My Secret Love

My Secret Love
Rencana Pergi Dari Rumah Part 2


__ADS_3

Aro mengedarkan pandangannya dan dia tidak melihat keberadaan Uni. "Nek, apa Uni belum pulang?"


"Dia sudah pulang dari tadi, dia sedang ada di kamarnya kalau tidak salah. Aro, apa kamu tidak menjemput Ara?"


"Tadi dia menelepon, katanya dia mau pulang sama David. David akan menjemput dia di kampusnya dan mengajaknya makan siang."


"Ya ...! Jadi Ara tidak makan siang di rumah? Padahal tadi Uni dan nenek sudah membuatkan makan siang kesukaan kalian."


"Nanti aku yang habiskan." Aro beranjak dari tempatnya dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Aro sangat terkejut melihat ada Uni di dalam kamarnya dan sepertinya Uni baru saja menangis sambil memegangi baju Aro yang sedang dia tata ke dalam lemari bajunya.


"Aro." Uni agak kaget, dia segera menghapus air matanya. Mencoba mengalihkan perhatiaannya pada hal lainnya.


"Uni, kamu kenapa? Kamu habis menangis?" Aro mendekat ke arah Uni.


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah selesai menata baju kamu, aku mau menyiapkan makan siang untuk kamu."


Saat Uni berjalan melewati Aro, dengan cepat pria itu menarik tangan Uni dan membuat Uni masuk ke dalam dekapan Aro. Uni terdiam di tempatnya dan malah bersandar dengan nyaman pada dada Aro.


Tangan Aro memeluk punggung Uni erat. "Kamu kenapa? Dan apa yang sudah terjadi sehingga kamu menangis?"


Uni hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa, Aro. Tolong lepaskan tangan kamu, Aro."


"Tidak mau! Katakan dulu kamu kenapa?"


"Aku bilangkan aku baik-baik saja." Wajah Uni melihat pada wajah Aro.


"Kalau kamu baik-baik saja, kenapa kedua mata kamu agak sembab begitu? Apa Rendy sudah menyakiti kamu? Atau siapa? Kalau Rendy berani menyakiti kamu, aku lumatkan dia!"

__ADS_1


"Rendy tidak berbuat apa-apa padaku. Sekarang lepaskan aku, Aro." Uni menggeliat pada Aro.


Tidak lama mereka mendengar jika nenek Anjani berteriak memanggil Uni. Sepertinya nenek Anjani sedang mencari Uni.


Aro segera melepaskan pelukannya dan keluar menemui nenek Anjani.


"Uni, kamu ternyata berada di dalam kamar Aro?"


"Iya, tadi aku sedang menata baju Aro yang ada di dalam lemari, baju yang sudah aku setrika, Nek. Nenek ada apa mencariku?"


"Nanti kita siapkan makan siang jangan banyak-banyak karena Ara dan ibu Nala tidak makan siang di rumah."


"Iya, Nek. Aku akan segera menyiapkannya."


Uni mulai menyiapkan makan siang dan tidak lama Aro datang dan duduk di sana. Nenek Anjani dan Uni makan siang bersama.


"Aro, bagaimana menurut kamu tentang keputusan Uni yang mau kost sendiri dan tidak tinggal di sini lagi?"


"Apa?!" Aro terlihat sangat terkejut sampai meletakkan sendok makannya.


"Iya, Uni tadi tiba-tiba pulang kuliah dan bilang pada nenek jika dia ingin keluar dari rumah ini dan mau kost sendiri."


Aro seketika melihat tajam pada Uni dan Uni hanya bisa terdiam tidak berani melihat pada Aro.


"Kenapa kamu ingin keluar dari rumah ini? Apa kami selama ini tidak baik sama kamu?"


"Bukan begitu, Aro," jawab Uni cepat.


"Lalu kenapa? Apa kamu ingin kost sendiri agar lebih bebas bisa bertemu dengan Rendy?"

__ADS_1


"Kenapa kamu bicaranya begitu? Aku ini masih punya harga diri dan membawa diriku dengan sangat baik."


"Lantas? Kenapa mau pindah?"


"Aku hanya tidak ingin menyusahkan keluarga kamu terus, aku ingin hidup mandiri, Aro. Lagipula aku harus terbiasa dengan hidupku yang dari dulu sendiri."


"Kamu tidak pernah menyusahkan keluarga ini, Uni, jadi jangan bicara seperti itu. Keluarga ini sudah menganggap kamu seperti anggota keluarga sendiri," jelas nenek Anjani.


"Aku tau, Nek, tapi aku harus sadar diri juga, aku di sini hanya sebagai pembantu, bukan keluarga, aku tidak mau menyusahkan."


"Kalau kamu mau menjadi keluarga di sini, aku akan menikahi kamu setelah kita lulus kuliah, dengan begitu kamu akan seutuhnya menjadi keluarga di sini."


Seketika kedua mata Uni membulat sempurna, bahkan nenek Anjani pun tampak terperangah mendengar apa kata cucu laki-lakinya itu.


"Aro, kamu bicara apa sih?" ucap Uni tampak kesal. "Kamu jangan bicara yang tidak-tidak, Aro!"


"Aku bicara serius, Uni."


"Aku tidak pantas untuk kamu, Aro. Pokoknya aku sudah mengambil keputusan bulat, kalau aku akan pindah dari rumah ini. Nanti malam aku akan bicara pada Ibu Nala dan ayah Akira."


"Kamu sudah memikirkannya semuanya dengan baik, Uni?"


"Sudah, Nek, aku ingin kost sendiri."


"Dasar keras kepala!"


Nenek Anjani hanya bisa terdiam melihat perdebatan mereka, tapi nenek Anjani sepertinya tau akan sesuatu hal di antara mereka.


Aro di dalam kamarnya setelah selesai makan siang tampak sangat kesal mendengar keputusan Uni tadi. Kenapa Uni begitu memaksa seperti itu sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Apa ada sesuatu hal yang membuat dia begitu? Aro berdialog sendiri.

__ADS_1


Uni tampak menangis di dalam kamarnya. Dia sebenarnya berat mengambil keputusan ini, tapi dia ingin agar bisa melupakan Aro, dan berharap Via bisa tidak curiga sama Uni.


__ADS_2