My Secret Love

My Secret Love
Insiden Part 1


__ADS_3

Mobil mereka sampai di sebuah hotel berbintang lima yang sangat megah di mana hotel itu adalah milik keluarga Danner. Di sana sudah banyak berjejer mobil-mobil mewah dan tampak yang datang pun harus membawa


undangan yang nanti akan di periksa saat mereka memasuki hotel itu.


“Ayo kita turun.” Akira yang membawa mobil sendiri melepaskan sabuk pengamannya.


“Akira.” Nala menahan tangan Akira.


“Ada apa?” Akira menoleh ke arah Nala yang wajahnya tampak cemas.


“Di sini acaranya, Akira? Tempat ini mewah sekali dan lihat orang-orang yang datang sepertinya kebanyakan orang penting.”


Akira tersenyum. “Kamu itu kenapa? Tadi kita sudah membicarakan masalah ini. Ayo kita masuk. Mommy dan Daddy sudah menunggu di dalam, kamu tidak perlu takut atau khawatir, aku ada bersama kamu.”


Akira turun dan membukakan pintu untuk Nala dan kemudian mereka berlima masuk ke dalam hotel itu. “Selamat malam Tuan Akira dan Nyonya Nala,” sapa para penjaga yang tugasnya mengecek kartu undangan tamu-tamu yang masuk.


“Selamat malam.”


“Silakan masuk Tuan Akira dan Nyonya Nala.”


Akira mengangguk dan masuk ke dalam. “Akira, mereka juga mengenalku?” tanya Nala heran yang tangannya menggandeng lengan tangan Akira dan si kembar di gandeng berjalan dengan nenek Anjani.


Nala dan Akira berjalan di tengah-tengah acara menemui kedua orang tuanya. Mereka berdua sangat terkejut melihat ada kue tart yang sangat besar dengan tulisan happy Anniversary Akira dan Nala.


“Mom, ini apa?” tanya Akira.


“Selamat hari ulang tahun pernikahan kalian, Sayang.” Kei memeluk Akira dan Nala.


“Selamat ya, Nak. Maaf jika kita tidak memberitahu tentang pesta kejutan ini.” Addrian juga memeluk Akira dan Nala.


Nala sampai meneteskan air matanya. “Jadi ini acara kejutan untuk merayakan pesta ulang tahun pernikahan aku dan Akira, Dad?”


“Iya, Nala. Ini acara sebenarnya untuk kalian berdua anak-anak Daddy. Semoga pernikahan kalian bahagia selalu dan langgeng sampai


kakek dan nenek.”

__ADS_1


Nala menangis lagi dan dia mencoba menghapus air matanya yang menetes pada pipinya. “Selamat ya, Nala, Akira.” Rhein memeluk Akira kemudian dia memeluk Nala. Rhein merasakan hal yang dulu dia rasakan saat dia masih dekat dengan Nala.


“Jangan lama-lama memeluk istriku,” celetuk Akira.


“Aku kan hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian, sekarang kalian tau jika aku ke sini karena mommy yang menginginkan aku datang untuk acara kalian, jadi kamu jangan curiga terus denganku, Akira.”


“Jadi ini hari ulang tahun untuk ayah dan mama?” tanya si kembar barengan.


“Iya, ini hari ulang tahun untuk ayah dan mama kalian,” jelas nenek Anjani.


“Ya ...! Kita belum menyiapkan hadiah untuk mama dan ayah,” Kedua wajah mereka tampak sedih.


Nala duduk berjongkok menyetarakan dirinya dengan si kembar. “Mama dan ayah tidak membutuhkan kado apa-apa dari kalian. Kalian berdualah kado terindah dalam hidup mama dan ayah.” Nala memeluk kedua anaknya dan


dibarengi dengan Akira.


Acarapun di mulai dan para tamu yang hadir mengucapkan selamat kepada Akira dan Nala dan banyak sekali doa yang mereka terima. “Nala, kenalkan ini kedua orang tua dari Anabella, mereka baru saja datang dari Amsterdam.”


Nala melihat ke arah dua orang di depannnya dengan penampilan yang glamour. Kalau orang tua Anabella ada di sini, itu berarti Anabella juga pasti ada di sini?


“Iya, tidak apa-apa, Tante.


“Nala sendiri sebelum menikah dengan Akira bekerja di mana?” tanyanya.


Nala terdiam dan agak terkejut mendengar pertanyaan dari maminya Anabella. “Saya--.”


“Menantuku seorang yatim piatu  dari kecil, dia tinggal dengan bibinya, dan Nala adalah gadis pekerjaan keras. Aku bangga memiliki dia menjadi menantuku.” Addrian mengusap kepala Nala lembut. Nala menatap daddy mertuannya dengan mata berkaca-kaca.


“Akira tidak memerlukan istri yang setara denganku, ataupun seorang yang terkenal dan dari keluarga yang sekelas denganku. Nala istri


terbaik yang aku cari selama ini, Tante.”


Kedua orang tua Anabella langsung terdiam. Acara kembali berjalan dengan baik. Di sudut kabin di mana ada bartender yang sedang


menyiapkan minuman untuk tamu yang memesan minuman khusu. Kedua orang tua

__ADS_1


Anabella dan adik laki-laki Anabella ada di sana.


“Aku benar-benar tidak percaya dengan menantu Addrian Danner.”


“Apa Kei tidak pernah bercerita dengan kamu siapa menantunya itu?” tanya Papi Anabella pada istrinya.


“Tidak pernah, dia hanya bilang Akira sudah menikah dengan gadis yang dia cintai dan mereka tidak mau mengekspose pernikahan itu.”


“Itu karena mereka menikah diam-diam. Cantik juga sebenarnya istri Akira itu walaupun dia seorang pembantu di rumah Akira,” terang pria


tinggi besar dengan berewok tipis memenuhi dagunya.


“Apa? Apa kamu bilang Albert?” tanya mami Anabella terkejut.


“Iya, dia itu mantan pembantu di rumah keluarga Danner dan sebelumnya di bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe kecil,” Jelas lagi pria itu sambil menghabiskan winenya.


“Jadi menantunya itu mantan pembantu mereka? Benar-benar tidak bisa di percaya.” Mami Anabella memandang terus ke arah Nala. “Kamu tau dari mana, Albert?”


“Anabella sendiri yang bercerita tentang wanita itu. Anabella ingin kembali dengan Akira, tapi Akira malah lebih memilih gadis pelayan itu.” Albert tersenyum miring.


“Oh jadi begitu? Apa yang terjadi dengan Kei dan Addrian mau menerima wanita itu menjadi menantunya? Apa mereka tidak takut mereka akan menjadi bahan pergunjingan tentang menantunya itu.”


Mungkin karena sudah terlanjut Akira dan wanita itu memilki anak. Kalau wanita itu hanya ingin kekayaan, aku juga bisa memberinya kalau dia mau tidur denganku.”


“Apa kamu bilang?” Tiba-tiba terdengar suara seseorang di samping Albert berdiri dekat meja bar. Pria itu tersenyum miring mendengar apa


yang adik laki-laki Anabella ucapakan.


“Rhein?”


“Aku sudah mendengar semua yang kalian katakan dari tadi, dan jujur saja telingaku menjadi panas mendengar ocehan tidak bermutu kalian.” Rhein meletakkan gelas minumannya dan berjalan tepat di depan kedua orang tua Anabella.


“Kamu kenapa? Bukannya apa yang aku katakan benar tentang wanita pelayan itu.” Albert malah memperlihatkan wajah songongnya.


“Walaupun dia seorang pelayan, dia tidak akan memberikan ataupun mau memberikan tubuhnya untuk orang lain! Nala wanita yang terhormat bahkan dia lebih terhormat dari kakak kamu yang mampu memberikan tubuhnya kepada siapapun demi karirnya agar dia menjadi terkenal. Menjijikan," hina Rhein ketus.

__ADS_1


Jangan lupa like ya, Kak. Kirim kopi juga boleh wkakakakak. Terima kasih


__ADS_2