My Secret Love

My Secret Love
185


__ADS_3

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang kak?” tanya Zahra menatap kakak ipar nya itu lekat.


“Aku sudah terlanjur mengambil keputusan itu bersama nya. Dia pun sudah menyetujui nya. Aku bisa apa agar semua nya kembali seperti semula? Jujur saja aku merasa sepi saat kami hanya bisa saling melihat dari jauh dan tidak bicara layak nya orang asing. Logika dan hatiku saling bertolak belakang kak.” Sambung Zahra.


Husna yang mendengar ucapan adik ipar nya itu segera mengelus kepada Zahra dengan lembut seperti seorang ibu yang memberikan ketenangan kepada anak nya. Zahra sendiri pun merasa seperti memiliki seorang ibu begitu abang nya menikah dengan Husna. Kakak ipar nya itu bisa menjadi seorang ibu layak nya abang Azzam nya yang selama ini jadi ayah sekaligus ibu untuk nya.


Zahra sangat menyayangi Azzam dan sekarang dia pun menyayangi Husna bahkan mungkin kasih sayang nya kepada Husna lebih besar dari pada kepada Azzam. Terus di tambah lagi dengan kedudukan Husna yang seorang penulis favorit nya.


“Biarkan semua berjalan sebagaimana mesti nya. Kau tidak perlu menjelaskan kepada Gentala bahwa kau salah mengambil keputusan dan ingin membatalkan kesepakatan kalian. Kakak tahu itu akan melukai harga dirimu sebagai seorang perempuan. Kakak pun tak ingin kau melakukan hal itu. Jika memang Gentala menganggapmu penting maka dia akan melakukan segala cara agar bisa dekat denganmu walaupun ada kesepakatan denganmu. Ingat saja cinta itu butuh perjuangan dan kau harus siap menerima jika takdir nanti tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan. Percaya saja takdir Allah itu lebih indah dari rencana dan apa yang kita harapkan.” Ujar Husna.


“Kau pasti tahu sendiri apa yang terjadi dengan kakak. Kakak menolak sepuluh pria hanya demi menemui takdir kakak yaitu abangmu. Kakak sudah mematahkan hati banyak pria dan keluarga nya hanya demi takdir kakak karena itu adalah takdir terbaik kakak. Lalu pengorbanan yang harus kakak lakukan agar bisa bersama dengan abangmu apa? Kakak harus menikah muda padahal itu di luar rencana kakak. Namun sekali lagi takdir itu kadang memang tidak sesuai harapan tapi siapa yang menyangka bahwa di balik takdir itu ada kebahagiaan yang terselip. Hanya perlu cara kita saja agar bisa meraih nya. Jadi percaya saja takdirmu akan baik.” lanjut Husna masih dengan mengelus kepala adik ipar nya itu dengan lembut.


Zahra pun bangun lalu memeluk kakak ipar nya itu erat, “Terima kasih kak. Aku sekarang sudah paham apa yang harus aku lakukan. Bicara denganmu memang membawa ketenangan untukku. Kau adalah ibu peri untukku sama seperti abang yang juga memperlakukanku layak nya putri. Kalian adalah pengganti mami dan papi untukku.” ucap Zahra meneteskan air mata nya. Bukan air mata kesedihan melainkan kebahagiaan karena dia bisa merasakan kebahagiaan ini di saat dulu pernah berpikir akan jadi orang paling menyedihkan karena kehilangan orang tua. Harus dia akui bahwa takdir itu akan indah pada waktu nya. Kesedihan tidak selama nya akan mendatangkan keterpurukan. Semua tergantung keinginan kita yang ingin bangkit atau tidak.


“Jangan menangis dong calon aunty nya si kembar. Mereka pasti akan sedih melihat aunty mereka yang cantik sedih.” Ucap Husna.


“Ini bukan air mata kesedihan kak. Ini air mata bahagia. Aku bahagia bisa memiliki kakak ipar sepertimu. Kau paket lengkap.” jawab Zahra masih dengan memeluk Husna.


Husna pun terkekeh mendengar ucapan adik ipar nya itu, “Ya sudah jika begitu. Ayo temani kakak istirahat.” Ucap Husna.


Zahra melepas pelukan nya dan menatap Husna dengan ekspresi bingung nya, “Istirahat? Maksud kakak menemani kakak tidur di sini?” tanya Zahra.


Husna mengangguk, “Iya. Memang nya di mana lagi. Ayo berbaring lah.” Ucap Husna.


Zahra menggeleng, “Gak, aku istirahat di kamarku saja kak. Aku akan menemanimu sampai tertidur saja. Abang akan marah nanti jika aku tidur bersamamu.” Ucap Zahra menolak.


“Siapa yang berani memarahimu? Jangan pikirkan itu. Ayo ini permintaan kakak. Anggap saja kau sedang memenuhi ngidam kakak? Apa kau tidak ingin mengabulkan keinginan calon keponakanmu ini. Mereka ingin dekat dengan aunty mereka.” ucap Husna.


Zahra pun akhirnya pasrah saja karena tidak punya alasan lagi menolak. Dia tentu saja tidak ingin menjadi aunty yang jahat untuk calon keponakan nya itu. Walaupun dia tahu bahwa mungkin kakak ipar nya itu hanya sedang berpura-pura ngidam saja.

__ADS_1


Husna dan Zahra pun segera tidur bersama. Zahra segera menyetel suhu ruangan agar tidak dingin juga tidak panas.


Setengah jam kemudian Zahra sudah terlelap dalam tidur nya. Husna yang masih terjaga pun tersenyum, “Aku beruntung memiliki adik ipar sepertimu dek. Kau itu adalah penghidup suasana. Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi abangmu. Kau adalah kesayangan abangmu sama seperti aku yang juga menjadi kesayangan nya. Aku sudah pasti memiliki kewajiban untuk menyayangimu sama seperti abangmu itu. Kau pun bukan orang yang sulit di sayangi. Aku akan berdoa semoga kau menemukan takdirmu sama seperti abangmu yang menyayangiku dengan baik. Bukan kah abangmu itu adalah tipe ideal seorang calon suami yang kau inginkan.” Ucap Husna mengelus kepala adik ipar nya itu penuh sayang.


Tiba-tiba di sela aktivitas nya sang suami masuk ke kamar dan melihat apa yang dia lakukan.


Azzam yang kaget dengan apa yang dia lihat ingin bersuara tapi terhenti begitu melihat kode dari istri nya yang meminta nya untuk diam.


“Dia kenapa bisa ada di sini? Tidur di ranjang kita?” tanya Azzam dengan suara lirih nya karena tidak ingin membuat adik nya itu terbangun. Adik nya itu terlihat sangat menikmati tidur nya.


Husna diam dan justru meminta bantuan Azzam untuk bangun. Azzam pun dengan sigap segera membantu istri nya itu bangun. Lalu kedua nya segera menuju balkon kamar.


“Kenapa dia bisa tidur di kamar kita sayang?” tanya Azzam begitu memastikan istri nya itu duduk di bangku yang ada di sana.


“Dia lelah mas. Punya permasalahan sedikit yang mengganggu hati nya. Aku yang meminta nya tidur di sana bersamaku. Menemaniku tapi akhirnya dia terlelap lebih dulu dan aku justru terjaga.” Jawab Husna.


“Ada masalah apa dengan nya? Apa ada hubungan nya dengan Gen?” tebak Azzam.


“Dia baru pertama kali itu jatuh cinta tapi sudah menggunakan logika nya padahal hati nya tidak menginginkan nya. Sok dewasa.” Ucap Azzam.


Husna pun tersenyum mendengar ucapan suami nya itu yang ternyata memahami adik nya dengan begitu baik.


“Bukan sok dewasa mas. Hanya saja dia takut menghalangi karir nya dan juga karir orang yang dia cintai.” Ucap Husna.


“Sama saja sayang. Ini lah yang aku takutkan saat dia jatuh cinta. Adikku itu masih kecil untuk hal seperti ini.” ucap Azzam menarik napas panjang.


“Bukan masih kecil mas. Usia nya sudah dua puluh tahun. Hal yang normal dia jatuh cinta di usia nya itu bahkan sudah di katakan bahwa masa puber nya sudah lewat. Kau juga jangan lupakan bahwa aku dan dia hanya berbeda usia beberapa bulan saja.” ucap Husna.


Azzam yang mendengar perkataan yang istri pun tertawa karena lupa bahwa istri nya itu masih sangat muda hanya saja karena pemikiran nya yang dewasa membuat nya seakan-akan menikah dengan wanita seumuran diri nya.

__ADS_1


“Maaf sayang aku lupa bahwa istriku ini masih sangat muda dan sekarang sudah mengandung buah hatiku. Pemikiranmu itu sangat dewasa dan bijak sayang hingga usiamu tertutupi dengan hal itu.” ucap Azzam jujur lalu segera mengecup kening istri nya itu penuh kasih.


“Dasar. Ingat mas kau itu menikah dengan anak kecil jika kau masih menganggap adikmu itu masih kecil. Dia sudah pantas jatuh cinta. Jangan terlalu mengekang nya. Cukup kita awasi dan berikan kepercayaan untuk nya. Aku yakin Zahra itu anak baik. Dia pasti tidak akan mengecewakan kita.” Ucap Husna.


Azzam pun mengangguk, “Pemikiran seperti ini lah yang membuatku lupa akan usiamu sayang. Kau selalu bisa menenenangkanku saat aku panic dan khawatir akan sesuatu. Aku mencintaimu my wife calon ibu dari si kembar.” Ucap Azzam mengelus perut sang istri.


Husna pun tertawa, “Mas, aku ingin di panggil bunda. Umi terlalu agamis untukku yang kadang suka marah.” Ucap Husna.


“Baiklah semau dirimu saja. Jika kau ingin di panggil bunda maka mas ingin di panggil ayah juga. Bukan kah itu adalah paket nya?” tanya Azzam yang di angguki oleh Husna.


“Mas, sebentar lagi aku wisuda lalu apa aku harus ker--”


Azzam menggeleng, “Biar mas yang kerja. Mas akan menghendel semua nya untukmu. Kamu cukup di rumah saja menjaga kehamilanmu. Aku tidak ingin kau kelelahan sayang apalagi kau mengandung kembar.” Ucap Azzam.


Husna pun mengangguk, “Baiklah. Aku akan jadi istri yang membebani suami nya saja.” ucap Husna.


Azzam pun tersenyum lalu mengelus kepala istri nya itu dan mengecup nya, “Aku tidak keberatan sayang. Kau adalah tanggung jawabku.” Ucap Azzam.


“Kalian dengar itu nak. Ayah kalian itu sangat menyayangi bunda. Kalian harus jadi seperti ayah kalian yang sayang pada wanita dan memperlakukan nya dengan lembut.” Ucap Husna bicara dengan kandungan nya dengan mengelus nya perut nya lembut.


“Mereka pasti akan jadi anak-anak baik karena memiliki bunda yang hebat sepertimu sayang. Aku ingin memiliki anak yang akhlak nya sama sepertimu. Secantik kau dan selembut dirimu.” Ucap Azzam.


“Tapi aku memiliki keyakinan bahwa aku mengandung bayi laki-laki mas. Kembar cowok.” Ucap Husna.


“Hahahh tidak masalah apapun jenis kelamin mereka. Kita akan menyayangi mereka sama rata nya.” balas Azzam yang di angguki Husna.


“Seperti nya bunda kalian ini belum ingin memiliki saingan nya nak. Dia masih ingin menjadi ratu di antara kita.” Ucap Azzam mengelus perut Husna lembut.


Husna pun terkekeh mendengar ucapan suami nya itu.

__ADS_1


Pembicaraan seperti ini selalu jadi solusi mereka membangun hubungan dan kasih sayang di antara kedua nya.


__ADS_2