
Aro tidak menjawab pertanyaan Uni, tapi langsung memeluk Uni yang duduk di sampingnya. Uni kaget, tapi juga terdiam di tempatnya. Dia dapat mendengarkan detakan jantung dari Aro.
"Kamu tidak perlu cemburu, aku hanya melakukan tugas sebagai sesama manusia, yaitu, saling menolong."
"Aku tidak cemburu? Aku hanya bertanya, kalau kamu menggendongnya juga tidak apa-apa, aku sama sekali tidak keberatan."
Sebenarnya di dalam hati Uni ada rasa seperti tersayat dan nyeri saat mendengar Aro mengatakan menggendong Via. Namun, Uni menganggap itu hal berlebihan dari dirinya.
"Sekarang kita pulang saja, aku juga belum menjemput Ara di kampusnya." Aro menarik tubuh Uni dan menatapnya. Uni hanya bisa mengangguk perlahan.
Aro berjalan menuju parkir mobilnya dengan menggandeng tangan Uni yang berjalan di belakangnya. Tiba-tiba ponsel Uni berbunyi dan Uni melihat nama Via di sana.
"Aro, ada Via menghubungiku?" Uni melihat pada Aro.
"Angkat saja," jawab Aro santai.
Mereka berdua duduk di dalam mobil dan Aro sudah menjalankan mobilnya menuju kampus Ara.
"Halo, Vi, ada apa?"
"Uni!" serunya senang. Uni bahkan sampai menjauhkan ponselnya pada telinganya.
"Ada apa, Via? Jangan berteriak begitu, aku kaget sekali."
"Maaf. Hihihi! Aku soalnya lagi senang sekali hari ini. Coba kamu tebak, apa yang membuat aku sangat senang?"
"Aro?" Uni melihat pada kekasihnya yang fokus mengemudi.
"Ya ampun! Kenapa kamu bisa tau sekali kalau hal itu yang membuat aku senang? Kamu benar sekali. Aku tadi digendong sama Aro waktu aku tidak sengaja terjatuh dan kakiku terkilir. Dia juga bahkan membawa aku ke rumah sakit agar kakiku dapat diobati."
"Oh," jawab Uni singkat.
"Kok oh, sih? Seharusnya kamu kaget karena hal itu adalah hal yang sangat langkah. Aku saja benar-benar tidak percaya dengan semua itu."
"Iya, aku juga terkejut saja, bagaimana bisa pria yang kamu bilang es itu bisa melakukan hal tidak terduga seperti itu? Lalu keadaan kaki kamu bagaimana?"
__ADS_1
"Kaki aku sudah agak mendingan setelah aku minum obat dari dokter. Uni, kamu pokoknya harus ketemuan denganku dan aku mau berbagi semua ceritaku sama kamu selama kita tidak bertemu."
"Aku juga ingin bertemu dengan kamu, Via. Ada banyak hal penting yang mau aku ceritakan sama kamu."
"Uni, kamu kenapa? Kenapa nada bicara kamu seperti itu? Apa ada masalah sama kamu?"
"Tidak ada, nanti saja kalau kita bertemu aku akan ceritakan semua masalah aku."
"Ok! Kita nanti ketemuan di bazar saja. Eh iya, Uni. Aku tadi ingin bertanya pada Aro apa masih ada stand yang kosong di Bazaar karena aku mau membuka stand di sana dan kita bisa jualan jus saja. Kamu kan pandai membuat jus yang enak, nanti lumayan uang yang terkumpul bisa kamu pakai atau simpan untuk tabungan kamu. Aku tidak mau apa-apa, aku hanya mau membantu kamu saja, Uni. Bagaimana?"
Uni terdiam di tempatnya, dia sekali lagi telah merasa sangat bersalah pada Via karena Via ternyata masih sangat peduli padanya dan dia malah dari belakang mengkhianatinya.
"Uni, kamu masih di sana?" Via bertanya karena dia tidak mendengar suara Uni.
"Iya, Via, aku masih di sini. Via, dengan kaki begitu apa kamu bisa ke bazaar, atau bahkan berjualan?"
"Tentu saja bisa, kamu tenang saja. Lagian aku juga pasti akan sembuh besok. Aku ingin bertemu kamu dan juga Aro di bazaar besok," ucapnya senang.
"Tapi kita tidak perlu berjualan jus, Via. Aku tidak mau merepotkan kamu."
"Kenapa? Mumpung ada kesempatan, siapa tau nanti mereka tau jus buatan kamu dan ada yang pesan, akhirnya kamu bisa membuka usaha kecil-kecilan dari pada kamu harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga Uni."
"Syukur kalau begitu, tapi apa kamu mau menyusahkan seseorang terus? Aku tau siapa kamu, Uni. Sudah! Pokoknya besok akan aku atur, kita ketemuan saja, aku akan menjemput saja di rumah kamu."
"Jangan! Biar aku saja yang ke rumah kamu."
"Ya sudah terserah kamu. Aku akan membawa mobil dan semua peralatan yang di butuhkan di sana."
"Ya sudah kalau begitu."
Mereka berdua mengakhiri panggilan dan Uni duduk terdiam. "Kamu kenapa?"
"Aku tidak apa-apa." Uni berkata tanpa melihat pada Aro, dia hanya duduk dan melihat datar ke arah depan.
"Jadi tadi Via bertanya tentang stand bazar itu karena dia ingin bisa berjualan dengan kamu di sana?"
__ADS_1
"Iya, dan nanti uang hasil penjualannya akan dia berikan semua sama aku, Aro."
"Dia benar-benar memikirkan kamu."
"Iya, dia baik sekali, aku kan pernah bercerita sama kamu. Makannya kamu pasti akan senang jika memiliki kekasih seperti dia."
Aro menghentikan mobilnya tepat di dalam gedung kampus Ara dan kemudian dia menatap lekat pada Uni. "Dia akan pantas jika bersama dengan pria yang mencintainya, Uni, tapi itu bukan aku."
"Kenapa bukan kamu? Dia sangat menyukai kamu, Aro dan Via itu sangat setia jika dia sudah mencintai seseorang."
"Aku tidak peduli. Aku tidak menyukainya, lagian kamu bukan gadis yang setia juga?"
"A-aku bisa saja selingkuh karena aku tidak mencintai kamu," ucap Uni ragu-ragu, tapi dia mencoba mempertegaskan.
"Jadi kamu berencana ingin selingkuh dariku, Uni?"
"Bi-bisa saja, aku jadian sama kamu karena kamu yang memaksa bukan dari hatiku. Aku bisa saja berselingkuh."
"Sama siapa? Mantan kamu itu?" Aro malah memberikan seringai meledek. "Coba saja kalau kamu berani? Aku dengan senang hati akan mencari masalah dengannya."
"Kamu benar-benar egois jadi orang, jangan mentang-mentang kamu punya segalanya dan bisa berbuat segalanya jadi kamu bersikap begitu."
"Aku tidak berbuat mentang-mentang, Uni! Aku hanya tidak suka milikku diambil orang lain."
"Aku bukan milik kamu, Aro. Aku ini manusia, bukan sebuah benda."
"Tapi kamu sudah menjadi kekasihku, Uni."
"Itu karena kamu yang memaksa bahkan mengklaimnya."
"Kenapa? Kamu tidak suka?"
"Iya, aku tidak suka, aku ingin tidak kamu kekang, Aro."
Aro melihat serius pada Uni. "Lalu mau kamu apa sekarang?"
__ADS_1
Uni terdiam mendengar pertanyaan Aro. Dia sebenarnya sengaja membuat Aro marah padanya karena dia ingin Aro tidak mengklaim dirinya sebagai kekasihnya. Aro lebih cocok dengan Via daripada dengannya.
"A-aku tidak mau kamu menganggap aku kekasih kamu, anggap saja kita tidak punya hubungan apa-apa. Hubungan kita hanya sebatas pelayan dan majikan jika di rumah, sedangkan di luar sebagai teman baik