
Gadis yang di panggil Uni itu melihat laki-laki di depannya dengan seksama dan tangannya memegang erat jaketnya untuk menutupi bagian depannya.
“Aku mau pulang, aku baru saja pulang kerja dan tadi aku mau mencari angkutan umum, tapi sepertinya tidak akan ada angkutan umum yang lewat karena sudah sangat malam.”
“Kalau kamu mau aku akan mengantarkan kamu pulang ke rumah karena tidak baik seorang gadis keluyuran tengah malam begini apalagi dengan penampilan kamu yang seperti itu.” Orang itu kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya. Uni yang berdiri di sana tampak bingung, dia mau menerima atau tidak
tawaran laki-laki itu?
"Lihat saja, dia mau ikut apa tidak? Kalau dia mau ikut dan mencoba merayuku, berarti dia memang gadis yang tidak benar," ucap laki-laki yang ada di dalam mobil.
Uni tampak bingung, dia sebaiknya ikut apa tidak? Dia masih takut dengan kejadian tadi, dan apa laki-laki di dalam mobil itu orang baik? Kalau dia orang jahat, bisa-bisa dia tidak dipulangkan ke rumahnya, tapi kalau dia masih di sini sendirian nanti perampok itu bisa mendatangi dia lagi? Uni benar-benar bingung.
"Hei! Jadi pulang tidak? Ini sudah malam, aku juga sudah mengantuk!" teriak laki-laki di dalam mobil.
"Iya." Gadis bernama Uni itu akhirnya memilih masuk ke dalam mobil saja. Dia duduk agak menjauh dari pria di sebelahnya.
"Pakai sabuk pengaman kamu," perintahnya dan kemudian Uni memakai sabuk pengamannya.
Di sepanjang perjalana Uni hanya melihat ke arah luar jendela. Pria di sampingnya hanya fokus mengemudi dan sesekali melihat ke arah Uni.
"Rumahku di jalan permai nomor 3. Setelah belokan ini akan terlihat," Uni segera mengatakan di mana rumahnya sebelum di tanya.
Tidak lama mobil itu berhenti di sebuah rumah dan tampak suasana rumah itu sudah gelap gulita. "Ini rumah kamu?"
"Sebenarnya bukan, ini rumah tanteku, aku tinggal dengan tanteku dan anaknya."
"Memangnya kedua orang tua kamu di mana?"
Uni tampak terdiam saat di tanya tentang kedua orang tuanya. "Mereka sudah meninggal. dalam kecelakaan," ucapnya lirih.
"Aku minta maaf kalau begitu."
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengantarku pulang." Uni langsung turun dan berjalan menuju ke dalam rumahnya. Pria itu masih melihat Uni sampai ke dalam rumah. Setelah itu dia pergi dari sana.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu? Kenapa tengah malam begini baru pulang?" Tiba-Tiba suara bariton terdengar dari belakang Uni. Gadis itu menoleh dan melihat ada wanita dengan wajah marahnya melihat ke arahnya.
"Maaf, Tante, tadi aku di suruh lembur sama bos aku."
"Lembur? Jadi nanti kamu dapat uang tambahan? Bagus kalau begitu, kalau bisa kamu lembur terus saja, jadi kamu bisa dapat uang banyak," ucapnya sambil bersedekap.
Uni bingung harus bicara apa? Dia lembur bukannya dapat uang, tapi malah dia terkena hukuman dan gajinya bulan ini akan di potong.
"Tante, aku istirahat dulu, aku sangat lelah."
"Eh! Jangan istirahat dulu, itu cuci dulu piring kotor di dapur baru kamu boleh tidur."
"Hah? Cuci piring? Apa tidak bisa besok, Tante? Aku benaran capek."
"Mau membantah? Selli tadi tidak bisa mencuci piring, dia capek juga habis pulang kuliah dan belajar di rumah temannya, jadi kamu yang cuci semua piringnya. Awas! Kalau kamu tidur dan belum mencuci piring." Kedua mata wanita itu melotot marah.
Setelah Tantenya pergi ke dalam kamarnya, Uno segera menuju dapur dan mulai mencuci piring-piring kotor yang lumayan banyak di sana. "Apa habis ada pesta? Kenapa banyak sekali piring dan gelasnya," ucapnya malas.
Keesokan harinya, seperti biasa keluarga Nala berkumpul di meja makan untuk makan pagi bersama.
"Sayang, kemarin kamu pulang jam berapa dari rumah Oma?" tanya Nala pada putranya.
"Tengah malam, Ma. Opah mengajakku main catur dulu, alhasil aku pulangnya malam. Kata oma dan Opah, masakan mama enak dan terima kasih sudah di kirimi makanan."
"Ya sudah, terima kasih ya, Sayang."
Mereka semua melanjutkan sarapan paginya sampai akhirnya mereka berangkat ke tempat kegiatan mereka masing-masing.
Aro dan Ara kuliah di kampus berbeda sesuai jurusan yang mereka inginkan. Akira berangkat ke kantornya. Nala dan bibi Anjani melakukan kegiatan seperti biasa.
Siang itu. Binna yang sudah selesai kelas di kampusnya pergi dengan teman-temannya seperti rencana mereka sebelumnya.
"Kamu serius di bolehin pergi nonton, Binna?" tanya Marta.
__ADS_1
"Iya, boleh, tapi tidak boleh pulang terlalu malam dan nanti aku di suruh video call dengan ayahku."
"Ya ampun! Segitunya ayah kamu sama anak gadisnya ini. Kalau kamu nanti punya pacar bagaimana?" lanjut Marta.
"Pacar? Aku saja belum memikirkan hal itu, tapi mamaku pernah bilang padaku dan Aro kalau aku atau Aro mengenal seseorang, kita harus mengenlkan pada mereka, mereka akan denga senang hati menerimanya."
"Kedua orang tua kamu memang sangat baik. Mereka bisa menjadi sahabat dan orang tua bagi anaknya. Kalau aku boro-boro di suruh mengenalkan. Malahan kalau mereka tau aku di telepon cowok, langsung mamaku ngomel," jelas Marta.
"Lah ini kamu izin nonton bagaimana?" tanya Sifa.
"Aku bilang saja kalau aku ada pelajaran tambahan di kampus hari ini kalau tidak percaya nanti aku suruh menghubungi kamu Sifa." Marta langsung meringis.
"Kok aku?" Sifa tampak kaget.
"Habisnya siapa lagi? Mamaku paling kenal baik sama kamu. Lagian kamu kan sahabat yang bisa diajak bekerja sama dengan baik. Kalau Ara, dia pasti tidak mau diajak berbohong. Tania malah ketakutan nanti kalau diajak bicara sama mamaku."
"Hem ...! Aku lagi nanti yang mendapat masalah sama mama kamu kalau ketahuan kamu berbohong soal tambahan pelajaran di kampus." Sifa melihat malas pada Marta.
"Tidak akan ketahuan. Ya sudah kita nonton sekarang saja, nanti keburu filmnya sudah dimulai." Marta mengajak mereka pergi ke mall yang tidak terlalu jauh dari sana.
Setelah sampai di sana mereka segera naik ke lantai paling atas untuk membeli tiket bioskop.
"Marta, kita nonton film horor saja, itu ada bagus film horornya." Tunjuk Sifa.
"Kok jadi nonton film horor? Bukannya kita mau nonton film disney yang di remake?" tanya Ara.
"Tapi tidak seru lihat film itu. Kita lihat film romantis itu saja." Tunjuk Marta.
"Itukan film dewasa, Marta?" celetuk Tania yang memang paling diam di antara mereka.
"Memangnya kenapa? Kitakan memang sudah dewasa?"
"Marta, jangan aneh-aneh, deh! Kita dari awal sepakat mau melihat film disney itu dan aku tidak mau melihat lainnya," ucap Ara tegas. Ara ini kayak ayahnya.
__ADS_1