
Ara menoleh pada Aro yang duduk di belakang. "Ada apa?" suara Aro tegas.
"Pacar kamu tadi yang menelepon?"
"Bukan, teman."
"Teman kok berani mengajak kamu jalan berdua? Pasti pacar kamu. Mengaku saja," suara Ara mendesak.
"Aku hanya berteman dengan Sandra, lagian kamu kenapa ingin tau begitu?"
"Memangnya kenapa? Aku kan saudara kembar kamu, jadi aku berhak tau siapa yang dekat dengan saudara kembarku, biar kamu juga tidak salah pilih pacar."
"Aku tidak menyukainya." Aro mendekat pada Ara. "Pacarku nanti adalah orang yang sudah mencuri ciuman pertamaku," bisik Aro lirih.
Uni yang dari tadi memainkan ponselnya seketika mendelik kaget, tapi tidak berani menoleh ke belakang.
"Jadi kamu sudah pernah berciuman? Sama siapa?" Ara tampak terkejut.
Aro kembali menarik tubuhnya menjauh dari. Ara. Aro hanya memberikan senyuman miringnya dan tidak menjawab pertanyaan Ara, wajah Ara seketika di tekuk kesal dan kembali menghadap ke depan.
"Dia selalu begitu, sukanya membuat orang penasaran. Memangnya ada gadis yang mau menciumnya? Gadis itu pasti ketakutan dulu melihat wajah dinginnya," gerutu Ara di sebelah Uni. Uni hanya bisa meringis lucu.
Beberapa jam kemudian mereka sampai di tempat yang dituju. Uni mengedarkan kedua matanya melihat pemandangan yang sangat indah di sana. Tidak hanya pemandangannya yang indah, udara dan suasana di sana benar-benar sangat sejuk dan dingin.
"Indah sekali tempat ini," pujinya.
"Kamu belum pernah ke sini, Ya? Aku sudah tiga kali ke sini dengan keluargaku dan aku tidak pernah bosan."
"Aku sekali saja tidak pernah, baru kali ini."
"Ya sudah ayo kita masuk ke dalam." Nala mengajak mereka semua masuk ke dalam. Akira membeli tiket yang berupa gelang yang di pasangkan pada pergelangan tangan mereka masing-masing.
"Sekarang kita menuju ke tempat di mana kita melihat banyak sekali hewan dari berbagai belahan dunia di sini." Uni mengangguk dan mendorong kursi roda Ara.
Mereka semua naik ke dalam bus dan bus itu akan membawa mereka berkeliling melihat berbagai jenis hewan dan beberapa tumbuhan dari berbagai belahan negara yang dilestarikan di sana.
"Lihat Uni, itu ada hewan yang sangat aku sukai, yaitu jerapah."
"Kamu suka jerapah?"
__ADS_1
Ara mengangguk. "Entah kenapa aku suka sekali dengan jerapah, tinggi dan motif kulitnya sangat bagus," jelas Ara. "Kalau kamu suka binatang apa?"
"Aku suka semuanya, Ara. Apalagi harimau putih karena wajahnya sangat terlihat jahat dan dingin."
"Persis seperti Aro, dunk," celetuk Ara.
Uni langsung melihat pada Aro yang wajahnya datar saja sambil duduk malas memainkan ponselnya.
"Uni, ini kita akan memasuki kawasan harimau putih, kamu pasti ingin melihat binatang yang kamu sukai itu," nenek Anjani berkata.
"Mana, Nek?" Uni beranjak dari tempatnya dan berjalan menyusuri setiap jendela untuk melihat di mana keberadaan harimau putih yang di bilang nenek Anjani.
"Gadis itu polos sekali, Nala. Kasihan juga kalau dilihat, dia seolah tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini," Nala memeluk suaminya.
"Kok tidak ada, harimaunya?" Saat Uni sedang mendekatkan wajahnya pada jendela yang tertutup rapat, tiba-tiba dia dikejutkan oleh binatang yang dia sukai sampai dia memundurkan tubuhnya dan parahnya dia malah jatuh pada pangkuan Aro.
"Aduh!"
"Tuan Muda Aro, saya minta maaf." Uni langsung berdiri dari tempatnya dan segera berdiri meminta maaf pada Aro."
"Panggil aku Aro saja, Uni! Apa kamu tidak dengar?" Aro memegangi hidungnya yang terkena bagian belakang kepala Uni.
"Jangan pakai kata saya! Pakai aku saja."
Uni tampak tidak enak melihat Aro marah-marah begitu, tapi memang Uni yang salah yang malah membuat hidung mancung Aro terluka.
"Diakan tidak sengaja, Aro," tekan Ara.
"Kamu jangan marah-marah begitu sama Uni, Nak," timpal Nala.
"Aku tidak marah dia menabrak aku tadi, yang membuat aku marah itu dia sudah aku bilang jangan memanggilku tuan muda, tapi apa? Dia malah memanggilku begitu terus."
"Iya, sa--. Em ... maksudnya aku minta maaf." Uni mendekat pada Aro. "Apa hidung kamu masih sakit?" Uni mencoba memeriksa hidung Aro yang memang agak memar sedikit. Tangan Uni memegangi hidung Aro.
"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati," ucap Aro. Mereka berdua tidak sadar jika keluarganya yang ada di dalam bus itu sedang melihat ke arah mereka.
"Ehem ...!" suara deheman Ara mampu membuat kedua orang tersebut menoleh ke arah suara itu.
"Oh! Maaf, tadi saya hanya memeriksa hidung Aro."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, awal perkenalan yang baik dengan Aro." Ara tersenyum.
Setelah selesai menjelajahi tempat kawasan melihat satwa mereka berkeliling melihat pertunjukan lainnya, dan tempat-tempat indah lainnya.
Uni dan yang lainnya tidak sadar jika Aro dari tadi memperhatikan wajah bahagia dari Uni.
"Sudah siang, kita makan dulu sama-sama lalu kita melihat pertunjukkan utama di sini."
"Iya, Uni, kamu pasti akan suka dengan pertunjukkan drama utama di sini. Keren sekali dan aku yakin kamu pasti belum pernah menyaksikannya."
Uni mengangguk dan mendorong kursi dorong Ara. Mereka menuju tempat makan di sana dan memesan beberapa menu makanan.
"Aku tidak suka ikan bakar ini, Bu," ucap Aro.
"Maaf, Sayang, tadi ayam bakarnya tinggal satu. Apa kamu ibu pesankan makanan yang lainnya? Masih ada udang dan bebek."
"Makan saja ayam bakar milikku. Aku suka kok makan ikan bakar." Uni mengambil piring Aro dan mengganti dengan miliknya."
Aro hanya diam melihat Uni melakukan hal itu. "Kamu baik sekali, Uni. Aro saja belum tentu bersikap baik sama kamu, dia kan sukanya ketus begitu."
"Aku tidak ketus, memang beginilah aku."
"Sudah, tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali."
"Terima kasih ya, Uni," ucap Nala dan kemudian mereka mulai makan bersama.
Setelah selesai makan mereka menuju tempat di mana akan digelar pertunjukan drama utama yang ada di tempat itu. Banyak sekali orang yang berbondong-bondong menuju ke sana karena selain ingin menikmati pemandangan yang ada di sana, mereka juga tidak mau melewatkan pertunjukan utama yang selalu di tampilkan di Taman Dream Land.
"Wah ramai sekali!"
"Kalau kita tidak cepat-cepat ke sini, bisa-bisa kita tidak mendapat tempat untuk duduk," jelas Ara.
Mereka semua duduk di bangku atas. Uni yang melihat agak heran. "Apa aku boleh duduk agak depan? Aku ingin melihat pertunjukkan itu dari depan? Maklum aku baru pertama melihat hal seperti ini."
"Tentu saja, kamu boleh duduk di mana kamu sukai, Ara."
Nala mau bicara, tapi putrinya itu malah memberi kode agar membiarkan saja Uni duduk di depan sendirian. Ara juga terkekeh pelan.
"Kamu itu ya!" Nala menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1