
“Mas tahu itu sayang. Kamu mau bulan madu kemana?” tanya Azzam.
Azzam menanyakan itu dengan menoleh sekilas pada istri nya itu, “Hum, bisa gak kita bulan madu nya setelah aku selesai sidang saja. Jadi saat menunggu jadwal wisuda, kita pergi berbulan madu. Kita pergi melihat Haqia Shopia.” Ucap Husna.
Azzam pun mengangguk, “Baiklah. Kita sepakati begitu dulu. Berarti kamu harus segera menyelesaikan ujian hasil sama ujian sidangmu itu agar kita bisa segera pergi berbulan madu.” Ucap Azzam.
“Hum, untuk itu aku akan segera mendaftarkan hasil penelitianku. Ohiya, tapi sebelum nya istrimu ini butuh tanda tangan darimu, mas.” Ucap Husna manja.
“Tentu. Itu bisa di bicarakan. Mas akan kembali memeriksa penelitianmu itu. Jika tidak ada masalah ya sudah akan mas tanda tangani.” Ucap Azzam.
“Terima kasih ya mas.” Ucap Husna.
“Tidak perlu berterima kasih. Bukan kah mas ini adalah suami sekaligus dosenmu.” Ucap Azzam.
“Yah … salah satu judul novelku menjadi kenyataan. Semoga saja aku juga akan memiliki anak kembar seperti di novel itu ya mas. Aku suka anak kembar.” Ucap Husna.
“Aamiin. Tapi emang kamu sudah siap memiliki anak?” tanya Azzam.
Husna mengangguk, “Hum, aku tidak ingin menunda. Sedikasi nya Allah saja. Jika sudah di beri maka aku pun tidak akan menolak nya. Jika belum pun kita akan menikmati waktu kita bersama sebagai pasangan suami istri.” Balas Husna.
Azzam pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu sambil di dalam hati nya dia mendoakan agar keinginan istri nya itu terkabul. Dia tahu istri nya itu pasti akan bertanggung jawab atas keinginan nya. Lagi pula ada diri nya juga yang pasti nya akan ikut membantu merawat anak mereka kelak. Dia pasti tidak akan membiarkan istri nya itu kelelahan sendiri mengurus anak mereka.
Azzam dan Halwa kembali ke hotel dan mereka beristirahat di sana.
***
Husna pun bangun dari tidur nya itu dan meraba-raba orang di samping nya tapi gak ada. Husna membuka mata nya perlahan dan melihat sekeliling dan mengamati apa yang dia lihat itu.
Husna menggelengkan kepala nya seolah memastikan apa yang dia lihat itu tidak salah.
__ADS_1
Senja dan Laut.
Dua hal itu kini ada di hadapan nya yang bisa dia lihat dari jendela kamar itu. Dia melihat nya dengan jelas bahkan dia juga bisa mendengar suara ombak.
“Kenapa aku bisa ada di sini? Bukan kah tadi aku dan mas Azzam sedang istirahat di hotel tapi kenapa sekarang bisa ada di pantai? Apa aku berteleportasi ke sini seperti yang ada dalam drama?” ucap Husna masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.
“Apa aku sedang bermimpi?”
“Kamu tidak sedang bermimpi sayang. Kita memang sedang ada di pantai saat ini. Apa yang kamu lihat itu nyata.” Jawab Azzam yang tiba-tiba masuk ke kamar itu dan berdiri menatap istri nya yang terlihat kaget.
“Bagaimana bisa kita ada di sini, mas? Bukan kah tadi kita ada di hotel? Sebelum tidur lalu kenapa ketika aku bangun sudah ada di sini?” bingung Husna.
Azzam pun terkekeh melihat ekpresi polos yang di tunjukkan oleh istri nya itu, “Mas yang membawamu ke sini. Jadi tentu saja kita bisa ada di sini. Jangan berpikir kita berpindah tempat seperti yang ada dalam drama Fantasi.” Ucap Azzam.
“Bagaimana bisa? Kenapa aku tidak terbangun dan masih saja tertidur?” tanya Husna masih saja belum bisa menerima bagaimana cara nya mereka bisa ada di sini.
Husna pun turun dari ranjang dan segera merapikan hijab nya dan segera mendekati sang suami. Azzam segera menggenggam tangan istri nya itu keluar dari Villa.
“Itu lihat lah. Kita ke sini menggunakan itu. Jadi kamu tidak bangun karena di sana ada ranjang juga tempat kamu tidur.” Ucap Azzam menunjuk alat transportasi yang mereka gunakan.
“Mobil Van? Kenapa aku tidak tahu dengan rencana ini mas?” tanya Husna.
“Ini adalah kejutan untukmu. Bukan kah kau pernah menulis satu keinginanmu di sebuah kertas dan kau memberikan nya padaku minta di wujudkan saat ulang tahunmu yang ke 17 tahun. Tapi aku tidak menepati nya bukan. Jadi sebagai ganti nya aku menepati nya hari ini.” jelas Azzam.
“Keinginan apa?” tanya Husna yang memang melupakan apa yang dia tulis dan dia berikan kepada suami nya itu.
Azzam pun menjadi gemas sendiri dengan istri nya itu, “Itu kau ingin di ulang tahunmu yang ke 17 tahun. Ingin melihat senja dan laut lalu naik mobil Van bersamaku. Itu adalah keinginanmu sayang. Masa kamu lupa. Kau menulis nya saat kau berusia 10 tahun.” Ucap Azzam.
Husna pun seketika mengingat nya lalu dia tersenyum, “Maaf, mas. Kan kamu tahu memoriku itu di hapus. Aku bisa mendapatkan memoriku kembali hanya sejak bertemu denganmu. Yang lain nya masih berupa kepingan memori. Apalagi ingatan yang bersifat lama jadi walaupun ingatanku tidak di hapus semua tetap saja aku lupa.” Ucap Husna membela diri.
__ADS_1
“Yah mas tahu. Sudah ah kita sholat dulu. Waktu nya sudah hampir habis. Nanti kita akan ke sana untuk melihat senja bersama.” Ajak Azzam.
Husna pun menurut walaupun dia sudah sangat ingin melihat mobil van itu. Apa sudah sesuai dengan imajinasi dalam ingatan nya atau tidak, “Mas, belum sholat?” tanya Husna heran.
Azzam menggeleng, “Mas menunggumu sayang. Mas ingin berjamaah dengan istri mas.” Jawab Azzam lembut yang membuat Husna meleleh.
“Mas, aku jadi salting kan.” Balas Husna.
Mereka pun segera melaksanakan sholat bersama.
***
“Mas, ini sangat cantik. Ini sesuai dengan imajinasiku.” Ucap Husna mengagumi isi mobil Van itu yang super lengkap.
“Syukur lah jika kamu suka. Jadi mas tidak sia-sia deh menyiapkan nya.” ucap Azzam.
“Mas, kenapa kau masih menyewa Villa juga jika sudah membawa mobil Van ini?” tanya Husna.
“Memang mobil Van ini nyaman sayang tapi tetap saja tidak senyaman seperti di dalam sebuah ruangan. Jadi mas tetap menyewa Villa.” Jawab Azzam.
“Tapi itu jadi double mas. Boros jadi nya.” ucap Husna.
“Tidak apa. Hanya sekali kok. Tidak masalah.” Ucap Azzam.
“Sudah tidak perlu pikirkan itu. Ayo kita nikmati sunset nya bersama.” Sambung Azzam segera menggandeng istri nya itu dan mereka duduk bersama di bangku yang ada di sana.
“Mas, aku tidak menyangka impian kecilku itu terwujud dan kau menepati janjimu mewujudkan nya. Semua nya ada di sini. Mobil Van, sunset dan juga kau yang menjadi point penting dalam permintaanku itu. Terima kasih sudah datang mengakhiri penantianku, suamiku. Terima kasih sudah datang menepati janjimu. I Love You!” Ucap Husna.
“I Love You More!” balas Azzam lalu mengeratkan pelukan nya pada istri nya itu.
__ADS_1