My Secret Love

My Secret Love
Berita Menyedihkan


__ADS_3

Nala tidak sabar menunggu apa yang akan di katakan oleh suaminya.


"Sebenarnya ada apa, Akira? Jangan membuatku cemas begini?"


"Ini tentang Tata, Nala."


"Ada apa dengan Tata?" Tatap Nala sekali lagi serius.


"Dua bulan yang lalu setelah dia melahirkan, dia kemarin memilih mengakhiri hidupnya sendiri."


"Apa? Tata bunuh diri? Tapi kenapa?"


"Tidak ada yang tau apa penyebab dia bunuh diri. Kata orang yang aku suruh mengawasinya, dia izin pergi untuk menemui Radit, tapi setelah itu dua hari kemudian dia melakukan hal itu."


"Oh Tuhan! Kenapa wanita itu bisa setega itu meninggalkan anaknya sendirian?"


"Lalu di mana anak yang dia lahirkan, Akira?"


"Anaknya di bawa oleh ibunya Tata untuk di rawat. Ibu Tata membawanya pulang ke kampung halamannya setelah mengetahui semua cerita tentang anaknya."


"Akira, apa hal yang menimpa Tata itu semua karena kesalahan kita? Kita tidak menuruti permintaannya untuk membebaskan Mas Radit waktu itu."


"Jangan berpikiran seperti itu. Radit memang harus menerima hukumannya, apa yang di lakukan Radit adalah tindakan kriminal dan pihak berwajib juga tidak akan dengan mudah membebaskan dia."


"Tapi Tata ingin sekali bisa menikah dan membangun rumah tangga dengan mas Radit."


"Nala, mungkin takdir Tata memang seperti ini. Kamu jangan lagi menyalahkan diri kamu karena semua ini kesalahan dari mereka berdua."


"Iya, Nala. Ini bukan salah kamu, kamu tidak ingat apa yang dilakukan Radit dan Tata. Jika Tata berhasil melukai kamu waktu itu, hari ini kamu tidak akan bisa melihat si kembar lahir ke dunia ini," jelas Addrian.


Nala mengangguk perlahan walaupun dalam hatinya dia masih memikirkan tentang Tata.


"Ya sudah! Kita sekarang fokus saja untuk membesarakan si kembar ini saja. Kita tidak perlu memikirkan masa lalu lagi," ucap Kei.


Akira memeluk istrinya erat. "Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak lagi." Nala mengangguk.


"Oh ya, mommy lupa kalau ada hadiah titipan dari Rhein untuk si kembar anak kalian." Kei beranjak dari tempatnya dan masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil hadiah dari Rhein.

__ADS_1


Tidak lama Kei keluar dengan membawa sebuah kotak berukuran besar dan memberikan pada Nala.


"Ini dari Rhein, Mom?"


"Iya, kamu buka saja kadonya. Dia mengirimkan dari California dan kemarin barusan datang."


Nala membukanya dan di dalamnya banyak mainan dan baju-baju serta sepatu untuk si kembar. Nala mengambil baju setelah jas dan ada gaun kecil yang sangat lucu.


"Baju ini bagus sekali, satunya setelan jas seperti yang biasa Akira pakai, dan gaun kecil ini." Nala terkekeh.


"Ini apa? Kenapa dia memberi boneka dengan betuk muka mirip Rhein dan kamu Nala? Apa maksudnya?" Akira melihat dua buah boneka. dengan penampilan mirip Nala dan Rhein.


"Kenapa kamu kesal, boneka ini lucu dan pasti untuk Nara." Nala malah mengambil boneka itu. "Boneka ini tidak ada maksud apa-apa, Akira, mungkin Rhein ingin memberitahu anak-anak kita kelak, jika dia dan ibunya memiliki hubungan persahabatan yang indah."


"Persahabatan apanya? Dia mencintai kamu. Boneka ini sebaiknya tidak perlu di bawa pulang, biar di sini saja." Akira mengambil kembali boneka di tangan Nala.


"Kenapa di taruh sini? Inikan pemberian yang tulus dari Rhein Paman si kembar." Nala mengambil kembali boneka itu dan meletakkannya di dalam kotak hadiah yang bentuknya indah.


Addrian dan Kei menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Nala dan Akira.


Keesokan harinya saat mereka makan pagi bersama. Nala mengatakan ingin menemui mas Radit di dalam sel. Dia ingin mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Tata. Bagaimanapun juga mas Radit adalah orang yang Tata cintai dan ayah dari bayi Tata.


"Kamu yakin mau ke sana?"


"Iya, sebentar saja. Si kembar kita titipkan dulu pada Mommy, nanti setelah selesai kita bawa si kembar kembali ke rumah. Tidak apa-apa, Kan Mom?"


"Iya, kalian boleh menitipkan si kembar di sini. Bagaimanapun juga ini juga rumah mereka."


"Terima kasih, Mom. Nanti aku akan menyiapkan asi untuk mereka berdua."


Setelah makan pagi mereka pergi menemui Radit. Penampilan Radit tampak kacau. Nala duduk tepat di depan Radit dengan di temani oleh Akira.


"Nala, kamu datang ke mari?" Radit mencoba memegang tangan Nala. Namun, dengan cepat Nala menarik tangannya.


"Jangan berani kurang ajar dengan istriku! Atau aku akan membuat kamu tidak bisa menghirup udara selamanya," ancam Akira.


"Nala, aku minta maaf, aku melakukan semua ini karena aku terlalu mencintai kamu, aku sangat ingin membuat kamu bahagia dan tidak di sakiti oleh orang lain."

__ADS_1


"Jangan sok tau! Nala sangat bahagia denganku. Nala! Kita salah sudah menemui dia di sini. Dia itu pria sakit jiwa tidak bisa diajak bicara baik-baik." Akira berdiri dari tempatnya dan menggandeng tangan Nala.


"Akira, tujuan kita ke sini untuk bicara dengan mas Radit mengenai Tata dan bayinya."


"Dia tidak akan peduli dengan Tata. Orang ini yang ada di pikirannya hanya kamu dan dirinya."


"Mas Radit, apa Mas Radit tau tentang kabar Tata!"


"Ada apa dengan Tata?"


"Dia sudah meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri."


"Apa? Tata bunuh diri?"


"Iya, dan dia baru saja melahirkan anak kalian dan aku dengar anak kalian di bawa oleh ibu Tata pulang kampung."


Raut wajah Radit tampak pucat mendengar hal itu. "Dia bukan bayiku."


"Apa? Kenapa Mas Radit bisa mengatakan jika dia bukan bayi Mas Radit. Bukannya Mas Radit dan Tata sempat menjalin hubungan, dan Tata sendiri yang cerita tentang bayinya itu."


"Kita memang pernah melakukannya, tapi waktu itu dia menjebakku dengan rayuannya, bayi itu bukan anakku, Nala."


"Dasar pria berengsek, kamu tidak mau mengakui perbuatan kamu! Wajah kamu saja yang terlihat polos, tapi ternyata kamu lebih bajingan dariku."


"Jaga mulut kamu! Aku pria baik-baik, tidak seperti kamu yang tega menyakiti gadis sebaik Nala. Kamu tipu dia agar menjadi boneka. mainan kamu."


Akira tanpa banyak bicara langsung mencengkeram baju Radit. Nala yang melihatnya langsung berdiri dan mencoba melerai mereka.


"Sayang, sudah! Lepaskan Mas Radit."


Akira dengan kasar melepaskan cengkramannya. "Kita pergi dari sini. Kita tidak perlu bicara dengan pria gila ini."


***


Sejak saat itu, Nala dan Akira melupakan semua masa lalu yang terjadi. Mereka bersama-sama membesarkan Nara dan Naro.


Addrian lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan kedua cucunya di bandingkan harus pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnisnya.

__ADS_1


__ADS_2