My Secret Love

My Secret Love
Mulai Ada Rasa


__ADS_3

Aro berjalan masuk ke dalam kamarnya. Uni hanya diam di tempatnya. "Kenapa aku yang disalahkan? Aku kan tidak menyuruh dia menjemput aku," gerutunya.


Di ruang tamu keluarga Akira masih berkumpup bersama, hanya Aro yang tidak ikut. Uni memberitahu jika tadi Aro bilang kurang wnak badan, makannya dia kembali ke kamar dulu untuk istirahat.


"Anak itu kecapekan karena sibuk mengurusi acara kampusnya."


"Tadi sudah saya buatkan jahe hangat Ibu Nala dan saya suruh untuk istirahat saja, siapa tau besok dia akan baik-baik saja."


"Terima kasih ya, Uni. Besok akan aku panggilkan dokter keluarga untuk memeriksanya."


"Nala, Akira, apa besok kalian bisa datang ke acara ulang tahun pernikahan sepupu kalian?"


"Sepertinya bisa, Mom. Aku juga sudah berjanji akan datang waktu dia menemuiku di kantor, tapi mungkin Aro tidak bisa ikut apalagi dia sedang tidak enak badan."


"Aku saja yang ikut, Yah. Aro biar di rumah bersama Uni. Uni pasti bisa menjaganya."


"Kalau tidak Aro biar bersama bibi saja, kalian bertiga pergilah," lanjut bibi Anjani.


Nala melihat ke arah Akira. "Ya sudah kita bertiga saja yang datang, dan besok aku akan panggilkan dulu dokter keluarga. Aro biar besok libur dulu saja kuliahnya, lagian dia tidak ada kelas hanya mengurusi acara kampus, biar dia istirahat sejenak."


Sekitar pukul sembilan malam Kei dan Addrian izin pulang dan sekali lagi mengingatkan jika besok malam mereka akan menjemput ke rumah sekitar jam tujuh malam.


Keesokan harinya Ara dan Uni berangkat ke kampus dengan diantar oleh Akira. Uni sudah bisa berjalan walaupun perlahan-lahan.


"Sayang, apa mau ayah gendong sampai ke kelas kamu?"


"Tidak perlu, Yah. Aku mau belajar jalan perlahan-lahan. Aku tidak mau dianggap seperti orang cacat saja tidak bisa berjalan."


"Memangnya siapa yang menganggap kamu begitu? Apa dia tidak melihat jika kaki kamu sedang sakit?"


Ara ingat hinaan anak-anak dengan seragam putih abu-abunya itu, tapi dia senang karena waktu itu Dean membelanya. Entah kenapa Ara merasa hinaan anak-anak itu sebagai berkah untuknya. Ara sepertinya menyukai Dean.


"Bagaimana kalau Uni saja yang membantunya?"


"Iya, Uni, sekalian kamu bisa melihat kampusku."


Ara turun dan di bantu oleh Uni berjalan perlahan-lahan. Uni sangat takjub melihat kampus Ara yang begitu besar dan dengan fasilitas yang terlihat mewah.


"Kampus kamu bagus sekali, apa yang kuliah di sini orang-orang pilihan ya? Pasti mahal juga kuliah di sini!"

__ADS_1


"Tidak juga, sih. Cuma ini memang salah satu kampus favorit di sini. Apa kamu mau pindah kuliah di sini?"


"Apa? Pindah kuliah? Aku saja di kampusku sudah engap-engapan mikirin biaya kuliah, apalagi di sini, bisa-bisa aku pingsan duluan."


"Ahahaha! Kalau kamu pintar kamu bisa ajukan beasiswa di sini Uni."


"Tidak perlu, Ara. Aku lanjutkan saja kuliahku di kampusku sampai lulus."


"Ara, apa kamu membutuhkan bantuan?" tiba-tiba terdengar suara seoarang pria tepat di belakang mereka.


Ara dan Uni langsung menoleh dan ternyata itu suara dari Dean. "Dean, kamu--."


"Apa mau aku bantu naik ke atas?"


"Tidak perlu, aku mau mencoba berjalan perlahan-lahan supaya tidak dikira aku tidak bisa jalan."


Mereka ini sedang berbicara di anak tangga menuju ke lantai atas kelas Ara. "Kalau begitu aku saja yang membantu kamu, kasihan teman kamu, kalian sama -sama cewek.


"Ide yang bagus, aku juga sudah terlambat ke kampus. Minta tolong ya, Dean. Nama kamu Dean, kan?"


Uni malah sengaja ini kelihatannya melepaskan tangan Ara dan akhirnya Ara memeluk pundak Dean.


"Hati-hati ya Dean. Ara aku pergi dulu." Uni terlihat tertawa dengan senang.


Tinggal Ara dan Dean yang terlihat sangat canggung. "A-aku--?"


"Aku akan bantu kamu." Dean membantu Ara menaiki satu persatu anak tangga dengan memegang pinggang Ara. Wajah mereka pun tampak sangat dekat.


"Ara, apa kamu sudah punya kekasih?"


Ara agak kaget kenapa tiba-tiba Dean bertanya akan hal itu? "Ke-kasih? Maksud kamu pacar?"


"Iya, Pacar atau kamu sudah di jodohkan dengan seseorang?"


"Dijodohkan? Memangnya ini zaman apa masih ada acara perjodohan?" Ara. terkekeh lirih.


"Ya mungkin saja, apalagi kamu anak orang terpandang, siapa tau kedua orang tua kamu menjodohkan kamu dengan anak dari sesama rekan bisnisnya yang nantinya akan membawa kerja sama perusahaan ayah kamu ke arah yang lebih besar."


"Ayah dan Mamaku tidak ada pemikirian seperti itu. Mereka kedua orang tua yang memiliki pemikiran yang luas. Mereka percaya dengan apa yang putra putrinya lakukan asal tau batasannya serta bertanggung jawab."

__ADS_1


"Bahagia sekali memiliki kedua orang tua yang sempurna seperti keluarga kamu."


"Memangnya kedua orang tua kamu kenapa? Mereka masih ada, Kan?"


Wajah Dean seketika tampak datar. "Mereka masih ada, tapi memang aku jarang berkomunikasi dengan mereka. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hanya nenekku yang selama ini merawatku dengan baik."


"Mungkin orang tua kamu ingin bekerja keras agar kamu bisa mendapat kehidupan yang lebih baik. Kamu jangan merasa kesal atau membenci sikap kedua orang tua kamu yang seperti itu."


"Aku tidak membenci mereka, justru aku sangat menyayangi mereka sampai aku mau melakukan semua apa yang dikatakan oleh mereka."


Tidak terasa mereka sudah sampai di atas dan akan menuju kelas. "Ara sudah sampai. Apa mau aku antar sampai ke dalam kelas?"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Terima kasih atas bantuannya."


"Sama-sama." Dean melepaskan tangan Ara dan berjalan mendahului Ara.


"Oh ya, Dean. Aku belum memiliki kekasih karena memang aku masih belum memikirkan hal itu. Kamu sendiri?"


"Aku--."


"Ara! Kamu kok sudah bisa jalan?" Tiba-tiba suara Sifa mengagetkan Dean dan Ara. Dean yang melihat ada Sifa di sana segera berjalan pergi menuju kelasnya.


Ara melihat dengan tatapan agak kecewa. "Aku tadi berusaha jalan memakai kakiku. Aku sudah baik-baik saja, Sif."


"Kalau begitu ayo aku bantu masuk ke dalam kelas. Sifa membantu Ara ke dalam kelasnya, tanpa tau jawaban Dean.


Di kampusnya Uni sedang duduk sendirian, tidak lama ponselnya berdering dan ada nama Via di sana.


"Halo, Via."


"Uni, kamu ke mana saja? Kenapa tidak meneleponku sama sekali?"


"Maaf, ya, waktu itu baterai ponselku habis dan aku sedang sibuk dengan pekerjaanku."


"Pekerjaan? Memangnya kamu sudah mendapat pekerjaan? Di mana? Dan kerja apa?" cerocos Via.


Uni bingung ini mau berkata apa? Apa dia harus membohongi sahabatnya ini?


"A-aku bekerja di rumah seseorang sebagai pembantu rumah tangga, Via."

__ADS_1


"Apa?" suara Via terdengar kaget dan membuat kuping Uni sampai sakit.


__ADS_2