My Secret Love

My Secret Love
Pencuri Uang


__ADS_3

Di dalam kamar, Nala dan Akira yang sedang duduk bersandar di tepi ranjangnya sedang saling berbicara hal serius. Mereka sampai tidak mendengar Aro putranya yang barusan datang.


“Akira apa benar yang kamu katakan tentang Mas Radit?”


“Iya, Nala, aku baru mendapatkan informasi. Dia mendapat keringanan hukuman karena hal baik yang dia lakukan, tapi aku sudah berbicara dengan pihak berwajib agar terus mengawasinya, aku tidak mau kalau sampai dia menyakiti kamu lagi karena aku tau dia pria sakit jiwa.”


Nala memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. “Kamu tenang saja, aku akan menjaga diriku baik-baik.”


“Sepertinya aku akan kembali menyewa para penjaga seperti dulu agar aku tenang jika meninggalkan kamu dan anak-anak di rumah, dan ke mana saja kalian akan dijaga oleh para penjaga itu.”


Nala kembali menarik kepalanya dan melihat pada Akira. “Sebaiknya tidak perlu melakukan hal itu, Sayang. Kalau aku tidak masalah yang menjadi masalah adalah kedua anak kamu. Apa mereka mau ke mana-mana diikuti oleh penjaga? Mereka pasti akan merasa risih, apalagi Aro putramu itu.”


Akira terdiam sejenak. “Apa kita perlu menceritakan hal ini pada mereka? Supaya mereka lebih berhati-hati nantinya.”


“Kita coba berpikiran positif saja, Akira. Mas Radit siapa tau sudah berubah setelah menjalani hukumannya selama ini, kalau kita bercerita, kasihan Ara nanti dia malah ketakutan. Sudah! Kamu tidak perlu cemas, kita bersikap biasa saja. Dan semoga Mas Radit tidak berbuat apa-apa lagi.”


“Ya sudah, tapi aku akan tetap mengawasi Radit diam-diam, jangan sampai dia melukai keluargaku, kalau dia sampai berani melakukan hal itu lagi, aku tidak akan memaafkannya,” ucap Akira dengan wajah tegas.


“Ya sudah, sekarang kita tidur saja.” Nala berbaring dan Akira juga ikut berbaring sambil memeluknya dari belakang. Mereka ini sudah memiliki anak remaja, tapi masih sweet aja.


Keesokan harinya, Uni sudah bangun dari pagi dan menyiapkan makanan untuk tante dan sepupunya seperti biasa. Dia ingin berangkat ke rumah Nala pagi-pagi karena hari ini dia masih libur kuliah. Jadi dia ingin bisa melakukan pekerjaannya dari pagi, apalagi Ibu Nala sudah sangat baik kepadanya.


“Tante, aku berangkat kerja dulu, Ya?”


“Kamu tumben masuk pagi? Bukannya tempat kerja kamu masuknya agak siang? Kamu mau ke mana? Mau pergi pacaran ya?” selidik tante Mira.


“Aku tidak punya pacar, Tante. Aku berangkat pagi karena aku mau mencari pekerjaan tambahan di hari libur.” Uni terpaksa berbohong.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu, jadi uang kamu bisa tambah banyak, aku dan suamiku tidak perlu susah-susah untuk membiayai kamu lagi.” Tante dan Selli duduk di meja makan.


Uni hanya terdiam. “Kalau begitu aku berangkat dulu.”


“Kamu tidak bawa bekal seperti biasa?”


Uni kembali menoleh saat tantenya menanyakan hal itu. “Aku nanti makan di luar saja, Tante.”


“Uang kamu sudah banyak ya? Tumben tidak membawa bekal?”


“Aku bisa makan di tempat kerjaku, Tante. Kadang Via juga memberiku makanan yang masih ada sisa banyak di sana.”


“Ya sudah, asal jangan sampai gara-gara kamu mengambil makanan di sana sampai bos kamu marah dan memotong uang gaji kamu untuk menggantinya.”


Uni tidak memperdulikan, dia pergi dari rumah itu dan menunggu angkutan umum di tempat biasa.


“Ma, aku mau minta uang sama mama,” ucap Selli.


“Aku mau pergi jalan-jalan dengan temanku hari ini, Masak jalan-jalan sama mereka aku Cuma membawa uang tiga ratus ribu?” Muka Selli di tekuk kesal.


“Mama belum ada uang lagi, ayah kamu saja belum kirim uang untuk kita dan Uni. Kamu pakai saja dulu uang kamu itu, kamu cukup-cukupi saja uangnya.”


“Di cukupi bagaimana? Nanti kalau mereka mengajak aku pergi shopping, apa aku diam saja seperti patung? Bisa-bisa mereka malah menertawakan karena mereka tau aku tidak punya uang.”


“Lalu bagaimana lagi? Mama memang tidak memiliki uang, ini saja hanya ada beberapa lembar uang untuk kita makan tiap hari, itupun sudah mama hemat agar bisa cukup sampai nanti ayah kamu mengirim uang.”


Selli sedang memikirkan sesuatu, dia tidak mau terlihat miskin di depan teman-teman kuliahnya yang notabennya anak orang-orang kaya. Dia kemarin malam sudah menghubungi kekasihnya yang usianya lebih tua darinya untuk meminta uang, tapi yang ada panggilannya tidak di jawab sama sekali. Malah dia mendapat pesan WhatsApp dari kekasihnya itu agar tidak mengganggunya beberapa hari ini karena kekasihnya itu sedang bersama dengan istri dan anaknya liburan.

__ADS_1


“Ma, bagaimana kalau kita pinjam uangnya


Uni saja? Siapa tau dia memiliki uang yang di simpan di dalam kamarnya?”


“Tadi kamu tidak bilang saat ada anaknya, sekarang dia sudah berangkat kerja.”


“Kenapa harus izin? Kita ambil saja langsung di dalam kamarnya, nanti kalau ayah sudah mengirim uang kita kembalikan, lagian uang itu juga uang ayahku.”


Tante Mira berpikiran sebentar, lalu dia mengangguk dan mereka berdua masuk ke dalam kamar Uni. Di dalam kamar mereka mulai mencari di mana Uni menyimpan uang tabungannya.


Kedua mata Selli agak kaget melihat buku tebal yang kemarin Ara berikan pada Uni agar dapat Uni gunakan untuk belajar ada di antara tumpukan buku-buku kuliah Uni. “Ma, Uni kenapa bisa mempunyai buku ini?” Selli menunjukkan buku yang dipegangnya pada mamanya.


“Mungkin dia pinjam dari perpustakaan. Memangnya kenapa?”


“Buku ini tidak ada di perpustakaan, buku ini harus di beli di toko buku khusus juga karena harganya yang mahal. Aku saja yang mau membelinya nanti menunggu ayah pulang, itupun kalau dibelikan, kalau tidak yang aku tidak peduli, lagian aku malas juga membaca buku itu.”


“Memang harganya sangat mahal?” Selli mengangguk. “Kalau begitu dia mempunyai uang banyak?” Tatapan mata Tante Mira menyipit ketus.


Selli mencoba mencari di mana Uni menyimpan uangnya dan akhirnya mereka menemukan kotak berukuran sedang dan ada


gembok kecil yang menguncinya.


“Sepertinya ini uang tabungan Uni, Ma. Kita buka saja.”


“Kalau begitu cari saja kuncinya. Anak itu ternyata tidak jujur jika dia memilki uang tabungan sebanyak ini, bahkan dia bisa membeli buku semahal itu.” Mereka berdua mencoba mencari kuncinya.


“Apa dia punya kekasih kaya raya, atau bahkan dia menjadi simpanan om-om?” celetuk Selli.

__ADS_1


Tante Mira seketika langsung melihat ke arah putrinya. “Maksud kamu? Dia jadi selingkuhan om-om kaya?”


Selli mengangguk. “Sekarang itu banyak gadis-gadis seperti Uni dengan muka lugunya, tapi perilakunya buruk, dia bisa melakukan apapun agar bisa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan dengan menjadi simpanan om-om.”


__ADS_2