My Secret Love

My Secret Love
Memasak Bersama


__ADS_3

"Kenapa kamu ingin sekali aku bisa bersama dengan Via? Kalau aku tidak menyukai Via, kamu mau apa?"


"Aro, bukannya aku memaksa kamu bersama dengan Via, tapi dia memang benar menyukai kamu dengan tulus, kamu tidak akan menyesal jika kamu menerima Via karena dia benaran tulus sama kamu."


"Sifa juga tulus menyukai aku."


"Aku kalau Sifa tidak tau."


"Perasaan itu tidak bisa dipaksakan Uni. Kamu sendiri bilang jika kamu tidak suka dipaksakan untuk bersama denganku."


"Kasusnya beda, Aro," gerutu Uni pelan.


"Kamu bicara apa, sih? Lebih baik kita memasak sekarang saja, lihat ini sudah jam berapa?"


Uni baru sadar dia belum menyiapkan sarapan dia segera mengambil bahan masakan lainnya. dan mulai mencuci beberapa sayuran.


"Aro kamu sebaiknya ke kamar kamu saja."


"Aku kan bilang mau melihat kamu memasak. Aku mau belajar memasak."


"Ya sudah kalau kamu memaksa, kamu pakai apron kamu supaya badan kamu yang tidak pakai baju itu tidak terkena minyak." Uni memberikan apron berwarna biru pada Aro.


"Apa? Aku pakai ini? Tidak mau!"


"Kalau kamu tidak mau ya sudah, jangan ikut memasak."


"Ya sudah!" Aro akhirnya memakai apron itu dan mulai membuat masakan dengan Uni. Tentu saja dengan aba-aba dari Uni.


Mereka berdua tampak kompak dan sesekali Aro berjingkat kaget saat disuruh Uni memasukkan ikan ke dalam penggorengan.


"Jangan terlalu takut begitu. Ikannya juga tidak akan terbang ke arah kamu."


"Ikannya menakutkan sekali. Awas kalau kamu sampai membuatku terciprat minyak panas," Aro malah ngomel sama ikan di penggorengan.


Uni yang melihatnya malah terkekeh. "Dia lebih takut sama kamu Aro. Lihat saja, dia sampai menyusut begitu." Uni malah bercanda sama Aro.


"Aku nanti libur kuliah, tapi nanti aku akan mengantarkan kamu sama Ara pergi ke kampus, aku juga akan mengantar Sifa juga."


"Iya." Uni kembali menyiapkan masakan lainnya, dia memilih menumis sayur dan membiarkan Aro dengan ikannya.


"Kamu memangnya mau masak apa sih? Kenapa terlihat ribet begini?"


"Gurame asam manis, dan tumis kangkung permintaan Ibu Nala serta nanti ada lauk pauk lainnya."

__ADS_1


"Kalau aku mau memasak untuk Sifa, sebaiknya aku membuat apa, Ya?"


"Nasi goreng spesial saja. Itu masakan yang mudah apalagi buat kamu yang pemula."


"Lain kali kamu ajari aku untuk membuat nasi goreng, ya?"


"Iya, nanti aku akan mengajari kamu membuatnya," jawab Uni pelan.


"Uni, ini kenapa ikannya tampak hitam sebelah begini?" celetuk Aro dan seketika membuat kedua mata Uni mendelik.


"Ya ampun! Itu gosong!" seru Uni dan dia segera mengambil penyaring untul mengangkat ikat guramenya. "Tuch kan! Gosong sebagian." Wajah Uni berkerut sedih.


"Kenapa kamu sedih begitu? Itukan masih banyak ikan, kita goreng lagi."


"Bukannya begitu, Aro. Sayang sekali kalau makanan dibuang-buang, ini gosong begini siapa yang mau makan, pasti ujung-ujungnya di buang."


"Biar aku yang makan nanti."


"Kamu? Memangnya kamu mau? Rasanya pasti ada pahit-pahitnya."


"Rasanya tidak lebih pahit dari pada melihat kamu jadian sama si bodoh itu," celetuk Aro dan dia mengambil ikan lagi dan memasukkannya pada penggorengan.


Uni hanya terdiam mendengar kata-kata Aro barusan. Tidak lama terdengar suara kekehan dari arah belakang mereka, dan saat menoleh ternyata di sana sudah ada Ara dan Nala yang tertawa melihat penampilan Aro yang tanpa baju dan hanya menggunakan apron.


"Kamu sedang apa, Aro? Main sirkus?" Ara berceloteh sambil terkekeh.


"Ibu Nala, Ara. Kalian sudah bangun? Aku sedang memasak dan Aro memaksa untuk membantuku."


"Aro mau memasak?" Nala melihat curiga pada putranya.


"Kenapa Ibu melihatku begitu? Apa ada yang salah kalau aku mau belajar memasak sama Uni?"


"Kamu mau belajar memasak? Kamu Aro saudara kembarku, kan?"


"Aku mau belajar memasak karena aku mau membuat masakan untuk Sifa. Aku ingin menjadi pria yang romantis untuk Sifa."


"Untuk Sifa? Kamu ini benaran serius sama Sifa?"


"Kenapa selalu pertanyaan yang sama yang kamu tanyakan? Tentu saja aku mau serius dengan seseorang yang dekat denganku. Memangnya salah?" Aro melepas Apronnya dan dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Uni kembali menyelesaikan masakannya dan setelah selesai dia menghidangkan di meja makan.


"Uni, kamu mandi dulu sana dan segera makan pagi dengan kita. Nanti kamu telat lagi ke kampus."

__ADS_1


"Tapi saya belum mencuci peralatan memasaknya, Ibu Nala."


"Biar aku saja."


"Iya, nanti biar nenek yang membantu membersihkannya."


Uni akhirnya menurut dan pergi ke kamarnya, sekarang Uni di sana memiliki kamar sendiri. Tidak lama Akira dan Ara sudah berada di meja makan. Nala masih sibuk di dapurnya bersama nenek.


"Sayang, mana putra kamu Aro? Kenapa dia belum berada di sini?"


"Dia masih ada di kamarnya. Mungkin dia sedang berganti baju."


Tidak lama terdengar teriakan panggilan dari kamar Aro. Aro sepertinya memang nama ibunya agar pergi ke kamarnya.


"Uni, kamu tolong ke kamar Aro sebentar, dia membutuhkan apa? Tangan Ibu masih kotor soalnya." Uni yang baru tiba di meja makan mengangguk dan segera ke kamar Aro.


"Tuan Muda Aro." Uni mengetuk pintu kamar Aro.


"Masuk!"


Uni berjalan mendekat pada Aro yang sedang sibuk memakai kemejanya. "Ibu Nala masih repot, apa kamu memerlukan bantuan?"


"Iya, tolong pakaikan kemejaku ini. Aku tidak bisa memakainya, tanganku masih sakit."


"Iya." Uni mengangguk dan berjalan mendekat pada Aro. Dia memakaikan kemeja Aro perlahan-lahan agar tidak terkena tangannya, kemudian Uni mengancingkan satu persatu kancing kemeja Aro. Aro hanya terdiam menatap gadis di depannya itu. "Sudah selesai." Uni mendongak melihat Aro.


Aro yang tidak ingin ketahuan langsung membuang mukanya. "Terima kasih, Uni."


"Kalau begitu aku mau permisi pergi dulu." Uni keluar dari kamar Aro. Aro hanya menatap nanar di tempatnya.


Tidak lama mereka semua berkumpul makan pagi bersama. Aro melihat di atas meja makan tidak ada ikan yang tadi dia goreng dan menghitam sebelahnya.


"Uni, ikan yang kelamaan di dalam minyak tadi mana? Apa kamu membuangnya?"


"Ada, aku bawa ke kampus sebagai bekal."


"Aku kan sudah bilang, biar aku yang memakannya kenapa malah kamu bawa ke kampus?"


"Itu masih ada banyak ikan, kamu makan itu saja, lagian yang gosong itu rasanya pahit."


"Aku kan harus bertanggung jawab sama ikan itu karena sudah menyebabkan dia gosong begitu."


Ara sontak tertawa mendengar ucapan Aro. "Tanggung jawab sama ikan? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan?"

__ADS_1


"Dia tidak sengaja menggosongkan ikannya, Ara dan aku bilang jangan dibuang karena sayang sekali masih bisa di makan."


"Makannya aku mau memakannya."


__ADS_2