My Secret Love

My Secret Love
Rencana Pergi Dari Rumah


__ADS_3

Ara yang hampir jatuh saat menaiki anak tangga dengan terburu-buru membuat dia hampir saja jatuh, tapi tiba-tiba dari arah belakang, ada yang memeganginya.


"Terima ka--. Kamu? Lepaskan tangan kamu!" Ara melepaskan tubuhnya yang di sanggah oleh Dean.


"Maaf, apa kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Ara!" panggil Dean saat melihat Ara akan pergi dari hadapannya.


Ara berhenti, tapi dia tidak menoleh pada Dean yang ada di belakangnya. "Ada apa? Aku mau pergi dan terima kasih sudah menolongku," ucapnya ketus.


"Aku mencintai kamu."


Deg!


Kedua mata Ara tampak membulat sempurna mendengar apa yang baru saja Dean katakan. Tangan Ara yang memegang tiang anak tangga hampir saja terlepas. Dia mengambil napasnya panjang.


Ara menoleh ke arah Dean. "Apa maksud kamu? Apa ini salah satu cara dari buku yang kamu baca untuk menyatakan cinta pada seorang gadis yang kamu taksir. Kamu mau menjadikan aku alat latihan kamu lagi?"


"Ara, aku kali ini--."


"Cukup ya, Dean!" potong Ara. "Aku tidak akan tertipu atau merasa berbunga-bunga dengan apa yang kamu lakukan. Perbuatan kamu waktu itu sangat buruk sekali, dan jahat."


Ara berjalan pergi dari sana. Dean hanya bisa terdiam di tempatnya. Ara duduk di bangkunya dan lupa dengan tujuannya yang ingin mengembalikan buku ke perpustakaan.


"Dia kenapa sih? dan aku juga kenapa kata-katanya membuatku seolah-olah ingin percaya dan bahagia saat dia mengatakan hal itu?" Ara tampak kesal.


Tidak lama dia melihat Dean berjalan di depan kelasnya. Ara akhirnya ingat dia langsung mengalihkan perhatian mencari bukunya dan segera keluar dari dalam kelasnya.


"Aku tidak boleh tertipu sama dia. Lebih baik aku memikirkan hal lain. Lebih baik aku menerima saja perjodohan dengan Mas David yang sangat baik dan benar-benar tulus mencintaiku itu yang tidak hanya main-main," Ara berdialog sendiri.


Di kelas Ara hari ini tidak ada dosen pengajarnya, hanya ada tugas yang diberikan. "Ara, kamu kenapa?"


"Iya, mukanya ditekuk begitu."


"Menurut kalian, mana yang kalian akan pilih? Pria yang sangat baik yang mencintai kamu, tapi kamu menganggapnya sebagai sahabat dan teman yang baik, atau pria yang ternyata kamu anggap baik, tapi ternyata menyakiti, tapi kamu ternyata memiliki perasaan sama dia," ucapnya seketika lirih.

__ADS_1


Tania dan Marta sama-sama melihat. Ini mereka bingung, kenapa tiba-tiba temannya bertanya hal semacam ini?'


"Memangnya kamu sedang menghadapi hal ini, Ara?" tanya Marta. "Sama siapa?" lanjutnya.


Ara mengerucutkan bibirnya. "Aku sedang bertanya sama kalian. Kenapa malah kalian bertanya balik sama aku?"


"Lah! Kitakan penasaran sama pertanyaan aneh kamu itu. Ini soal asmara loh, dan kamu tidak pernah terlibat masalah asmara begini?"


"Jawab saja, Marta, Tania."


"Iya-iya, kita jawab." Marta melihat pada Tania. "Kamu jawab apa Tania?" tanya Marta pada Tania.


"Aku? Aku bingung, aku kan tidak ingin mengurusi masalah asmara sejak kekasihku itu pergi, aku memutuskan sendiri, kalau perlu seumur hidup. Kamu itu yang selalu terlibat masalah asmara begini, Marta."


"Aku juga bingung kalau harus disuruh memilih orang yang kita cintai, tapi menyakiti, atau orang yang tidak kita cintai, tapi dia mencintai dan sangat baik buat kita. Kembali lagi sama perasaan kita, Ara."


Tangan Tania menepuk pundak Ara. "Kalau jadi kamu, aku mending memilih orang yang mencintai kita walaupun kita tidak memiliki perasaan apapun. Kan pepatah mengatakan, lebih enak dicintai daripada mencintai."


Ara melihat dengan mengerutkan kedua alisnya. "Memang ada pepatah seperti itu?"


"Jadi aku harus menerima Mas David untuk menjadi tunangan aku?"


"Memangnya kamu benaran akan di jodohkan dengan mas David?"


Ara mengangguk. "Sebenarnya kedua orang tuaku tidak memaksaku, tapi ayahku yang kelihatannya menyukai mas David. Bulan depan kedua orang tua mas David akan datang dan mengundang keluargaku untuk makan malam bersama."


"Ya sudah, kamu terima saja mas David. Dia baik, mapan, dan juga tampan." Ara terdiam mendengar celoteh Marta. "Kalau mas David orang yang mencintai kamu, tapi kamu tidak ada perasaan, lalu siapa pria yang kamu sukai, tapi menyakiti kamu?"


Ara kembali terdiam dan bingung, apa dia harus mengatakan tentang Dean? Ara pasti malu sekali jika teman-temannya tau akan hal itu.


"Ada Marta, tapi kamu tidak kenal orangnya." Ara beranjak dan duduk di kursinya.


Marta dan Tania sekali lagi saling lihat. Tania hanya menggerakkan bahunya, walaupun dia sebenarnya sudah tau, dia tidak mau mengatakan pada Marta, biar Ara sendiri nanti yang bercerita.


Waktu berlalu. Uni tampak berpikir sesuatu, dia masih memikirkan tentang ucapan Via tadi di kampus.


"Uni, kamu kenapa? Pulang-pulang kok gitu mukanya? Apa ada masalah di kampus?"

__ADS_1


Suara nenek Anjani berhasil membuat Uni tersadar dari lamunannya.


"Nenek, aku tidak apa-apa?" Uni meringis.


"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa mukanya kayak sedang memikirkan sesuatu begitu?"


"Nek, apa tindakan aku salah jika aku memutuskan untuk tidak tinggal di rumah ini? Aku mau kost sendiri di luar."


"Apa? Maksud kamu, kamu mau kost sendiri dan tidak tinggal di sini?" Uni mengangguk. "Kenapa? Apa kamu tidak kerasan tinggal di sini?"


"Bukan begitu, Nek. Aku ingin mandiri dan tidak menyusahkan keluarga ini terus, aku ingin berusaha untuk hidupku sendiri. Nanti tiap pagi sebelum kuliah aku akan ke sini dan pulang kuliah sampai malam ke sini. Seperti waktu itu."


"Nenek senang jika kamu mau belajar mandiri, tapi apa hal itu malah tidak akan membuat menambah beban kamu, Uni? Tiap bulan kamu akan membayar biaya kost dan belum kuliah kamu."


"Aku yakin aku bisa, Bi. Aku akan mengaturnya, dengan begitu aku akan bertanggung jawab dengan hidupku sendiri."


"Kamu coba bilang saja nanti malam sama Ibu Nala dan Ayah Akira kamu, apa mereka akan menyetujuinya."


"Iya, nanti aku akan coba berbicara dengan mereka saat makan malam."


"Ya sudah kalau begitu, kamu ganti baju dan kita siapkan makan siang untuk semua."


"Nek, ibu Nala di mana?"


"Nala sedang pergi ke rumah Tuan dan Nyonya besar."


Siang itu Uni membantu nenek Anjani yang sendirian di rumahnya. Mereka memasak berdua menyiapkan makan siang yang di sukai oleh Aro dan Ara.


"Siang, Nek."


"Siang cucu nenek. Kamu tampak kelelahan, apa di kampus banyak kegiatan?"


"Tidak ada, hanya urusan tentang bazaar kemarin yang belum selesai." Aro merebahkan tubuhnya di ruang tengah.


"Mau nenek ambilkan air minum?"


"Tidak perlu, Nek. Aku mau mandi dan makan siang langsung karena aku sangat lapar."

__ADS_1


__ADS_2