
“Akira, Rhein, kenapa kalian melakukan hal ini kepadaku yang begitu menyayangi kalian, kenapa kalian harus jatuh cinta dengan wanita yang sama sekali jauh dari keinginanku. Apa kalian ini menghancurkan nama baik keluarga kita yang daddy bangun cukup sulit.” Kedua tangan Addrian mengepal erat menahan emosinya.
Ini bapaknya Akira dan Rhein belum tau tentang anaknya Rhein yang nanti punya kisah cinta yang rumit dengan seorang gadis yang bekerja di club malam. Waduh! Bisa-bisa pingsan ini emak dan bapaknya Rhein.
Addrian kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Author kok takut ya ini bapaknya Akira mau melakukan apa?
Terlihat wajah serius Addrian Danner berbicara dengan seseorang di seberang telepon. “Aku akan memberi kamu semua informasi tentang gadis itu, lakukan apa yang aku suruh, lakukan dengan sangat baik dan aku tunggu kabar dari kamu secepatanya.
.
“Baik, Pak Addrian,” jawab pria di seberang telepon.
Keesokan harinya Nala dan Akira setelah makan pagi di dalam kamar, mereka turun ke parkiran, ternyata Silvia mengikuti mereka dan tau jika semalam Nala menginap dengan Akira, dia langsung menuju ke kantornya untuk memberi pelajaran untuk Nala. Silvia sangat marah dan cemburu dengan Nala yang terlihat sok lugu. Namun, nayatanya dia wanita yang suka menggoda pria beristri.
Sesampai di kantornya Nala segera masuk ke dalam pantry dan membuatkan coklat hangat untuk Akira. Tidak lama Silvia datang dan dengan seenaknya mengambil coklat hangat untuk Akira.
“Nala, aku sudah bilang biar aku saja yang membuatkan minuman coklat hangat untuk Akira, kamu tidak perlu repot-repot lagi. Lagian kamu itu jangan terlalu mencari perhatian dengan Akira. Dia itu sudah mempunyai istri dan kamu sudah menikah, apalagi kamu sedang hamil.” Silvia mengambil cangkir coklat buatan Nala dan membawanya pergi dari sana.
“Nala, dia kenapa bicara seperti itu sama kamu?” tanya Mba Sari.
Nala menggedikkan bahunya tidak tau. “Aku hanya membuatkan coklat hangat seperti biasanya, malahan Pak Akira sendiri yang bilang aku boleh mengantar coklat hangat setiap hari.”
“Mungkin dia cemburu sama kamu.” Mba Sari terkekeh. “Dia naksir Pak Akira, tapi Pak Akira malah lebih perhatian sama kamu atau malahan Pak Akira yang naksir sama kamu?” Mba Sari melihat ke arah Nala.
“Mba Sari, jangan bicara yang tidak-tidak. “
“Eh, tapi serius Nala. Aku kalau jadi Pak Akira mending milih kamu saja dari pada wanita itu, dia tidak bisa dijadikan istri yang baik. Modelnya seperti wanita penggoda begitu.”
“Pak Akira sudah mempunyai istri, dia hanya akan memilih istrinya. Sudah! Kita lanjutkan saja pekerjaan kita, Mba."
Silvia mengetuk pintu ruangan Akira dan Silvia masuk ke dalam ruangan Akira dengan membawa secangkir coklat hangat yang sebenarnya tadi buatan Nala.
__ADS_1
“Akira, ini aku bawakan coklat hangat buat kamu.” Silvia menaruh di atas meja kerja Akira.
“Silvia, sebaiknya kamu panggil aku dengan sebutan Pak kalau kita sedang berada di lingkungan kantor, aku tidak mau karyawan lainnya nanti mencuriga kita ada apa-apa.”
“Maaf, tadi aku keceplosan, dan aku kangen sama kamu, aku dari semalam menunggu kamu menghubungiku, tapi kamu tidak datang.”
“Aku masih ada urusan lain, Silvia. Nanti malam aku janji aku akan menemui kamu di kamar kamu, dan kali ini aku pasti akan datang”
Silvia mencoba mendekat ke arah Akira, tapi dia terkejut saat terdengar suara ketukan pintu dari luar. “Huft! Siapa yang sukanya menggangu kita?” Silvia tampak kesal.
“Silvia sebaiknya kamu kembali ke ruangan kamu, nanti malam saja kita akan bertemu.”
“Baiklah, Akira.” Silvia berjalan menuju pintu ruangan Akira dengan muka kesalnya dan ternyata yang mengetuk pintu adalah sekretaris Akira yang akan menyerahkan dokuman yang diminta Aikira.
Beberapa jam sebelum jam makan siang, Silvia menghubungi Nala dan meminta Nala untuk membuatkan teh dan membawanya ke ruangan Pak Akira karena Silvia akan mengajak Akira makan siang di ruanganya.
“Kamu mau makan di ruangan Pak Akira?” tanya Nala.
Tidak lama jam makan siang tiba dan Silvia ingin menjalankan rencananya untuk membuat Nala melihat apa yang dilakukan Silvia dan Akira. Nala harus tau dia mempunyai saingan yang berat untuk merebut Akira.
“Sayang, karyawan lainnya sudah pergi ke kantin, aku membawakan kamu makan siang untuk kita karena kemarin kita gagal untuk makan siang bersama karena kehadiran kedua orang tua kamu.”
“Kamu makan saja dulu, aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku sebentar.” Akira serius duduk di kursi utamanya dengan melihat serius pada kertas-kertas di depannya.
Silvia berjalan perlahan dan mendekati meja Akira. Silvia menunduk dan mengusap lembut kemeja Akira. “Sayang, kita makan siang dulu, aku tidak mau kalau kamu nanti sampai sakit.” Sekarang posisi Silvia malah duduk di pangkuan Akira. Tangan wanita itu menggelayut pada leher Akira.
Akira meletakkan penanya dan melihat ke arah Silvia. “Apa kamu benar-benar menyukaiku?”
“Tentu saja aku menyukai kamu, aku sangat tergila-gila sama kamu, Sayang. Aku ingin bisa menjadi milik kamu,” ucapnya lembut.
“Kamu tau aku sudah mempunyai istri, lalu kamu menyukaiku karena apa? Hartaku, atau apa?”
__ADS_1
“Aku tidak peduli kamu memiliki istri, aku mau menjadi wanita kedua dalam hidup kamu karena aku tertarik akan sikap kamu, dan ketampanan kamu.”
“Apa hanya itu?” pancing Akira.
“Tentu saja, apalagi?” Saat bibir Silvia akan mendekat menyentuh bibir Akira tiba-tiba kembali di ketuk dan Silvia dengan cepat menyuruh si pengetuk masuk karena dia tau itu pasti Nala.
“Pak ini minuman--.” Nala terdiam melihat posisi Silvia yang duduk di pangkuan Akira.
“Nala,”
“Kamu letakkan saja di meja dan terima kasih ya Nala, kamu bisa pergi dari sini.”
Entah kenapa Nala seolah ingin menangis, dia tau suaminya hanya berpura-pura, tapi sakitnya berasa sekali ini. Bayangan Akira dan Anabellla di masa lalu seketika muncul melihat mereka.
“I-iya,” Nala segera pergi dari sana dan Silvia tersenyum miring. Akira tau jika istrinya terlihat terluka melihat dia dan Silvia seperti itu.
“Silvia, apa yanga kamu lakukan?” Akira menyuruh Silvia bangkit dari pangkuannya.
“Memangnya kenapa? Nala tidak akan bercerita kepada karyawan lainnya, dia hanya OB di sini, kamu bisa mengancamnya jika dia bercerita kamu akan memecatnya, dia tidak akan cerita.”
“Gadis bodoh!” gerutu Akira kesal.
“Kamu bicara apa, Akira?” tanya Silvia yang tidak mendengar ucapan Akira.
“Kita tidak bisa main ancam seperti itu, Silvia, sebaiknya kamu keluar dan makan siang di kantin saja. Aku mau sendirian di sini.”
“Tapi Akira, aku sudah membawakan kamu semua makanan ini.”
“Kalau kamu mau kamu makan saja di meja kamu, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu, lagian kalau ada yang mengetahui kejadian kita tadi juga tidak baik untukku.”
“Ya sudah, kamu makan saja makanan itu dan aku akan ke kantin saja.” Silvia pergi ke kantin dan setelah Silvia pergi ke kantin. Akira menghubungi Nala dan bertanya di mana, Nala. Nala ternyata ada di pantry, Akira segera ke sana.
__ADS_1