My Secret Love

My Secret Love
186


__ADS_3

“Eh, seperti nya Husna sudah kembali.” Ucap Andita yang baru saja tiba di kediaman utama bersama sang ibu dengan di antar kekasih nya itu pulang dan melihat di sana sudah ada mobil milik Azzam terparkir.


Gilang segera turun dan membawakan barang Andita dan ibu Diyah.


“Nak, biar ibu yang bawakan.” Ucap Ibu Diyah sungkan membuat Gilang membawa barang-barang nya dan sang putri.


“Ibu, jangan sungkan pada Gilang.” Balas Gilang tersenyum.


“Sudah lah biarkan saja bu. Ayo kita masuk. Aku ingin melihat keadaan Husna.” Ucap Andita segera menggandeng tangan ibu nya itu masuk ke dalam.


Begitu mereka masuk ternyata bertepatan dengan Husna dan Azzam yang juga turun dari lantai dua mau makan siang bersama.


“Dita!” panggil Husna dengan senyum menghias bibir nya.


Andita pun segera mendekati Husna dan memeluk sahabat sekaligus orang yang dia hormati itu walaupun usia Husna lebih muda dari nya, “Kau baik-baik saja?” tanya Andita. Sementara Azzam segera meninggalkan istri nya itu bicara dengan Andita.


Husna mengangguk, “Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja. Seharus nya aku yang menanyakan pertanyaan seperti itu padamu.” Ucap Husna segera memeriksa lengan Andita di mana di sana terdapat bekas jarum.


“Kenapa gak bilang bahwa kau yang mendonorkan darah padaku?” tanya Husna menatap Andita lekat.


Andita bukan nya menjawab justru menatap Azzam, “Kenapa menatap suamiku? Dia tidak mengatakan apapun padaku. Aku tahu sendiri. Kau ini sok kuat di hadapanku. Pantas saja kemarin kau terlihat pucat saat masuk ke ruanganku dan Gilang juga sangat menjagamu.” Ucap Husna segera menatap Gilang tajam yang hanya bisa di balas Gilang dengan menunduk saja.


“Kalian ini kenapa suka sekali menyembunyikan sesuatu dariku.” Ucap Husna menatap sekeliling nya itu.


“Sayang, ayo duduk lah. Kau akan lelah nanti.” Ucap Azzam.


Husna pun mengangguk dan segera menggandeng Andita menuju meja makan,


“Kau harus makan makanan yang mengandung penambah darah. Jangan mengulangi nya lagi. Ingat aku memaafkanmu kali ini karena sudah membohongiku.” ucap Husna dengan nada mengancam.


Andita pun hanya bisa mengangguk menurut saja karena sejujur nya dia tahu bahwa di balik semua perkataan yang Husna katakan adalah bentuk perhatian dan kasih sayang untuk nya.


“Ibu, Gilang kalian ikut makan siang juga. Tidak boleh menolak.” Ucap Husna tegas yang akhirnya memang tak bisa mereka tolak.


Mereka pun segera menuju meja makan begitu juga Zahra yang baru saja turun dari lantai dua dengan mata bekas bangun tidur.


“Ibu, apa kau baik-baik saja?” tanya Husna.

__ADS_1


“Alhamdulillah saya baik nona.” Jawab ibu Diyah.


“Ah ibu kau selalu saja memanggilku seperti itu padahal umi bisa kau panggil kakak lalu kenapa aku tidak kau panggil nama saja. Aku mau protes padamu ibu,” ucap Husna merajuk.


“Maaf nona.” Ucap Iby Diyah.


“Ah terserah lah.” Balas Husna.


“Dek, kau sudah bangun?” lanjut Husna bertanya pada adik ipar nya itu.


“Tentu saja kak. Jika aku belum bangun mana mungkin berada di sini. Kenapa tidak membangunkanku kak. Aku jadi ketiduran di ran--” ucapan Zahra terhenti karena tatapan nya beradu dengan tatapan Azzam.


“Duduk lah dek.” ucap Azzam.


Zahra pun mengangguk dan menurut saja tanpa membantah sama sekali. Mana mungkin dia akan membantah ucapan abang nya itu. Dia memilih diam dan nanti saja bicara dengan kakak ipar nya itu.


“Gilang, kami dengar kau akan mengajak ibu dan Dita pergi ke kota B. Apa itu benar?” tanya Azzam mencoba mengalihkan pembicaraan ke topic yang lain.


Gilang mengangguk, “Benar pak. Mami dan papi ingin mengajak ibu dan Dita berlibur bersama. Berhubung juga mereka ada urusan di kota B sebentar jadi kami akan pergi bersama-sama dan nanti nya akan berlibur di sana.” Jawab Gilang.


“Aku bukan dosenmu saat sedang begini Gilang.” Ucap Azzam.


“Kau harus menjaga Dita dan ibu nya dengan baik nak.” ucap abi Syarif.


“Iya abi. Saya akan pastikan hal itu.” balas Gilang tegas.


“Baiklah cukup. Ayo kita makan.” Ucap Umi Balqis.


“Sayang, ini makanan untukmu.” Lanjut Umi Balqis segera memberikan makanan yang di pesan oleh Husna ke hadapan putri nya itu.


Husna menerima nya dengan suka cita, “Terima kasih umi. Aku menyayangimu.” Ucap Husna dengan senang nya.


“Aku akan mencicipi nya.” lanjut nya hendak mengambil sendok tapi di ambil alih oleh Azzam.


“Biar mas saja yang menyuapimu.” Ucap Azzam yang di angguki oleh Husna.


“Kita di lupakan lagi deh.” Sindir Zahra yang hanya di balas cengiran oleh Husna dan senyum oleh Azzam.

__ADS_1


Sementara umi Balqis dan abi Syarif hanya tersenyum saja melihat apa yang di lakukan oleh menantu mereka itu pada Husna.


“Ayo makan!” ucap umi Balqis kembali mempersilahkan semua nya untuk menikmati makan siang yang ada.


Mereka pun segera mengambil makanan masing-masing sementara Husna dan Azzam sibuk dengan dunia mereka sendiri.


“Bagaimana? Enak?” tanya Azzam saat sudah menyuapi istri nya itu.


Husna mengangguk, “Masakan umi memang tiada dua nya. Ini sangat nikmat.” Puji Husna.


“Jika memang nikmat habiskan sebelum kau di larang menikmati nya seperti yang sudah kau janjikan tadi.” Ucap abi Syarif.


“Tentu saja abi. Aku akan menghabiskan nya.” balas Husna.


“Kenapa Husna tidak boleh makan itu lagi?” tanya Andita dengan wajah polos nya begitu juga dengan ibu Diyah dan Gilang yang menunjukkan wajah bingung mereka.


Azzam, Husna dan kedua orang tua Husna hanya tersenyum saja.


“Kenapa Na? Bukan kah itu makanan kesukaanmu?” ulang Andita.


“Itu karena kakak memang tidak bisa menikmati makanan itu sesering sebelum nya.” jawab Zahra.


“Iya, alasan nya apa?” tanya Andita kini menatap Zahra.


“Ya karena kakak ipar--” Zahra tidak melanjutkan perkataan nya justru menatap kedua kakak nya itu.


“Sudah lah. Ayo makan.” Ucap umi Balqis.


Andita pun menurut walaupun dia menyimpan pertanyaan di benak nya. Dia akan menanyakan itu kembali nanti selepas makan.


Husna sendiri paham bahwa Andita memendam pertanyaan di benak nya tapi dia memilih menikmati makan siang nya itu dari pada menjawab. Anggap saja itu balasan karena Andita menyembunyikan bahwa dia pendonor untuk nya.


Kurang lebih setengah jam akhirnya makan siang itu berakhir. Pelayan segera membereskan meja makan dan mereka segera berpindah ke ruang tengah.


“Umi, aku dan mas mau istirahat dulu di atas.” izin Husna mencoba menghindari pertanyaan Andita yang dia yakin teman nya itu pasti akan menanyakan pertanyaan nya kembali.


“Husna, kau belum menjawab pertanyaanku. Setidak nya jawab dulu pertanyaanku sebelum kau naik ke atas.” ucap Andita.

__ADS_1


Husna tersenyum, “Pertanyaan apa?”


__ADS_2