
Keesokkan pagi nya, kini semua orang sedang menikmati sarapan mereka.
“Apa kalian akan pindah hari ini nak?” tanya abi Syarif lagi padahal semalam Husna dan Azzam sudah mengatakan nya dan meminta izin untuk hal ini. Sudah di izinkan tapi kini abi Syarif itu kembali bertanya.
“Iya abi. Kami akan pindah hari ini nanti pukul sembilan. Kan sudah minta izin semalam dan abi pun sudah mengizinkan nya.” Ucap Husna lembut.
Abi Syarif pun tertawa mendengar ucapan putri nya karena ada nada protes nya walaupun di katakan dengan lembut, “Ahh maaf nak. Abi lupa kalau kalian semalam sudah meminta izin.” Ucap abi Syarif dengan senyuman namun justru terdengar sedih.
Husna pun menari nafas panjang nya lalu menggenggam tangan abi nya itu, “Apa abi ingin aku tinggal di sini lebih lama lagi?” tanya Husna.
Abi Syarif menatap putri nya itu lalu menatap menantu nya, “Jika memang abi ingin kami menunda kepindahan kami maka katakan saja abi. Kami akan melakukan nya.” Ucap Azzam.
Abi Syarif menggeleng, “Bukan seperti itu nak. Hanya saja abi tidak menyangka bahwa waktu berjalan dengan sangat cepat. Malam berganti dengan pagi begitu cepat. Putri yang dulu nya abi dan umi nantikan kelahiran nya kini sudah menikah dan akan pindah dari kediaman ini. Kami bukan tidak ingin kalian pindah hanya saja kami belum siap untuk itu. Tapi abi tidak akan egois. Ini adalah keputusan kalian maka abi tidak akan melarang kepindahan kalian nak. Azzam, abi hanya punya satu pesan untukmu tolong jaga putri abi ini dengan baik. Dia masih sangat kecil tapi dia di paksa untuk dewasa karena umur kami yang sudah tua dan menanggung banyak tanggung jawab yang seharus nya tidak di tanggung oleh seseorang wanita. Tapi mau bagaimana lagi kami hanya punya dia saja. Jadi hanya dia yang menjadi harapan kami satu-satu nya.” Ucap abi Syarif menatap sang putri yang sudah berlinang air mata.
“Abi, jangan katakan itu. Aku masih satu kota dengan kalian. Jarak rumah ini dengan rumah mas Azzam juga dekat. Aku akan sesekali mengunjungi kalian.” ucap Husna berdiri dari duduk nya lalu memeluk abi nya itu.
“Abi tahu itu nak. Kau itu walaupun tidak dekat dengan kami tapi kami tahu kau sangat menyayangi kami.” balas abi Syarif.
Yah, memang Husna itu tidak begitu dekat dengan kedua orang tua nya itu karena sejak kecil di didik untuk jadi anak yang bertanggung jawab untuk diri nya sendiri dan orang lain. Dia memang terlahir sebagai putri tunggal dari keluarga kaya tapi bukan berarti dia seperti di cerita seorang princess yang sangat di manjakan sejak kecil karena satu-satu nya.
Abi Syarif dan umi Balqis memang menyayangi putri mereka itu tapi mereka menanamkan sikap tanggung jawab sejak kecil kepada sang putri. Mereka tahu jika mereka memanjakan putri mereka itu dengan kekayaan maka hal itu akan membuat nya jadi putri manja dan tidak akan bertanggung jawab. Dia putri tunggal tapi di didik seperti putra pertama yang memiliki tanggung jawab besar dalam keluarga nya. Namun bukan berarti kedua orang tua nya itu tidak menyayangi nya. Mereka sangat menyayangi nya tapi hal itu di tempatkan pada sesuatu dan sudah sesuai porsi nya.
Kehidupan Husna yang sangat teratur dan disiplin sejak kecil terbawa hingga dia dewasa dan hal itu lah yang membuat nya tidak begitu dekat dengan kedua orang tua nya apalagi sejak kejadian itu. Husna dan kedua orang tua nya itu hanya menunjukkan kasih sayang mereka di balik sikap kepedulian. Mereka punya cara sendiri untuk saling menyayangi dan hal itu hanya bisa di lihat oleh orang tertentu saja.
Suasana sarapan pagi ini sangat menguras emosi di mana abi Syarif dan umi Balqis mengungkapkan rasa sayang dan bangga untuk putri mereka itu.
“Jika kau tidak ingin pindah dan masih ingin di sini. Maka lakukan saja sayang. Jangan takut. Aku tidak akan menghalangi keinginanmu.” Ucap Azzam saat mereka sudah berada di kamar berdua.
Husna yang mendengar ucapan suami nya itu pun menatap Azzam lalu segera mendekati suami nya dan memeluk nya, “Aku sudah memutuskan untuk pindah dan ikut dengan mu mas. Aku tidak akan menarik kata-kataku lagi. Hanya saja aku tidak menyangka bahwa abi dan umi menyayangiku sedalam itu. Aku pikir mereka kurang menyayangiku. Tapi ternyata salah.” Ucap Husna.
Azzam pun memeluk erat istri nya itu, “Kenapa kamu berpikir demikian? Kenapa kamu berpikir bahwa orang tuamu tidak menyayangi sayang?” tanya Azzam dia penasaran akan istri nya.
Husna menggeleng dalam pelukan suami nya itu, “Au gak tahu mas. Entah lah. Entah kenapa aku memiliki perasaan seperti itu.” ucap Husna.
Azzam pun tersenyum dengan tetap memeluk istri nya itu, “Sudah, jangan di pikirkan lagi jika memang begitu. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah keputusan apa yang akan kau ambil. Kita bisa tinggal sehari atau mungkin beberapa hari lagi di sini jika kau ingin.” Ucap Azzam.
__ADS_1
Husna menggeleng lagi, “Aku tak mau mas. Kita mau pindah aja. Aku biar nanti akan mengunjungi mereka sesekali.” Ucap Husna.
Azzam pun mengangguk, “Baiklah jika memang begitu. Kita siap-siap jika memang itu keputusanmu.” Ucap Azzam.
Husna pun melepas pelukan nya lalu Azzam membantu menghapus air mata istri nya itu, “Jangan menangis lagi sayang. Mas tidak bisa jika melihat mu menangis seperti itu.” ucap Azzam. Husna pun hanya tersenyum.
Lalu sekitar setengah jam kemudian, kini Husna dan Azzam sudah berada di bawah dan barang-barang Husna pun sudah di letakkan di dalam mobil. Mereka tinggal berpamitan saja.
“Jaga diri baik-baik nak.” ucap umi Balqis.
Husna pun mengangguk lalu memeluk umi nya. Lalu setelah itu dia beralih memeluk abi nya, “Jaga kesehatan abi. Husna akan mengunjungi abi dan umi nanti.” Ucap Husna.
Abi Syarif dan umi Balqis pun mengangguk. Lalu setelah itu mereka segera menuju halaman di mana mobil Azzam terparkir di sana. Lalu Husna, Azzam dan Zahra segera pamit pergi. Lalu tidak lama setelah itu mobil pun melaju meninggalkan kediaman utama itu menuju kediaman Azzam yang memang lumayan dekat juga dari sini hanya menempuh waktu kurang lebih 20 menit saja.
***
Kini Husna dan Azzam sudah tiba di kediaman sederhana milik Azzam dan adik nya itu. Zahra segera keluar lebih dulu dari mobil lalu dia pun segera berlari masuk lebih dulu ke dalam kediaman mereka itu.
Azzam dan Husna pun menyusul turun dan sedikit tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh Zahra itu, “Ayo sayang!” ucap Azzam lalu dia segera membawa istri nya itu masuk ke dalam.
“Wa’alaikum salam. Silahkan masuk kakak ipar. Selamat datang di kediaman kami ini. Semoga kau betah dan menyukai nya. Aku Zahra sebagai adik iparmu menyambutmu dengan sepenuh hati.” Ucap Zahra lalu membungkuk dan mempersilahkan Husna masuk.
Husna pun tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh adik ipar nya itu lalu dia segera melangkah masuk dan mereka pun sudah berada di dalam. Kediaman itu sudah di bersihkan. Seperti nya Azzam sudah menyuruh seseorang untuk membersihkan nya karena sang istri akan datang kesini.
Azzam dan Husna pun segera menuju kamar mereka berada di lantai dua. Azzam segera membuka pintu kamar milik nya itu yang kini akan menjadi kamar milik bersama milik istri nya itu, “Selamat datang kembali di kamar ini sayang.” ucap Azzam.
Husna pun tersenyum lalu dia segera melangkah masuk dan tersenyum, “Hum, aku menyukai nya ini sangat sesuai dengan seleraku. Terima kasih mas.” Ucap Husna tersenyum.
Lalu setelah itu mereka pun segera menata pakaian milik Husna itu di lemari milik Azzam dengan Azzam tentu saja membantu istri nya itu, “Mas, sejak kapan mas menyiapkan sisa lemari seperti ini untukku?” tanya Husna.
“Sisa lemari? Mana?” tanya Azzam pura-pura tidak mengerti apa yang di tanyakan oleh istri nya itu.
Husna pun menunjuk lemari yang kosong itu, “Hum, itu. Mas jangan pura-pura gak tahu yaa apa yang ku maksud. Aku yakin mas pasti tahu hanya saja berpura-pura gak tahu karena pasti ada sesuatu.” ucap Husna mendumel.
Azzam pun menjadi gemas sendiri dengan tingkah istri nya itu. Akhir nya dia memeluk istri nya itu dari belakang dan mengecup pipi Husna gemas.
__ADS_1
“Mas, geli. Lepas mas. Husna mau menata pakaian. Jangan ganggu.” Ucap Husna.
Azzam pun yang sudah merasa kasihan dengan istri nya itu pun akhir nya melepaskan nya dan mereka pun kembali menata pakaian di lemari.
Sekitar setengah jam akhir nya menatap pakaian itu selesai juga. Kini mereka sedang berbaring di ranjang milik Azzam.
“Mas, ini kan week end. Kita juga gak ada nih yang akan di kerjakan dan jika memasak pun waktu makan siang masih lama. Jadi dari pada kita nanti akan tertidur. Lebih baik ayo mas ceritakan apa yang kemarin tertunda. Mas sudah janji loh. Aku penasaran mas. Aku tidak bisa menunggu lagi.” Ucap Husna menatap suami nya itu hingga memiringkan tubuh nya menatap Azzam lalu menyentuh rahang milik suami nya itu.
“Kamu mau tahu yang mana?” tanya Azzam.
“Semua nya aku ingin tahu. Tapi mas ceritakan dulu yang ada di bioskop waktu itu.” ucap Husna.
Azzam pun tersenyum lalu dia mengangguk dan memiringkan tubuh nya ke arah istri nya itu hingga kemudian mereka kini saling bertatapan satu sama lain, “Yang waktu di bioskop yaa. Hum, ini panjang cerita nya sayang. Apa kamu yakin ingin mendengarkan nya?” tanya Azzam memastikan.
Husna pun mengangguk, “Hum, aku ingin mendengar semua nya mas.” Ucap Husna yakin.
Azzam pun tersenyum lalu dia menganggukkan kepala nya, “Hmm, seperti yang sudah kita bicarakan kemarin. Tidak ada yang terjadi di dunia ini secara kebetulan. Maka itu benar. Pertemuan kita ke mall waktu itu bukan lah kebetulan bahkan pertemuan kita sebelum itu pun bukan lah kebetulan juga.” Ucap Azzam.
“Pertemuan yang kapan?” tanya Husna semakin penasaran.
“Itu beberapa jam sebelum pertemuan di bioskop. Akan mas katakan lebih dulu bahwa mas yakin kau mungkin akan jengkel jika mendengar pengakuan mas ini.” ucap Azzam.
“Emang kenapa aku bisa jengkel?” tanya Husna lagi.
“Kamu pasti akan tahu semua nya.” Ucap Azzam.
Lalu dia pun segera menarik nafas panjang sebelum memulai cerita nya itu, “Kau tahu saat itu sebelum kau ke bioskop kamu pergi ke kebun teh kan?” tanya Azzam.
Husna pun mengingat lalu dia mengangguk, “Hum benar. Kok mas bisat tahu? Jangan katakan mas menguntit aku sehingga mas tahu apa yang ku lakukan.” Ucap Husna.
Azzam pun terkekeh, “Tidak ada yang seperti itu sayang. Hanya saja seperti nya memang sedikit seperti itu.” Ucap Azzam.
“Mas saat itu di hari yang sama dengan mu pergi bersama Zahra ke kebun teh itu untuk melihat sesuatu. Entah kenapa mas ingin ke sana tapi seperti nya itu takdir yang menuntun mas kesana. Begitu tiba di sana kamu dan gus Rahman itu keluar dari area perkebunan hendak pulang. Kamu sudah selesai melihat kebun teh. Kamu yang tidak tahu atau mungkin tidak sadar bahwa aku dan Zahra di sana. Kamu pun segera naik ke mobil dan kalian pergi dari sana meninggalkan kebun teh hendak kembali pulang.”
“Kau tahu saat itu mas cemburu. Mas gak turun dari mobil dan menemui orang di sana tapi langsung memutar balik mobil milik mas dari sana dan menyusulmu dari belakang. Zahra yang saat itu pergi dengan mas. Dia menjadi heran sendiri dengan apa yang di lakukan mas. Saat itu mas sungguh cemburu dan bertanya-tanya siapa pria yang pergi denganmu saat itu. Mas pun mengirim pesan di grup bimbingan kita waktu itu dengan mempercepat waktu bimbingan.”
__ADS_1
“Mas saat itu juga tidak mengantar Zahra ke rumah tapi dia memilih untuk turun di minimarket dengan rumah saat itu. Lalu mas pun segera melajukan mobil menuju kampus. Singkat cerita, mas tiba lebih dulu dari mu ke kampus. Kau telah lima menit kalau gak salah. Kau datang lebih awal dari Andita dan Betty saat itu. Mas segera memeriksa proposal dan kau ingat kan mas saat itu dengan tiba-tiba mengevaluasi kalian. Kau tahu apa alasan mas melakukan itu saat itu. Yah karena mas ingin membuat orang yang mengantarmu itu lelah menunggumu dan lama bersama mas saat itu. Tapi siapa sangka walaupun mas sudah berusaha untuk mencari pertanyaan yang sulit untuk mas ajukan padamu tapi kau dengan mudah menjawab nya. Mas pun seperti kesal saja saat itu. Lalu pada akhirnya bimbingan itu pun selesai dan kau segera pergi keluar bersama dua teman mu itu. Apa yang kau lakukan di luar mas amati dari dalam ruangan mas. Semua yang kau lakukan bahkan terkait bagaimana dia membukakan pintu mobil untukmu. Hal itu sungguh membuat mas sangat cemburu.”