My Secret Love

My Secret Love
Ke mana Dia?


__ADS_3

Uni izin pulang dan saat sampai di rumahnya dia ditanyai oleh tantenya kenapa jam segini dia sudah pulang? Uni mengatakan jika dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Lagian Uni hari ini bekerja dari pagi karena libur kuliah.


"Uni, tante mau bicara sama kamu."


"Bicara apa, Tante?"


"Mulai bulan depan kalau bisa kamu tambahi uang bulanan kamu karena kebutuhan kita mulai bertambah banyak, apalagi Om kamu sedang sibuk bekerja dan kadang telat untuk mengirim uang."


"Uni, bisa beri tambahan, tapi tidak banyak."


"Kalau begitu uang buat kuliah kamu yang di beri oleh suamiku aku potong saja sebagai tambahan, jadi kamu jangan harap dapat uang kuliah seperti biasanya." Tante Uni bersedekap.


Uni hanya bisa terdiam mendengar hal itu. "Ya sudah kalau begitu, Tante,' jawab Uni lirih.


"Kalau begitu sekarang bersihkan dan cuci semua peralatan makan di dapur. Tante mau tidur."


Uni berjalan masuk ke dalam dapur dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Selli anak dari tantenya Uni berdiri di samping ibunya dengan tertawa bahagia.


"Ide, Mama bagus juga, bilang kalau keuangan kita sedang tidak baik dan ayah jarang mengirim uang, apalagi uang kuliah yang ayah kirim tiap bulan untuk Uni kita bisa memotongnya lagi."


"Ini semua mama lakukan untuk kamu, Sayang, untuk kebutuhan kamu. Mama ingin kamu tidak kekurangan dan bisa seperti teman-teman kamu yang kaya raya itu. Lagian, Uni sudah lama mama rawat dari kecil, biar saja dia sekarang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa menggunakan uang ayah kamu sepeserpun."


"Tapi kalau ayah tau bagaimana, Ma?"


"Tenang, itu akan menjadi urusan mama, yang penting sekarang anak yatim piatu itu tidak menyusahkan hidup kita lagi, sudah saatnya dia balas budi dengan kita, kalau dia tidak mau. Ya biarkan saja dia pergi dari sini."


Di restoran tempat Uni bekerja dulu. Aro masuk ke dalam restoran itu. Dia memesan beberapa makanan dan menghabiskannya di sana. Entah kenapa dia ingin sekali bertemu dengan gadis yang tidak sengaja melakukan ciuman kilat dengannya.


Aro mengedarkan kedua matanya mencari keberadaan gadis yang di carinya.


"Dia tidak ada. Apa dia tidak masuk kerja hari ini?" dialognya sendiri.


Via dari kejauhan melihat ada Aro yang duduk sendirian di sana. Via tampak sangat bahagia, dia langsung meminta temannya untuk menggantikan tugasnya sebentar.


"Hai, Aro," sapa Via yang berdiri tepat di depan Aro.

__ADS_1


Aro mengangkat kepalanya melihat siapa yang memanggilnya. "Kamu siapa? Kenapa bisa mengetahui namaku?" Aro tampak heran.


"Aku, Via. Apa kamu lupa? Aku teman kampus kamu juga teman satu anggota di perpustakaan."


Aro berpikir sebentar. Apa ini gadis yang kemarin di ceritakan oleh Uni?


"Jadi kamu yang namanya Via? Teman kamu Uni pernah bercerita sama aku tentang kamu. Hanya saja aku yang tidak ingat kamu."


"Uni? Kamu kapan bertemu dan berbicara dengan Uni?"


"Waktu itu, dia juga bertanya apa aku kenal dengan sahabatnya yang juga teman kampusku yang bernama Via."


Via berpikir mungkin yang waktu itu. Jujur saja Via sangat malu sekarang, kenapa Uni malah membahas tentang dirinya.


"Iya, aku Via."


"Kalau melihat kamu langsung aku ingat wajah kamu. Maaf, ya, aku tidak ingat sama kamu. Jika Uni tidak bercerita tentang kamu."


"Oh tidak apa-apa, Kok. Kamu ke sini sendirian?"


"Dari kampus? Memangnya ada acara apa di kampus? Bukannya ini hari libur, tapi kenapa kamu malah berada di sana?"


"Kamu tidak tau jika akan ada acara Bazaar di sana minggu depan?"


"Oh Tuhan! Aku beneran lupa, maaf, mungkin aku terlalu sibuk bekerja jadi tidak ingat kalau ada acara Bazaar itu."


"Ehem ...!" Tiba- tiba terdengar suara deheman dari arah belakang Via dan Via tau suara siapa itu.


"Halo, Pak Jono." Via menyapa sambil meringis lucu.


"Kamu sedang apa di sini? Bukannya pekerjaan kamu berada di dapur? Tapi kenapa kamu dari tadi di sini?"


"Ini, Pak, saya hanya mau menyapa teman saya yang kebetulan bertemu di sini."


"Apa tidak bisa menyapa di tempat lain? Apa kamu mau saya pecat juga seperti Uni tadi pagi karena tidak becus melakukan pekerjaan?" ucapnya ketus.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Ya sudah saya permisi dulu." Via melihat ke arah Aro. "Aro aku pergi dulu," ucapnya lirih dan langsung ngibrit ke dalam.


"Apa? Uni di pecat?" Aro berdialog sendiri pelan. "Pak, maaf, saya mau tanya. Apa benar Uni sudah dipecat dari sini?" Aro mencoba memastikan pendengarannya tidak salah.


"Ya, saya sudah memecat karyawan yang kerjanya tidak becus itu tadi pagi."


"Tidak becus bagaimana maksud Anda?"


"Dia tadi sudah memecahkan banyak sekali piring dan gelas saat membersihkan meja, dan tidak hanya sekali itu, dia sudah beberapa kali melakukan hal itu."


"Lalu dia sekarang ada di mana?"


"Mana saya tau, dia bukan anak atau saudara saya, mungkin dia mencari pekerjaan baru karena saya tidak akan memberinya uang pesangon atau gajinya bulan ini."


Aro beranjak dari tempatnya dan menatap tajam pada bos Uni. "Anda benar-benar manusia yang tega dan tidak punya hati. Saya tidak yakin jika restoran ini akan bertahan lama dengan pemilik seperti anda," ucap Aro tegas.


"Hei, Bocah! Apa maksud bicara kamu?"


"Anda pikirkan sendiri." Aro pergi dari sana tanpa membawa burger dan kentang yang di bungkusnya. Niatnya dia ingin memberikan burger dan kentangnya pada Uni sebagai ganti kemarin.


Di dalam mobil Aro menyusuri jalanan dan tepat berhenti di tepi jalan di mana Uni selalu menunggu angkutan umum."


"Dia tidak ada, apa dia sudah pulang?" tebak Aro. Akhirnya Aro memutuskan pergi ke rumah Uni. Sampai di sana, Aro melihat rumah Uni sudah tertutup semua dan lampunya juga padam.


"Apa dia sudah di rumah? ****! Kenapa aku jadi khawatir seperti ini?"


Tidak lama Aro pergi dari sana, dan hanya selang beberapa detik Uni mengintip dari balik jendela diam-diam.


"Apa tadi aku beneran melihat ada mobil di depan atau hanya halusinasi aku, ya?" Uni bermonolog sendirian, "memangnya mobil siapa yang akan ke sini malam-malam begini? Apa Aro?" Uni menggeleng-gelengkan kepalanya sambil meratapi halusinasinya.


Aro akhirnya memilih untuk pulang saja karena dia tidak menemukan di mana Uni.


"Aku ini sebenarnya kenapa malah mencarinya? Tapi aku harus mencarinya untuk mengatakan maaf padanya. Namun, sekarang aku harus mencarinya di mana?"


Sampai di rumah, semua orang sudah tidur. Aro masuk dan merebahkan langsung tubuhnya pada ranjang empuk miliknya sambil menatap langit-langit ruang tidurnya. Pun dengan Uni, dia tidur di ruang tamu karena kasurnya masih basah.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya kak, biar aku semangat nulisnya


__ADS_2