu adalah suami nya. Pria yang berhak atas diri nya baik luar dan dalam. Pria lembut yang sangat menyayangi adik nya.
"Mas, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?" tanya Husna saat mereka sudah berbaring di tempat tidur.
Azzam pun memandang istri nya itu dan mengangkat alis nya, "Ada apa tanyakan saja. Jangan ragu. Aku akan menjawab apapun pertanyaan yang akan kau ajukan." ujar Azzam.
Husna pun memandang suami nya itu dan mendekat ke arah Azzam. Dia menyembunyikan kepala nya di dada bidang Azzam yang entah kenapa membuat nya merasa nyaman.
"Apa aku boleh tetap bekerja setelah lulus nanti?" tanya Husna hati-hati. Jujur saja hal ini lah yang sangat dia khawatirkan.
Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun tersenyum lalu mengangguk, "Tentu saja boleh sayang. Walaupun mas ini kamu tidak bekerja dan tinggal di rumah saja. Tapi mas tahu apa yang kau inginkan dan itu sudah menjadi cita-cita mu selama ini. Selain itu juga kau memiliki tanggung jawab untuk mengelola perusahaan milik keluargamu. Jadi tentu saja mas akan mengizinkanmu bekerja tapi dengan syarat tidak boleh lelah. Mas tidak ingin kamu kelelahan." ucap Azzam lembut.
"Lalu bagaimana jika aku tidak sempat menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri yaitu merawatmu dan melayanimu dengan baik mas. Apa kau tidak keberatan akan hal itu?" Tanya Husna lagi.
"Ini pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Tapi mas tetap akan mencoba untuk mengutarakan pendapat mas terkait hal ini. Mas akan mencoba memahami dirimu. Mas tidak akan menuntut apapun. Tapi mas percaya bahwa istri mas ini pasti tahu mana yang penting dan tidak." ucap Azzam.
"Ck, itu tidak menjawab pertanyaan ku mas." ucap Husna protes.
Azzam pun sedikit terkekeh mendengar hal itu lalu memeluk istri nya itu erat, "Sudah, jangan pikirkan hal itu. Kita lebih baik istirahat sekarang. Sudah larut. Hanya satu yang perlu kau ingat mas mendukung apapun yang kau lakukan selama ini dalam kebaikan dan dalam batas wajar." ucap Azzam lalu mengecup kening istri nya itu lembut.
Husna pun hanya menarik nafas dalam lalu Mukai menuruti apa yang di ucapkan oleh suami nya itu. Dia segera memejamkan mata nya dalam pelukan suami nya yang entah kenapa membuat nya nyaman dan mudah terlelap begitu saja. Seolah tubuh suami nya itu membawa sebuah kenyamanan sendiri.
Tidak jauh berbeda dengan Husna, Azzam sendiri pun merasa sangat nyaman dan wangi tubuh sang istri membuat nya nyaman dan mudah terlelap. Wangi tubuh istri nya itu menjadi candu untuk nya.
"Aku mencintai mu istri ku." ucap Azzam. Husna yang masih mendengar ungkapan cinta suami nya itu pun tersenyum tipis saja dan tetap memejamkan mata nya.
***
Tiga hari kemudian, kini tidak terasa Husna sudah memulai penelitian nya dan dia pun mulai mengumpulkan data penelitian nya itu. Dia tidak ikut ke kampus bersama suami nya dan memilih pergi ke kediaman nya saja. Kediaman milik nya yang beberapa hari yang lalu dia kunjungi.
Begitu tiba di sana sudah ada Gauri yang menyambut nya, "Kak, apa dia ada di dalam?" tanya Husna.
__ADS_1
Gauri pun mengangguk, "Kami membebaskan nya dan seperti permintaan anda kami membawa nya ke sini bersama ibu nya nona." Jawab Gauri dalam mode sebagai asisten Husna itu.
Husna pun mengangguk mengerti, "Ohiya, bagaimana dengan keluarga Ratna? Apa mereka sudah mendapat hukuman yang setimpal?" tanya Husna sambil berjalan masuk ke kediaman nya itu.
Gauri kembali mengangguk, "Benar nona. Setidak nya mereka akan di hukum beberapa bulan di penjara dan seperti yang di minta oleh nona bahwa mereka tidak akan bisa di bebaskan dengan jaminan. Lalu seperti apa yang nona katakan juga bahwa hanya menuntut mereka dengan hukuman penjara beberapa bulan saja padahal apa yang mereka lakukan sudah kelewatan batas." ucap Gauri.
"Bagaimana pun Ratna adalah teman kelasku kak. Aku tidak bisa berbuat kejam pada teman kelasku. Lalu dengan orang tua nya mereka juga hanya mengikuti dan menuruti keinginan putri mereka. Jadi apa pantas kita menghukum orang tua yang hanya menginginkan kebahagiaan untuk anak nya. Walaupun mereka salah karena tidak berpikir apa yang di lakukan oleh putri mereka itu berbahagia untuk orang lain tapi tetap saja aku tidak tega jika harus menghukum orang tua. Aku jadi teringat abi dan umi. Biarkan saja nanti jika Allah yang menghukum mereka. Setidak nya mereka di buat jera saja." ucap Husna yang masuk ke kediaman nya dengan di sambut oleh pelayan di sana.
"Di mana mereka kak?" Tanya Husna kepada Gauri.
"Mereka ada di ruang keluarga dek." jawab Gauri dalam mode sebagai teman.
Husna pun segera menuju ruang keluarga di kediaman nya itu, "Dita ... Ibu ..." panggil Husna.
Andita yang melihat kedatangan Husna pun segera berlari mendekati Husna dan memeluk nya, "Terima kasih sudah menyelamatkan aku dan ibuku. Aku tahu apa pun yang akan aku lakukan untukmu tidak akan bisa menukar kebaikan mu ini. Aku akan sekali mengingat nya. Terima kasih." ucap Andita dalam pelukan Husna.
Husna pun tersenyum saja sambil mengusap kepala teman nya itu, "Sudah, jangan menangis." ucap Husna yang merasa bahwa Andita itu sedang menangis dalam pelukan nya.
Sungguh, dalam dua hari ini Andita bertanya-tanya siapa yang sudah membantu mereka melaporkan keluarga Ratna. Lalu melindungi mereka di kediaman dengan banyak nya bodyguard. Tapi kini semua terjawab siapa yang melakukannya. Ternyata adalah Husna.
Husna melepas pelukan Andita lalu mengusap air mata di pipi Andita itu lalu mereka duduk.
"Ibu ... Dita ... Maaf jika apa yang aku lakukan ini membuat kalian keberatan. Aku hanya melakukan sesuatu yang menurut ku benar untuk di lakukan." ucap Husna.
Ibu Diyah dan Andita pun menggeleng, "Kamu justru berterima kasih padamu nak karena kau sudah menyelamatkan kami dari sana. Ibu sudah sejak dulu ingin mengundurkan diri dari sana tapi selalu di ancam dengan Andita yang saat itu masih kecil. Lalu setelah besar pun kini Andita yang di ancam demi keselamatan ibu. Kami sudah berusaha untuk melapor tapi kami selalu kalah karena kami tidak punya apapun dan uang bisa membayar kebenaran. Untuk itu lah kami sangat berterima kasih atas pertolongan mu ini nak. Terima kasih sekali lagi." Ucap Ibu Diyah.
Husna pun mengangguk lalu dia segera memandang Gauri. Gauri yang tahu apa arti dari tatapan Husna itu pun seketika mengeluarkan dokumen yang dia bawa dan memperlihatkan berkas itu kepada Sbduta dan ibu Diyah dengan memberi penjelasan yang tidak di mengerti.
"Jika ibu dan Dita merasa ini kurang atau terlalu lama maka katakan saja. Saya akan meminta pengacara untuk melakukan nya." ucap Husna setelah semua nya di jelaskan Gauri.
"Kami rasa itu sudah cukup nak. Mereka memang jahat dan kadang mengancam kami tapi seperti nya itu cukup. Untuk masalah lain nya biarkan saja Allah yang akan menghukum mereka." ucap Ibu Diyah.
Husna pun mengangguk, "Baiklah jika itu keputusan ibu. Ohiya, perkenalkan ini kak Gauri. Dia adalah kakak, teman dan asisten untukku." ucap Husna memperkenalkan Gauri.
Gauri pun hanya tersenyum begitu juga dengan ibu Diyah dan Andita.
"Eehh tunggu dulu. Apa kalian lapar? Kalian mau makan apa? Biar koki yang akan membuat nya." ucap Husna kepada dua tamu nya itu.
"Ahh tidak usah Na. Kami--"
"Kenapa? Apa kau canggung padaku. Aku ini adalah teman mu. Jadi jangan canggung begitu." ucap Husna.
"Bukan begitu nak. Kami senang kau sudah membantu kami. Tapi kami juga tidak ingin berpangku tangan begitu saja. Kami juga ingin melakukan sesuatu untukmu." Ucap ibu Diyah.
"Melakukan sesuatu untukku. Tidak, aku tidak akan melakukan nya. Aku mengerti apa yang ibu maksud. Ini memang kediaman ku tapi aku tidak tinggal di sini. Hanya sesekali saja ke sini. Aku akan membawa kalian ke kediaman utama saja." ucap Husna.
__ADS_1
"Ibu di sana bisa membantu umi merawat taman bunga miliknya lalu Dita aku tidak akan memberikan pekerjaan apapun kepadamu. Kau hanya cepat lulus saja dan jadi lah sekretarisku di perusahaan." sambung Husna.
"Perusahaan? Apa kau--"
"Dia adalah pewaris tunggal sari ASH Industries." ucap Gauri.
Andita dan Ibu Diyah pun terdiam. Mereka tidak menyangka bahwa Husna adalah pemilik perusahaan terkaya di negara ini.
"Itu adalah milik orang tuaku. Bukan milikku. Jadi jangan menatapku seperti itu." ucap Husna tersenyum.
***
Singkat cerita, kini Husna sudah berada di kediaman utama dengan membawa Andita dan Ibu Diyah bersama nya. Andita dan ibu Diyah terkagum-kagum melihat kediaman utama itu yang lebih megah dan besar dari kediaman tadi padahal kediaman tadi juga sudah mewah dan besar.
Mereka langsung di sambut oleh umi Balqis dengan ramah karena memang umi Balqis sudah tahu semua nya. Husna sudah menjelaskan nya.
"Aku tidak menyangka bahwa Husna sekaya ini. Dia yang berpenampilan sangat sederhana dan sering di katai culun tapi lihat lah dia lah yang paling kaya di antara semua orang di kampus." batin Andita.
Husna segera menyerahkan ibu Diyah dan Andita kepada umi nya itu. Husna lebih memilih untuk menuju kamar nya di mana di sana sudah ada sang suami.
"Mas." Panggil Husna.
Azzam pun tersenyum mendapati kedatangan istri nya itu lalu dia segera mendekati Husna dan memeluk nya, "Apa semua nya sudah selesai?" tanya Azzam.
Husna pun mengangguk, "Iya, semua nya sudah selesai." ucap Husna.
Azzam pun tersenyum lalu melabuhkan kecupan di kening istri nya itu dengan lembut.
"Mas, apa berita itu masih beredar di kampus?" tanya Husna.
Azzam tersenyum lalu menggeleng, "Gak ada kok. Semua nya kembali normal." jawab Azzam.
Husna pun hanya mengangguk saja sambil bersyukur karena semua nya sudah kembali membaik.
Husna hanya tidak tahu saja bahwa suami nya yang membuat berita itu lenyap hanya dalam waktu semalam dan dia juga sudah memberikan hukuman kepada orang yang menyebarkan berita itu.
Azzam tidak mungkin tinggal diam untuk masalah yang membawa nama nya dan juga nama istri nya. Apalagi dia tahu bahwa istri nya itu akan memikirkan hal itu. Jadi semua nya harus di selesaikan dan di kembalikan ke tempat nya semula.
****
Kini selepas makan malam, Husna bicara dengan Andita.
"Na, jujur saja aku kaget dengan apa yang aku ketahui ini. Kau sekaya ini." ucap Andita.
Husna pun tersenyum, "Ini milik orang tua ku Dita. Aku hanya menikmati hasil kerja orang tua ku. Jadi untuk apa aku menyombongkan sesuatu yang bukan hasil kerjaku. Aku hanya lah anak tunggal yang berkewajiban mewarisi semua usaha orang tuaku. Dita ... Jangan memperlakukan aku seperti majikanmu. Kita adalah teman." ucap Husna.
__ADS_1
Andita pun tersenyum lalu mereka saling berpelukan satu sama lain. Akhirnya dua orang gadis itu saling mengikrarkan sebuah persahabatan setelah sekian lama.
Husna yang menghindari semua orang yang mendekati nya karena tidak ingin menyakiti siapa pun dan Andita yang ingin menjalin hubungan dengan Husna dengan ketulusan nya. Akhir nya semua nya menemui akhir yang bahagia.