
"Mas, sejak kapan kau bisa membobol CCTV?"
Azzam yang mendengar pertanyaan istri nya itu seketika terdiam. Dia lupa memikirkan alasan apa yang akan di berikan kepada istri nya itu terkait hal ini. Dia lupa istri nya itu sangat pandai dalam memikirkan apa yang tejadi dan saat ini di tambah dengan kemampuan seorang wanita yang sejak lahir pasti sudah di bekali dengan kemampuan bisa membaca pikiran dan mudah penasaran akan sesuatu.
“I-itu mas tahu sejak--” ucap Azzam tergagap.
“Sudah lah mas jika memang tidak pandai berbohong itu jangan coba-coba mencari alasan untuk berbohong karena aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan itu. kau ini adalah suamiku. Jadi aku sebagai istrimu harus tahu apapun tentang dirimu. Kita baru menikah seminggu lalu dan aku masih memaklumi bahwa kita tidak saling kenal satu sama lain. Tapi untuk ke depan nya nanti. Kita sudah harus saling kenal mas. Aku tidak ingin di duga menelantarkan suamiku karena tidak tahu sama sekali terkait suamiku. Jadi kita harus membicarakan ini. Jangan sampai ada rahasia lagi di antara kita.” Ucap Husna.
Azzam pun mengangguk saja. Dia sangat kenal istri nya itu bukan lah seorang gadis yang suka bicara banyak. Istri nya itu lebih mementingkan tindakan dari pada bicara yang menurut nya melelahkan. Tapi jika istri nya itu sudah bicara maka pasti ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.
“Baiklah nanti kita akan membicarakan nya. Mas akan menceritakan apapun tentang mas kepadamu.” Ucap Azzam.
Husna pun tersenyum lalu dia segera bermanja di lengan suami nya, “Aku harap mas tidak keberatan sama sekali dengan tingkahku ini.” Ucap Husna.
“Aku mulai menyayangimu mas.” Lanjut Husna membatin. Dia tidak mungkin mengatakan hal itu karena seperti biasa seorang perempuan itu sangat menjaga harga diri mereka di hadapan seorang lelaki sekali pun itu adalah suami mereka.
Setelah melihat CCTV itu baik Husna maupun Azzam sepakat untuk memberi efek jera kepada Kirana. Mereka masing-masing menelpon orang kepercayaan masing-masing. Jika apa yang di lakukan Husna di ketahui oleh Azzam maka berbeda dengan apa yang di lakukan Azzam, Husna tidak mengetahui nya. Seperti yang di katakan Husna bahwa mereka yang baru menikah tanpa saling kenal secara dalam masing-masing sebelum nya dan hanya kenal sebatas dosen dan mahasiswi nya sehingga membuat mereka tidak saling tahu satu sama lain dan membuat mereka saling menutupi rahasia satu sama lain. Walau Husna sudah mengatakan rahasia nya sebagai penulis tapi masih ada satu rahasia yang dia sembunyikan dari suami nya itu hingga kini dan jujur saja dia merasa sangat berdosa melakukan itu.
“Maaf ya mas aku belum bisa jujur sepenuh nya kepada mu. Tapi aku janji akan melupakan semua nya dan kita akan hidup dengan bahagia.” Batin Husna lagi lalu menatap suami nya itu. Mereka pun saling bercanda satu sama lain hingga kedua nya memutuskan untuk pulang.
Kini Husna dan Azzam pun keluar dari gedung fakultas berjalan beririgan hingga tiba-tiba saja ada yang menarik lengan Husna. Husna yang tidak siap akan hal itu pun tanpa sengaja jatuh ke pelukan orang menarik nya itu.
Begitu Husna sadar dia pun segera mundur dan memandang siapa yang sudah menarik nya, “Ketua tingkat!” ucap Husna lalu dia segera mundur hingga ke samping suami nya itu.
Azzam sebenar nya kesal melihat pria di hadapan nya itu yang sudah dengan berani menarik istri nya saat dalam jangkauan nya. Ingin rasa nya dia menghancurkan pria di hadapan nya itu tapi sayang hal itu tak bisa dia lakukan karena ini masih area kampus. Lebih baik sekarang dengarkan apa alasan yang akan di berikan pria itu untuk membela apa yang sudah dia lakukan, “Kenapa kamu menarik Azarine seperti itu Gilang?” tanya Azzam datar mengisyaratkan bahwa dia sedang mencoba mengendalikan diri nya dari kekesalan yang datang.
__ADS_1
“Maaf pak tapi ini urusan saya dengan Husna. Tidak ada hubungan nya dengan bapak. Jadi bisa kah saya bicara dengan Husna?” izin Gilang menatap Husna dan Azzam itu tanpa rasa takut.
Sementara Gentala yang mengamati dari jauh hanya bisa mengutuk apa yang di lakukan oleh sepupu nya itu yang menurut nya sungguh sangat bodoh dan sangat bodoh. Apakah cinta memang bisa mengubah seseorang bisa bertindak bodoh dan gila seperti itu.
“Gak, aku tidak ingin bicara dengan mu ketua tingkat. Aku menolak nya. Ayo mas, Kita pulang.” Ucap Husna menolak.
Gilang yang mendengar panggilan Husna kepada Azzam itu yang berbeda kini semakin membuat nya sadar bahwa seperti nya dia sudah tidak punya kesempatan sama sekali. Seperti nya dia harus mundur. Seperti nya apa yang di lakukan dengan mencoba melakukan penyangkalan atas berita yang beredar bahwa Husna sudah menikah itu salah. Dia hanya mencoba membiarkan hati nya terluka akan hal itu. Seperti nya dia benar-benar sudah kalah. Tapi tidak dia harus mendengarkan sendiri dengan telinga nya sendiri bahwa gadis yang dia cintai itu sejak tiga tahun lalu saat pertama kali dia lihat, harus dia relakan untuk seseorang yang baru saja datang.
Itu salah nya sendiri yang tidak berani mengungkap kan perasaan nya sendiri pada gadis itu. Dia memang bodoh dan bersalah akan hal itu hingga kini dia harus menelan pil pahit atas kehilangan gadis itu tepat di depan mata nya. Namun sekali lagi dia tidak akan menyerah untuk mewujudkan tekad nay yang ingin mendengar sendiri dari bibir Husna bahwa Azzam adalah suami nya.
“Na, setidaknya katakan padaku apa hubungan kalian? Apa memang benar hubungan kalian seperti apa yang di bicarakan orang-orang?” tanya Gilang lemah.
Dia sebenar nya sudah sangat lemah dan rapuh untuk menerima kenyataan yang ada. Kenyataan yang sudah ada di depan mata nya namun coba dia tolak. Jika di katakan saat ini kondisi nya itu jika ada yang mendorong nya sedikit saja pasti dia akan jatuh. Itu lah dia saat ini.
Gilang pun menatap Husna itu yang seperti nya sangat berbeda dengan Husna yang dia kenal yang diam saja ketika ada yang memanggil nya ini dan itu. Husna yang tidak mempermasalahkan apapun julukan yang di berikan oleh orang di sekitar nya selama itu tidak menyakiti nya. Hal itu lah yang membuat nya menyukai Husna. Rasa ingin melindungi gadis itu. Tentu saja selain iris mata milik Husna yang menurut nya sangat cantik apalagi ketika di tambah gadis itu sedang tersenyum.
Kini gadis di hadapan nya itu terlihat sangat tegas dan berwibawa. Husna terlihat tidak butuh pertolongan lagi dari nya. Gadis itu terlihat berbeda tapi harus dia akui bahwa perasaan yang dia miliki untuk gadis itu tetap sama tidak berubah sama sekali.
Gilang menggeleng dengan perlahan, “Bukan seperti itu, Na. Aku hanya ingin mendengar secara langsung darimu bahwa kalian memang memiliki hubungan sehingga aku tidak berspekulasi buruk tentang kalian. Aku hanya ingin mencoba meyakinkan hatiku saja bahwa aku sudah kalah dan tidak memiliki harapan apapun lagi.” Jawab Gilang.
Azzam yang mendengar ucapan pria di hadapan nya itu yang terdengar pilu membuat nya iba dan ikut sedih. Tapi bukan berarti dia akan mengikhlaskan istri nya itu untuk jadi milik pria itu. Tidak akan pernah. Azarine Salsabila Husna adalah istri nya dan selama nya pemilik nama itu hanya akan jadi istri nya saja. Istri dari Azzam Faruq Munawwir.
Azzam bisa melihat cinta yang tulus di mata pria itu untuk istri nya itu. Tapi tentu saja dia tetap tidak akan melepaskan istri nya.
Jika Azzam sudah menyadari cinta di mata Gilang untuk Husna maka berbanding terbalik dengan apa yang ada dalam pikiran dan pandangan Husna begitu mendengar ucapan Gilang itu. Dia menjadi bingung sendiri.
__ADS_1
Husna memang cerdas di balik sikap misterius yang dia miliki tapi jika menyangkut soal perasaan apalagi itu adalah perasaan cinta maka dia tidak bisa mengerti akan hal itu. Dia tidak mengerti apapun akan hal itu.
Husna sendiri sadar apa yang membuat nya tidak bisa mengenali rasa cinta di hati nya. Itu karena satu kejadian di masa lalu nya yang membuat nya harus mengubur rasa itu bersama kesedihan dan kesakitan yang dia miliki. Tapi satu hal yang pasti dan baru dia sadari setelah menikahi suami nya itu atau mungkin sejak pertemuan pertama dengan suami nya itu saat di toko buku. Benteng rasa cinta di hati nya itu perlahan terkikis dan dia mulai bisa mengenali rasa cinta di hati nya. Tapi sekali lagi itu hanya berlaku untuk Azzam saja. Jika untuk pria lain maka entah kenapa dia tidak bisa melakukan nya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan itu ketua tingkat? Kenapa kau mengatakan harapan dan kekalahan? Apa hubungan nya dengan yang kita bicarakan saat ini.” Ucap Husna bertanya dengan nada bingung nya.
Azzam yang mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir istri nya yang sangat jauh dari apa yang dia pikirkan itu kini menjadi bingung sendiri dan bertanya-tanya apa istri nya sedang berpura-pura tidak sadar atau bagaimana. Tapi ekspresi bingung yang sangat kontras yang di tunjukkan istri nya itu membuat nya percaya bahwa istri nya itu memang belum sadar akan makna tersirat dan pandangan Gilang kepada nya yang mengisyaratkan cinta.
Gilang memang Azzam begitu pertanyaan keluar dari bibir Husna, “Aku mencintaimu Husna. Jadi untuk itu lah aku ingin tahu apa yang sebenar nya hubungan yang kalian miliki agar aku bisa mundur dan tidak mengganggu hubungan kalian. Agar aku bisa menata hatiku kembali yang sudah retak atau mungkin hancur karena cintaku sudah kalah bahkan sebelum aku ungkapkan. Jadi setidak nya walau pun aku sudah merasa yakin sekitar 90 persen telah kalah. Namun apa salah nya aku bertaruh dengan sepuluh persen itu. Siapa tahu saja kalian tidak memiliki hubungan dan panggilan mas yang kau berikan tadi itu hanya lah bagian hubungan persaudaraan. Siapa tahu aja kau dan pak Azzam hanya lah kakak beradik dan baru terungkap sekarang karena saking misterius nya dirimu selama ini.” Ucap Gilang.
“A-aku …” ucap Husna tidak terlanjut karena Gilang langsung memotong nya.
“Jangan jawab dulu Husna. Aku belum selesai bicara. Dengarkan dulu ungkapan hati ku ini agar aku tidak akan merasa jadi pecundang karena mendapat penolakan sebelum mengungkapkan perasaan ku. Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihat mu di masa pengenalan kampus. Lalu semakin ke sini perasaan itu semakin mengakar di hatiku dan aku menyadari bahwa ternyata itu adalah cinta. Aku memang bodoh karena tidak langsung mengakui nya saat menyadari perasaan itu. Tapi aku melakukan itu juga bukan tanpa alasan. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku bisa melihat keinginanmu itu yang ingin cepat lulus. Aku ingin melindungi mu dari jauh saja. Selama kau baik maka itu adalah yang terbaik. Tapi ternyata pilihan yang ku buat itu salah. Aku tidak bisa membedakan mana yang terbaik atau tidak. Aku takut kau menolak nya.”
“Aku memang bodoh. Seharus nya aku mengakui perasaanku itu tanpa berpikir apa kau akan menolak nya atau tidak. Kini aku baru menyesali nya semua nya di saat semua sudah terlambat. Aku sangat tidak menyangka ini semua akan terjadi. Tapi mungkin ini memang takdirnya. Jadi bisa kah kau mengasihani pecundang cinta ini agar dengan mengatakan hal yang sebenar nya di antara kalian. Aku hanya ingin memastikan saja. Jika memang semua nya sudah terlambat maka aku janji aku akan mundur.” Ucap Gilang akhir nya menyelesaikan perkataan panjang nya itu.
Husna pun terdiam mendengar ungkapan hati dari ketua tingkat nya itu yang entah kenapa sedikit membuat nya sedih. Dia tidak menyangka bahwa akan ada yang mencintai nya seperti itu. Sungguh dia tidak tega tapi apa boleh buat takdir sudah menentukan pilihan nya. Husna juga sudah menemukan jalan yang di inginkan hati nya kemana.
Husna memandang ke arah suami nya lalu Azzam mengangguk perlahan. Dia secara pribadi mengagumi kejujuran dan ketulusan cinta yang di miliki pria yang tiga tahun lebih muda dari nya itu.
“Gilang, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu tapi hatiku sudah menemukan takdir nya. Hatiku sudah menemukan pasangan hati nya yang lain. Takdirku sudah menemukan pasangan takdirnya.” Ucap Husna memandang Gilang lalu menggenggam tangan suami nya itu di hadapan Gilang.
“Terima kasih atas cinta dan ketulusan yang kau miliki untukku. Aku yakin di luaran sana pasti ada seorang gadis yang pantas untuk menerima ketulusan hatimu itu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Tapi aku juga tidak ingin berbohong dan aku juga ingin mewujudkan keinginan itu.” Ucap Husna kembali terjeda lalu dia memandang Azzam.
“Aku dan mas Azzam adalah pasangan suami istri. Kami sudah menikah.”
__ADS_1