My Secret Love

My Secret Love
Hnacur Hatiku


__ADS_3

Ara benarana tampak bingung saat ini. Dia tidak menyangka jika hari ini Mas David akan mengatakan hal seperti itu.


"Kami setuju saja kalau Mas David benaran serius dengan teman kita ini. Apalagi Mas David adalah orang yang baik. Kalian berdua cocok." ungkap Marta.


Mas David melihat wajah tegang Ara. Dia kemudian mendekat dan memegang tangan Ara. "Kamu jangan tegang begitu, Ara. Aku tidak melamar kamu hari ini, aku hanya minta pendapat teman-teman kamu, apa kira-kira aku pantas untuk kamu jika aku ingin menjadi kekasih kamu? Itu saja."


"Kami akan mendukung saja apapun keputusan Ara." Tania memeluk Ara.


Ara terdiam di tempatnya. Tidak lama Dean datang dengan membawa salad buah yang akan dia sajikan.


"Dean, menurut kamu Ara pantas tidak dengan Mas David?" tanya Sifa.


"Maksudnya?"


"Mas David tadi minta pendapat kita, apa kita setuju jika dia mendekati Ara?"


"Aku bertanya begini karena ada alasan lain, siapa tau di antara kalian ada yang suka sama Ara, makanya aku bertanya begini, dan juga minta pendapat dari kalian."


"Kalian cocok, sudah kalian pacaran saja, kita setuju, kok," suara Marta terdengar keras.


Dean tampak terdiam mendengar hal itu dia meletakkan perlahan-lahan semangkuk salad di atas meja.


"Aku akan mengambil lagi salad spesial yang aku buat." Dean berjalan masuk dengan perlahan, ada hal yang tidak karu-karuan yang dia rasakan di dalam hatinya.


Tidak lama terdengar suara sorai bahagia dari luar, dan terdengar teman Dean yang bernama Rio memberikan ucapan selamat pada Ara dan Mas David. Walaupun kamu baru kita kenal, tapi aku tau kamu orang yang sangat baik, David."


"Terima kasih."


Dean menyandarkan punggungnya tepat di daun pintu ruangannya, dia memejamkan kedua matanya erat.


"Sekarang, aku benar-benar sudah kehilangan kamu, Ara dan ini semua karena aku yang pengecut, tapi aku melakukan ini karena aku tidak mau menyakiti kamu nantinya." Dean berdialog sendiri.


Acara itu akhirnya di mulai, dan Dean juga sudah bergabung di sana. "Mas David, ini kado untuk Mas David." Ara memberikan sebuah kotak berwarna hitam pada mas David.


"Ara, kenapa kamu repot-repot memberikan aku kado ini?"


"Tidak apa-apa, aku memang ingin memberikan kado ini nanti pada saat Mas David berulang tahun."


"Terima kasih, Ara." Mas David menerima kado pemberian Ara.


"Buka dunk kadonya, kita semua penasaran di sini."

__ADS_1


"Iya, aku akan membukanya." Mas David membuka kado dari Ara dan alangkah terkejutnya dia melihat kado dari Ara.


"Wah! Jam tangannya bagus sekali."


"Ara, ini kamu sendiri yang memilihnya?" Ara mengangguk. "Ini model jam tangan yang aku inginkan. Ini bagus sekali."


"Benarkah? Mas David pasti bohong hanya karena ingin aku senang."


"Tidak Ara, aku serius. Sebentar kalau begitu." Mas David mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan status WAnya yang ada gambar jam tangan mirip dengan apa yang Ara hadiahkan.


"Kenapa suka sekali dengan model jam tangan seperti ini?"


Itu adalah caption yang di tulis oleh David di status WAnya pagi tadi.


"Wah! Kalian memang benar-benar sehati," celetuk Sifa.


"Ara terima kasih. Oh Ya! Apa aku boleh memeluk kamu sebagai ucapan terima kasih?" tanyanya sopan.


"Ya ampun! Kamu mau memeluk saja pakai minta izin? Kalian kan sudah jadian."


Deg!


"Kalau cuma memeluk boleh, Mas David." Mas David tersenyum dan memeluk Ara.


"Terima kasih ya, Ara."


"Sama-sama."


Pesta di lanjutkan kembali, wajah Mas David tampak sangat bahagia. Dia akhirnya memiliki kekasih yang sangat dia cintai. Entah kenapa sejak melihat Ara pertama kali, David langsung jatuh cinta pada Ara.


"Ups!"


"Ya ampun, Marta! Kamu itu bagaimana, sih?"


"Maaf aku tidak sengaja, Ara." Marta yang asik bercanda tidak sengaja menumpahkan minumannya dan mengenai baju Ara."


"Aku ke belakang dulu kalau begitu untuk membersihkan bajuku."


Ara berjalan menuju toilet di cafe itu, kebetulan cafe itu tidak ada orang lain karena David sudah membokingnya untuk acara ulang tahunnya itu.


"Marta itu kenapa ceroboh sekali?" gerutu Ara pelan.

__ADS_1


"Ara, ikut aku sebentar." Tiba-tiba di depannya di hadang oleh Dean dan tangan Ara di tarik oleh Dean ke tempat atau lebih tepatnya ruangan yang sepi. Ruangan bekas kantornya miliknya dulu.


"Dean ada apa?"


"Apa benar kamu sudah jadian sama David?"


Kedua alis Ara mengkerut bingung. "Memangnya ada urusan apa kamu bertanya seperti itu?"


"Ara, aku mohon, putuskan hubungan kamu dengan David."


"Kamu ini kenapa, sih? Dan apa hak kamu menyuruhku memutuskan hubunganku dengan mas David. Aku sudah jadian sama dia dan mungkin sebentar lagi aku akan bertunangan dengannya."


"Tapi kamu tidak mencintainya. Apa kamu mau menjalin hubungan dengan orang yang tidak kamu cintai?"


"Tau apa kamu soal aku? Aku menyukai mas David, dia baik dan sangat menyayangiku."


Dean berjalan perlahan-lahan mendekat pada Ara. Ara yang agak takut mundur sampai bersandar pada tembok.


"Aku tau kamu tidak mencintainya karena kamu mencintai orang lain, dan orang lain itu aku."


Kedua mata Ara mendelik kaget. "Si-siapa yang mencintai kamu, kamu jangan asal bicara. Aku tidak mencintai kamu."


"Kalau kamu tidak mencintai aku, lalu ini apa?" Dean menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan tangan Ara.


Ara melongo melihat kertas yang setahu dia sudah dia buang, tapi kenapa ada pada Dean. "Ka-kamu dapat dari mana kertas itu?"


"Mungkin kamu lupa jika kamu menaruhnya di buku yang kamu pinjam di perpus."


Ara ingat jika dia punya kebiasaan saat sedang sedih atau mau mengungkapkan rasa sedih dan kecewa terhadap suatu hal, dia akan menuliskan pada secarik kertas lalu dia sobek-sobek, atau dia akan buang, tapi kali ini dia mungkin lupa malah menyelipkan pada halaman buku yang dia pinjam.


"Itu tidak benar, kembalikan kertas itu." Ara berusaha mengambilnya, tapi Dean berhasil mempertahankan.


"Aku senang sekali membaca tulisan kamu ini. Kamu mencintaiku, Ara." Tangan Dean menelungsup pada sela-sela rambut Ara.


"Dean itu tidak benar," ucap Ara lirih sambil memandang lekat kedua mata Dean.


"Maaf, aku sudah membuat kamu sakit hati waktu itu, tapi aku memiliki alasan yang kuat untuk hal itu, Ara. Jujur, aku sangat sakit melihat kedekatan kamu dengan David, ingin sekali aku membawa kamu jauh dari David karena bagiku kamu hanya milikku Ara."


"Aku bukan milik kamu, aku hanya alat untuk kamu--."


Ara tiba-tiba terdiam karena mulutnya di bingkam oleh bibir Dean.

__ADS_1


__ADS_2