My Secret Love

My Secret Love
Aro Dan Uni


__ADS_3

Via masih bisa mendengar perkataan Uni walaupun lirih. “Iya, ganteng banget kan dia, Uni? Aku yakin suatu hari nanti aku akan bisa menjadi kekasihnya, aku sampai mencari tau apa kesukaannya dan yang tidak dia sukai.”


Uni agak terkejut. "Em ... ! Ya ampun! Segitu, bukannya dia sudah punya pacar? Apa gadis


yang di sebelahnya itu bukan kekasihnya? Kok kelihatannya gadis itu terlihat menyukai pangeran es kamu?"


“Dia bukan kekasihnya, mereka hanya berteman baik. Kalau Aro menyukai temannya itu, pasti sudah lama mereka jadian, buktinya Aro tidak memilki kekasih sampai sekarang.”


“Aro,” ucap Uni.


“Iya, namanya Aro. Naro Addriano Danner, dia anak salah satu pengusaha terkenal di sini. Dia benar-benar pria sempurna bagiku. Sudah tampan, pintar, kaya, dan dia bisa memikat seseorang hanya dengan sikap diamnya itu.”


“Via, aku ke meja itu dulu karena tadi temannya memintaku untuk membantu memesankan makanan.”


"Jadi kamu sedang melayani meja milik Aro?"


"Iya, jadi aku mau ke sana dulu, sebelum aku kena marah lagi nantinya."


Uni berjalan menuju meja Aro dan mengambil kertas yang sudah di tulis oleh teman-teman Aro. Tidak lama Uni datang dan membawa pesanan mereka.


“Terima kasih, ya? Pria itu memberikan uang pada Uni yang tadi di janjikan. “Oh ya! Nama kamu siapa?” tanya teman cowok Aro. Uni hanya terdiam bingung mau menjawab atau tidak.


“Hei! Kamu itu di tanya sama teman


aku? Apa nama kamu jelek sehingga malu memberitahu nama kamu?" ucap ketus gadis yang duduk di sebelah Aro sambil terkekeh seolah menghina.


“Namaku Uni,” ucapnya ragu-ragu


“Uni? Nama yang bagus. Apa kamu sudah punya kekasih? Kalau belum, kita bisa saling bertukar nomor ponsel,” goda teman Aro.


“Maaf, kalau tidak ada keperluan lagi, saya mau kembali melanjutkan pekerjaan saya di dalam, dan terima kasih uangnya." Uni segera

__ADS_1


berjalan masuk ke dalam dapur kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Dasar kamu ya! Tidak bisa melihat gadis cantik sedikit langsung saja digoda. Pelayan pun kamu juga tertarik." Gadis di cowok yang menggoda Uni sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Gadis itu, kenapa salah memesankan aku burger, aku bilang Jangan memakai mayonaise banyak-banyak, tapi yang ada ini malah banyak sekali mayonaisenya,” gerutu gadis di samping Aro.


“Kamu tidak menulisnya di kertas tadi. Kamu hanya bilang saja sama dia, dia lupa mungkin karena kita pesan beberapa macam makanan agak banyak," jelas cowok yang menggoda Uni.


“Kamu kenapa sih membela dia? Gadis pelayan begitu saja kamu bela?” Muka gadis cantik itu ditekuk kesal.


“Kalau begitu kamu antri sendiri saja di sana untuk memesan burger sesuai dengan keinginan kamu.” Aro malah memakan burger milik temannya itu.”


Uni yang di dalam ditanyai oleh Via kenapa dia bisa di suruh oleh temannya Aro untuk memesankan makanan dan Uni menceritakan semuanya. “Kenapa tadi bukan aku saja yang melayani mereka, aku kan bisa sambil cari alasan untuk menyapa Aro di sana.”


“Memangnya kamu sudah pernah berbicara dengan Aro itu?”


“Tentu saja pernah, aku selalu mencari alasan agar aku bisa dekat dengan Aro, aku bahkan rela masuk ke dalam anggota di perpustakaan agar bisa bertemu dengan dia dan berdiskusi bersama. Dia tipe cowok yang suka membaca, tapi bukan kutu buku begitu. Dia benar-benar memiliki kepribadian yang unik dan istimewah, Uni.”


menyenangkannya seperti kamu, tidak cuek begitu dan tidak membuat kamu berubah


dari Via yang aku kenal menjadi orang lain demi bisa dekat dengan Aro.”


"Jangan bicara begitu dunk, Uni." Tangan Via memeluk Uni. "Aku tetap Via teman kamu yang dulu. Hanya saja kamu tidak tau sih rasanya jatuh cinta atau menyukai seseorang yang begitu dalamnya."


"Iya-iya, si gadis bucin. Kalau aku memang pacaran selama ini hanya biasa saja, tidak sampai yang terlalu mencintainya karena kamu tau sendiri kalau aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu, aku lebih banyak memikirkan mencari uang agar bisa tetap kuliah dan tidak di usir dari rumah tanteku."


"Kalau soal itu kamu bisa pinjam aku dulu, aku tidak keberatan."


"Kadang aku berpikir kamu itu aneh, kenapa kamu mau bekerja? Padahal kedua orang tua kamu pasti cukup untuk membiayai kuliah kamu?"


"Ya ... untuk mencari kesibukan saja. Aku bosan di rumah, pulang kuliah gak ada siapa-siapa. Orang tuaku selalu sibuk di rumah, dan tidak mungkin aku keluyuran terus dengan teman-temanku. Lebih baik bekerja di sini. Lagian kalau aku tidak bekerja di sini, kamu tidak akan kenal denganku, Uni."

__ADS_1


"Iya, juga sih. Tidak akan ada yang membantuku kalau aku ingin meminjam uang," celetuk Uni.


"Dasar! Jadi kamu menganggap aku bank begitu?" Uni tersenyum dan memeluk Via.


"Ehem ...! Kalian ini kenapa main peluk-pelukan? Apa ini mau lebaran?"


Lagi-lagi si Pak Jono ini datang di waktu yang tidak diharapkan. "Pak Jono."


"Iya! Saya Pak Jono, bos kalian! Kenapa malah di sini? Apa restoran saya sudah tutup!" serunya ketus.


"Maaf, Pak. Saya sudah menyelesaikan semuanya. Ini saya mau istirahat karena jam istirahat saya sudah tiba," jelas Uni terbata.


"Hari ini kamu hanya boleh istirahat sepuluh menit saja. Setelah itu kerja lagi karena banyak pelanggan hari ini yang datang."


"Sepuluh menit? Itu hanya cukup untuk minum, Pak!" jawab Via tidak percaya.


"Kenapa kamu yang protes, ini bukan bagian kamu, cepat kembali ke dapur!"


"Tapi--."


"Via sudah sana," usir Uni pelan pada temannya.


"Kamu cepat istirahat dan segera kembali bekerja.


"Iya, Pak." Uni segera pergi untuk makan siang mengambil bekal yang dia masak sendiri di rumah. Tiap pagi memang Uni selalu yang menyiapkan sarapan pagi untuk tante dan sepupunya, kemudian dia membawanya juga untuk bekal supaya menghemat uang. Uni makan dengan cepat bekal miliknya.


Setelah makan dia kembali membersihkan beberapa meja yang kotor. Uni sangat rajin bekerja, dia sangat berterima kasih sebenarnya bisa bekerja di sana. Mengingat di sana sebenarnya buka dari jam sebelas siang sampai malam, tapi Uni izin masuk jam satuan karena dia baru pulang kuliah jam segitu.


Setelah mengelap meja sampai bersih. Uni yang berbalik badan ingin kembali ke dalam tidak sengaja menabrak tubuh seseorang.


"Maaf," ucapnya cepat. Uni melihat jika yang tidak sengaja dia tabrak adalah Aro. Tangan Uno masih menempel pada perut Aro. "Maaf, saya tidak sengaja." Uni segera menarik tangannya.

__ADS_1


"Kamu gadis yang kemarin malam yang aku beri tumpangan, Kan?"


__ADS_2