My Secret Love

My Secret Love
98


__ADS_3

Kini Husna dan Azzam sedang dalam perjalanan pulang dengan menggunakan mobil Van. Seperti yang di minta oleh Husna yang masih ingin melihat sunset maka mereka pun baru pulang setelah sholat isya. Sepasang suami istri itu sedang bercanda ria di mobil Van itu yang memang fasilitas nya sangat lengkap itu.


Husna memutar tv yang ada di dalam mobil itu. Dia berjalan ke sana kemari di mobil Van itu sambil mengecek semua fasilitas yang ada di sana. Dia mencoba semua nya.


“Mas, ternyata sangat nyaman ya. Aku menyukai nya. Bisa gak kita beli saja mobil ini? Tidak usah di balikin mas.” Ucap Husna manja lalu kembali ke bangku di sisi suami nya.


Azam yang mendengar itu pun tersenyum, “Gak boleh sayang. Ini kita hanya di pinjamkan.” Jawab Azzam.


“Hum, begitu ya.” Tanya Husna yang di angguki oleh suami nya itu.


“Mas, siapa pemilik nya? Aku akan bertemu dengan nya dan membicarakan nya. siapa tahu saja jika aku yang membujuk maka dia akan menjual mobil Van ini pada kita. Mas, mungkin salah membujuk nya.” ucap Husna kemudian masih saja menginginkan mobil Van itu.


“Lalu jika kita sudah beli nanti. Kamu mau gunakan untuk apa ini sayang? Kita kan jarang ke pantai seperti ini. Lalu harga nya juga mahal sayang. Mas ... bukan sayang uang atau pelit padamu tapi kita kan masih punya mobil lain.” Ujar Azzam lembut.


“Tapi kan beda mas. Kita memang punya mobil lain. Tapi tidak seperti ini yang sudah seperti rumah. Aku menyukai mobil ini mas. Aku sudah jatuh cinta pada nya.” bujuk Husna lagi agar suami nya itu bersedia membelikan nya mobil Van itu.


“Kita modif deh mobil kita. Tidak perlu membeli ini.” ucap Azzam.


Husna menggeleng, “Aku mau nya yang ini saja mas. Jika memodifikasi mobil kita pasti masih lama selesai nya. Sedangkan aku sudah sangat ingin memakai nya. Kita akan memarkir nya di rumah kita terus jika aku bosan memasak atau pun tidur di rumah kita maka kita akan menggunakan mobil Van ini. Ayo lah mas.” Ucap Husna.


Azzam pun menghela nafas panjang lalu mengangguk, “Baiklah, Mas akan mencoba membujuk pemilik mobil Van ini. Tapi jika dia tidak akan menjual nya maka kita tidak boleh memaksa nya. Yang terpenting kita bisa meminjam nya nanti jika kita menginap di satu tempat lagi dan mau memakai mobil Van ini.” Ucap Azzam lembut mencoba memberi pengertian pada istri nya itu.


Husna pun mengangguk, “Hum, setuju. Tapi mas harus usaha dulu agar dia mau menjual mobil ini.” ucap Husna.


Azzam pun mengangguk, “Kamu ini ada-ada saja sayang. Jika yang lain ingin membeli mobil atau pun tas branded mahal kamu hanya mau mobil Van ini padahal kamu sudah punya banyak rumah tinggal memilih di mana kamu akan tinggal.” Ucap Azzam kemudian.


“Untuk itu lah aku mau membeli mobil ini mas. Aku ingin merasakan bagaimana rasa nya tinggal di sebuah mobil yang kita harus bisa membiasakan diri di tempat yang sempit.” Balas Husna.


“Lalu untuk mobil mahal atau pun tas mahal aku sudah punya mas. Abi selalu membelikan mobil keluaran terbaru untukku dan umi dia yang selalu membelikan pakaian juga tas untukku. Jadi aku merasa itu sudah cukup dan tidak perlu lagi aku membeli nya.” balas Husna.


Azzam pun tersenyum menanggapi ucapan istri nya itu. Dia tidak menyangka bahwa istri yang juga sekaligus sahabat kecil nya itu sungguh sangat berbeda dengan gadis di luaran sana yang lebih mementingkan kecantikan atau apapun itu yang berbau mahal.


Tapi harus dia akui juga bahwa istri nya itu sudah sangat cantik walaupun tanpa make up sekalipun. Hanya dengan skin care yang dia pakai dia sudah sangat cantik. Kecantikan yang tidak membuat bosan.


***


Setelah mengendarai mobil sekitar kurang lebih dua jam, akhirnya Husna dan Azzam pun kini tiba di kediaman utama.

__ADS_1


Penjaga yang masih berjaga di sana segera membukakan gerbang untuk mobil Van yang masuk itu. Mereka tahu siapa yang ada di dalam mobil Van itu. Yang tidak lain adalah tuan dan nona mereka.


“Terima kasih kedua paman.” Ucap Husna begitu turun dari mobil Van dan mengucapkan terima kasih kepada kedua penjaga yang membukakan gerbang untuk mereka.


“Paman … ada makanan untuk kedua penjaga. Tidak boleh menolak. Ohiya, doakan Husna bisa segera punya anak ya paman lalu doakan juga Husna agar bisa cepat lulus kuliah.” Ucap Husna kepada kedua penjaga itu dengan membagikan makanan yang tadi mereka singgah di restoran cepat saji.


Kedua penjaga itu pun menerima nya dengan senang hati. Mereka sangat hafal bahwa nona muda mereka itu apabila memberi sesuatu maka tidak boleh di tolak. Lalu sudah menjadi kebiasaan Husna apabila dia pergi ke suatu tempat pasti pulang nya membawa sesuatu untuk orang rumah.


Setelah membagikan makanan untuk kedua penjaga itu baru lah Azzam dan Husna segera masuk ke rumah dengan membawa box makanan yang lain untuk di berikan kepada asisten rumah tangga yang ada di kediaman itu.


“Kakak ipar!” panggil Zahra dari ruang keluarga begitu melihat Husna masuk.


Husna pun tersenyum lalu segera memeluk adik ipar nya itu yang memang berlari ke arah nya meminta pelukan.


“Kebiasaan deh!” ucap Azzam lalu segera meminta salah satu ART untuk membagikan makanan yang mereka bawa itu.


“Abang .. apa itu?” tanya Zahra menunjuk tas makanan yang di berikan Azzam kepada ART.


“Itu makanan dek.” jawab Husna.


“Makanan? Untukku mana kak?” tanya Zahra.


Zahra mengangguk. Husna pun segera menatap suami nya itu, “Kami hanya membeli untuk penjaga dan ART dek.” jawab Husna.


“Yah!” ucap Zahra.


“Hum … tapi kakak punya sesuatu untukmu.” Ucap Husna kemudian.


Zahra yang mendengar itu pun seketika berbinar wajah nya dan segera mencari tahu apa yang akan di berikan oleh kakak ipar nya itu pada nya.


Tidak lama kedua penjaga pun datang dengan membawa kotak lalu segera di berikan kepada Husna. Husna pun menerima nya dan tidak lupa dia mengucapkan terima kasih.


“Ini untukmu dan juga Andita.” Ucap Husna.


Zahra pun menerima nya dan segera membuka nya. Aroma coklat langsung menyengat ke indra penciuman nya.


“Kakak ipar kau memang terbaik.” Ucap Zahra lalu dia segera berlari mencari Andita.

__ADS_1


“Sayang, lihat lah dia saking senang nya sampai lupa mengucapkan terima kasih padamu.” Ucap Azzam.


“Tidak masalah mas. Yang penting dia senang dan bahagia. Lagi pula dia hanya menginginkan coklat saja.” balas Husna.


Azzam pun tersenyum lalu dia segera menggandeng sang istri menuju kamar karena memang abi Syarif dan Umi Balqis sudah istirahat lebih dulu. Mereka tidak menunggu Husna dan Azzam pulang. Selain itu juga Azzam dan Husna memang tidak mengabari akan pulang mala mini.


Husna dan Azzam pun tidak ingin juga membangunkan mereka. Biar besok saja mereka menyapa. Husna dan Azzam segera membersihkan diri mereka dan lebih memilih untuk segera mengistirahatkan tubuh mereka itu.


***


Keesokkan pagi nya, Husna dan Azzam selepas melaksanakan sholat subuh bersama segera turun berbarengan dan segera menyapa abi Syarif dan umi Balqis.


“Hee’ehh kalian pulang nya kapan nak?” tanya umi Balqis yang memang belum mengetahui bahwa putri dan menantu nya itu sudah ada di rumah karena memang juga belum ada yang memberitahukan hal ini.


“Kami pulang semalam umi. Kami tiba sekitaran pukul setengah 10 malam. Abi sama umi sudah istirahat. Jadi kami tidak menyapa kalian.” jawab Husna lalu mendekati umi nya itu dan memberikan ciman di pipi umi nya. Lalu dia segera beralih pada abi nya juga dan memberikan ciuman di pipi abi nya. Sementara Azzam lebih memilih menyalami kedua mertua nya itu.


“Abi, apa keadaanmu baik-baik saja?” tanya Husna menatap abi nya itu.


Abi Syarif mengangguk, “Tentu saja abi baik-baik saja nak. Emang kenapa abi bisa sakit. Bukan kah putri abi sudah menikah dan memiliki suami lalu putri abi juga sebentar lagi akan mengambil alih semua tanggung jawab abi terkait perusahaan. Abi tidak perlu lagi mengkhawatirkan apapun.” Balas Abi Syarif.


Husna pun tersenyum, “Doakan saja Husna bisa mengambil tanggung jawab itu bi.” Ujar Husna.


“Abi yakin kamu bisa. Jika pun kamu tidak bisa maka bukan kah ada Azzam yang bisa mengambil alih nya.” ucap abi Syarif menatap menantu nya.


Azzam pun hanya tersenyum menanggapi ucapan mertua nya itu.


Setelah itu Husna segera ikut membantu umi nya. Sementara Azzam segera ikut dengan Abi Syarif menikmati pemandangan pagi di halaman belakang di tempat favorit abi Syarif.


“Nak, umi boleh menanyakan sesuatu?” tanya umi Balqis menatap serius putri nya itu saat mereka menatap meja makan.


Husna pun mengangguk, “Katakan saja umi. Kenapa harus sungkan seperti itu. Husna ini putri umi kenapa harus bertanya seperti itu.” ucap Husna.


“Apa kamu menunda kehamilan?” tanya umi Balqis.


Husna yang mendengar itu pun terdiam sejenak. Umi Balqis segera membawa Husna untuk duduk di ruang tengah.


“Umi .. aku tahu kalian sangat ingin memiliki cucu dan hanya aku yang bisa memberikan nya karena aku satu-satu nya putri yang kalian miliki. Umi tenang saja. Aku tidak menunda sama sekali. Jika Allah berkehendak maka cucu umi dan abi akan datang sendiri nya.” balas Husna tersenyum.

__ADS_1


Umi Balqis yang mendengar itu pun tersenyum, “Maafkan umi nak! Jika permintaan umi ini membuatmu merasa berat padahal umurmu masih sangat muda.” Ucap umi Balqis.


Husna menggeleng, “Tidak kok umi. Husna gak keberatan sama sekali. Husna memang tidak ingin menunda juga. Husna memang sudah ingin memiliki anak juga.” Balas Husna yang memang tidak ingin membuat umi nya itu sedih.


__ADS_2