My Secret Love

My Secret Love
Ara Dan Dean


__ADS_3

Ara terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh David. Lagi-lagi pria ini bisa membuat Ara tersenyum.


"Walaupun usia kamu lebih tua, tapi kamu masih terlihat tampan seperti usiaku."


"Kalau tampan aku memang dari dulu sangat tampan, Ara," ucapnya sombong.


"Sombong sekali, tapi memang Mas David tampan, baik, dan mapan."


"Cuma satu yang kurang, yaitu, memiliki sebuah keluarga."


"Kalau begitu cari pasangan yang sesuai kriteria Mas David, lalu kalian menikah."


"Aku sedang menunggu seseorang yang akan dijodohkan denganku."


Deg!


Seketika jantung Ara berdetak keras, sepertinya mas David tau akan perjodohan yang direncanakan oleh keluarganya. "Ra, apa kamu masih di sana?"


"Oh iya!" Ara yang tadi melamun langsung tersadar dari lamunannya.


"Kamu sedang melamun apa? Apa kamu memikirkan kata-kataku tadi?"


"Em ... tidak kok." Ara berbohong.


"Kamu pasti memikirkan kata-kataku tadi. Aku sudah tau tentang perjodohan itu, kamu juga pasti sudah tau. Sudah! Kamu jangan memikirkan hal itu, kamu fokus dulu sama kuliah kamu."


"Mas David, apa Mas David setuju jika orang tua Mas David menjodohkan Mas David sama aku?"


"Siapa yang akan menolak jika dijodohkan dengan gadis secantik dan sebaik kamu? apalagi keluargaku kenal sama keluarga kamu."


"Tapi aku belum memikirkan tentang suatu hubungan, Mas David."


"Jadi aku di tolak ya?" suaranya tampak melas.


"Bukan begitu, tapi--?"

__ADS_1


Di seberang telepon malah terdengar suara kekehan seseorang. "Kamu tidak perlu merasa tidak enak begitu, Ara. Sudah! Kamu pikirkan saja dulu kuliah kamu, dan aku tidak mau karena masalah rencana perjodohan yang kedua keluarga kita rencanakan malah membuat kamu sampai memikirkannya terus."


"Iya, terima kasih Mas David. Aku juga tidak bisa bilang menolak atau menerima. Biar nanti takdir yang akan bekerja, kita berjodoh atau tidak."


"Aku sih berharap takdirku sama kamu," celetuk Mas David.


"Mas David," ucap Ara lirih.


"Ahaha! Aku hanya menggoda kamu saja. Oh ya, Ara, aku sampai lupa niat utamaku menghubungi kamu gara-gara kamu memanggilku Mas tadi, aku sampai terbuai mendengar suara kamu memanggil begitu."


"Memangnya ada hal penting yang mau Mas David katakan?"


"Iya. Ini terkait dengan undangan ulang tahunku. Apa kamu sudah memberi teman-teman kamu kalau aku mentraktir kamu dan teman-teman dekat kamu? Aku juga mengundang teman-teman Dean. Dean juga akan mengatakan pada teman-temannya."


"Aku belum mengatakan soalnya. Nanti aku pasti memberitahu mereka."


"Okay! Jangan lupa Sabtu depan ya? Aku juga sudah langsung menghubungi Dean untuk menyelesaikan pembayarannya."


"Iya, Mas Dewa."


Mereka lalu mengakhiri panggilannya karena kelas Ara akan segera dimulai.


"Hah? Calon suami?"


"Iya, Ara dan David akan dijodohkan oleh keluarga mereka."


"Kamu serius, Marta?" Sifa tampak kaget. Marta mengangguk.


"Apa Sih! Aku dan Mas David hanya berteman baik, kita bahkan belum mengatakan setuju atau tidak atas perjodohan ini."


"Cie ... cie! Sekarang manggilnya Mas David," ledek mereka bertiga.


"Kata mamaku, aku mulai sekarang harus membiasakan untuk memanggilnya dengan sebutan Mas David karena usia dia lebih di atas aku, itu sebagi bentuk rasa hormat," jelas Ara.


"Benar juga sih. Sebutan itu juga akan membiasakan kamu nanti kalau sudah menikah dengan mas David," ledek mereka lagi.

__ADS_1


"Kalau kamu menolaknya, berarti kamu benaran gadis bodoh. Aku saja kalau dijodohkan dengan pria seperti dia, aku tidak mau memikirkan dua atau bahkan tiga kali, aku langsung menerimanya. Hidupku pasti bahagia," kata Marta.


Ara hanya terdiam tidak menjawab dia sekarang malah memikirkan tentang ucapan Dean yang ingin mengejar seorang gadis yang tadi dia sebutkan sifanya, bahkan Dean sampai meminjam buku seperti itu.


"Apa dia mencintai gadis lainnya, ya? Siapa ya gadis itu? Ya Ampun! Kenapa aku malah memikirkan hal itu?" Ara berdialog sendirian dengan lirih di bangkunya.


Beberapa jam berlalu, dan sekarang tiba waktu istirahat untuk anak-anak di kampus Ara. Ara izin pada teman-temannya tidak ikut istirahat di kantin karena dia akan ke perpustakaan meminjam buku yang dia butuhkan.


"Kamu itu memang mahasiswi yang rajin dan teladan ya? Ujian masih kurang beberapa hari saja sudah belajar dari sekarang."


"Aku kan memang tidak suka mendadak belajar, iya kalau aku tidak pas disibukkan sesuatu jadi tidak bisa belajar, makannya aku mau belajar sekarang saja."


"Di sibukkan rencana pernikahan kamu?"


"Apa sih, Marta? Hal itu masih lama, lagian kalau aku menerima perjodohan ini, Mas David juga akan menungguku sampai lulus dulu. Oh ya! Aku lupa mau memberitahu jika Sabtu depan kita diundang pada acara pesta ulang tahun kecil-kecilan Mas David di cafenya Dean."


"Mas David kamu mau ulang tahun? Dan tadi kamu bilang apa? Di cafenya Dean?" Marta tampak mengerutkan alisnya.


"Iya. Dean itu ternyata pemilik salah satu cafe yang ada di jalan Cenda. Aku sendiri dan Mas David baru mengetahui saat aku diajak mas David makan siang. Ternyata pemilik cafe itu adalah Dean."


"Wah! Tidak menyangka jika diam-diam Dean itu seorang pengusaha muda. Aku jadi makin terpesona sama dia."


"Hu ... kamu itu siapa saja terpesona. Dean, Mas David, siapa lagi?" tanya Tania kesal.


"Biarin saja, aku kan mau berkelana dulu mencari yang terbaik nantinya."


"Kalian jagan lupa datang karena Mas David ingin sekali kalian bisa hadir di sana. Mas David di sini belum mengenal banyak orang, apalagi katanya dia senang dengan kalian yang ramai dan menyenangkan, jadi dia ingin merayakan hari ulang tahunnya secara sederhana bersama kita."


"Kita pasti akan datang, aku juga penasaran ingin melihat cafe milik Dean. Apalagi ada yang membuat aku lebih penasaran, siapa tau di sana ada acara lamaran tak terduga yang akan dilakukan Mas David pada seseorang?" Marta, Sifa, dan Tania melirik berjamaah pada Ara.


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Ya sudah, aku mau ke perpustakaan dulu." Ara berjalan menuju ke ruang perpustakaan.


Ara masuk ke sana dan mulai mencari lorong di mana ada buku yang sedang dia cari. Ara melihat bukunya ada di rak bagian atas, Ara mencoba menjangkaunya, tapi dia tidak sampai. Tiba-tiba ada tangan yang menjulur dan mengambilkan Ara buku yang dia cari.


Saat Ara membalikkan badannya, dia tidak sengaja akan jatuh dan menabrak rak buku yang ada tepat di belakang Ara.

__ADS_1


"Aduh!" Ara melihat siapa yang ada di depannya dan ternyata itu Dean.


Jarak mereka sangat dekat, bahkan Ara dapat mencium aroma tubuh Dean yang sangat segar. Sepersekian menit mereka masih terdiam saling berpandangan.


__ADS_2