My Secret Love

My Secret Love
Pengakuan


__ADS_3

Dean menghubungi Ara karena dia merindukan Ara, dia ingin bertemu dengan Ara dan menjelaskan tentang ucapannya waktu itu.


"Aku juga ingin tau tentang hal itu Dean."


"Apa kita bisa bertemu di cafeku saja, Ara?"


"Baiklah, aku akan ke cafe kamu besok malam."


"Baiklah aku akan menunggu kamu, dan aku harap kamu bisa percaya dengan apa yang aku katakan sama kamu, aku juga tidak main-main suka sama kamu, Ara. Aku serius mencintai kamu."


"Kenapa kamu baru mengungkapkan semua ini, di saat aku dan mas David sudah memilih bersama. Kamu tau Dean? Mas David itu sangat baik dan aku tidak akan pernah ingin menyakiti dia."


"Tapi apa kamu tidak mencintaiku? Kita bisa bicara baik-baik dengan David."


"Aku kesal sama diriku sendiri saat ini, Dean.Kenapa aku harus berada di dalam situasi seperti ini?"


"Ara, aku yakin David akan bisa mengerti jika kita saling mencintai."


"Aku tidak mau membicarakan hal ini dulu, Aro. Besok kita akan bertemu." Ara mematikan ponselnya sepihak.


Ara terdiam di tempatnya, dia merasa sangat bersalah dengan hal ini semua.Benar kata Uni, jika Ara tidak seharusnya menyakiti Mas David seperti ini.


Malam itu semua orang sedang tertidur lelap di dalam kamarnya. Hanya Aro yang tidak bisa tidur malam itu karena dia mengingat jika Uni besok pagi akan mulai berkemas dan pindah ke tempat kosnya.


"Kenapa dia keras kepala sekali jika diberitahu? Dia akan tinggal di kost sendirian? Apa dia sudah memikirkan semuanya? Dasar gadis bodoh! Kalau dia memang ingin menghindari aku, jangan seperti itu caranya." Aro kembali bangkit dari tempat tidurnya dan dia ingin pergi ke kamar Uni. Aro seolah tidak peduli dengan apa nanti yang akan di katakan oleh orang-orang rumahnya.


Aro masuk ke dalam kamar Uni tampak mengetuk pintu atau permisi. Aro sangat kaget melihat Uni yang sedang menangis sambil memeluk suit milik Aro yang waktu itu belum dia kembalikan.


"Uni," panggil Aro.


Sontak saja gadis itu sangat terkejut dan langsung menghapus air matanya serta menyembunyikan suit milik Aro di belakang tubuhnya.


"Aro? Maksudku Tuan Muda Aro, ada apa kamu malam-malam masuk ke dalam kamarku?"

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis sambil memeluk suit milikku?" Aro menatap Uni tajam dan berjalan mendekat ke arah Uni.


"A-aku, ta-tadi--?" Uni tampak bingung dan dengan cepat meletakkan suit milik Aro di atas tempat tidurnya.


"Kenapa, Uni?"


"Aku tadi sedang melipat baju-baju yang baru aku cuci dan mau aku setrika." Uni segera mengalihkan pandangannya ke arah baju-baju yang ada di atas ranjang.


"Uni!" Tangan Aro memegang erat lengan tangan Uni dan mencengkeramnya dengan erat. "Kamu mencintaiku, Uni, tapi kamu tidak mau mengakui hal itu. Kenapa? Kenapa kamu membohongi perasaan kamu sendiri?"


"Aro, tanganku sakit." Uni mencoba melepaskan tangannya dan berdiri membelakangi Aro. "Aku tidak mencintai kamu."


Blup!


Seketika Aro memeluk Uni dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada ceruk leher Uni. "Cukup, Uni! Kamu jangan berbohong lagi padaku dan pada diri kamu sendiri. Aku sangat mencintai kamu." Aro mengecupi leher Uni. Uni yang sebenarnya sangat sedih jauh dari Aro tampak diam membiarkan pria itu mengecupi lehernya.


"Aro, Kamu sudah mempunyai kekasih, aku juga memiliki kekasih."


"Apa? Kamu serius?"


"Iya, kamu jujur saja jika kamu juga dan Si bodoh itu tidak pacaran."


"Aku dan Rendy pacaran," ucap Uni lirih.


"Benarkah? Tapi kenapa Rendy waktu itu bilang padaku dia hanya membantu kamu agar aku menghindari kamu dan kamu yang memintanya untuk pura-pura menjadi pacarnya."


"Hah? Rendy menemui kamu dan mengatakan itu semua?" Uni tampak terkejut. "Dia kenapa tidak bisa diajak bekerja sama?" lanjutnya.


"Usaha kamu agar aku dekat dengan Via akan sia-sia Uni. Aku sama sekali tidak mencintai Via, bahkan aku tidak memiliki perasaan apa-apa sama Via. Aku hanya mencintai kamu."


"Tapi Aro--."


Telunjuk Aro di tempelkan pada bibir Uni. "Kamu diam saja. Kamu takut jika Via mengetahui hal ini bukan? Dan kamu takut jika Via akan marah dan tidak mau menganggap kamu sebagai sahabat lagi? Kamu jangan khawatir karena ada aku dan keluargaku."

__ADS_1


"Tidak semudah itu, Aro."


"Kalau Via tidak bisa menerimanya, itu sama saja dia egois, Uni. Dan dia bukan teman yang baik. Teman yang baik itu akan bahagia melihat temannya bahagia. Seperti apa yang kamu lakukan. Kamu berani berkorban untuk dia padahal kamu sendiri merasakan sakit jika melihat aku dan Via. Benarkan ucapku?"


Uni menunduk tidak berani melihat pada Aro. Telunjuk Aro mengangkat dagu Uni agar Uni mau melihatnya.


"Aro, aku hanya ingin membalas budi baik. Via."


"Tapi tidak dengan cara mengorbankan cinta kamu untuk dia. Kamu jangan egois, Uni. Kamu hanya memikirkan perasaan Via, tapi tidak dengan perasaanku."


"Kamu akan bahagia jika memiliki kekasih seperti Via, dia cantik, baik, dan dari keluarga mampu."


"Kamu pikir aku akan cukup jatuh cinta pada Via hanya karena hal itu? Baiklah, kamu bertahan saja dengan sikap keras kepala kamu itu dan aku akan berpura-pura mencintai Via agar kamu bahagia dan Via juga menjadi orang bodoh dengan sikap pura-pura yang aku lakukan. Kamu puas?" Aro melepaskan tangannya yang memeluk Uni.


Aro berjalan menuju pintu kamar Uni, tapi dengan cepat Uni mengejar dan memeluk Aro dari belakang. Tampak wajah Aro terdiam berdiri membiarkan Uni memeluknya.


"Aku minta maaf, aku salah sudah sangat egois tidak memikirkan perasaan kamu, Aro. Aku memang sangat jahat sama kamu," ucap Uni.


"Memang kamu sangat jahat sekali, ingin aku membenci kamu, tapi kenapa sulit sekali."


"Aku takut untuk mencintai kamu, Aro. Aku takut kalau aku tidak pantas buat kamu. Kamu tau siapa aku dan siapa kamu." Uni terisak pada punggung Aro. Pelukan Uni juga semakin erat.


"Apa kamu mencintaiku?"


Uni mengangguk beberapa kali. Aro tampak tersenyum mengetahui hal itu.


"Mamaku sudah tau jika aku dan kamu memiliki hubungan."


"Hah? Apa?" Uni tampak kaget dan melepaskan pelukannya pada Aro.


Aro menoleh ke arah Uni dan menarik pinggang Uni mendekat ke arahnya.


"Kamu tidak perlu takut, Uni. Mamaku sudah menyetujui jika aku dan kamu memiliki hubungan dengan kamu. Malah hal itu mengingatkan mamaku dengan masa lalunya."

__ADS_1


__ADS_2