My Secret Love

My Secret Love
Terjebak Hujan Part 2.


__ADS_3

Aro yang sudah masuk ke dalam mobilnya, kembali keluar karena melihat Uni yang berdiri gelisah di sana.  Aro berdiri di depan pintu mobilnya dan melihat ke arah Uni yang juga melihatnya.


“Aku akan memberi kamu tumpangan lagi, ayo masuk ke dalam mobilku.”


“Hah? Aku?” Uni menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, kamu! Memangnya aku bicara dengan siapa lagi di sini? Setan?”


Uni langsung melihat sekelilingnya saat Aro menyebut kata setan, dia kan takut jika memang ada setan benaran di sana, apalagi suasana sudah sepi dan udaranya mulai dingin. “Hem ... tidak usa, aku tunggu angkutan


umum saja di sini, nanti juga datang.” Uni tidak enak kalau diantar oleh Aro lagi, dia saja belum cerita soal siapa pria yang mengantarkan dia waktu itu pada Via. Dan sekarang dia akan diantar lagi sama pria yang sangat disukai oleh


Via.


“Apa kamu tidak melihat kalau akan turun hujan lebat? Kamu mau kehujanan di sini dan akhirnya bertemu dengan orang jahat lagi? Masuk!” bentak Aro kesal.


Uni yang kaget segera berjalan menuju mobil Aro, entah kenapa dia malah merasa takut dengan bentakan Aro barusan dan mengingat


kejadian kemarin dia hampir di rampok. Dia saja tidak membawa uang banyak, kalau perampok itu marah karena tidak mendapatkan uang, bisa-bisa Uni di apa-apain.


Aro duduk dan fokus mengemudikan mobilnya. Uni hanya bisa duduk terdiam dan menunduk dengan melirik sekilas pada Aro yang mukanya tampak serius.


“Terima kasih sudah mau mengantarkan aku lagi, Aro.” Aro hanya diam saja tidak menjawab ucapan Uni. Tidak lama turun hujan yang sangat deras di sana, dan saat melewati traffic light ternyata di sana ada kemacetan akibat lampu lalu lintas yang mati.


“Shit! Kenapa jadi macet begini?” umpat Aro kesal.


“Padahal ini sudah malam, kenapa masih banyak kendaraan berlalu lalang di sini?” Uni bertanya pada dirinya sendiri. “Aro, aku minta


maaf sampai menyusahkan kamu begini.”


“Huft! Kenapa kata-kata kamu kalau tidak terima kasih, ya meminta maaf. Apa tidak ada kata-kata lainnya?” Aro melihat malas pada Uni.


Wajah Uni seketika berubah aneh. “Lalu kamu mau aku bicara apa? Aku saja sebenarnya takut mengajak kamu banyak bicara mengingat kamu terlihat dingin dan tidak peduli begitu.” Uni mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Ya sudah diam saja kalau begitu.”


Uni akhirnya memilih diam saja sambil melihati suasana di luar yang sedang hujan deras. Tidak lama ponsel milik Aro berdering dan Uni


mendengar Aro berbicara dengan seseorang di sana, sepertinya itu orang tua Aro yang menanyakan kenapa  Aro belum pulang.”


“Aku masih di jalan dan terjebak macet, Ma. Di sini juga hujan deras, ada lampu lalu lintas yang mati jadi banyak kendaraan saling serobot.”


“Kamu hati-hati di jalan ya, Aro.”


“Iya, Ma. Mama tidak perlu khawatir denganku.” Mereka mengakhiri panggilan teleponnya. “Kenapa kamu melihatiku begitu?” tanya Aro


yang menangkap tidak sengaja Uni melihatinya yang sedang telepon.


Uni langsung mengalihkan pandangannya walaupun dia sudah ketahuan. “Aku tidak melihati kamu, aku hanya--.” Uni langsung terdiam.


“Kenapa diam? Kalau bicara itu selesaikan sampai selesai.”


“Memangnya tante kamu tidak mencari kamu kalau kamu pulang terlambat?”


“Em! Iya dicariin,” Uni berbohong. Boro-boro dicariin, yang ada pulang malam malah di tanyai apa lembur lagi? Dan pasti dapat uang


tambahan, dan itu pekerjaan rumah belum selesai, cepat selesaikan.


“Lalu kenapa seolah-olah kamu sedih begitu?”


“Rasanya beda saja jika yang mencari dan mengkhawtirkan kita orang lain bukan orang tua kita sendiri.” Uni mencoba membuang mukanya melihat ke arah luar jendela karena dia tidak mau di tanyai terus tentang tantenya yang beda dari kenyataan, tapi Uni tidak mau menceritakan kejelekan tantenya itu.


“Itu berarti masih ada orang yang peduli sama kamu, kamu bersyukur saja.” Uni kembali menoleh pada Aro dan tersenyum terpaksa.


Mereka kembali menunggu di dalam mobil. Sedikit-sedikit mobil Aro bisa berjalan walaupun dia harus benar-benar bersabar. Tidak lama terdengar suara aneh dari dalam perut Aro. Uni yang mendengarnya agak terkejut. “Kamu lapar, Aro?”


“Tidak,” jawabnya singkat dan Aro berbohong.

__ADS_1


“Tidak bagaimana? Itu bunyi suara perut kamu, Aro. Kamu belum makan malam pastinya, apalagi ini hujan, pasti membuat orang gampang lapar.”


“Nanti aku bisa makan di rumah. Apa kamu tidak bisa membahas hal yang lainnya?”


Uni tidak menjawab, dia mengambil tas ransel yang ditaruh di bawa kakinya. Uni mengeluarkan box makanannya dan di sana ada dua buah burger dan kentang goreng yang tadi dia diberi oleh temannya di restoran karena masih tersisa banyak, jadi di bagikan untuk pegawai di sana.


“Kita, makan ini saja. Jujur saja aku juga lapar, Aro. Ini.” Uni menyodorkan satu buah burger pada Aro.


Aro hanya melihati dengan tatapan datar. “Kalau kamu lapar, kamu makan saja sendiri.”


“Kamu kenapa bersikap begitu, sih? Memang apa salahnya aku memberikan kamu burger ini? Kalau kamu tidak suka denganku tidak apa-apa, tapi jangan membenci makanan yang diberikan oleh seseorang dengan tulus.”


Seketika ada hal aneh yang ada di dalam hati Aro, dia seolah teringat akan suatu hal. “Ya sudah! Sini burgernya.” Aro mengambil burger yangbakan dimasukkan lagi oleh Uni ke dalam box makanannya. Uni tampak tersenyum


melihat Aro mau makan burger pemberiaannya.


Mereka berdua menikmati burger itu di tengah guyuran hujan yang sangat deras dan kemacetan yang entah kapan akan berakhir. “Ini makan juga kentangnya.” Uni tidak sadar akan menyuapi Aro dengan kentang goreng.


Aro langsung terdiam dan mengambil kentang goreng dari tangan Uni dan memakannya sendiri. “Terima kasih,” jawab Aro singkat.


"Sekarang kamu yang mengatakan kata terima kasih," ucap Uni lirih.


"Memangnya aku harus bilang apa? Bilang kamu jangan sok perhatian sama aku." Aro memberikan lirikan sekilas pada Uni.


"Benar kata Via kalau dia memang pangeran es," gerutu Uni lirih sekali.


"Kamu lagi baca mantra ya? Kenapa mulutnya komat kamit begitu?" tanya Aro dengan wajah kesalnya. Uni tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya dengan mulut penuh dengan burger. "Kamu tidak menghubungi tante kamu di rumah? Nanti mereka cemas sama kamu?"


Uni langsung berhenti mengunyah saat mendengar perkataan Aro. "Tidak apa-apa, tanteku sudah tau aku kalau pulang malam biasanya lembur atau memang lama menunggu angkutan umum."


"Tapi ini kan hujan deras dan sedang macet. Kamu hubungi saja beritahu keadaan kamu."


Uni tidak bisa mencari alasan lainnya, dia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel tantenya, padahal Uni tau jika hal itu sia-sia nantinya.

__ADS_1


__ADS_2