My Secret Love

My Secret Love
Ciuman Paksaan


__ADS_3

Uni memang gadis yang sangat baik dan selalu tidak memiliki dendam walaupun dirinya sudah di sakiti, Via kadang sebal dengan sikap Uni yang terlalu diam tidak mau melawan. “Uni, aku malas sekali tadi di kampus, Aro tidak masuk kuliah soalnya, entah kenapa dia tidak masuk kuliah,” ucapnya malas.


Uni terdiam mendengar keluhan sahabatnya itu. “Kamu jangan begitu, Via, kamu masih bisa kuliah dan tidak perlu memikirkan biaya itu sudah sangat baik dan kamu harus bersyukur, jangan karena pria yang kamu sukai tidak


masuk, kamu jadi malas begini.”


“Huft! Kenapa kamu hari ini seperti emak-emak yang cerewet sih? Kamu lagi PMS?”


“Enggak, aku hanya ingin memberi kamu semangat saja. Pendidikan nomor satu, kasihan orang tua kamu yang sudah susah payah membiayai kamu kalau gara-gara seorang cowok kamu patah semangat malas kuliah.”


“Iya-iya, aku semangat,” teriaknya di seberang telepon. “Kamu tidak libur kerja hari ini? Kalau libur aku jemput kamu,terus kita ke mana


gitu. Aku benar-benar ingin bercerita banyak sama kamu.”


“Aku tidak libur, Via. Kamu tau sendiri aku pagi kuliah siang sampai malam harus bekerja, lagian sekarang aku bekerja sebagai pelayan


di rumah seseorang, aku tidak bisa seenaknya.”


“Terus kamu liburnya kapan?”


“Nanti kalau aku minta izin libur di bolehin, tapi aku tidak enak kalau minta izin sekarang karena aku juga barusan bekerja di rumahnya.


Mereka juga sangat baik sama aku.”


“Apa rumahnya besar? Apa mereka orang kaya raya, Uni? Kapan-kapan aku mau menyusul kamu ke tempat kerja kamu jika kamu pulang kerja, jadi aku tau kamu bekerja di mana.”


Seketika kedua bola mata Uni membulat lebar. “Menjemput? Untuk apa? Rumahnya agak jauh, aku tidak mau menyusahkan kamu, Via.”


“Tidak apa-apa. Oh ya, Uni. Apa kamu bisa datang ke acara bazar di kampusku? Kampusku akan mengadakan bazar amal dan aku ingin kamu datang ke sana. Please! Kamu bilang sama pemilik rumah dia mana kamu bekerja untuk memberi izin keluar hari itu saja.”

__ADS_1


“Aku tidak tau bisa datang atau tidak, tapi nanti aku akan mencoba bertanya.”


“Iya kamu coba dulu, siapa tau boleh.”


Tidak lama terdengar nenek Anjani memanggil Uni dari luar pintu kamarnya. Uni segera berpamitan pada Via karena dia harus segera pergi karena di panggil oleh pemilik rumahnya.


“Nanti aku akan hubungi kamu lagi kalau aku mendapat izin. Bye Via.”


“Iya, bye Uni.”


Mereka mengakhiri panggilannya lalu dia keluar dan menuju pada nenek Anjani yang sedang berada di dapur. “Uni, nenek sudah menghangatkan bubur untuk Aro, sekarang kamu coba hantarkan bubur ini pada Aro dan bangunkan dia agar mau makan dan minum obatnya.” Nenek Anjani menyerahkan nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas teh hangat.


“Iya, Nek, aku akan hantarkan ke kamar Aro.” Uni berjalan dengan kedua tangan membawa nampan itu menuju kamar Aro. Saat tepat di depan kamar Aro, dia tampak terdiam, ada rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti dia. Uni


menarik napasnya dalam dan memanggil nama Aro, tapi beberapa kali dia memanggil nama Aro sepertinya si pemilik kamar itu masih lelap dalam tidurnya. Uni akhirnya masuk ke dalam kamar Aro dan benar saja ternyata Aro masih tidur dengan nyenyak.


Uni meletakkan nampan di atas meja dan dia berjalan menuju ranjang Aro. “Aro ... bangun.” Uni menggoyangkan tubuh Aro perlahan, tapi Aro tetap tidak bergeming. “Aro, bangun.” Uni sekarang sampai menunduk tepat di


“Apa sih?” Tiba-tiba tangan Aro malah menarik leher Uni sampai Uni terjerembab sampai wajahnya mendekat ke arah wajah Aro. Uni terdiam di tempatnya sambil menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.


“A-Aro,” panggil Uni perlahan.


Kedua manik mata indah itu akhirnya terbuka dan mematri.kedua mata Uni,bahkan mereka bisa saling merasakan aroma napas masing-masing.


“Kamu sedang apa, Uni?” Aro malah seolah Uni yang salah.


Uni langsung menarik tubuhnya menjauh dari tubuh Aro dan wajah Uni tampak sangat kebingungan plus malu. “Bukan aku yang memulai, Aro. Kamu tadi yang malah menarikku sampai aku mendekat ke arah kamu.”


Uni langsung berjalan menuju meja mengambil nampan berisi bubur dan duduk di depan Aro yang sudah bersandar pada tepi ranjangnya. “Aku tadi tidak sengaja, aku sedang bermimpi ada orang yang menyukaiku dan dia mengusap pipiku dengan lembut, aku menarik saja tangannya karena aku merasa geli.”

__ADS_1


“Siapa yang mengusap pipi kamu? Ini kamu makan dulu lalu minum obatnya.” Uni hendak berdiri, tapi lagi-lagi ucapan Aro yang meminta disuapi membuat dia tidak jadi beranjak dari sana. “Kamu makan sendiri bisakan, Aro? Kamu kan sudah besar, lagian yang bukan tangan kamu.”


“Kalau aku bilang tidak mau, kamu mau apa? Lagian kamu tau sendiri aku tidak suka bubur, tapi kamu memaksanya, setidaknya kamu menyuapiku sebagai bentuk tanggung jawab karena kamu memaksaku.”


“Memangnya ada hal seperti itu? Kamu makan sendiri saja, aku akan menunggu di sini. Kamu jangan keras kepala, Aro.”


“Kamu yang keras kepala, kenapa tidak menyuapi saja seperti tadi?”


“Tidak mau.”


“Ya sudah kalau begitu aku tidak mau makan.” Aro malah bersedekap dengan memasang muka dinginnya.


Uni mendekat dan dengan enaknya dia menyentil hidung Aro seperti apa yang dikatakan oleh Ara tadi. Aro yang mendapat sentilan seperti itu mukanya seketika berubah dan dia dengan cepat menarik tengkuk  Uni dan kembali ciuman Aro mendarat pada bibir Uni, dan kali ini agak lama sehingga Uni hanya bisa mendelik saat ciuman Aro masih melekat pada bibirnya.


Aro yang merasakan mulai ketagihan pada bibir gadis manis itu mulai perlahan menikmati ciumannya pada Uni, dia mulai melembutkan kecupannya dan membuat Uni tampak mulai juga menikmati ciuman Aro.


Saat Aro melepaskan ciumannya, wajah Uni tampak merona malu, dia bahkan tidak berani menatap wajah Aro. “Kenapa menunduk? Apa kamu tidak suka dengan ciuman yang aku berikan?”


“Ke-kenapa kamu menciumiku?”


“Karena kamu berani menyentil hidungku dan aku tidak suka akan hal itu.”


“Maaf, sebenarnya tadi aku hanya mengikuti apa kata Ara, katanya kalau kamu keras kepala aku harus menyentil hidung kamu, aku tidak tau


jika hal itu malah membuat kamu marah.”


“Ya sudah, anggap saja itu hukuman karena kamu sudah berani menyentil hidungku dan karena kamu mencuri ciumanku saat itu.”


“Mencuri ciuman kamu? Siapa yang mencuri ciuman kamu? Waktu itu aku kan tidak sengaja karena aku kaget, jadi aku reflek terbangun dan ciuman itu terjadi.”

__ADS_1


“Aku tidak peduli dengan alasan kamu. Kamu tetap saja pencuri ciuman pertamaku.”


__ADS_2