My Secret Love

My Secret Love
81


__ADS_3

Kini selepas melakukan sholat berjamaah dengan sang suami, Husna segera keluar dari kamar nya dan turun menuju lantai bawah.


“Umi, di mana Zahra dan Andita?” tanya Husna kepada umi nya yang kebetulan lewat menuju dapur dengan membawa gelas di tangan nya.


“Mungkin mereka di kamar mereka nak.” jawab umi Balqis.


Husna pun mengangguk dan segera menuju kamar adik ipar nya terlebih dahulu. Husna pun segera mengetuk pintu tapi tak ada jawaban dari dalam. Husna pun akhir nya memberanikan diri membuka pintu kamar adik ipar nya itu yang ternyata memang tidak di kunci. Husna masuk dan begitu di dalam kamar adik ipar nya dia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Husna pun bisa menduga bahwa adik ipar nya itu baru bangun dari tidur siang di lihat dari ranjang yang tidak teratur rapi lalu kini sedang mandi untuk membersihkan diri.


Husna pun keluar dari kamar adik ipar nya itu dan lebih memilih menunggu di luar saja atau mungkin bicara dengan Andita dulu.


Begitu Husna keluar dari kamar Zahra bertepatan juga dengan Andita yang baru keluar dari kamar nya. Memang kamar Zahra dan Andita berdekatan. Husna dan Andita pun beradu pandang lalu kedua nya pun saling tersenyum satu sama lain.


“Aku mau bicara denganmu Dita.” Ujar Husna mendekati Andita.


“Mau bicarakan apa?” tanya Andita.


“Kita bicara di halaman belakang saja sambil melihat pemandangan yang ada di sana. Aku mau membicarakan banyak denganmu.” Ucap Husna.


Andita yang mendengar ucapan Husna pun hanya bisa mengangguk dan menurut saja. Lalu kedua wanita itu pun segera berjalan beriringan menuju halaman belakang. Mereka segera duduk di bangku yang ada di sana sambil melihat taman bunga dan juga kolam di sana. Husna juga tidak lupa meminta kepada pelayan untuk mengantarkan minuman dan camilan untuk mereka sebagai teman cerita.


“Dita, apa kau memiliki masalah?” tanya Husna begitu mereka duduk.


Andita yang mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Husna pun sedikit mengangkat alis nya pertanda bahwa dia bingung, “A-aku gak punya masalah apapun Na. Sejak kau menolongku dan menolong ibuku, aku tidak punya masalah lagi.” Ujar Andita.


Husna yang mendengar jawaban Andita pun tersenyum, “Bukan itu yang ku maksud. Pertanyaanku itu tidak menanyakan keadaan fisikmu. Tapi batinmu yang mungkin saja memiliki masalah yang kau sembunyikan dariku.” Ucap Husna.


“Apa kamu memiliki masalah dengan Gilang?” sambung Husna bertanya.


Andita yang mendengar itu pun terdiam. Tidak tau harus menjawab apa. Dia tidak menyangka bahwa Husna akan menanyakan pertanyaan seperti ini. Pertanyaan yang juga tak bisa dia jawab sebenar nya.


“Pertanyaan macam apa itu Na? Kenapa aku bisa memiliki masalah dengan ketua tingkat coba.” Ucap Andita di sertai dengan kekehan untuk menutupi rasa sendu nya karena memikirkan hal itu.


Husna yang mendengar ucapan Andita pun hanya diam dan lebih memilih menatap Andita dengan lekat lalu dia menarik nafas panjang, “Siapa yang ingin kau bohongi dengan tawa palsumu itu Dita? Apa aku?” tanya Husna.


“Kenapa harus melakukan itu padaku? Jangan menyembunyikan apapun dariku. Aku tahu kau memiliki masalah dengan Gilang. Ada apa? Apa kedekatan kalian itu menimbulkan sesuatu yang tidak membuatmu senang? Atau ini ada hubungan nya denganku lagi?” sambung Husna dengan banyak pertanyaan yang dia ajukan.


Andita yang mendengar Husna mengajukan banyak pertanyaan untuk nya itu pun tersenyum karena tidak menyangka akan ada saat nya dia mendengar Husna tidak sabaran begitu dengan mengajukan pertanyaan begitu banyak nya kepada lawan bicara sehingga membuat nya bingung mau menjawab pertanyaan mana lebih dulu, “Na, pertanyaanmu sangat banyak. Aku tidak tahu harus menjawab yang mana.” Ucap Andita.

__ADS_1


“Jawab saja yang kau ingat. Aku sebenar nya tidak butuh jawaban juga tapi sebuah cerita yang ku inginkan.” Timpal Husna.


Andita yang mendengar itu pun kembali tersenyum, “Ahh, baiklah. Aku lupa bahwa kau itu adalah pakar ekspresi yang mungkin memiliki indra ke enam sehingga bisa dengan mudah membaca perasaan orang lain. Tapi aku mau menjelaskan apa untukmu. Aku sendiri saja tidak tahu jawaban untuk pertanyaanmu itu. Aku juga menanyakan nya pada diriku sendiri. Aku bingung.” Jawab Andita.


Husna yang mendengar itu pun terdiam, “Hum, sekali lagi aku tanya apa kau memiliki perasaan kepada ketua tingkat kita itu?” tanya Husna hati-hati.


Andita pun tersenyum mendengar nya lalu dengan perlahan mengangguk, “Hum, begitu lah. Aku memiliki perasaan pada nya. Tapi aku tentu saja tidak akan memaksakan perasaanku ini.” ujar Andita.


Husna pun mengangguk setuju dengan apa yang di katakan oleh Andita. Dia saja tidak bisa memaksa hati nya untuk mencintai Gilang dan menerima perasaan laki-laki itu untuk nya. Jadi mana mungkin dia tidak mengerti seperti apa perasaan kita saat kita di paksa untuk menyukai sesuatu yang tidak kita sukai maupun kita inginkan.


“Lalu apa masalah nya sekarang?” tanya Husna.


“Apa ada hubungan nya denganku?” lanjut Husna.


“Sebenar nya tidak ada masalah apapun terkait hal ini. Kami tidak memiliki masalah apapun. Ini juga tidak ada hubungan nya denganmu. Aku memang sudah tahu dari dulu bahwa dia memiliki perasaan padamu dan aku sendiri yang tetap memilih menjatuhkan hatiku pada nya. Jadi ini sama sekali tidak ada hubungan nya denganmu.” Ujar Andita.


“Lalu kenapa kau seperti sedang menahan kesedihan sendiri. Kau seperti bukan dirimu. Kau itu orang yang rame tapi sejak tadi sepulang dari restoran ahh bukan semenjak di restoran aku perhatikan bahwa kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu.” ucap Husna.


“Itu hanya ada sedikit masalah saja. Sedikit. Tidak perlu di khawatirkan. Kamu lebih baik pikirkan pesta ulang tahun dan pesta pernikahanmu besok. Percaya lah aku baik-baik saja. Aku bisa mengendalikan semua masalahku sendiri. Terima kasih kau sudah memperhatikan aku.” Ucap Andita.


“Aku tidak mau kau menyembunyikan masalahmu sendiri. Kali ini aku izinkan kau menyelesaikan masalahmu itu sendiri. Tapi jika beban nya sudah tak mampu kau tahan maka datang saja padaku untuk berbagi beban. Aku janji akan membantumu nanti. Jangan sungkan walaupun aku sudah memiliki keluargaku sendiri. Kita tetap teman.” Ucap Husna lembut.


Andita dan Husna adalah dua orang teman ahh bukan hubungan mereka sudah bisa di katakan sahabat. Mereka adalah orang yang saling bertolak belakang seperti nya. Memiliki kepribadian yang berbeda tapi bisa akrab karena saling memahami satu sama lain.


***


Setelah makan malam, Husna sebelum kembali ke kamar nya bersama sang suami. Dia sudah meminta izin untuk bicara dengan Zahra. Dan di sinilah dia dan Zahra berada. Di lantai paling atas kediaman orang tua nya itu. Lebih tepat nya berada di balkon lantai atas. Sebenar nya mereka ingin bicara di rooftop kediaman itu tapi Azzam tidak mengizinkan karena tidak ingin dua wanita yang dia sayangi itu masuk angin. Akhirnya mereka pun memilih bicara di balkon lantai atas saja berdua.


“Kakak ipar mau bicara apa?” tanya Zahra penasaran.


Husna yang mendengar pertanyaan adik ipar nya itu pun tersenyum dan memilih duduk lebih dulu di kursi yang ada di balkon itu.


Zahra yang tidak mendapat jawaban pun akhirnya ikut duduk di kursi lain nya yang ada di sana.


Setelah itu kedua nya menatap langit malam yang cerah. Bulan dan bintang bersinar dengan indah nya hingga membuat pemandangan malam itu terasa menghangatkan dan penuh kebahagiaan.


Cukup lama kedua nya memandangi langit malam itu hingga akhir nya Husna pun berdehem karena dia ingin segera tahu masalah yang di hadapi oleh adik ipar nya itu. Lalu di sisi lain juga dia tahu saat ini suami nya itu sedang menunggu nya karena memang kedua nya sudah memiliki janji.

__ADS_1


“Dek, bagaimana hubunganmu dengan Gentala? Kakak lihat kamu dan Gentala dekat akhir-akhir ini?” ucap Husna.


Zahra yang memandangi bulan yang bersinar terang itu pun begitu mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh kakak ipar nya segera mengalihkan pandangan menatap kakak ipar nya itu, “Hm, kami hanya berteman saja kok kakak ipar. Kami juga dekat karena memang harus bekerja sama mengawasi persiapan pesta pernikahan kakak dan abang.” Ucap Zahra lembut.


Husna yang mendengar itu pun tersenyum, “Kamu tidak perlu menyembunyikan apapun dari kakak, Zahra. Anggap saja kakak ini ibumu atau mungkin sahabat atau terserah siapa yang bisa kau anggap nyaman untuk kau berbagi cerita.” Ucap Husna juga tidak kalah lembut.


Zahra yang mendengar ucapan Husna pun tersenyum lalu dia segera mendekati Husna dan berlutut di hadapan kakak ipar nya itu. Dia meletakkan kepala nya di paha sang kakak ipar. Mereka memang hanya terpaut usia satu tahun beberapa bulan saja tapi Zahra masih terlihat kekanakkan dengan sifat manja nya itu. Sementara Husna dia sudah lebih dewasa pemikiran nya karena memang apa yang dia pelajari sebagai pewaris tunggal yang di tuntut bisa mengambil keputusan untuk kepentingan orang banyak yang mengantungkan hidup nya di ASH industries.


Zahra memang kadang bersikap manja dan tidak canggung dengan Husna. Dia menganggap Husna sebagai ibu, sahabat, atau pun saudara. Tapi terkadang juga dia menghilangkan sifat manja nya itu di saat-saat tertentu yang menurut nya tidak perlu membebani kakak ipar nya itu. Apalagi kakak ipar nya itu besok masih akan melakukan resepsi pernikahan bersama abang nya. Jadi dia menunda hal yang ingin dia bagi dengan kakak ipar nya itu. Tapi tidak tahu kini kakak ipar nya sendiri yang menanyakan nya hingga membuat nya senang. Seolah-olah kakak ipar nya itu bisa merasakan bahwa dia butuh teman bicara.


Husna yang melihat apa yang di lakukan oleh adik ipar nya itu pun tersenyum lalu memilih mengelus kepala sang adik ipar, “Ada apa? Cerita saja.” ucap Husna lembut.


“Aku memiliki perasaan pada kak Gen. aku yakin tanpa aku katakan pun kau dan abang pasti sudah tahu. Yah, memang itu lah kebenaran nya. Aku menyukai kak Gen sejak semester dua aku kuliah. Perasaan itu aku pendam sendiri. Dan beberapa hari ini kami terlihat dekat hingga membuat perasaanku itu membuncah ke permukaan. Tapi tentu saja aku masih memiliki harga diri sebagai wanita yang tidak akan mengungkapkan perasaanku lebih dulu.” Ujar Zahra.


Husna yang mendengar itu pun tersenyum lalu dia mengangkat kepala Zahra dari pangkuan nya itu dan membuat Zahra menatap nya, “Sedalam apa perasaanmu itu dek?” tanya Husna.


Zahra tersenyum lalu kemudian menggeleng, “Aku tidak tau kak. Aku tidak bisa memastikan nya sendiri. Tapi aku jamin perasaanku itu sangat tulus. Aku menyayangi nya.” ucap Zahra.


Husna yang mendengar itu pun mengangguk mengerti, “Lalu bagaimana menurutmu perasaan Gentala padamu setelah kalian beberapa hari ini dekat?” tanya Husna.


Zahra pun terdiam sambil berpikir, “Aku kurang tahu kak. Tapi seperti nya dia juga memiliki perasaan yang sama untukku. Ini bukan karena aku yang kegeeran atau kepedean ya. Namun ini adalah pendapatku.” Ucap Zahra.


Husna pun tersenyum mendengar nya. Harus dia akui bahwa adik ipar nya itu memiliki penilaian yang lumayan tajam, “Menurut kakak juga Gentala memang memiliki perasaan padamu.” Ucap Husna.


Zahra pun hanya mengangguk saja, “Kakak ipar, apa aku salah memendam perasaan pada nya selama ini?” tanya Zahra ingin tahu pendapat kakak ipar nya itu terkait cinta dalam diam.


Husna yang mendengar pertanyaan Zahra itu pun tertawa, “Kenapa kakak ipar tertawa? Apa pertanyaanku itu aneh?” tanya Zahra bingung.


Husna menggeleng, “Bukan seperti itu dek. Kakak hanya teringat apa yang terjadi pada kakak saja. Kau perlu tahu. Kakak juga memendam perasaan kepada abangmu itu. Kau tahu bukan bahwa abangmu itu bukan satu-satu nya pria yang datang melamar kakak tapi kakak selalu menolak lamaran yang datang. Kau tahu apa alasan nya?” ucap Husna masih dengan senyum di bibir nya.


Zahra menggeleng, “Itu karena kakak juga memendam perasaan pada seseorang. Kakak menunggu nya datang walaupun dengan peluang harapan yang sedikit karena dalam ingatan kakak dia sudah pergi.” ujar Husna.


“Maksud nya?” tanya Zahra tidak mengerti.


“Kakak mencintai abangmu dek, dalam diam ahh bukan hanya dalam kenangan lewat sebuah foto. Kau tahu kan bahwa kakak dan abangmu itu adalah teman masa kecil. Yah, foto kakakmu itu yang membuat kakak menolak lamaran yang datang dan berharap bahwa orang dalam foto itu datang. Ternyata beneran datang. Takdir saja yang membuat nya sedikit drama.” Ucap Husna tertawa mengingat perjalanan kisah cinta nya dengan sang suami.


Zahra yang sudah mengerti pun tersenyum, “Apa takdirku bisa berakhir seperti itu juga kak?” tanya Zahra memandangi langit malam.

__ADS_1


Husna pun ikut melihat langit malam yang di pandangi oleh adik ipar nya itu, “Tentu saja bisa. Jodoh memang sudah di tentukan tapi jalan menuju ke sana kita sendiri yang tentukan bukan. Jika kau ingin meraih bulan maka kau harus bisa melewati bintang yang bertebaran di jalanmu.” Ucap Husna.


Zahra pun tersenyum lalu memandangi kakak ipar nya itu, “Akan kah aku bisa jadi pemenang nya?”


__ADS_2