
Akira memberikan permen lollipop yang dibelinya pada Nala. Nala kaget melihat hal itu. "Akira, ini apa?" tanya Nala dengan wajah tidak percaya.
"Buat kamu, Sayang. Kamu kan kapan hari ingin membeli permen ini? Dan aku ingat di sini ada, makannya aku belikan."
"Kamu sedang mengidam Nala?" celetuk bibi Anjani.
"Bibi! Siapa yang mengidam? Aku sudah cukup memiliki mereka berdua. Ini Akira saja yang tiba-tiba sikapnya romantis begini.
"Ayah ternyata walaupun sudah berumur tetap romantis, ya?"
"Siapa bilang ayah sudah berumur, Sayang? Ayah masih muda dan romantis seperti ini itu akan ayah lakukan sampai nanti kita berdua sama-sama menua."
"Ayah so sweet sekali, aku berharap kelak menikah dengan pria sebaik dan seromantis ayah."
"Iya, ayah Akira benar-benar contoh suami yang bisa ditiru." Uni tersenyum.
"Aro, kamu besok juga harus bisa memperlakukan istri kamu seperti ayah kita, jangan bersikap dingin dan judes terus, nanti yang ada istrimu takut dan meninggalkan kamu."
Aro yang tadi main game pada ponselnya langsung melihat pada Ara. "Kamu tidak perlu mengajariku, aku tau caranya," jawabnya santai.
Akira akhirnya menjalankan mobilnya keluar dari tempat wisata itu.
"Kalian jangan salah. Awalnya ayah kalian itu juga sikapnya dingin dan datar, apalagi kalau lagi marah, bisa membuat orang takut hanya dengan melihat tatapan matanya," terang Nala.
"Jadi ayah seperti Aro?"
"Iya, hampir mirip Aro, tapi setelah bertemu ibu wanita yang yang dicintainya, ayah kamu malah berubah sangat romantis dan selalu memberi ibu banyak kejutan. Ibu saja tidak menyangka jika ayah kamu bisa berubah sangat menyenangkan saat bersama dengan ibu."
"Wah! Senang sekali wanita yang nanti sama kamu, Aro." Sekarang Ara malah melihat pada Uni. Muka Uni seketika tampak aneh.
Perjalanan yang memakan beberapa jam itu membuat perut mereka keroncongan dan akhirnya Akira mengajak mereka makan bersama di sebuah warung lesehan yang tempatnya cukup nyaman.
__ADS_1
Mereka makan bersama-sama. "Uni, nanti kita akan mengantar kamu langsung pulang ke rumah, Ya? Ini kan sudah malam soalnya."
"Iya, Ibu Nala, terima kasih."
"Atau kalau kamu mau, kamu menginap saja di kamarku, kita bisa tidur di satu ranjang, Uni."
"Maaf, Ara. Aku tidak bisa menginap, aku harus pulang, soalnya pasti nanti Tanteku mencariku, lalu siapa yang akan menyiapkan makan pagi untuk mereka? Lagian aku besok juga ada jadwal kuliah."
"Iya, juga sih! Tapi lain kali kalau tidak ada kuliah kamu boleh menginap di rumahku, ya Uni?" Uni mengangguk.
"Ayo cepat makan dan kita segera pulang, supaya tidak kemalaman sampai rumah."
Setelah selesai makan, Akira mengantar Uni pulang ke rumahnya, tapi hanya sampai di depan rumah karena di lihat lampu di rumah Uni sudah padam dan mereka tidak mau mengganggu Tante Uni.
"Terim kasih atas semuanya, hari ini aku benar-benar seperti memiliki keluarga."
"Sama-sama, Uni. Kami juga senang karena kami seolah memiliki satu anggota keluarga lainnya," kata Nala.
"Cepat tidur, Uni, supaya besok tidak terlambat kuliah."
Uni masuk ke dalam rumahnya dan mobil Akira pergi dari sana. Uni duduk di ruang makan, dia melihat piring kotor menumpuk di sana. Dia hanya bisa menghela napasnya pelan.
"Seperti biasa." Uni melepaskan jaket Aro dan memandanginya. "Aku lupa mengembalikan jaket ini. Sebaiknya aku cuci dulu baru besok aku kembalikan."
Saat Uni beranjak dari tempat duduknya terdengar suara tepukan tangan dari arah belakangnya.
"Bagus ya, ternyata seperti ini yang kamu lakukan tiap malam. Tidak bekerja di restoran, tapi mencari uang dengan cara kencan dengan om-om tampan dan kaya."
Uni tampak kaget dengan apa yang tantenya katakan. "Maksud Tante apa?"
"Pakai sok lugu lagi. Kamu kira kita tidak tau kelakuan kamu di luar sana? Aku melihat sendiri tadi kamu bersama om-om tampan berada di Taman Dream Land, dan kamu sangat akrab sekali dengannya." Selli ternyata sudah sampai lebih dulu beberapa menit dari Uni.
__ADS_1
"Kamu benar-benar membuat malu Tante dan om kamu yang sudah susah payah membesarkan kamu, Uni."
Dan tamparan keras mendarat pada pipi Uni. Seketika air mata Uni menetes membasahi pipinya. "Tante, aku benar-benar tidak tau apa maksud, Tante?"
"Halah! Kamu jangan sok polos di depan kita, Uni. Kamu bisa menabung sangat banyak dan membeli buku mahal itu karena menjual diri kamu sama om-om kaya, Kan?"
"Mengaku saja kamu, Uni?" tekan Tante Mira sambil mencengkeram tangan Uni dengan keras, apalagi kuku-kuku panjang tantenya mengenai daging Uni dan ada yang sampai berdarah.
"Sakit, Tante." Uni mencoba melepaskan tangannya.
"Kamu benar-benar anak yang tidak tau diri! Susah payah suamiku dan aku membesarkan kamu, menguliahkan kamu, tapi apa hasilnya? Kamu malah menjadi gadis yang tidak benar!"
"Aku tidak melakukan hal itu, Tante, aku bukan gadis yang tidak benar. Malahan aku pernah melihat Selli yang di jemput oleh Om-om gendut dengan mobil mewahnya saat aku menunggu angkutan umum di seberang jalan." Uni dengan polosnya mengatakan hal itu.
"Apa kamu bilang? Enak saja kamu memfitnahku!" Selli sebenarnya agak terkejut mendengar ucapan Uni.
"Jaga ucapan kamu, Uni!" Sekali lagi tamparan keras mendarat pada pipi Uni.
"Aku tidak bersalah, Tante, aku bisa jelaskan semuanya."
"Sekarang, kamu pergi dari rumah ini. Aku tidak sudi memelihara keponakan seperti kamu, bawa semua baju-baju kamu dan angkat kaki dari sini. Aku benar-benar muak melihat kamu!" teriaknya marah.
"Apa, Tante? Aku harus pergi dari rumah ini? Aku harus tinggal di mana kalau Tante mengusirku dari rumah ini?" Air mata Uni tidak bisa berhenti mengalir.
"Aku tidak peduli! Dan nanti om kamu akan aku jelaskan kenapa kamu pergi dari rumah ini. Sekarang pergi dari sini!" usirnya ketus.
Selli dengan cepat masuk ke dalam kamar Uni untuk membereskan barang-barang Uni. Uni yang ikut ke dalam kamar tampak kaget melihat kotak penyimpanan uang tabungannya sudah terbuka dan uangnya tidak ada sama sekali.
"Uangku di mana?"
"Uang kamu itu sudah menjadi milik Tante, karena selama ini kamu tinggal di sini. Anggap saja itu bayaran kami yang sudah mengasuh kamu dari kecil."
__ADS_1
"Iya, lagian uang itu pasti kamu dapat dari om-om tampan kamu itu. Kamu bisa minta lagi dengan mudah sama om kamu itu."
"Uang itu aku tabung dari awal aku masuk kerja di restoran cepat saji itu, bukan dari om-om yang kalian tuduhkan, kenapa kalian jahat sekali denganku?" ucap Uni dengan mata sembabnya."