
Akira datang ke pantry yang kebetulan di sana masih sepi, dia melihat istrinya duduk sendirian dengan segelas teh hangat di depannya.
Akira menghampiri Nala dan duduk di depan Nala. Tanpa ba-bi-bu Akira langsung memeluk Nala.
“Kenapa memelukku?” Nala mencoba merontah
"Memangnya kenapa? Apa tidak boleh aku memeluk kamu?” Akira malah mengeratkan pelukannya. “Kamu jangan sedih melihatku dengan Silvia, aku tidak benar-benar menyukainya, bahkan aku tidak merasakan apa-apa dengannya.”
“Mana aku tau, diakan sangat cantik dan sexy seperti Anabella bisa saja kamu teringat lagi dengan masa lalu kamu.” Nala cemberut.
“Masa laluku sudah aku lupakan, bahkan kalau bisa aku tidak ingin punya masa lalu seperti itu.” Akira melepaskan pelukannya dan menatap wajah Nala. “Kamu tidak percaya denganku?”
“Aku percaya, hanya saja entah kenapa rasanya sakit sekali kalau melihat kamu dekat dengan seorang wanita seperti itu.”
Akira tangannya mengusap lembut pipi Nala dan menarik pelan dagu Nala kemudian dia mnegecup bibir Nala lembut.” Aku sangat mencintai kamu, Nala. “
“Akira! Jangan seperti itu.” Nala seketika ingat mereka ada di pantry kantor, Nala celingukan
melihat sekitarnya, takutnya ada yang melihat mereka berciuman seperti itu.
“Kenapa takut begitu? Kalau mereka tau juga biarakan saja,” jawab Akira santai.
“Kalau mereka tau, percuma saja rencana kita untuk menjebak Silvia nantinya, lagian belum waktunya Akira.”
“Sudah! Jangan membahas masalah ini. Nala, apa kamu sudah makan?” Nala menggeleng pelan. “Kamu tega sekali dengan bayiku!” Akira mengerutkan kedua alisnya kesal.
“Siapa yang tega? Tadi aku mau makan setelah mengantar teh hangat yang di pesan oleh Silvia, tapi setelah melihat itu semua napsu makanku jadi hilang.”
“Ya sudah, sekarang kamu mau makan apa? Atau ke ruangan aku, kita makan makanan yang di belikan oleh Silvia untukku.”
“Tidak mau, itukan untuk kamu bukan untukku.”
“Tapi aku tidak berselera jika makan dengannya, daripada tidak aku makan kan sayang nanti. Ayolah! Kamu makan itu, kan itu sudah menjadi milikku.” Akira menggandeng tangan Nala dan mengajaknya ke dalam ruangannya.
Nala dan Akira masuk ke dalam ruanga dan melihat ada beberapa menu makanan di sana. Nala duduk dan Akira menyiapkan makanan untuk mereka. Mereka makan berdua di sana.
__ADS_1
“Makana yang Silvia bawa sangat enak-enak, dia tau sekali selera kamu, apa kamu pernah bercerita sama dia?”
“Kamu salah, dia malahan waktu itu membawakan aku udang, tentu saja aku menolaknya karena memang aku alergi dengan udang dan bisa-bisanya dia membawakan aku itu.” Nala terkekeh pelan.
“Padahal waktu tinggal sama kamu dulu aku mau membuatkan kamu uda balado, tapi entah kenapa feelingku mengatakan jika kamu tidak akan menyukainya, jadi aku tidak jadi membuatkannya.”
“Kalau kamu yang buat pasti akan aku makan walaupun alergi.”
“Aku tidak akan pernah membuatkannya kalau tau itu bakal menyakiti kamu.”
Akira dan Nala tidak tau jika di kantin kantor sedang sangat heboh gara-gara Silvia dengan seenaknya memberitahu jika Nala diam-diam merayu atasan mereka yang tak lain adalah Akira. Bahkan Silvia memberikan bukti berupa
video saat Akira berada di pantry sambil memeluk Nala.
Iya! Tadi Silvia ternyata mengikuti Akira ke pantry dan berhasil merekam mereka, hanya saja Silvia tidak sampai merekam mereka saat
pembicaraan mereka tentang rencana menjebak Silvia karena Silvia buru-buru
pergi ingin menunjukkan bukti itu di kantin.
“Aku? Kamu kalau bicara harus ada bukti seperti aku, aku sudah membawa bukti yang nyata di hadapan kalian.”
Mba Sari bingung juga, foto yang waktu itu bagaimana? Tapi apa yang di perlihatkan oleh Silvia bukti nyata. Apa memang Pak Akira sebenarnya seorang pria yang suka dengan banyak wanita?
“Tapi Nala itu sudah menikah, Silvia.”
“Iya, Nala sudah menikah dan pak Akira juga sudah menikah, tapi Nala tidak tau malu malah selingkuh dengan Pak Akira. Sebenarnya aku juga tidak menyangka jika dibalik kepolosannya Nala itu dia ternyata wanita murahan. Mungkin dia melakukan ini karena mengincar harta pak Akira. Atau dia hamil dengan Pak Akira lagi.”
“Silvia! Jangan membuat gosip yang tidak-tidak,” ujar mba Sari geram.
“Kamu kalau tidak percaya, sekarang saja kita buktikan, mereka pasti sedang berdua di pantry atau kalau tidak makan berdua di ruangan Pak Akira.”
“Kita ke sana saja Mba Sari. Siapa tau memang benar apa yang dikatakan oleh Mba Silvia.” Ajak teman Nala yang juga ada di pantry.
“Kita ini Cuma karyawan, kenapa kita ikut campur dengan urusan atasan kita.”
__ADS_1
Mba Sari mendengar beberapa karyawan utama di sana saling berbisik tidak enak mengenai Nala. Namun mereka tidak berani bertindak, apa mereka mau di pecat jika protes masalah ini pada atasan mereka yang terkenal
dingin?
Mereka akhirnya hanya bisa diam saja. Silvia sudah cukup senang membuat mereka punya pikiran buruk tentang Nala. Jam makan siang sudah usai dan akhirnya mereka kembali ke tempat kerja seperti biasanya. Nala yang sudah ada di pantry sibuk membersihkan meja pantry dan beberapa gelas minuman milik karyawan yang kotor.
“Nala, kamu kenapa tadi tidak makan di kantin lagi?” tanya Mba Sari.
“Aku makan di pantry tadi Mba.”
“Di pantry apa di ruangan Pak Akira,” sindir temannya.
Nala agak bingung dengan apa yang dikatakan oleh temannya, biasanya temannya itu tidak pernah bicara yang menyidir seperti itu pada Nala, tapi kenapa kali ini dia terlihat tidak suka dengan Nala.
“Maksud kamu apa?”
“Nala, kamu jujur saja kalau kamu ada main dengan Pak Akira. Kita di sini teman-teman kamu sudah menganggap kamu wanita yang baik, tapi nyatanya kamu seperti itu. Aku benar-benar tidak menyangka dengan perbuatan kamu.
“Maksu kamu apa sih? Mba Sari, ada apa ini sebenarnya?” Nala melihat dengan muka bingungnya.
“Kamu miliki hubungan gelap ya dengan Pak Akira? Aku benar-benar kecewa sama kamu Nala. Kamu sudah menikah dan sedang hamil, sedangkan Pak Akira juga sudah menikah, tapi kenapa kalian malah terlibat hubungan yang menjijikan seperti ini. Aku sebagai seorang wanita dan istri sangat membenci wanita yang
tidak bisa menjaga harga dirinya dan menghormati wanita lainnya dengan merebut
suaminya.”
“Aku dan pak Akira tidak melakukan perselingkuhan, Mba.”
“Jangan bohong, Nala! Buktinya sudah ada, tadi kalian berpelukan di sini dan kamu tidak makan di kantin karena selalu makan berdua di
ruangan pak Akira.”
Nala benar-benar tidak menyangka jika teman-temannya mengetahui tentang hal ini, tapi mereka salah paham. “Memangnya bukti apa yang kalian lihat antara aku dan pak Akira serta siapa yang menunjukkan bukti itu?"
1 Bab lagi masih proses
__ADS_1