My Secret Love

My Secret Love
Kehadiran Akira


__ADS_3

Rhein terdiam sejenak, dia baru melihat ke arah Nala dengan tatapan datar, kemudian dia tersenyum.  “Belum ada, aku masih menikmati kesendirianku. Tidak segampang membalikan telapak tangan untuk melupakan kamu, Nala.”


Nala terdiam menatap Rhein. Dia bingung dengan apa yang harus dikatakan kepada adik iparnya itu. Tidak lama ada mobil berhenti di depan rumah Nala dan keluar dari dalam mobil itu Akira dengan muka anehnya.


Nala dan Rhein sama-sama beranjak dari tempatnya melihat siapa yang datang ke sana. Akira berjalan mendekat ke arah adik dan istrinya.


“Hai, Rhein! Kamu kapan datang?”


“Barusan saja, kamu sendiri kenapa sudah pulang? Bukannya kamu harusnya masih ada pekerjaan di kantor kamu?”


Nala melepaskan sarung tangannya dan memeluk suaminya. “Iya, kenapa kamu jam segini sudah pulang, Sayang?” tanya Nala heran.


“Terserah aku, aku pemiliknya perusahaan itu, lagian aku sudah selesai rapat dan tidak ada pekerjaan lagi di kantor.” Akira terlihat


sengaja mencium kening istrinya.


Rhein malah memberikan tawa renyahnya. “Tidak ada pekerjaan, kamu kira aku anak kecil yang bisa di bohongi, Akira. Kamu pulang karena mendengar aku ke rumah kamu, Kan?”


“Kalau iya memangnya kenapa? Kamu datang tidak memberi kabar dulu, aku tau dari mommy dan aku langsung pulang, bagaimanapun juga aku kakak kamu, sudah seharusnya menyambut kedatangan adikku.”


Nala melihat ke arah jas Rhein yang diletakkan di atas kursi santai di depan teras. Dia mengambilnya dan mengajak mereka masuk. “Kita bicara di dalam saja.”


“Itu jas Rhein? Biar aku saja yang membawanya.” Akira mengambil jas milik Rhein. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah.


“Tuan Muda Rhein? Kok bisa ada di sini?” Bibi Anjani agak terkejut melihat Rhein di sana.


“Halo, Bi. Apa kabar?” Rhein memeluk bibi Anjani dengan tangan tanpa melingkar. “Ops! Maaf, baju dan tanganku kotor, aku sampai lupa.”


“Tidak apa-apa, tapi kenapa bisa sampai begitu?”


“Tadi aku membantu Nala menanam bungan mawarnya.”


“Apa Nala yang meminta kamu membantunya?”


“Aku yang memaksa membantunya. Sudahlah! Jangan banyak bertanya dulu, aku mau meminjam baju kamu dan membersihkan diri.”

__ADS_1


“Aku akan antar kamu ke kamarku, di sini tidak ada kamar tamu. Merepotkan saja,” gerutu Akira.


Nala dan bibi Anjani saling melihat. “Sepertinya akan ada hal yang terjadi ini,” ucap Bibi Anjani.


“Tidak akan ada apa-apa, Bi, Bibi tau sendiri bagaimana sifat Rhein itu. Sudah kalau begitu aku mau ke kamar mandi belakang saja untuk


untuk meletakkan ini dan mencuci tanganku.


Di dalam kamarnya, Akira mengambilkan baju yang akan di pakai Rhein nantinya. Dia memilihkan sweter lengan panjang berwarna abu-abu dan memberikan pada Rhein. “Kamu sebenarnya ada perlu apa tiba-tiba datang ke sini?” tanya Akira yang berdiri bersedekap di depan pintu kamarnya.


“Memangnya aku tidak boleh datang ke sini? Aku ada pekerjaan juga di sini dan sekalian aku ingin melihat kedua keponakan aku yang lama


sekali aku belum pernah melihat mereka.”


“Pasti ada hal lain?” tanya Akira curiga.


“Kenapa menatapku curiga begitu? Kamu kira aku mau merebut istri kamu? Aku tidak selicik itu, Akira. Kalau aku mau aku main terang-terangan saja.” Rhein membuka pintu kamar dan keluar dari sana dan diikuti oleh Akira.


“Tuan Muda Rhein sudah sarapan? Kalau belum akan bibi siapkan untuk makan paginya.”


“Sayang, bagaimana kalau  aku membuatkan kamu coklat hangat?” tanya Nala.


“Iya, aku mau.”


“Nah! Kalau itu aku juga mau, aku sudah lama tidak merasakan lagi coklat hangat kamu, Nala. Oh ya! Sekalian sama sandwich kesukaanku.”


“Enak saja, dia bukan pelayan kamu. Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu sudah sarapan di pesawat?”


“Ck! Kenapa kamu pelit sekali denganku. Aku kan ingin kangen coklat hangat dan sandwich buatan Nala, memangnya tidak boleh kalau adik ipar meminta kakak iparnya membuatkan makanan kesukaan adik iparnya?”


“Iya, aku buatkan, kalian ini jangan ribut terus, aku pusing mendengarnya. Sayang, kamu itu kenapa? Rhein itu kan adik kamu, dan adik aku


juga, jangan membawa tentang masa lalu.” Nala mukanya kesal dan menuju ke arah


dapur. Bibi Anjani juga mengikuti Nala.

__ADS_1


“Bibi sudah bilang, Kan, pasti nanti ada keributan kecil di antara mereka,” bisik bibinya. Nala hanya menghela napas pelannya.


Nala membuatkan dua buah cangkir coklat hangat dan membuatkan beberapa roti sandwich untuk mereka. Nala membawa ke meja makan di mana dua kakak beradik itu sedang mengobrol.


“Sayang, waktunya si kembar pulang, aku akan meminta supir kita untuk menjemput mereka ke sekolah.”


“Si kembar pulang? Bagaimana jika kamu dan aku menjemput mereka, Nala? Aku penasaran ingin bertemu mereka. Mommy sering menceritakan tentang mereka.”


“Apa? Kamu mau menjemput kedua anakku berdua dengan Nala?” tanya Akira cepat.


“Iya, memangnya kenapa? Aku kan tidak tau sekolah dan bahkan wajah mereka, kalau aku salah menjemput anak orang nanti dikira aku mau menculik anak.” Rhein berbicara sambil menikmati roti sandwichnya.


“Kamu di sini saja, biar aku ayahnya dan mamanya yang menjemput kedua anakku itu. Nanti kamu bisa bertemu dengan mereka di rumah ini.” Setelah menyeruput setengah cangkir coklat hangatnya Akira mengajak Nala untuk menjemput kedua anaknya.


“Bi, Akira itu kenapa seperti itu, Ya? dulu dia tidak seperti itu malah terkesan dingin dan cuek?” tanya Rhein heran.


“Mungkin karena kejadian dengan Radit dulu. Kakak kamu jadi seperti itu, dia kan memang cinta setengah mati sama Nala.” Bibi Anjani duduk di depan Rhein.


“Oh ya! Soal kasus Radit itu bagaimana, Bi? Pasti banyak kejadian yang aku tidak ketahui di sini.”


“Iya, banyak sekali, dan kejadiaannya benar-benar tidak di sangka oleh Bibi dan Nala.”


Bibi Anjani kemudian menceritakan semua kejadian yang Nala dan Akira alami dalam beberapa hari ini. Rhein sangat terkejut mendengar semuanya. “Radit benar-benar sakit jiwa, pantas saja Akira tidak akan pernah melepaskan orang itu.”


“Iya, padahal dulu Radit itu bibi anggap orang yang sangat baik dan lembut, tapi ternyata dia monster yang bersembunyi di balik sikap


polosnya. Kasihannya lagi dia tidak mau mengakui perbuatannya pada Tata dan anaknya yang dilahirkan oleh Tata.”


“Dasar pria brengsek!”


“Lalu, Nak Rhein ke sini karena memang kangen dengan kedua orang tua nak Rhein? Atau ada urusan bisnis?”


“Sebenarnya aku ke sini karena salah satunya memang aku ada kerja sama dengan salah satu perusahaan di sini, dan ada hal lainnya.”


“Hal lainnya apa?” tanya Bibi Anjani dengan wajah penasaran.

__ADS_1


__ADS_2