
Ara menerima pemberian dari Mas David, Mas David tampak senang sekali.
"Terima kasih sekali lagi, ya, Mas David."
"Sama-sama, nanti jangan lupa waktu hari ulang tahunku kamu pakai baju pemberian aku ini ya, Ara?"
"Hari ulang tahun Mas David? Ya ampun! Kenapa aku sampai lupa dengan hari itu?"
"Apa? Lupa? Ya ampun! Aku kasihan sekali hari ulang tahunku di lupakan oleh orang yang sangat aku harapkan." Mas David tertunduk lemas.
"Heheheh! Aku hanya bercanda. Aku ingat, hanya saja aku lupa belum membelikan Mas David hadiah."
"Aku tidak perlu hadiah dari kamu, Ara, cukup aku bisa merayakan hari spesialku kali ini dengan kamu saja aku sudah sangat bahagia."
"Mas David ini lucu ya? Padahal Mas David yang ulang tahun tetapi kenapa aku yang hari ini dapat kado terus?"
"Tidak apa-apa. Aku sengaja memang. Ya sudah ini sudah malam dan aku tidak mau nanti dikira menculik kamu dari tadi tidak dipulangkan."
"Ya sudah kalau begitu Mas David pulang sana. Nanti di cariin loh."
"Dicariin siapa?"
"Tidak tau." Ara menggedikkan bahunya. "Dicariin pacarnya kali."
Tangan David menarik jari Ara. "Aku belum punya pacar, Ara. Berharap di negeri ini aku bisa mendapat jodohku di sini." Tatapan Mas David tampak lekat pada Ara.
"Selamat malam Mas David." Ara berjalan perlahan pergi dari sana.
"Ara!" panggil David.
Ara menoleh seketika pada Mas David. "Apa?"
"Mau tidak bertunangan denganku nantinya?"
Ara terdiam sejenak. "Aku masih pikir-pikir dulu!" balas teriak Ara dan dia berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Mas David tersenyum dan dia pergi dari sana. Tidak jauh dari sana, tampak sosok seseorang bergerak dalam kegelapan dan dia ternyata dari tadi memperhatikan Ara dan Mas David berbicara.
"Apa aku tidak akan bisa memiliki kamu, Ara." Dia mengepalkan tangannya dan memukul pohon yang tadi dia gunakan untuk bersembunyi.
Pagi hari menjelang dan semua orang sudah bangun. Pun Uni juga seperti biasa sudah menyiapkan makan pagi untuk mereka.
__ADS_1
"Uni, nanti pulangnya kamu jangan mau di jemput oleh Rendy, ya?"
"Memangnya kenapa, Ara?"
"Aku mau minta tolong sama kamu dan Aro untuk mengantarkan aku mencari kado buat Mas David."
"Kado buat David? Memangnya dia ulang tahun? Kapan? Kok kita tidak di beritahu, Ara?" tanya Nala.
"Ulang tahunnya memang tidak dirayakan secara meriah, hanya aku dan sahabat-sahabat hebohku itu yang biasanya, Ma. Entah kenapa kali ini Mas David hanya ingin dirayakan secara sederhana dan hanya dihadiri beberapa teman-teman kampusku yang di kenal."
"Oh jadi begitu. Memangnya kamu mau membelikan kado apa untuk David nantinya?'
"Aku juga bingung mau membelikan dia apa, Ma?" Ara tampak berpikir.
"Jam tangan saja," celetuk Uni.
Seketika Ara melihat ke arah Uni. "Jam tangan? Ide yang bagus. Apalagi Mas David itukan seorang pengusaha dan pasti harus selalu tepat waktu."
"Iya, ide Uni sangat cocok."
"Aro, nanti aku minta tolong antarkan aku pusat perbelanjaan ya?"
"Iya," jawab Aro singkat.
Ara yang sudah turun meninggalkan Sifa dan Aro yang sedang berbicara. "Kenapa sih? Aku kalau ketemu sama kamu mesti mukanya tidak enak begitu."
"Bagaimana mukaku bisa senang, jika melihat orang yang aku cintai dibonceng dan diantar jemput oleh pria lain."
"Kamu sabar dulu, kita cari moment di mana aku dan kamu bisa terlihat berjalan mesra bersama di hadapan dia, biar dia tambah panas dan cemburu."
"Uni itu sosok yang kuat menyembunyikan hal seperti itu. Malahan aku yang tidak bisa menahan hal itu."
gSifa tampak berpikir. "Apa aku datang ke rumah kamu saja dan kita bisa seolah-olah tampak mesra di sana."
"Kamu mau mamaku mengusir kamu? Jangan membuat rencana yang tidak-tidak."
"Lalu bagaimana?"
"Eh! Nanti itukan Ara mengajak aku dan Uni jalan-jalan ke pusat berbelanjaan untuk mencari kado buat David. Kamu bisa ikut dengan kita saja, nanti aku bilang ingin mengajak kamu jalan-jalan juga, dan ingin membelikan kamu sesuatu."
"Iya, Mas David itu besok lusa ulang tahun, aku sampai lupa, tapi ide kamu bagus juga."
__ADS_1
"Ya sudah! Kalau begitu nanti kamu ikut saja, dan aku akan membelikan sesuatu untuk kamu di depan Uni."
"Kamu serius akan membelikan aku sesuatu?"
"Iya, terpaksa," jawab Aro sambil berlalu masuk ke dalam mobilnya.
Sifa sangat terlihat senang, dan dia berlari kecil menuju kelasnya."
Uni juga sudah memberitahu jika nanti pulang dari kampus dia langsung akan pergi dengan Ara dan Aro untuk membantu mencari kado buat temannnya Ara.
"Jadi nanti kamu pulangnya bersama si pria kaku itu?"
"Iya, dan saudaranya juga."
"Kamu kenapa bisa sangat mencintainya sih, Uni? Apa tidak ada pria lain yang bisa kamu cintai?"
"Kamu bicara apa sih? Aku hanya biasa saja sama dia. Via yang sangat mencintainya."
"Uni, aku ini walaupun tidak kenal kamu begitu akrabnya, tapi aku tau jika kedua mata kamu itu mengisyaratkan cinta yang begitu dalam buat pria itu."
"Aku tidak bisa sama dia, Ren. Aku tau posisiku di mana. Via yang pantas buat Aro."
"Sebenarnya aku senang membantu kamu dengan berpura-pura menjadi pacar kamu, Uni. Namun, semakin ke sini aku semakin kasihan melihat kamu seperti menderita akan hal ini."
Uni hanya terdiam tidak menanggapi ucapan Rendy. "Apa kamu yakin jika kamu melakukan ini akan membuat pria itu akan bersama dengan Via dan melupakan kamu. Aku melihat pria itu juga sangat menyukai kamu. Bahkan lebih dari aku cinta yang dia berikan untuk kamu."
"Kita jalani saja seperti rencana semula. Entah dengan siapa nanti Aro akan bersama yang terpenting dia tidak denganku karena hal itu akan membuat Via bersedih."
"Ya sudah kalau begitu."
Waktu berjalan cepat. Uni sedang menunggu mobil Aro datang menjemputnya dan tidak lama dari kejauhan Uni melihat mobil Aro datang.
"Hai, Uni!" seru Sifa senang. Uni agak terkejut melihat Sifa yang duduk di sebelah Aro.
"Hai, Sifa." Uni masuk ke dalam mobil dan duduk dengan Ara di belakang.
"Sifa ikut dengan kita karena dia juga ingin membeli sesuatu."
"Bukan aku, Ara. Tepatnya Aro ingin membelikan aku sesuatu karena selama kita dekat dia tidak pernah membelikan aku sesuatu"
"Terserah lah! Aro ayo jalan sekarang daripada nanti tambah siang dan tambah panas udaranya."
__ADS_1
"Panas bagaimana? Aku malah merasa sejuk dan nyaman berada di samping pangeranku." Sifa memeluk lengan tangan Aro sambil bersandar di pundak Aro.