My Secret Love

My Secret Love
Nama Si Kembar


__ADS_3

Tidak lama Rara dan Reno datang ke sana saat mereka tau jika hari ini Nala akan menjalani operasi.


"Bi, bagaimana keadaan Nala? Apa sudah selesai operasinya?"


"Belum, Ra. Mereka saja baru beberapa menit masuk, bibi juga cemas menunggu, apalagi ini pengalaman Nala melahirkan pertama kali."


"Kalian tidak bulan madu, Ren?" tanya Mommy Kei.


"Belum, Tante Cantik. Ceritanya panjang."


"Kenapa tidak segera bulan madu? Memangnya tidak mau segera punya bayi seperti Akira dan Nala?"


Reno melihat ke arah Rara. "Tentu saja mau, bahkan kalau bisa Rara sekali hamil kembar lima nantinya."


"Hah?" Rara langsung mangap lebar mendengar ucapan Reno. "Kembar lima? Kalau begitu kamu saja yang hamil supaya kamu tau rasanya mengandung sembilan bulan." Rara memutar bola matanya jengah.


"Mana bisa? Tetap saja kamu yang hamil dan aku yang menanam bibitnya," ucapnya santai dengan wajah meledeknya.


Kei dan Bibi Anjani malah tertawa. Orlaf yang tidak paham hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Beberapa menit kemudian Dokter keluar dan memberitahu jika operasi telah berhasil dengan baik, ketiganya dalam keadaan sehat.


Kei langsung memeluk Anjani dan mereka sama-sama bergantian berpelukan.


Di kamar operasi Akira menangis melihat dua malaikat kecilnya menangis dengan kencang dan mereka di letakkan di atas tubuh Nala untuk mencari di mana letak susunya. Nala langsung memberikan asi kepada si kembar.


"Mereka lucu sekali, yang satu mirip aku dan satunya mirip kamu, Akira."


"Tidak, keduanya mirip aku. Nanti saja kalau kamu melahirkan lagi biar mirip kamu," ucap Akira asal.


"Enak saja."


Akira tersenyum dan mereka melihat si kembar yang tengah asik menikmati asi dari Nala.


Nala sudah dipindahkan di kamar rawatnya. Kamar VVIP yang sudah di pesan oleh Akira dengan dekorasi yang sangat apik membuat Nala tampak takjub.


"Kamar ini indah sekali! Apa kita tidak salah kamar?"


"Salah bagaimana? Ini memang kamar untuk kamu dan kedua bayi kembarku."


Nala di letakkan di atas ranjang dan kedua bayinya di letakkan di dalam box bayi.

__ADS_1


"Ya ampun! Ponakan Tante Rara kenapa pipinya mirip begini sama tante?" Rara menguyel pipi si kembar satu persatu.


"Sayang, dia masih kecil, kamu jangan menguyel pipinya dengan tenaga dalam begitu."


"Siapa yang menggunakan tenaga dalam. Aku hanya gemas sama mereka, kalau menguyel pipi kamu aku sudah bosan, Ren."


"Kamu kenapa bisa di sini? Kalian bukannya harus pergi bulan madu?" tanya Nala.


"Iya, aku sudah membelikan tiket itu dan kenapa kalian tidak segera berangkat?"


"Waktu itu mau berangkat, aku sudah siap semuanya, tapi aku urungkan karena gara-gara si kembar kamu ini."


"Kenapa memangnya dengan anakku?"


"Ya karena Rara ingin melihat si kembar ini lahir makannya dia mengurungkan niat awal kita berbulan madu. Dia sayang sekali sama kamu Nala, dan dia ingin memastikan kamu dan bayi kembar kamu lahir kedunia ini dengan selamat, baru dia akan mau pergi berbulan madu."


"Ya ampun, Ra! Kamu kenapa sampai segitunya sama aku." Nala membuak kedua tangannya lebar. Rara yang sedang menggendong si prince hanya bisa memberi kecupan jauh pada Nala.


"Aku itu benaran penasaran ingin melihat si kembar, bagaimanapun aku kan juga auntynya."


"Makannya buat sendiri."


"Memangnya kue asal buat saja, Akira. Ngomong-ngomong si kembar ini siapa namanya?


"Please jangan tanya itu dulu, aku baru saja menjadi seorang ayah dengan dua anak kembar sekaligus. Aku masih menikmati kebahagiaanku, aku belum memikirkan masalah nama dulu."


"Dasar! Ayah baru tidak siaga. Nama anak saja belum memikirkan. Bagaimana kalau aunty yang kasi nama kalian?" Rara berbicara dengan bayi yang di gendongnya.


"Apa? Jangan! Nala saja mau memberi mereka nama Rena dan Reno aku tidak setuju."


"Namaku mau dipakai? Boleh-boleh." Wajah Reno tampak sumringah.


"Siapa yang akan memakai nama kamu, Ren?" Mata Akira memicing.


"Memangnya kenapa? Namaku itu bagus, aku juga orangnya tampan dan baik."


"Tidak akan!" seru Akira tegas.


"Nyonya Kei, apa tidak mau memberi nama buat cucu Anda?" tanya bibi Anjani.


"Aku, Bi? Aku boleh memberi nama anak-anaknya Nala?"

__ADS_1


"Tentu saja Mommy boleh memberi nama anak-anakku, mereka berdua, kan, cucu Mommy juga," jawab Nala.


Kei terlihat berpikir sebentar. "Mommy ada sih dua nama dan sebenarnya nama ini memang mommy sudah persiapkan untuk anak kalian, hanya saja mommy tidak tau apa kalian mau menerimanya?"


"Mommy ini bicara apa, sih? Aku akan senang jika mommy memberi nama untuk cucu-cucu Mommy." Akira memeluk lengan tangan mommynya.


"Siapa namanya Nyonya Kei?" tanya Bibi Anjani penasaran.


"Em ... kalau yang laki-laki Naro Addriano Danner bisa di panggil Aro. Lalu yang perempuan Nara Addriani Danner bisa di panggil Ara. Apa nama itu cocok?"


"Wah! Cocok sekali, Tante Cantik," celetuk Reno.


Akira yang mau menjawab sampai kalah cepat. "Hei! Kenapa kamu yang langsung menjawab? Memangnya kamu ayahnya?"


"Aku kan cuma mengeluarkan pendapat saja, kenapa kamu jadi pemarah begini setelah jadi ayah, Bos?"


Akira tidak memperdulikan Reno. "Nama yang bagus, Mom. Aku setuju, bagaimana dengan kamu, Nala?" tanya Akira.


Nala terdiam sejenak. "Maaf, Mommy, bukannya aku tidak suka nama itu, hanya saja apa tuan besar Addrian akan memperbolehkan namanya ada di dalam nama bayi kembarku?" tanya Nala agak takut.


Kei tersenyum. "Kamu tidak perlu memikirkan hal itu. Bagaimanapun juga mereka adalah cucu dari Addrian Danner walaupun Addrian tidak menyukainya."


"Aku hanya tidak mau nantinya Mommy akan mendapat masalah karena hal ini."


"Kamu jangan khawatir, mau sampai kapan Addrian akan begini. Aku dan dia sudah sama-sama berumur dan sudah saatnya kita menikmati hari tua bersama cucu kami. Orlaf sebentar lagi juga akan pergi kuliah di London."


"Sudahlah, Nala! Kamu tidak perlu memikirkan hal itu lagi." Akira memeluk istrinya.


"Nama yang bagus. Nara dan Naro, kalian berdua akan tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan cantik seperti aunty kalian," puji Rara.


"Iya, seperti paman Reno juga."


"Sekarang aunty dan paman Reno bisa berbulan madu dengan santai dan perasaan lega." Rara tersenyum pada Reno.


"Semoga nanti saat kalian pulang bisa membawa berita bahagia ya, Ra?"


"Iya, Bi. Doakan kita, ya?"


Beberapa hari kemudian, Nala sudah boleh pulang, hari-hari dilalui Nala dengan kesibukan mengurus si kecil. Bibi Anjani juga membantu Nala. Bibi Anjani sangat senang bisa merawat cucunya itu.


"Apa kamu tidak kerepotan mengurus si kembar, Sayang? Atau kita mencari baby sitter terpercaya untuk membantu kamu?"

__ADS_1


"Tidak perlu, Akira. Aku bisa mengurus mereka berdua dengan dibantu Bibi saja. Aku tidak mau ada orang lain yang mengurus mereka."


__ADS_2