My Secret Love

My Secret Love
Wanita Pengganggu


__ADS_3

Akira dan Nala kembali membersihkan diri, kemudian mereka makan malam bersama setelah pesanan mereka datang.


"Rasanya berbeda ternyata," ucap Akira.


"Apanya yang berbeda? Makananya?"


"Bukan, yang tadi."


Nala melirik ke arah suaminya. "Maksud kamu soal yang tadi?"


"Iya, biasanya kamu begitu menikmatinya dan aku juga, tapi tadi aku harus bisa menahan agar tidak bersikap berlebihan. Jujur saja aku tadi juga was-was melakukannya, takut akan melukai bayiku."


"Aku juga sama, apalagi ini pengalaman pertama aku hamil juga, aku sangat takut ada apa-apa dengan bayiku."


"Kalau begitu, aku tidak akan sering-sering melakukannya." Akira tersenyum.


"Kalau bisa sampai nanti aku melahirkan saja," celetuk Nala.


"Apa? Jangan begitu, Nala. Aku tidak akan kuat," rengeknya seperti bayi yang minta permen pada ibunya.


"Apa akan baik-baik saja?"


"Aku akan terus menghubungi dokter spesialis kandungan kamu itu untuk mengkonsultasikan semuanya. Aku akan pelan-pelan melakukannya. Aku tidak mau melakukannya sendiri di kamar mandi, itu sangat menjijikan."


Nala tersenyum kecil mendengar keluhan suaminya. Tidak lama ponsel Akira berbunyi dan terlihat nama Silvia di sana.


"Wanita itu benar-benar tidak mau melepaskan kamu."


"Biarkan saja, aku tidak peduli." Akira melanjutkan makannya.


Tidak lama Akira mendapatkan pesan dari Silvia. Silvia mengatakan jika dia dari tadi mengetuk pintu kamar Akira, tapi dia tidak mendapat jawaban. Silvia membuatkan minuman cappuccino untuk menemani Akira yang sibuk mengerjakan tugas kantornya. Apa Akira sedang tidak ada di kamar atau ketiduran?


"Kamu balas saja kalau aku sedang bercinta dengan office girl di kantorku. Lama-lama aku sebal dengan wanita itu."


Nala mendelik mendengar ucapan suaminya yang ngasal itu. "Kamu itu, jangan bicara sembarangan."


"Ya sudah, tidak perlu di balas. Biarkan saja, biar dia menganggap aku ketiduran.


" Tapi aku sudah membacanya. Kau balas saja kalau kamu tiba-tiba ada telepon penting dari teman kamu dan kamu harus keluar."


"Terserah kamu sayang."


Setelah membalasnya, mereka kembali makan bersama dan kemudian Nala berbaring pada dada Akira.


"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi kita?"

__ADS_1


"Aku belum menyiapkan, aku saja shock mendengar kita akan memiliki anak kembar. Kalau satu mungkin gampang mencari namanya, tapi kalau kembar begini kita juga belum tau jenis kelaminnya."


"Apa dia akan membawa nama keluarga kamu?"


Akira terdiam sejenak. Akira juga bingung apa kedua anaknya kelak akan memakai nama Danner?


"Kenapa diam? Aku tidak masalah jika nanti kelak kedua anak kita tidak memakai nama Danner seperti kakeknya."


"Dia akan memakai nama Danner seperti nama ku dan kakeknya." Akira mengecup oucuk kepala Nala dan malam itu mereka tidur bersama.


***


Keesokan harinya Nala sudah bangun dan dia membangunkan suaminya. Akira tersenyim melihat wajah bangun tidur istirnya di sampingnya. Akira mengecup bibir Nala kemudian dia bangkit dan mencium perut Nala.


"Selamat pagi, Sayang. Ayah sangat mencintai kamu."


"Mereka juga sangat mencintai ayahnya," balas Nala.


"Hari ini kalian mau makan apa?" tanya Akita.


"Aku mau makan bubur ayam," jawab Nala cepat.


"Bubur ayam? Apa di restoran bawah di sediakan bubur ayam?"


"Kamu tanya saja, kalau ada aku mau bubur ayam."


Nala terlihat senang, dia masuk ke dakam kamar mandi dan Akira menghubungi oihak restoran apa ada bubur ayam.


Beberapa menit kemudian Nala keluar dan menanyakan apa bubur ayamnya ada?


"Sayang, di restoran bawah tidak ada bubur ayamnya, tapi katanya di dekat sini ada penjual bubur ayam. Aku akan mandi dan bersiap-siap, aku akan mengajak kamu makan di sana. Kamu mau?"


"Iya, aku mau, jujur saja makan di kamar kamu atau ruangan kamu di kantor juga lama-alam aku bosan."


"Ya sudah, kita akan makan bubur ayam di sana." Akira masuk ke dalam kamar mandi dan Nala berganti baju.


Terdengar suara ponsel Akira berdering dan itu dari Silvia. Wanita ini benar-benar menghantui Akira. "Dia sekarang menghubungi suamiku, dia benar-benar wanita yang melebihi Anabella.


"Siapa yang menggubungiku, Nala?" tanya Akira yang barusan keluar dari dalam kamar mandi.


"Fans kamu. Nich!" Nala menyerahkan ponsel milik suaminya.


"Lama-lama aku blokir saja nomornya, tapi kalau aku blokir, aku tidak tau dia sebenarnya maunya apa?"


"Angkat saja sayang. Biar dia tidak penasaran sama kamu." Nala duduk di atas ranjang.

__ADS_1


"Halo, ada apa Silvia?"


"Akira, kamu ke mana saja? Aku dari kemarin menunggu kamu."


"Untuk apa menungguku?"


"Aku mau memberikan makan malam dari tadi malam, tapi kamu sepertinya tidak di kamar kamu."


"Aku memang tidak pulang karena ada urusan penting ke kota, jadi aku menginap sementara di luar."


"Oh begitu. Kenapa tidak mengajak aku? Aku bisa membantu pekerjaan kamu."


"Kamu bukan sekretarisku. Aku bisa mengatasinya sendiri."


"Kalau begitu, apa kamu tidak ingin menjadikan aku sekretaris pribadi kamu? Dengan begitu kamu bisa membawaku ke mana kamu mau."


"Masih aku pikirkan, ya sudah, aku mau bersiap-siap ke kantor. Aku tutup dulu."


"Aku akan menunggu kamu Akira." Akira memutar bola matanya jengah, Nala yang duduk di sana terkekeh pelan.


"Kamu bilang apa sama dia?"


"Dia mau menjadi sekretarisku agar aku bisa membawanya ke mana-mana."


"Lalu? Apa kamu mau menjadikan di sekretaris kamu?"


"Kalau untuk mempercepat urusan aku nantinya tidak masalah. Setelah itu aku depak dia dari kantorku."


Nala berdiri dan mengajak suaminya untuk pergi makan bubur ayam saja karena Nala sudah sangat lapar.


Mereka berjalan menuju lift untuk turun dan saat pintu lift terbuka. Akira dan Nala melihat Silvia berjalan melewati mereka, mereka tidak jadi keluar dan menunggu Silvia yang tidak melihat mereka berjalan dulu ke arah pintu keluar utama. Akira menggandeng tangan Nala dan mengajak Nala lewat pintu belakang untuk mengambil mobilnya.


"Huft! Silvia tadi tidak melihat kita kan, Akira?"


"Dia tidak melihat, kalau dia melihat pasti dia menegur kita berdua kenapa ada di sini."


"Ya sudah kita pergi saja. Anakku sudah lapar ingin makan bubur ayam."


"Oh ya, apa kamu tidak pernah lupa membawa vitamin kamu?"


"Aku tidak lupa, Akira. Aku tiap hari meminumnya, aku selalu menaruhnya di dalam tasku."


"Ya sudah." Akira pergi dari sana membawa Nala menuju tempat yang katanya menjual bubur ayam. Sesampai di sana Nala memesan bubur ayam dan makan dengan lahapnya.


Mereka berdua sampai di kantor dan Nala segera membuatkan coklat hangat untuk Akira.

__ADS_1


"Permisi, Pak. Ini coklat hangatnya untuk Pak Akira." Nala melihat ada Silvia di dalam ruangan Akira.


"Tidak perlu, Nala. Mulai sekarang biar aku yang membuatkan coklat hangat untuk Pak Akira. Coklat buatanku tidak kalah enak dari kamu." Silvia tersenyum pada Akira.


__ADS_2