
Tidak lama bibi Nala masuk ke dalam kamarnya dan memberitahu jika ada orang yang sedang mencari Nala. Nala akhirnya berpamitan pada Akira suaminya jika dia harus pergi dulu karena bibi Anjani memanggilnya.
Nala dan Akhira mengakhiri panggilanya dan Nala keluar dengan bibi Anjanji melihat siapa yang mencarinya. Di depan pintu berdiri
seorang pria dengan setelan jas berwarna biru tua dan penampilannya sangat rapi serta elegant.
“Maaf, apa benar kamu Surinala Maharani?” tanya pria itu.
“Iya, itu saya. Bapak siapa ya?” Nala merasa tidak mengenal orang di depannya. Bibi Anjani akhirnya mempersilakan orang itu duduk di ruang tamu.
“Perkenalkan nama saya Surya dan saya adalah orang kepercayaan dari tuan Addrian Danner. Saya datang ke sini karena saya ada perlu dengan kamu, Nala.”
Nala dan Bibi Anjani saling melihat, mereka tau siapa yang mengirim orang di depannya ini. “Bapak ada perlu apa datang ke sini?” tanya Nala.
“Saya ke sini karena saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan dengan kamu, Nala.”
“Kesepakatan tentang apa?” tanya Nala heran.
Pria paruh baya yang usianya sama dengan bibi Anjani ini mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tasnya dan memberikan pada Nala agar Nala dapat membaca apa yang tertulis di sana. “Apa ini?” Nala tampak
menggerutkan kedua alisnya.
“Tentu kamu bisa membaca apa yang tertulis di sana. Pak Addrian akan memberikan kamu semua fasilitas yang kamu butuhkan. Rumah mewah di kawasan elite, mobil dan supirnya, uang sebanyak yang kamu butuhkan sehinggan
kamu tidak perlu khawatir untuk memikirkan biaya hidup kamu dan anak kamu nantinya karena semua akan di jamin oleh Pak Adrrian, tapi dengan satu syarat dan syarat itu adalah kamu harus meninggalkan bahkan melupakan Tuan muda Akira untuk selamanya.”
“Apa?” Bibi Anjani sontak saja sangat kaget mendengar hal itu. "Maaf ya, Pak Surya. Anda datang ke sini ingin menawarkan sesuatu yang memang sangat menggiurkan, tapi Anda lupa jika hal yang Anda minta itu sangat keterlaluan. Anda mau memisahkan seorang anak dari ayahnya? Benar ini bukan salah Pak Surya karena Pak Surya hanya di suruh, tapi harusnya Anda juga memikirkan bagaimana jika putri Anda yang di perlakukan seperti itu."
"Bibi, jangan marah-marah begini? Pak Surya hanya menjalankan perintah dari daddynya Akira." Nala mencoba menenangkan bibinya yang terlihat emosi.
__ADS_1
"Terserah kalau kalian tidak mau menerima tawaran ini. Tuan Adrrian hanya ingin kalian tidak menjebak putranya dalam permainan di mana kalian ingin menjadi bagian dari keluarga Danner yang semua orang sudah tau. Tuan Addrian hanya ingin kalian tidak mencoreng nama baik keluarga Danner yang dari dulu sangat di hormati banyak orang. Tidak mungkin tuan muda yang sangat di sanjung dari keluarga Danner menikahi seorang gadis biasa yang dulunya hanya seorang pembantu di rumah mereka."
"Cukup ya Pak Surya!" Bibi Anjani sampai berdiri ditempatnya dan melihat marah pada pria di depannya yang seolah malah ikut menghina keponakannya. "Nala tidak akan meninggalkan suaminya Akira, apalagi mereka akan memiliki anak. Pak Surya sampaikan saja pada Tuan Besar Addrian jika Nala tidak akan berpisah dari Akira karena mereka saling mencintai. Bawa semua berkas-berkas ini." Bibi Nala dengan emosi merapikan berkas-berkas itu dan menyuruh Pak Surya pergi dari sana.
"Loh! Anda siapa?" tanya Seno yang berpapasan sama Pak Surya. Pak Surya tidak menjawab pertanyaan Seno.
"Anjani, itu tadi siapa? Penampilanya rapi sekali?" tanya bibi Sekar yang barusan datang bersama Seno dari pasar.
"Itu tadi orang suruhan ayahnya Akira yang ingin membuat kesepakatan dengan Nala."
"Kesepakatan apa, Bi?"
"Nala akan diberi rumah, mobil dan tabungan yang sangat banyak, bahkan bisa membuat Nala menghidupi anak-anaknya sampai mereka dewasa, tapi Nala harus berpisah dari Akira."
"Apa? Ayah Akira sampai setega itu ya?" Seno seolah tidak percaya.
"Lalu, apa kamu menerimanya, Nala?" tanya bibi Sekar.
"Aku tentu saja tidak mau, Bi. Aku mencintai Akira, bahkan aku tidak peduli dengan status kelas atasku jika aku dengan Akira. Aku tidak gila akan hal itu."
"Iya, aku tidak mau Nala meninggalkan Akira. Mereka mau mempunyai bayi kembar, kasihan anak- anak Nala jika mereka tidak tau siapa ayahnya."
"Terima kasih, Bi. Bibi ternyata sudah berubah tidak seperti dulu yang selalu ingin menjodohkan aku dengan tuan tanah yang kaya agar hidupku dan Bibi bisa enak."
"Lebih baik kamu sama Akira terus. Kalian bisa menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia, apalagi jika sama Akira, semua yang ditawarkan oleh orang itu tidak ada apa-apa sama yang Akira miliki."
Mereka bertiga langsung melongo mendengar apa yang di katakan oleh bibi Anjani.
"Wahaha! Bibi Anjani memang pintar."
__ADS_1
"Seno!" Tangan ibunya Seno memukul Seno kesal.
"Kisah cinta kamu rumit sekali sih, Nala. Mending kamu sama Radit saja, tidak ada halangan dan kerikil seperti ini, jalannya mulus seperti jalan tol."
"Aku tidak memiliki perasaan apa-apa sama Mas Radit, Seno. Bi, aku mau ke kamar dulu mau mandi dan berganti baju."
Nala masuk ke dalam kamarnya, dia kembali memikirkan apa dia sebaiknya menceritakan tentang kedatangan orang suruhan daddynya? Tapi Nala tidak mau jika Akira nanti malah tambah ada masalah lagi dengan daddynya.
Nala memutuskan untuk tidak menceritakan hal itu supaya Akira tidak kepikiran, biar Akira fokus dulu dengan kesehatan mommynya.
Hari itu Nala hanya menghabiskan waktu di rumah. Dia menuruti apa kata suaminya, padahal tadi Seno mengajak Nala keluar dengan Ayu untuk makan di cafe milik Radit, tapi Nala tidak mau, dia mau di rumah saja sambil menunggu telepon dari Akira.
Di rumah sakit, Akira sudah bertanya pada dokter yang merawat mommynya. Mommy Akira mengalami suatu tekanan yang teramat yang sedang dia pikirkan, jadi membuat keadaanya drop sampai pingsan.
"Addrian," panggil Kei saat membuka kedua matanya.
"Kei, kamu sudah sadar?" Addrian memegang tangan istrinya.
"Aku di mana?"
"Kamu sedang di rawat di rumah sakit karena kamu pingsan waktu itu. Kamu jangan banyak bertanya, sebaiknya kamu beristirahat saja dulu, aku ada di sini menjaga kamu."
"Apa Akira, dan Rhein ada di sini?" Addrian terdiam sejenak. "Apa putraku tidak ada yang datang untuk melihatku?" tanyanya lagi.
"Akira ada di sini dari kemarin malam dan Rhein masih belum sampai, tapi dia tau kamu sedang dirawat di sini."
"Mana Akira? Aku ingin bertemu dengannya?"
"Untuk apa, Kei? Dialah yang menyebabkan kamu seperti ini."
__ADS_1