
Akira hanya melihat Silvia. Apa hari ini saja dia akan menjebak Silvia agar dia tau sebenarnya Silvia ini punya maksud lain apa terhadap dirinya, dan siapa orang lain yang berada di belakang Silvia?
“Aku akan pergi dulu, nanti aku akan mengubungi kamu.” Akira berjalan tegas keluar dari hotel itu.
“Pria itu benar-benar membuatku gila. Aku sudah tidak tahan ingin merasakan bercinta dengannya, setelah aku mendapatkan Akira, aku akan membuat Akira meninggalkan istrinya yang aku sendiri belum pernah melihatnya.
Pria itu akan senang dengan pekerjaanku, dan aku mendapatkan juga apa yang aku
inginkan.” Silvia tersenyum miring.
Akira pergi ke tempat di mana Nala sedang menunggunya. Setelah sampai di sana Akira melihat istrinya sedang duduk sendirian seperti sedang melamun di bangku dekat kantornya.
“Nala, Sayang.” Akira menghampiri dan langsung memeluk istrinya itu.
“Akira, apa yang terjadi? Kedua orang tua kamu mana?” Expresi wajah Nala sudah cemas saja saat melepaskan pelukan suaminya.
“Mereka memutuskan hari ini juga pulang ke rumah utama.”
“Apa? Kenapa? Apa kamu sudah menceritakan semuanya sama mommy dan Daddy kamu dan mereka marah mendengar hal itu?”
“Daddyku benar-benar tidak bisa menerima semua ini. Dia ingin aku menceraikan kamu dan meninggalkan kamu, Nala, tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Aku sudah bilang jika kita akan memiliki bayi dan daddyku tetap tidak bisa menerima semua ini, daddyku masih tetap menjunjung tinggi status sosial seseorang.”
“Maaf, Akira karena aku hubungan kamu dan keluarga kamu jadi seperti ini.”
“Ini semua bukan salah kamu, kita akan menjalani ini semua bersama-sama. Di dunia ini hal yang terindah sekarang adalah melihat kamu dan anak-anak kita.” Akira sekali lagi memeluk istrinya dengan erat.
Nala terdiam dalam pelukan Akira, apa sebaiknya dirinya membiarkan Akira kembali berkumpul dengan keluarganya. Nala akan mengalah saja karena Nala sudah merasakan rasanya tidak memilki orang tua walaupun dia sudah dewasa seperti ini, rasanya benar-benar tidak enak.
“Akira, apa sebaiknya--.”
__ADS_1
“Sshtt ...! Kamu jangan mengatakan apa-apa lagi, aku tidak mau mendengar apa-apa dari bibir kamu atau aku ciumin bibir kamu di sini.” Nala akhirnya terdiam.
Akira memutuskan malam ini tidak jadi menjebak Silvia, dia ingin malam ini bersama dengan istrinya. Jujur saja hati dan perasaan Akira sangat sedih melihat wajah kecewa dari daddynya. Hal ini adalah yang pertama kali Akira lakukan, yaitu membuat daddynya kecewa.
Mereka sampai di depan hotel dan saat Akira dan Nala masuk ke dalam lift, ternyata mereka dilihat oleh Silvia. Silvia sangat terkejut melihat Akira bersama dengan Nala. Silvia mengikuti Nala dan Akira sampai di depan lift dan Silvia melihat nomor lantai berapa yang dituju oleh Akira dan Nala.
“Mereka sebenarnya ada hubungan apa? Kenapa malam-malam begini mereka ada di hotel berdua dan menuju lantai kamar lain?”
Silvia mencoba bertanya ke bagian resepsionis dan resepsionis memberitahu jika memang ada nama Akira yang juga membuka kamar di lantai yang di maksud oleh Silvia.
“Aku sudah curiga, jika Nala memiliki hubungan spesial dengan Akira, dia seorang office girl yang bermimpi menjadi seorang nyonya besar. Wanita tidak tau malu, dia sudah mempunya suami dan hamil malah selingkuh dengan bos di kantornya. Akira juga sangat bodoh, apa enaknya bercinta dengan wanita hamil? Atau jangan-jangan itu bayinya Akira?”
Tampol ini orang lama-lama, itu emang bayinya Akira.
Di dalam kamar, mereka sedang membersihkan diri dan kemudian Nala duduk di tas ranjang melihati suaminya yang barusan keluar dari dalam kamar mandi. “Ada apa melihatiku begitu?” Akira menunduk dan mendekatkan hidungnya yang mancung menyentuh hidung Nala.
“Akira, apa kamu baik-baik saja?”
“Aku benar-benar kepikiran masalah ini, Akira.”
“Jangan terlalu banyak berpikir, aku tidak mau kamu sampai sakit dan terjadi apa-apa dengan kamu dan bayi kembar kita, biarkan saja semua berjalan apa adanya.” Akira menciumi bibir Nala dengan lembut.
Beberapa detik kemudian Nala melepaskan ciuman Akira. “Terima kasih sudah mempertahankan aku, Akira.”
“Kamu tidak perlu berterima kasih, aku mencintai kamu dan anak kita. Aku malah bisa gila jika harus kehilangan kamu dan anak kita lagi.” Akira kembali berciuman dengan Nala.
“Nala, aku tadi sebenarnya ingin menjalankan rencana kita untuk menjebak Silvia, dia tadi bertemu denganku dan menawarkan ke kamarnya untuk menghilangkan rasa penatku, tapi entah kenapa aku tidak tertarik sama sekali. Apa sebaiknya besok saja?”
“Iya, besok saja, aku memikirkan kamu digoda atau menggodanya saja darahku sudah mendidih.” Nala cemberut.
__ADS_1
“Aku tawarkan gunakan caraku yang waktu itu, kamu tidak mau.”
“Cara kamu itu terlalu sadis, aku tidak suka apalagi dia seorang wanita.”
“Ya sudah kita pakai cara yang lembut saja, aku juga tidak akan rugi.” Akira melirik ke arah istrinya.
“Maksud kamu?” tanya Nala ketus.
“Cara lembut, Nala.” Akira sengaja menggoda istrinya. Mereka berdua akhirnya bercanda di dalam kamar itu.
Kedua orang tua Akira sudah sampai di rumah utama mereka, hari sudah sangat larut. Adddrian berjalan masuk ke ruang kerjanya, Kei yang melihatnya tau jika suaminya itu sedang tidak ingin diganggu. Namun, Kei tetap mengikuti suaminya masuk ke dalam ruang kerja Addrian.
“Sayang,” panggil Kei lirih, dia melihat suaminya duduk di kursi utamanya dan menghadap ke arah luar jendela yang masih terbuka tiranya.
“Kei, kamu tidurlah, aku sedang tidak ingin di ganggu,” ucapnya lirih, tapi terdengar seperti titah yang tidak mau dibantah.
“Addrian, aku tau kamu sangat shock mengetahui ini semua, tapi aku harus tetap bicara sama kamu.” Kei malah mendekat ke arah suaminya.
“Kei, pergilah ke kamar kamu! Apa sekarang kamu mau ikut membantahku seperti kedua putramu?” Nada bicara pria paruh baya itu mulai meninggi setelah membalikkan kursinya menghadap ke arah istrinya.
“Aku sangat merindukan putra-putraku, Addrian. Kenapa kamu tidak bisa menerima semua ini? Nala bukan gadis yang buruk untuk Akira.”
“Kamu tau siapa dia dan siapa Akira?”
“Aku tau, Nala hanya seorang gadis miskin, mantan pembantu kita, tapi apa salahnya jika dia menjadi menantu kita? Dia mengandung cucu kamu, Addrian. Cucu kita dan kamu dengan teganya menyuruh Akira meninggalkan dia.” Kei sampai menangis mengatakan hal itu.
“Pergi ke kamar kamu, Kei!” bentak Addrian sekali lagi.
Kei tidak mau membuat masalah semakin besar dan dia memilih pergi ke kamarnya saja meninggalkan suaminya yang mungkin mau memikirkan kata-katanya tadi.
__ADS_1
Eh kenapa author malah nangis nulis ucapan Kei ya? Author sensitif banget ini hari ini.