
Di dalam kelas Marta menanyakan apa mereka mau diajak para cowok itu untuk nonton Minggu besok? Mereka bertiga terserah saja karena kebetulan tidak ada acara, tapi beda dengan Ara dia malah asik melamun sesuatu tidak mendengarkan ucapan Marta.
“Ya Allah, ini anak. Kenapa dia dari tadi melamun terus? Dia kenapa sih?” ucap Marta heran.
“Mikirin cowok kali, tapi gak boleh sama kedua orang tuanya pacaran,” jawab Sifa.
“Nara! Kamu kenapa melamun terus!” senggol Marta kesal.
Ara sontak sekali lagi terkejut dan melihat bingung pada teman-temannya. “Ada apa sih?”
“Kamu jangan bilang tidak sedang melamun ya? Kamu tidak di kantin tidak di kelas,kenapa hari ini banyak melamun? Mikirin siapa sih?” telisik Marta.
“Aku tidak mikir siapa-siapa. Eh itu dosen sudah datang, sana kembali ke tempat kalian.” Usir Ara.
Hari itu mata kuliah di kampus Ara berjalan dengan baik sampai akhirnya jam istirahat tiba. Ara dan ketiga temannya memilih di dalam kelas saja karena mereka tadi sudah di kantin. Tania juga tidak mau ke kantin karena dia mau meminjam buku catatan Ara yang dia telat belum mencatat.
“Ara, kamu tadi belum menjawab pertanyaan aku.”
“Pertanyaan apa, Marta?”
“Minggu lusa kamu bisa tidak keluar beramai-ramai dengan Rio dan teman-temannya. Mereka mau mentraktir kita menonton bioskop. Ikut tidak?”
Ara terdiam sejenak. “Sepertinya aku tidak bisa ikut, Marta, apalagi kemarin kita barusan melihat bioskop, ditambah kita nonton sama anak laki-laki, pasti kedua orang tuaku pasti tidak akan memperbolehkan.”
“Kamu coba bicara dulu, dan bilang saja kita menonton ramai-ramai, lagian kita juga tidak pacaran sama mereka, kita berteman sama mereka.”
“Awalanya berteman, nanti lama-lama siapa tau kamu bisa dapat pacar. Sama Dean misalnya,” celetuk Sifa menggoda.
“Apa sih, Sifa?” Seketika wajah Ara berubah aneh. Ara tidak mau kalau sampai teman-temannya tau dia dari tadi sebenarnya memikirkan tentang si Dean itu, bisa-bisa dia malah ditertawakan oleh teman-temannya.
“Iya, kamu cocok sama Dean, Ra. Kalian sama-sama kalem, pendiam, sok cuek, tapi sebenarnya peduli,” jelas Tania.
Ara beranjak dari bangkunya. “Kalian
__ADS_1
bicara apa sih, aku tidak mau mikirin itu dulu. Sudah ya aku mau ke kamar mandi dulu.” Ara berjalan keluar dari dalam kelasnya.
“Kita jodohkan saja itu si Ara sama Dean. Bagaimana?” tanya Sifa.
“Sama Dean? Janganlah! Aku kan masih mau mengejar Dean, aku penasaran sama dia,” terang Marta.
“Kamu jangan sama Dean, kasihan Dean kalau punya pacar kamu, kitakan tau kamu tidak pernah serius juga sama pacar kamu. Apalagi kamu suka sekali sama pria tajir diplintir, Dean kan cowok biasa.”
“Walaupun dia biasa, aku benar-benar penasaran sama dia, apalagi jika dilihat-lihat dia itu tampan sekali, hanya saja penampilannya yang biasa.”
“Kasihan teman kita satu itu, dia tidak pernah berpacaran sama siapapun sampai sekarang,” kata Tania.
“Dean tidak bakal mau sama Ara, atau nanti kita lihat saja bagaimana hasilnya.”
Ara berjalan keluar setelah dari kamar mandi dia ingin kembali ke kelasnya. Saat berjalan dia tidak sengaja malah jatuh ke lantai karena lantai lorong kamar mandi yang mungkin licin.
“Aduh! Kenapa bisa jatuh? Padahal aku hati-hati,” Ara menggerutu kesal sambil membersihkan tangannya dan berusaha untuk berdiri lagi.
“Kamu tidak apa-apa?” suara seseorang di depan Ara. Ara mengangkat kepalanya ke atas dan melihat siapa yang berbicara dengannya bahkan mengulurkan tangannya. “Dean?”
“Terima kasih, aku tadi tidak sengaja terpeleset.”
“Lain kali hati-hati, lantainya memang licin, tapi kamu tidak apa-apa, Kan?”
“Aku tidak apa-apa, kok, hanya agak sakit saja kakiku.”Ara mencoba melangkah, tapi malah dia hampir jatuh dan dengan cepat Dean memeganginya lagi. “Aduh!”
“Kaki kamu sepertinya ada masalah, sebaiknya aku bawa kamu ke ruang kesehatan siapa tau bisa diobati di sana.”
“Hah? Ke ruang kesehatan?” Ara agak terkejut. Bagaimana dia berjalan sampai ke ruang kesehatan? Dan tadi Dean bilang dia akan membawa Ara ke sana, maksudnya?”
Tiba-tiba Dean menggendong Ara, dan Ara reflek melingkarkan tangannya pada leher Dean. “Maaf aku menggendong kamu karena hanya ini caranya agar kamu bisa ke ruang kesehatan agar kaki kamu segera diobati sebelum tambah parah. “
Ara terdiam sambil menatap melihat pada Dean yang sekarang fokus berjalan melihat ke depan. Wajah cowok itu kembali terlihat datar dan terkesan dingin.
__ADS_1
“Dean, apa aku boleh bertanya sama kamu?”
“Bertanya apa?” jawab Dean tanpa melihat ke arah Ara.
Saat mereka melintas lorong beberapa kelas, tidak sengaja Sifa melihat pemandangan yang membuat kedua matanya bahkan jantungnya kaget. “Itukan Ara dan Dean? Kenapa mereka bisa seromantis itu?” Sifa segera berlari naik ke dalam kelasnya, dia ingin segera memberitahu kepada teman-temannya tentang apa yang dia lihat barusan.
“Kamu kenapa Sif?” tanya Marta yang heran melihat temannya seperti habis dikejar setan.
“Sebentar, aku tarik napas dulu.” Sifa mencoba mengatur napasnya. “Kalian tau tidak tadi apa yang aku lihat saat mau kembali dari kantin?”
“Lihat apa? Kami berdua saja dari tadi di sini, mana kita tau?” Marta melihatnya malas dan kembali membaca majalah yang dia bawa.
“Ara digendong Dean ala bridal style,” ucapnya cepat.
“Apa?” Marta dan Tania menjawab serempak.
“Kamu serius? Di mana mereka sekarang?” Marta segera menutup majalah yang di bacanya dan beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Tania.
“Aku tidak tau mereka mau ke mana? Aku tadi langsung ke sini saja karena tidak sabar ingin memberitahu kalian di sini.”
“Kalau begitu kita cari saja mereka. Ayo!”Marta mengajak kedua temannya turun ke bawah dan mencari keberadaan Ara dan Dean. Mereka bertanya kepada beberapa teman di sana dan ada yang memberitahu jika mereka berdua menuju ruang kesehatan karena Ara tadi jatuh di kamar mandi.
“Jatuh? Kita ke ruang kesehatan sekarang,” ucap Marta.
Saat mereka sampai ke sana mereka melihat Ara sedang di balut kakinya oleh tenaga kesehatan di sana dan Dean berdiri menunggu tepat di depan samping tenaga medis yang sedang membalut kaki Ara.
“Ara kamu tidak apa-apa, Kan?” tanya Marta.
“Aku tidak apa-apa, hanya kakiku sakit sedikit.” Ara melihat ke arah Dean. Pun dengan Dean juga melihat ke arah Ara.
“Dean kamu yang tadi menolong Ara saat dia jatuh di kamar mandi?” tanya Marta sekali lagi.
“Iya, kebetulan tadi aku juga mau ke kamar mandi dan melihat Ara jatuh karena lantainya yang sedang licin.”
__ADS_1
“Terima kasih ya, Dean, kamu sudah menolong teman kami,” ucap Tania. Dean hanya tersenyum kecil.
Marta mendekat dan duduk di sebelah Ara. “Kamu kenapa tidak hati-hati? Nanti biar kita bantu kamu naik ke kelas.”