
Setelah dapat menenangkan suaminya, Nala masuk ke pantry lewat pintu belakang. Di sana masih terlihat sepi, belum ada office girl lainnya yang datang.
"Ini apa?" Nala melihat ada amplop berwarna coklat di atas meja. Nala tidak menemukan siapa pengirim amplop itu. "Tidak ada pengirimnya? Ini untuk siapa ya?"
"Nala, kamu barusan datang?" sapa teman Nala yang juga baru saja datang.
"Iya."
"Itu apa? Kamu dapat kiriman?" tanya temannya yang melihat tangan Nala membawa amplop berwarna coklat dengan ukuran besar.
"Aku tidak tau, tadi aku melihatnya di atas meja dan saat aku mencari nama pengirim dan di tujukan untuk siapa tidak tertulis di sini."
"Coba lihat." Nala memberikan kepada temannya yang usianya lebih tua dari Nala, dia office girl senior di sana.
"Apa Mba mau membukanya?"
"Tentu saja di buka, kalau tidak, mana tau ini dari siapa? Mungkin buat kita karena dikirim di sini, kalau untuk karyawan atau pak bos pasti ditaruh di ruang utaman, atau di beri nama untuk siapa."
Nala diam saja, dan akhirnya Mba bernama Sari itu membukanya, dan betapa terkejutnya saat melihat apa yang ada di dalam amplop itu.
"Nala, inikan foto Pak Akira," bisik Mba Sari pelan sambil melihat ke arah Nala.
"Mana?" Nala melihat hal itu dan kedua matanya juga ikut membulat kaget. Nala segera mengambil foto-foto itu dan melihat dengan seksama satu persatu foto itu.
"Nala, bukannya wanita itu karyawan baru yang kemarin baru masuk ya? Siapa namanya lupa aku?"
"Silvia."
"Ah iya, apa mereka ada hubungan gelap? Kenapa Silvia memeluk Pak Akira begitu? Pak Akira kan sudah punya istri."
"Foto ini pasti ada yang sengaja memotretnya."
"Pak Akira tidak mungkin berbuat seperti ini, walaupun aku baru mengenalnya, aku yakin dia orang yang baik."
"Aku akan membawa foto ini ke Pak Akira. Kalau orang lain tau nanti malah menimbulkan berita yang tidak-tidak."
"Iya, Nala. Sebaiknya kamu tanyakan saja, aku tidak akan menceritakan hal ini pada orang lain. Kita akan menyembunyikan masalah ini."
__ADS_1
Nala segera merapikan foto-foto itu dan pergi ke ruangan Pak Akira.
"Masuk."
Nala masuk dengan muka cemberutnya. Akira yang melihat istrinya yang seperti itu beranjak dari kursinya mendekat ke arah Nala.
"Sayang, kamu kenapa?" Akira menelungsupkan tangannya pada ceruk leher Nala.
"Lihat ini! Kamu ternyata tidak berubah." Nala menyerahkan amplop yang dibawanya pada Akira."
"Apa ini?" Akira mukanya tampak bingung, dia mengambil amplop itu dan membukanya. Seketika Akira tampak terkejut melihat foto-foto dirinya yang sedang bersama dengan Silvia.
"Kapan kalian berpelukan seperti itu? Apa sebenarnya Silvia itu sengaja kamu sewakan kamar hotel di dekat kamar kamu menginap? Dan sengaja kamu terima dia bekerja di sini?"
"Sayang, dengarkan aku dulu. Aku kemarin malam mau bercerita tentang masalah ini sama kamu, tapi aku kesal karena kamu malah memuji si pria brengsek itu. Apalagi kamu juga mematikan panggilan teleponku."
"Lalu itu apa? Kenapa kamu bisa berpelukan sama Silvia. Itu fotonya di depan kamar Silvia, kan? Ada apa kamu malam-malam di kamar Silvia?"
Akira mengajak Nala untuk duduk dulu. Dia menggandeng tangan Nala dan membawanya ke sofa panjang di sana.
"Jelaskan saja! Bayiku sudah kebal dengan sifat ayahnya."
"Setelah mengantar kamu pulang dan aku mau masuk ke dalam kamar tiba-tiba aku melihat pintu kamar Silvia terbuka dan aku mendengar ada suara ribut. Setelah itu aku melihat ada seseorang pria keluar dari kamar Silvia dan saat aku menghampiri kamar Silvia, aku melihat Silvia menangis di bawah ranjangnya dan tiba-tiba dia melihatku dan berlari memelukku. Aku melihat ada luka di dahinya."
"Luka? Apa pria itu yang memukul Silvia."
"Pria itu ternyata mantan kekasih Silvia dan dia datang karena marah pada Silvia yang menghubunginua dan saat itu yang menerima teleponnya adalah calon istri mantannya."
"Lalu kamu masuk ke kamar Silvia dan mengobati lukanya?"
"Iya, aku masuk dan aku mengobatinya, aku mengusap dengan perlahan lukanya."
Muka Nala semakin ditekuk. "Nikahi saja sekalian, kalian kan cocok!"
Nala akan beranjak dari kursinya, lalu dengan cepat Akira menahannya, malahan Akira menahan Nala tepat di pinggiran sofa dan mendekatkan tubuhnya pada Nala.
"Kamu mau apa?"
__ADS_1
"Mau mencium kamu, apa tidak boleh? Kamu kan istriku. Kamu saja marah saat aku hanya berkata bohong tentang hal itu. Apalagi aku yang jelas-jelas melihat kamu tangannya di pegang oleh si brengsek itu."
"Aku kan tidak memintanya."
"Aku juga tidak memintanya. Dia tiba-tiba memelukku, saat aku melihat lukanya aku menawarkan untuk memanggilkan room girl untuk membantunya membersihkan lukanya, tapi dia tidak mau, jadi aku pergi saja, aku tidak mau ada yang berpikiran buruk denganku dan Silvia."
"Jadi kamu tidak masuk dan membersihkan lukanya?"
"Huft! Tentu saja tidak, Sayang. Foto ini seolah ada yang sengaja ingin membuat nama baikku buruk, tapi kalau di dikirim di tempat kamu berarti dia tau siapa istriku dan ingin membuat kamu marah denganku."
"Tapi ini tidak ditujukan untukku, Akira."
"Dia ingin bermain pintar. Baiklah! Kalau begitu aku akan bermain dengannya, aku ingin tau siapa yang mengirim Silvia, atau malah memanfaatkan Silvia. Kenapa aku jadi curiga sama Radit?" Akira melihat ke arah Nala.
"Mas Radit? Kamu jangan berpikiran dia yang melakukannya, mas Radit orang baik, dia tidak akan melakukan hal seperti itu."
"Kita lihat saja, kalau memang dia yang ada dibalik semua ini. Aku akan memberinya pelajaran."
"Akira! Jangan seperti itu. Aku sedang hamil, kamu jangan membuat masalah dengan orang lain."
"Aku tidak membuat masalah, Nala. Mereka yang membuat masalah denganku duluan dan aku tidak akan membiarkan mereka mencari masalah denganku."
"Lalu kamu mau apa?"
"Ikuti permainan mereka. Aku ingin tau apa yang mereka inginkan."
"Jangan bermain-main dengan masalah ini, Akira. Sudah kamu keluarkan saja Silvia jika dia memang berniat tidak baik."
"Jangan, aku kasihan jika dia hanya di manfaatkan oleh orang lain. Kamu tenang saja. Aku akan baik-baik saja." Akira menarik dahu Nala dan mengecupnya lembut."
"Aku hanya takut terjadi apa-apa sama kamu. Masalah foto ini hanya aku dan Mba Sari yang tau, orang lain tidak tau, dan mba Sari akan menyembunyikan masalah ini."
"Memang sebaiknya dia menyembunyikannya atau dia akan aku keluarkan dari sini."
"Ya sudah! Aku mau membuatkan kamu coklat hangat seperti biasa." Nala beranjak dari tempatnya.
"Nanti malam menginap di tempatku, Ya? Aku tidak mau si brengsek itu menemui kamu di rumah Seno." Nala mengangguk perlahan.
__ADS_1