My Secret Love

My Secret Love
Acara Bazar Di mulai


__ADS_3

Uni menjelaskan jika dia tidak sengaja membawa gunting dan Aro yang menarik tangannya untuk meminjam gunting itu lebih dulu. Ini Uno agak berbohong pada Via.


"Kami ceroboh sekali, Uni."


"A-aku tidak sengaja, Via."


"Aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir." Aro malah terlihat biasa, dia hanya terfokus pada air mata Uni.


"Aro, aku akan mengantar kamu ke ruang kesehatan. Tangan kamu harus kamu obati."


"Aku tidak apa-apa," jawabnya santai.


"Aro! Tangan kamu tidak baik-baik saja. Uni, kamu pergi saja ke stand bazar kita, aku akan membawa Aro ke ruang kesehatan."


Uni mengangguk dan Via menggandeng tangan Aro membawanya ke ruang kesehatan. Uni hanya bisa diam dan melihat dua orang itu pergi dari sana.


Di ruang kesehatan. Via memanggil petugas medis dan menunjukkan luka Aro. Via tampak khawatir dengan luka yang ada di tangan Aro. Via membuka sapu tangan yang tadi diikat oeh Uni dan membuangnya sembarangan.


Petugas itu lantas memeriksa luka pada tangan Aro. "Bagaimana dengan lukanya? Apa perlu di bawa ke rumah sakit?"


"Tidak perlu, tangan Aro tidak apa-apa, aku akan memberinya obat kemudian menutup lukanya."


Uni duduk dengan wajah sedih sambil menggunting pita untuk dekorasi standnya.


"Auw!" Jari Uni tidak sengaja terkena gunting juga hingga berdarah. Uni mengisap darah yang keluar dari jarinya. "Aro, aku minta maaf, aku tidak bermaksud melukai kamu."


Tidak lama Rian datang ke sana dan aneh melihat Uni yang menangis. "Kamu kenapa menangis, Uni?"


"Aku tadi tidak sengaja melukai tangan Aro dengan gunting."


"Apa? Kamu melukai tangan Aro? Bagaimana bisa?"


Uni menceritakan kejadiannya dan Rian tampak kasihan pada Uni karena memang Uni tidak sengaja melukai Aro.


"Lalu keadaan Aro bagaimana?"


"Via masih membawa Aro ke ruang kesehatan."


Rian menghampiri Uni dan mencoba menenangkan Uni, dia duduk di depan Uni dengan mengusap-usap perlahan pundak Uni agar Uni lebih tenang."

__ADS_1


"Ehem ...!"


Mereka berdua kaget mendengar suara deheman dari arah belakang mereka. "Via, Aro, kalian sudah kembali? Bagaimana keadaan Aro?" tanya Rian.


Aro tidak menjawab malah fokus melihat tangan Rian pada pundak Uni.


"Aro sudah tidak apa-apa."


Uni hanya terdiam sambil melihat dengan mata sembabnya pada Aro. "Aku minta maaf, Aro," ucap Uni lirih.


"Rian, kamu sedang apa ada di sini? Bukannya kamu harus memeriksa semua stand di sini dan acaranya apa sudah siap karena sebentar lagi acara juga akan dimulai."


"Aku tadi sudah memeriksa sebagia. Lalu terakhir di tempat Uni, aku khawatir melihat Uni tadi menangis ternyata di cerita tidak sengaja melukai kamu. Aku coba menenangkannya."


"Ya sudah, sekarang kamu ikut aku, kita segera selesaikan semuanya dan aku juga mau berganti baju sebentar untuk acara pemberian sambutan."


"Iya. Uni, Via, aku pergi dulu, ya?" Rian berpamitan dengan mereka.


Via menghela napas leganya, dan melihat Uni yang sudah terlihat lebih baik. "Kamu menangis kenapa? Apa kamu takut di pecat?"


Uni hanya mengangguk, sebenarnya bukan itu alasan Uni menangis, dia lebih takut Aro kenapa-napa, tapi dia berbohong.


"Aku kan tadi tidak sengaja dan spontan terkejut."


"Ya sudah kalau begitu. Kita segera menyelesaikan pekerjaan kita saja, semoga Rendy juga segera datang dan dapat membantu kita nantinya."


Mereka berdua segera kembali menyelesaikan pekerjaannya dan Uni yang lebih banyak bekerja. Via lebih banyak melamun membayangkan wajah Aro dan tadi dia menolong Aro.


"Auw!"


"Kamu kenapa Uni?" Via tampak kaget mendengar Uni yang berteriak kesakitan.


"Tadi jari aku terkena gunting saat memotong pita-pita itu karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi sama Aro."


"Tangan kamu terluka dan sebaiknya kamu pergi ke ruang kesehatan meminta plester agar tidak sakit tangan kamu."


"Iya, Via. Aku akan ke ruang kesehatan sebentar dan semua sudah aku selesaikan, tinggal menata barang-barang kita di atas meja."


"Iya, kamu tenang saja, biar aku yang menyelesaikannya."

__ADS_1


Uni berjalan menuju ruang kesehatan, saat melewati ruang panitia. Uni tidak sengaja melihat Aro yang sedang berdiri sendirian berusaha mengancingkan kemeja yang di pakainya.


"Tuan Muda Aro," panggil Uni dari luar pintu yang tidak tertutup rapat.


Aro seketika menoleh dan melihat Uni berdiri di sana. "Uni?"


Uni masuk ke dalam ruangan itu. "Aku akan membantu memakaikan baju kamu, kamu terlihat kesakitan karena mungkin tangannya yang luka tadi.


Uni langsung memasangkan kancing Aro satu persatu yang tinggal sekitar 5 buah belum terpasang. Uni tidak mengancingkan sampai atas agar tidak terlalu formal, kemudian Uni memakaikan kemeja milik Aro.


"Uni!"


"Auw!"


"Kamu kenapa?"


"Jari aku sakit." Wajah Uni tampak meringis kesakitan.


"Jari kamu berdarah?" Aro lalu memasukkan jari Uni pada mulutnya untuk menghentikan darahnya.


"Tuan Muda Aro, jangan begini! Aku tidak mau kalau sampai teman-teman kamu melihatnya." Uni menarik tangannya dan langsung berjalan pergi daro ruangan itu. Aro yang berdiri di tempatnya menatapnya nanar.


Uni berjalan dengan menoleh ke sana ke mari memeriksa apa ada orang yang melihatnya keluar dari ruangan Aro.


Setelah beberapa menit. Uni kembali ke stand bazarnya dan ternyata di sana sudah ada Rendy.


"Uni, maaf ya jika aku membuat kamu merasa menderita. Kenapa kamu tidak bercerita jika kamu sedang menghadapi masalah yang sangat besar, dan aku sudah tau semua apa yang terjadi sama kamu."


Uni melihat ke arah Via. "Habis dia tanya terus soal kamu, aku ceritakan saja sama dia, dan dia berjanji tidak akan membuat hidup kamu lebih sulit. Rendy hanya ingin menjadi sahabat kamu Uni." Tangan Via mengusap lembut pundak Uni.


"Aku juga menerima jika kamu mau menjadi sahabat aku. Aku tidak mau memikirkan dulu masalah tentang suatu hubungan."


"Aku akan coba mengerti Uni. Ya sudah kalau begitu, aku akan membantu kalian menjual jus ini."


Rendy berteriak di depan stand jus milik Uni dan Via sebagai cara menarik pelanggan. Uni dan Via tampak tertawa melihat kelakuan Rendy yang polos.


Beberapa pembeli mulai berdatangan dan mencoba membeli jus buatan Uni. "Wah! Jus kamu laris manis, ya, Uni."


"Aro," ucap Via lirih. Via tampak terpesona melihat penampilan Aro yang malam ini tampak sangat tampan dengan setelah kemeja berwarna serba hitam.

__ADS_1


"Apa aku boleh memesan jus juga sebelum kami naik ke atas panggung. Jujur saja aku agak nervous nanti harus tampil pertama membawakan semua lagu di sana."


__ADS_2