My Secret Love

My Secret Love
Kemesraan Ini


__ADS_3

Uni memegangi erat kaos bajunya karena takut jika Aro akan memaksa melihat tanda merah yang tadi diciptakan olehnya. Bukan hanya itu Uni takut jika Aro akan menambahkan tanda merah itu pada tubuhnya. “Untuk apa, Aro? Aku


tidak mau kamu melihatnya, jangan bersikap kurang ajar begini denganku.” Uni


mengerucutkan bibirnya.


“Siapa yang kurang ajar? Aku sudah memintanya baik-baik sama kamu, aku hanya memastikan saja apa tanda itu masih ada atau kamu menghapusnya?”


“Menghapus bagaimana? Aku sudah mencobanya, tapi tidak bisa. Aro, aku sudah selesai melakukan tugasku dan aku mau pergi dari kamar kamu.” Saat Uni mau melewati Aro tiba-tiba ponsel dalam sakunya berdering. Uni agak kaget melihat ada nama Via di sana. “Via?” Uni menengok pada Aro, dia menjauh sedikit dari Aro, tapi lagi-lagi pria itu menarik tangan Uni.


“Siapa yang menelepon?”


“Via yang menghubungiku,Aro. Lepaskan dulu tanganku.”


“Oh! Aku kira mantan kamu itu.”


“Aku mau menjawab panggilannya dulu, aku mau pergi dulu.”


“Tidak perlu pergi, kamu jawab di sini saja, aku masih ada urusan sama kamu.” Aro memegang tangan Uni, tepatnya menahannya.


“Aro, aku kan mau berbicara sama Via, lagian tugasku di kamar kamu sudah selesai, jadi aku mau pergi dulu.”


“Jawab di sini,” ucapnya tegas dan seolah seperti perintah yang tidak mau di bantah.”


Ini anaknya Akira kenapa lebih Arogan dari ayahnya, ya?


Uni akhirnya menurut dan dia menjawab panggilan Via. “Halo, Via, ada apa?”


“Uni! Kenapa lama sekali menjawab panggilan aku? Lihat! Aku memanggil kamu sampai berapa kali?”


“Iya, aku minta maaf, Via. Aku tadi sedang sangat sibuk di rumah majikan aku.”


“Apa aku mengganggu pekerjaan kamu? Aku tidak mau kalau kamu sampai terkena masalah nantinya.”


“Aku barusan selesai dengan pekerjaanku. Ada apa kamu menghubungiku? Kamu tidak sedang bekerja jam segini?”


“Ini masih jam kerja, tapi sedang sepi jadi aku bisa santai. Uni, kamu bekerja di mana sih? Apa majikan kamu sangat baik sama kamu? Lalu


kamu sudah izin akan datang ke acara bazar?”

__ADS_1


“Ya ampun, Via! Kamu tanya satu-satu, jangan seperti kereta api begini.”


“Eheheh! Aku penasaran saja sama pekerjaan baru kamu, lagian kamu kenapa bisa sampai menjadi pembantu rumah tangga?”


“Memangnya kenapa? Pekerjaan ini juga halal dan tidak berdosa.”


“Iya, tapi kedengarannya sangat aneh saja, Uni. Ya sudahlah tidak perlu di bahas, kamu jawab saja pertanyaan aku tadi. Kamu bisa pergi ke


acara bazar itu besok lusa?”


“Aku diizinkan sama majikan aku untuk datang ke acara bazar itu, jadi nanti aku akan datang dengan kamu ke acara itu.”


“Serius?”


“Iya, aku serius, dan nanti kita bisa bertemu sekali menghabiskan waktu itu saling tukar cerita. Jujur saja aku kangen sama kamu Via. Aku juga ingin membayar uang kamu yang kapan hari aku pinjam.”


“Uni! Kamu kenapa masih ingat akan hal itu? Aku saja sudah melupakannya.”


“Bagaimanapun aku akan tidak akan melupakan kebaikan kamu, dan aku tidak boleh malah seolah memanfaatkan kebaikan kamu itu.”


“Kamu simpan saja uang itu untuk kebutuhan kamu, aku ikhlas memberikannya sama kamu. Oh ya! Apa majikan kamu orangnya baik, Uni?”


“Majikan aku sangat baik, mereka bahkan menganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka.”


kamu mendapat majikan yang jahat juga pasti kamu sangat menderita.”


“Mereka sangat baik padaku.” Uni melirik pada Aro yang duduk di kursi dengan membaca bukunya.


“Uni, kamu tau? Rendy kapan hari menghubungiku, katanya dia ingin mengajak kamu balikan, tapi aku bilang kalau aku tidak bisa membantunya.”


“Rendy menghubungi kamu?” ucap Uni kaget, dan dia sadar jika suaranya agak keras.


Aro yang mendengar hal itu langsung melihat tajam pada Uni dan menutup buku yang di bacanya.


“Rendy juga mengatakan jika kamu menolaknya karena sudah memiliki kekasih. Memangnya kamu sudah punya kekasih?”


Deg!


Uni benar-benar sangat terkejut mendengar pertanyaan Via. “Kekasih? A-aku tidak memiliki kekasih, kami hanya dekat saja.” Sekali lagi Uni melirik pada Aro. Namun, kali ini dia tidak melihat Aro di tempatnya.

__ADS_1


Blup!


Uni agak kaget merasakan tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. “Aro,” ucapnya lirih.


“Apa Uni?”


“Em ... bukan apa-apa, Via.” Uni tampak kaget.


“Kamu tadi bicara apa, sih? Ucapan kamu tidak jelas.


“Auw!” Tiba-tiba Uni berteriak karena telinganya di gigit oleh Aro.


“Uni! Kamu kenapa?” Via tampak sangat cemas mendengar teriakan Uni.


“Ada semut api yang mengigit kakiku. Via lusa saja kita lanjutkan pembicaraan kita. Aku tutup dulu, lagian aku juga dipanggil sama majikan aku.” Uni tidak bisa berisik lagi karena dia tidak mau sampai Via tau jika dia sedang bersama dengan Aro.


“Ya sudah kalau begitu. Kamua hati-hati menjaga diri ya, Uni.”


“Iya, kamu juga. Bay Via.” Uni menutup panggilannya.


Setelah mematikan panggilan Uni tampak belum lega karena si pria dingin itu malah makin erat memeluk Uni dan menelungsupkan kepalanya pada leher Uni.


“Aro, hentikan! Apa yang sedang kamu lakukan?” Uni menggeliat ingin melepaskan pelukan Aro.


“Tadi kamu bilang apa sama teman kamu itu?”


“Bilang apa? Aku tidak bilang apa-apa.” Uni mencoba pura-pura lupa dengan apa yang barusan dia ucapkan.


“Kenapa kamu bilang kalau kamu tidak mempunyai kekasih? Lalu, kamu anggap apa aku ini?”


“Aro, kita kan sudah sepakat akan merahasiakan ini sama Via. Aku tidak mau kalau sampai Via nanti bertanya banyak siapa kekasih aku dan ingin agar aku mengenalkan kekasihku sama dia.”


Aro seketika  membalikkan tubuh Uni menghadap ke arahnya dan menatap Uni dengan tatapan yang sangat tajam. “Apa benar karena hal itu? Atau kamu ingn balikan sama mantan kamu diam-diam melalui teman kamu itu?”


“Siapa yang ingin balikan sama dia? Aku sudah tidak ingin balikan sama dia, aku tidak ingin sama sekali. Sebenarnya juga aku tidak ingin


pacaran dulu. Aku ingin menata hidupku lebih bakik dulu.”


“Hidup kamu sudah baik. Apalagi yang harus di tata?”

__ADS_1


“Huft! Baik apanya? Aku saja banyak menyusahkan orang lain terutama keluarga kamu. Aku juga ingin lulus dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,” ucapnya lirih.


“Nanti setelah lulus menikah denganku, dan aku jamin hidup kamu akan lebih baik,” jawab Aro santai sambil berlalu setelah mengecup pipi Uni. Uni speechless mendengar apa yang dikatakan o;leh Aro  barusan.


__ADS_2