My Secret Love

My Secret Love
84


__ADS_3

Kini Husna dan Azzam sudah berada di salah satu kamar yang berada di hotel. Kedua nya selepas menunaikan sholat malam mereka langsung menuju hotel bersama anggota keluarga yang lain.


Husna saat ini sedang menikmati makan nya di dalam ruangan itu dengan di suami oleh sang suami karena Husna sibuk menata hijab nya yang cocok untuk dia gunakan saat melakukan make up.


Azzam yang melihat istri nya repot sendiri pun hanya tersenyum dengan menatap istri nya yang sibuk itu, “Mas, ini cocok tidak? Auratku tidak akan terlihat kan dengan memakai ini saat akan di make up nanti?” tanya Husna pusing sendiri.


Azzam pun menghentikan acara menyuapi istri nya itu lalu menggenggam tangan Husna erat, “Yang akan melakukan make up padamu itu perempuan sayang. Jadi tidak masalah jika auratmu terlihat. Kan mahram.” Ucap Azzam.


Husna pun mengangguk, “Hum, benar sih. Tapi kan tetap saja malu mas.” Ucap Husna dengan bibir mengerucut.


Azzam pun menjadi gemas sendiri dengan tingkah istri cantik nya itu lalu mengacak hijab instan yang di pakai istri nya, “Mas!” protes Husna.


“Salah sendiri kamu menggemaskan sayang. Seperti nya jika kita punya anak nanti, mas akan sulit membedakan mana anak kita dan mana dirimu karena sama-sama menggemaskan.” Ucap Azzam lalu melabuhkan kecupan nya di pipi istri manis nya itu.


Husna pun yang mendengar ucapan suami nya itu pun hanya tersenyum manja dan memilih mengambil sendok dan menyuapi makanan ke mulut nya. Jujur saja dia selalu tersipu dengan apa yang di katakan oleh suami nya itu. Azzam punya cara nya sendiri untuk menenangkan istri nya itu.


Azzam yang melihat istri nya memilih mengambil makanan pun akhirnya tersenyum dan mengambil alih kembali menyuapi istri nya, “Mas, kau juga makan lah. Dari tadi hanya menyuapi saja tanpa makan.” Ucap Husna.


“Mas nanti saja makan nya sayang. Setelah kamu selesai makan maka mas akan makan. Lagi pula kamu yang membutuhkan waktu lebih banyak untuk bersiap.” Ucap Azzam lembut.


Husna pun akhir nya memilih menuruti saja apa yang di ucapkan suami nya itu. Percuma juga dia membantah jika suami nya itu sudah memutuskan.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Husna telah menghabiskan seporsi makanan nya itu.


“Sekarang mas makan lah. Aku akan membukakan pintu untuk MUA yang seperti nya sudah datang.” ucap Husna.


“Mereka memang sudah datang sejak tadi sayang.” timpal Azzam.


Husna pun tersenyum mendengar ucapan suami nya itu. Lalu dia segera memilih untuk berwudhu sebelum nanti di make up.


Setelah keluar dari kamar mandi, Husna pun hanya melewati suami nya itu yang sedang makan. Dia lebih memilih untuk menuju cermin yang ada di ruangan itu dan kembali menata hijab nya.

__ADS_1


Tidak lama juga ada yang mengetuk di pintu dan Husna pun segera membuka nya yang ternyata adalah MUA. Husna pun segera mempersilahkan dua orang tukang rias itu masuk. Kedua nya pun segera masuk dan tersenyum canggung kepada Azzam yang ada di sana yang sedang menikmati makanan nya.


Azzam pun tetap fokus dengan makanan nya tanpa melirik kepada dua orang MUA itu. Husna yang melihat nya hanya tersenyum saja, “Ayo kita mulai saja. Saya sudah berwudhu juga.” Ucap Husna.


Kedua tukang rias itu pun mengangguk saja dan segera memulai pekerjaan mereka dengan merias Husna.


***


Kini Azzam sedang berada di ruangan ganti di mana asisten nya berada, “Tuan, apa saya perlu memakai pakaian ini. Saya pakai pakaian milik saya saja tuan.” Ucap Jalal sungkan.


“Pakai saja. Untuk hari ini kau akan jadi pendamping pernikahanku. Awas saja jika kau melepas nya. Aku akan memecatmu jadi asisten.” Ancam Azzam lalu segera membantu asisten nya itu memakai jas nya groomsmen yang sudah di siapkan.


“Tapi tuan bagaimana jika anda membutuhkan sesuatu?” tanya Jalal lagi.


“Ck, aku tidak hanya punya satu anak buah, Jalal. Tidak perlu mencari alasan lagi dan pakai saja.” ucap Azzam.


Jalal pun akhirnya menurut setelah usaha gagal untuk membujuk Azzam agar tidak menjadikan nya groomsmen. Dia bukan tidak ingin hanya saja dia merasa tidak pantas untuk mendampingi tuan nya itu di hari pernikahan nya karena dia hanya lah seorang asisten saja.


Azzam pun mengangguk, “Tentu saja. Kau akan bergabung dengan Gilang dan juga Gentala serta--” ucap Azzam terhenti karena untuk groomsmen satu nya itu masih di rahasiakan siapa.


“Serta siapa tuan?” tanya Jalal mendadak penasaran.


“Kau akan tahu nanti.” Balas Azzam tersenyum.


“Apa tidak bisa di katakan sekarang saja tuan.” Ucap Jalal.


Azzam menggeleng, “Semua itu sudah ada waktu nya. Tunggu saja. Tidak perlu terburu-buru.” ucap Azzam.


Tok tok tok


Azzam yang mendengar itu pun tersenyum menatap pintu, “Bukakan.” Ucap Azzam kepada Jalal yang langsung di turuti oleh Jalal.

__ADS_1


Dia segera menuju pintu dan begitu dia lihat siapa yang berada di balik pintu itu pun dia senang setengah mati, “Abrar, kau di sini? Ada apa kau ke sini?” tanya Jalal senang dan mempersilahkan asisten rahasia Azzam itu masuk ke dalam ruangan.


“Emang mau apa lagi coba? Tentu saja mendampingi tuan muda kita itu.” jawab Abrar kesal karena dia juga di paksa oleh Azzam untuk menjadi groomsmen.


Jalal yang mendengar itu pun segera menatap pakaian yang di pakai oleh Abrar yang memang sama dengan pakaian yang saat ini dia kenakkan.


“Hahahah,, jadi kau orang itu. Apa kau di paksa juga sama sepertiku?” tanya Jalal dengan tertawa.


Abrar yang mendengar Jalal menertawakan nya pun menatap jengah ke arah Jalal, “Menurutmu bagaimana?”


“Apa menurutmu aku akan melakukan ini jika tidak di paksa dan juga di ancam. Aku itu lebih suka berada di tempatku dari pada ada di sini.” Ucap Abrar kesal.


“Kau di ancam karena apa?” tanya Jalal penasaran.


“Dia akan merusak mengambil alat gaming yang ku miliki. Kau kan tahu itu adalah nyawa untukku.” jawab Abrar lesu.


Lagi-lagi jawaban itu pun gelak tawa Jalal, “Apa sudah saling curhat nya? Bisa kah tuan kalian ini bicara?” tanya Azzam setelah beberapa saat memberikan waktu untuk kedua asisten kepercayaan nya itu.


“Silahkan tuan.” Jawab Jalal.


“Ingat hari ini kalian bertindaklah sebagai pendampingku. Awas saja jika kalian bertindak sebagai asisten. Hari ini tugas kalian di serahkan kepada yang lain dulu.” Ucap Azzam.


“Anda sudah mengatakan nya berkali-kali tuan.” Ucap Jalal.


“Yups, aku saja sampai bosan.” Timpal Abrar.


Kedua nya tidak takut kena marah oleh Azzam karena memang Azzam pun tidak akan mungkin marah kepada kedua orang kepercayaan nya itu.


“Ck, aku ini adalah tuan kalian. Menyebalkan. Kenapa kalian tidak menghargaiku.” Umpat Azzam.


“Salah sendiri memaksa kami memakai pakaian serapi ini.” timpal Jalal.

__ADS_1


Lalu setelah itu ruangan pun di penuhi gelak tawa oleh ketiga nya yang melepas rindu mereka bersama. Bagi Azzam, Jalal dan Abrar adalah keluarga. Mereka sangat akrab satu sama lain dan tidak pernah saling mengkhianati satu sama lain.


__ADS_2