My Secret Love

My Secret Love
Menjalankan Rencana Part 2


__ADS_3

Akira memeluk Nala dengan erat, dia gemas melihat wajah istrinya yang cemberut.


"Jangan memelukku dengan erat. Ada bayi kamu dalam perutku, nanti di kepencet kalau kamu memelukku erat."


"Ya sudah, aku akan memeluk kamu dari belakang saja." Akira memutar tubuh Nala dan memeluknya dari belakang. "Kalau begini aku tidak akan melukai anak kita bukan?"Akira memeluk Nala dan meletakkan dagunya pada pundak Nala.


"Akira, apa yang kita lakukan ini apa sudah benar?"


"Kenapa? Kamu sudah tidak kuat melihat aku dekat-dekat dengan Silvia? Apa kamu mulai cemburu dengan hal ini? Kalau mau kita hentikan saja, dan aku sekap saja dia, aku akan ancam dan siksa dia supaya dia mau mengakui semua."


"Kenapa kamu kejam begitu?'


"Memang itu yang bisa aku lakukan jika main paksa."


"Kita lanjutkan saja rencana ini, aku tidak masalah, anggap saja seperti dulu, aku sudah kebal."


Tidak lama ponsel Akira berbunyi dan saat dia melihat ternyata itu dari Silvia.


"Dia sudah seperti istriku saja, seenaknya menghubungi seseorang," gerutu Akira.


"Kamu mau mengantar dia pulang? Lalu aku pulang sendiri?"


"Tentu saja tidak, aku juga akan mengantar kamu pulang."


"Tapi nanti--."


"Sudah, biar aku yang mengurusnya." Akira menggandeng tangan Nala dan mereka berjalan keluar dari dalam kantor. Sampai di parkiran Akira melepaskan pegangan tangan pada Nala.


"Nala ikut pulang juga?" tanya Silvia saat melihat Nala berada di sana.


"Dia akan ikut ke hotelku, aku akan membelikan makanan untuknya dan keluarganya di restoran di hotel karena dia tadi sudah membantuku menemukan berkasku yang hilang. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku, apalagi Nala sedang hamil, dia membutuhkan asupan gizi yang baik."


'enak saja, apa selama ini giziku tidak baik? Kan dia yang selalu memberikan aku makanan,' gerutu Nala dalam hati.


"Oh begitu, ya sudah kalau begitu." Akira masuk ke dalam mobil dan dengan percaya dirinya Silvia duduk di samping Akira. Akira melihat ke arah Nala. "Aku bolehkan duduk di sebelah kamu? Nala bisa duduk di belakang?"


"Iya, tidak apa-apa."


Nala duduk diam di belakang, dan dia terfokus melihat ke arah dua orang yang duduk dengan Silvia yang tersneyum melihat ke arah Akira. Beda dengan Akira dia fokus menyetir mobilnya.


Tidak lama ponsel Nala berbunyi dan itu dari Rara, Rara meminta video call. Nala tidak mau nanti temannya yang suka bicara nyablak itu membongkar semuanya jadi Nala mematikan panggilan dari Rara. Nala mengirim pesan mengatakan dia tidak bisa menerima video call dari Rara karena masih di jalan.


Dikira Rara akan berhenti memanggil, tapi malah sekarang dia menghubungi Nala lewat panggilan telepon.

__ADS_1


"Rara ini kenapa malah masih menghubungiku?" geritunya pelan.


"Kenapa tidak kamu angkat, Nala? Apa dari suami kamu?" tanya Akira.


"Bukan, Pak. Ini dari Rara sahabat saya. Nanti saja saya telepon balik kalau sudah di rumah."


Akira ini sebenarnya ingin memastikan itu dari siapa? Takutnya dari si Radit itu.


"Angkat saja, Nala. Mungkin sahabat kamu ada keperluan penting sama kamu."


"Nanti saja Silvia."


Tidak lama mereka sampai di hotel di mana Akira menginap. "Akira, aku ke kamarku dulu, aku mau mandi dan bersih-bersih, tubuhku rasanya lengket sekali. Oh ya kalau kamu membutuhkan bantuan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan kantor kamu, aku dengan senang hati."


"Iya, Silvia. Terima kasih." Akira mencoba tersenyum walaupun terpaksa.


"Nala, aku ke kamarku dulu."


"Iya, Silvia.


Akira dan Silvia berjalan masuk ke dalam lift dan Akira menunggu sampai lift naik ke lantai atas lalu Akira menggandeng tangan Nala dan mereka juga naik lift satunya lagi.


Akira mengajak ke lantai yang agak atas Nala sampai bingung, kenapa Akira membawanya ke lantai yang bukan terdapat kamar Akira biasanya.


"Akira, ini kamar siapa?" tanya Nala.


"Tentu saja kamar Kita. Aku sengaja memindahkan beberapa barangku ke sini seperti bajuku dan ada beberapa baju kamu, aku tidak mau kalau sampai Silvia mengganggu kita nantinya. Aku membuka kamar baru lagi, dan yang dulu aku biarkan saja."


"Kalau dia tau bagaimana nantinya?"


"Dia tidak akan tau. Sudah! jangan kamu pikirkan hal ini, kita mandi dan kita segera beristirahat, aku juga sudah memesankan makanan untuk kita."


"Iya, aku mau mandi dulu kalau begitu


Tangan Akira memegang tangan Nala. Kita mandi sama-sama, ya sayang?"


"Mandi sama-sama?" Nala berpikiran sebentar. "Apa kamu yakin? Nanti kamu minta lebih?"


"Enggak, kita mandi biasa saja. Aku akan memijit kamu sebentar biar kamu merasa enakan dan rilek."


"Ya sudah kalau begitu, tapi hanya mandi saja, tidak lebih."


"Iya, semoga aku tidak khilaf."

__ADS_1


"Akira!" Nala melotot melihat ke arah suaminya.


Mereka masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat di bawah shower.


"Nala," panggil Akira lirih.


"Ada apa?" Nala sedang menikmati pijitan lembut yang di berikan oleh suaminya pada pundaknya.


"Aku tadi sudah menghubungi dokter spesialis kandungan yang kapan hari memeriksa kamu."


"Untuk apa?"


"Untuk bertanya, apa aku dan kamu boleh melakukan hubungan suami istri saat kamu posisi hamil seperti ini."


"Apa?" Nala agak terkejut bahkan menoleh ke arah suaminya yang tadinya posisinya membelakanginya. "Kenapa menanyakan hal itu? Aku jadi malu nanti kalau kita periksa lagi." Nala cemberut.


"Kenapa malu? Itukan hal yang wajar, Nala?"


"Lalu dokter itu menjawab apa?"


"Dokter itu bilang tidak apa-apa selama tidak ada masalah dengan kandunganku dan selama melakukan juga harus lembut serta tidak menimbulkan masalah. Aku juga bertanya apa pasiennya ada yang mengalami masalah setelah mereka berhubungan?"


"Lalu?"


"Katanya belum ada dan kandungannya sudah memasuki tiga bulan ke atas kalau bisa, tapi kondisi semua orang berbeda-beda. Bagaimana kalau kita coba? Aku akan pelan-pelan."


Nala terdiam sejenak. Dia bingung, ini suaminya memang dari kemarin meminta hal itu. Nala mengangguk perlahan.


"Aku berjanji akan pelan-pelan sama kamu, Nala." Akira mengelus perut istrinya pelan.


Akhirnya Akira membawa Nala dengan menggendonganya dan membawanya ke atas ranjang empuk mereka setelah mengeringkan tubuh Nala.


"Akira, kalau makanan kita datang bagaimana?"


"Aku akan menghubunginya dulu." Akira menghubungi bagian pengantar makanan dan menanyakan makanannya apa sudah siap? Ternyata belum siap. Akira akhirnya mengatakan nanti saja saat dia menginginkan makanannya datang dia akan menghubunginya.


Sesuai janjinya, Akira perlahan-lahan melakukan semuanya. Dia benar-benar berhati-hati dengan tindakannya. Nala pun mulai merasa tenang yang awalnya sangat khawatir pada bayinya.


Setelah selesai Akira merasa sangat puas, apa yang dia tahan selama beberapa hari sudah terpenuhi. Nala juga merasa lega, perutnya tidak terjadi apa-apa.


"Tidak apa-apa, Kan Sayang?"


Nala menggeleng. "Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Ampun, tuan muda Akira


__ADS_2