
Ara sudah bersiap dengan penampilannya yang sederhana, tapi sangat cantik.
"Bagaimana penampilanku?"
Uni melihat dari atas sampai bawah, kemudian dia menautkan kedua jarinya membentuk huruf O. "Manis sekali," puji Uni.
"Ya sudah keluar dulu, ini tadi Mas David sudah mengirim pesan padaku jika dia mau sampai di depan rumahku."
"Aku juga mau keluar. Via juga pasti sudah mau sampai ke sini."
Mereka berdua keluar dan benar saja Mas David sudah sampai dan dia sedang berbicara dengan Nala di ruang tamu.
"Selamat ulang tahun, ya, David. Tante, ucapkan semoga kamu panjang umur dan sehat selalu."
"Terima kasih, Tante."
"Mas David kita pergi sekarang."
"Iya, Ara. Kamu cantik sekali."
"Masak sih? Aku kan sudah biasa dengan rayuan gombal Mas David."
"Kok rayuan? Ini hal sebenarnya Ara. Tante, Nenek, saya permisi dulu kalau begitu."
"Iya, hati-hati kalau begitu."
Uni yang teringat jika Ara lupa tidak membawa kadonya segera berlari mengejar Ara di depan, dan dia dengan cepat memberikan kado yang sudah Ara bungkus rapi.
"Terima kasih, Uni, aku kenapa malah lupa?"
"Iya, cepat masukkan ke dalam tas kamu, nanti ketahuan sama Mas David," bisiknya.
Ini mas David sudah di depan mobil dan Ara masih di depan pintu rumahnya karena dipanggil oleh Uni tadi.
Ara berjalan menuju mobil mas David dan pria itu melihat aneh pada Ara. "Ada apa sih? Kalian kok sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang serius?"
"Tidak ada apa-apa, ini rahasia antara wanita."
"Aku juga siap kok mendengar rahasia soal wanita," jawab David.
Kedua alis Nala mengkerut. "Mas David ini apaan sih?"
David terkekeh dan membukakan pintunya untuk Ara. Mereka pergi menuju cafe Dean. Uni yang masih berdiri di sana melihat ada mobil Via datang beberapa detik setelah mobil Mas David pergi.
"Hai, Uni!" Via turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Hai, Via. Kita pergi sekarang? Kalau iya, aku mau ambil tas aku dulu dan mengambil uangku."
"Tentu saja. Eh, tapi aku mau bertemu mamanya Aro dulu."
"Mamanya apa anaknya?" goda Uni.
"Keduanya kalau bisa, aku kan ingin mengambil hati calon mertuaku, Uni," bisiknya.
"Kamu tidak perlu mengambil hati mereka. Kamu itu sudah sangat baik dan pasti mereka menyukai kamu jika kamu menjadi anggota keluarga mereka."
"Pastinya, tapi jika ada gadis lain yang menghalangi, bisa-bisa aku tidak bisa menjadi anggota keluarga mereka." Uni terdiam mendengar hal itu. "Tapi kamu tenang saja, bagiku kekasihnya Aro itu bukan saingan berat buatku." Tangan Via memeluk pundak Uni.
"Ya sudah, ayo kita masuk dulu. Ibu Nala pasti senang bertemu dengan kamu."
Uni mengajak Via masuk dan di dalam Nala serta nenek Anjani menyambutnya dengan senang hati. Aro yang melihatnya hanya tersenyum kecil.
"Via, kamu sudah makan?"
"Sudah, Ibu Nala." Nala dan yang lainnya agak kaget mendengar Via memanggilnya dengan sebutan Ibu Nala. "Maaf, aku jadi ikut-ikutan Uni memanggil Ibu Nala."
"Tidak apa-apa kalau kamu juga ingin memanggilku Ibu Nala, kamu juga seumuran Ara."
"Terima kasih, Ibu Nala." Wajah Via tampak bahagia.
"Iya, aku akan menunggu kamu." Sekarang pandangan Via menuju pada Aro yang duduk dengan tegap dan dingin di sofa dengan buku di tangannya.
"Aro, kamu sedang baca buku apa?"
"Aku hanya membaca buku soal bisnis."
"Kamu tidak bosan membaca buku tentang bisnis?"
Aro baru melihat pada Via yang duduk di depannya. "Aku tidak bosan untuk belajar akan sesuatu hal. Apalagi itu berhubungan soal bisnis yang nantinya akan berguna untuk masa depanku."
"Oh iya, kamu kan nanti akan menjadi seorang CEO menggantikan ayah kamu. Pasti nanti kamu akan menjadi pemimpin yang sangat pintar dan banyak sekali dikagumi oleh banyak orang."
"Aku tidak butuh dikagumi oleh banyak orang, aku cuma ingin menjadi orang yang bisa membanggakan, dan bisa membahagiakan keluarga kecilku kelak." Aro melihat pada Uni yang sudah berdiri di sana.
"Via, ayo kita pergi sekarang."
"Iya, Uni. Aro, kita pergi dulu. Oh ya! Kapan-kapan aku boleh tidak belajar tentang bisnis sama kamu? Aku mau juga suatu saat bisa menjadi seorang pengusahan muda, dan siapa tau kita bisa bekerja sama."
"Iya," jawab Aro singkat.
Uni berjalan dengan Via dan mereka meminta izin pada Nala dan nenek Anjani. "Kamu benaran serius ingin mencari tempat tinggal baru, Uni?" tanya Nala sekali lagi.
__ADS_1
Uni mengangguk. "Iya, Ibu Nala. Aku sudah menentukan pilihanku, dan aku tidak mau mundur lagi."
"Ya sudah kalau begitu. Ini sudah keputusan kamu. Lagian ayah Akira kamu juga mendukungnya. Kalau kamu membutuhkan sesuatu kamu jangan sungkan mengatakan pada kita." Uni mengangguk.
"Kami permisi dulu."
Aro hanya melihat di tempatnya dan mereka pergi dari sana.
Di Cafe milik Dean, semua teman-teman Ara sudah berkumpul. Dean sudah menyiapkan tempat untuk mereka semua, bahkan hidangan yang dipesan oleh David juga sudah tersedia.
"Halo, semua. Maaf, pasti kalian lama menunggu."
"Kalian berdua pacaran dulu ya? Kok lama sekali?" celetuk Marta.
"Siapa yang pacaran, ini mas David tadi mampir sebentar ke toko kue untuk membeli kue ulang tahun."
"Inikan hari ulang tahunku, masak tidak ada kue ulang tahunnya? Aku kan ingin meniup lilin," celetuk David manja.
"Ya ampun! Kenapa kamu bisa sweet begitu sih mukanya Mas David?" puji Ara.
"Ini karena aku keseringan dekat sama kamu, Ara."
Seketika wajah Ara merona malu. Dean yang melihatnya tampak terdiam.
"Aku permisi dulu ke belakang karena mau menyiapkan hal lainnya."
"Kamu jangan di belakang terus, Dean. Nanti acara akan di mulai kamu harus ikut ke sini."
"Iya, David, nanti aku akan hadir, kamu tenang saja, aku masih menyiapkan sisanya dulu. Kalian semua mengobrol dulu saja."
Ara melihat Dean masuk ke dalam dapur. "Ra, kamu melamun apa? Apa kamu tidak mau memberikan kado untuk Mas David?" suara Tania berhasil membuat Ara tersadar.
"Nanti saja, aku sudah siapkan semuanya kok."
"Oh ya. Aku minta tolong perhatian untuk semuanya," suara mas David membuat mereka semua melihat ke arah Mas David.
"Ada apa ini?" Ara tampak heran.
"Maaf sebelumnya, Ara. Aku mengatakan ini hanya untuk meminta pendapat sama teman-teman kamu saja, tidak ada hal lain yang ingin mempersulit kamu."
"Ada apa sih, Mas David? Aku kok jadi takut begini?"
"Ara, kita memang dekat masih sangat sebentar, tapi kenapa aku merasa kamu begitu spesial buatku. Kalau aku ingin mengajak kamu untuk ke hal lebih serius. Apa kamu mau menerimanya?"
"Oh Tuhan! Mas David nembak Ara?" Kedua mata Marta mendelik.
__ADS_1