My Secret Love

My Secret Love
Perasaan Apa Ini part 2


__ADS_3

Uni tidak menjawab pertanyaan Ara. Dia malah sibuk dengan menata rambut Ara. Ara melirik Uni dari pantulan cermin di depannya.


"Uni, kenapa tidak menjawab?"


"Jawab apa?" Uni seolah-olah tidak mendengar pertanyaan Ara tadi.


"Perasaan suka kamu masih ada tidak sama Aro seperti waktu kecil dulu?"


"Em ... itu kan dulu, Ara. Sekarang biasa saja. Eh! rambut kamu sudah selesai. Cantikkan?" Uni tidak mau membahas tentang dia dan Aro terus, rasanya ada yang aneh di hati Uni.


"Iya, cantik sekali, Uni." Ara tampak senang, dia memutar tubuhnya agar dapat melihat hasil karya Uni pada rambutnya.


"Aku bilang apa? Aku bisa kan membuat rambut kamu terlihat cantik?"


"Iya-iya aku percaya. Oh ya, Uni! Kalau seumpama Aro menyukai kamu bagaimana? Apa kamu mau menerima dia?"


Ampun! Ini kenapa Ara membahas tentang Aro terus?"


"Suka sama aku? Tidak mungkin Ara. Aro pasti sudah memiliki kekasih di kampusnya, lagian di kampus Aro pasti banyak cewek-cewek cantik dan setara dengan Aro."


"Hem ... kata siapa? Aro saja tidak pernah membawa atau mengenalkan kekasihnya ke rumah, bahkan dia tidak pernah pergi kencan dengan seorang cewek. Dia kan es, mana berani cewek mendekati dia."


"Ya mungkin saja dia tidak mau mengenalkan dulu sama kalian keluarganya. Aro kan memang tipe pendiam, tapi kamu harus tau, jika di kampusnya ada cewek cantik, baik, dan pintar sangat suka sama Aro."


"Oh ya? Kok kamu tau ada cewek seperti itu yang menyukai Aro?"

__ADS_1


"Tentu saja aku tau karena cewek itu adalah sahabat aku di tempat kerjaku dulu, Ara.


"Sahabat kamu? Dia satu kampus sama Aro?" Uni menganggukkan kepalanya. "Apa dia cerita sama kamu tentang saudara kembarku itu?"


"Iya, waktu itu Aro dan teman-temannya tidak sengaja makan di tempatku itu dan sahabatku yang bernama Via melihat Aro, dia bilang jika dia teman satu kampus bahkan satu kelas sama Aro, dan Via sangat menyukai Aro diam-diam karena Via takut mendekati Aro yang sangat cuek dan dingin itu."


"Kasihan sekali dia."


"Apalagi Via tau jika Aro banyak di sukai gadis-gadis di sana."


"Aro memang begitu. Lalu apa kamu cerita jika kamu kenal Aro, malahan dari kecil?"


"Aku tidak mau cerita dulu, aku bekerja di sini saja aku belum cerita sama dia. Entah kenapa aku tidak enak sama dia. Aku hanya takut dia menganggapku ada hubungan apa-apa nanti sama Aro."


"Kamu cerita saja semua, kalau kamu memang tidak menyukai saudaraku masalah tidak akan ada, tapi kalau suka juga tidak apa-apa. Aku malahan setuju jika Aro sama kamu."


"Lihat saja, nanti kalau mereka sampai jadian, aku orang pertama yang akan mengusili mereka. Em, lucu juga sih jika mereka pacaran, pasti aneh, apalagi Aro yang cueknya seperti itu dan Uni yang malu-malu. Hihihi! Ara malah terkekeh membayangkan hal yang entah bisa terjadi apa tidak.


Malam itu Nala, Akira, dan Ara sudah siap pergi ke pesta. Mobil opa dan oma sudah menjemput mereka di depan.


"Bi, tolong jaga Aro di rumah. Kami tidak berpamitan karena tadi aku lihat dia masih tertidur."


"Iya, Nala, kamu tidak perlu khawatir sama Aro. Di sini juga ada Uni yang nanti menjaga serta merawatnya."


Uni tampak bingung dengan kalimat nenek Anjani. "I-iya, Ibu Nala."

__ADS_1


"Jaga Aro ya Uni. Kalau dia nakal atau keras kepala tidak mau makan, kamu sentil saja hidungnya, pasti nanti dia akan menurut sama kamu." Ara lagi-lagi terkekeh.


"Kalau begitu kita mau pergi dulu, Bi." Akira berpamitan dan mereka bertiga pergi ke acara pesta itu.


Di rumah tinggal Uni dan Bibi Anjani serta Aro yang pasti masih tertidur. "Nek, apa Aro tidak di bangunkan saja? Ini sudah waktunya makan malam, dan dia sudah harus minum obat."


"Nanti saja, biarkan saja dulu."


"Ya sudah, kalau begitu nanti saja juga aku hangatkan bubur untuk Aro. Nek, aku ke kamar dulu mau mengambil ponselku yang tadi tertinggal di kamar."


Saat Uni masuk ke dalam kamar, kebetulan ponsel miliknya berdering dan Uni melihat ada nama Via di sana.


"Via, ada apa?"


"Halo, Uni."


"Halo, Via. Ada apa kamu menghubungiku? Bukannya ini masih jam kerja?"


"Aku sedang tidak bekerja Uni."


"Loh! Kenapa?"


"Bos kita itu lagi ada masalah keluarga sama istrinya, jadi restorannya hari ini tutup. Sukurin! Habisnya dia jadi bosa galak sekali dan cerewet sekali, perhitungannya juga minta ampun."


"Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Via. Kita doakan saja semoga masalahnya cepat selesai, kasihan jika mereka sampai ada apa-apa."

__ADS_1


"Iya-iya, peri pemilik hati yang luas." Via terkekeh.


__ADS_2