My Secret Love

My Secret Love
Membingungkan


__ADS_3

Uni pergi dari sana, Nala mengajak putrinya masuk ke dalam rumah. "Ara, mana Aro? Apa dia tidak ikut kalian pulang?"


"Aro tadi bilang dia masih ada urusan di tempat lain. Mungkin dia sibuk dengan urusan bazar di kampusnya jadi dia mengantar kita dulu pulang lalu dia pergi lagi.


"Anak itu, memang suka menyibukkan diri dengan hal-hal seperti urusan kampus. Oh ya, Ara. Apa Aro tidak pernah cerita sama kamu jika dia dekat denga seseorang? Soalnya Mama lihat beberapa hari yang lalu, dia tampak beda sekali, jadi sering senyum dan lebih peduli begitu."


"Em ... aku tidak tau, Ma. Aro kan orangnya agak tertutup. Ya mungkin dia punya kekasih, tapi dia tidak mau bercerita sama kita. Biarkan saja, Ma. Nanti dia akan mengenalkan sendiri gadis yang dia sukai."


"Mama sih tidak melarang jika Aro mengenal seseorang, hanya saja mama ingin dia mendapat gadis yang benar-benar mengerti Aro."


"Maksud Mama bisa menjinakkan Aro." Ara malah tertawa setelah mengatakan hal itu.


"Dasar ya! Kamu itu, kenapa malah bilang begitu?"


"Maaf, Ma. Aro kan memang orangnya sangat sulit, tapi aku tau, walaupun dia seperti itu, dia itu bisa berbuat hal yang sangat romantis."


"Hal yang romantis? Kok kamu tau? Memangnya Aro pernah melakukan hal romantis dengan siapa?"


"Em--?" Aduh! Ini kenapa mulut pakai bicara yang tidak-tidak. Nanti kalau mamanya sampai tau apa yang dilakukan Aro pada Uni, pasti Aro kena marah dan Uni bisa di pecat.


"Aku cuma menebak, Ma. Biasanya kalau pria itu suka bersikap dingin dan agak pendiam begitu, dia malah bisa melakukan hal yang sangat romantis. Seperti ayah."


"Iya juga sih! Sifat Aro memang seperti ayah kamu, dan ayah kamu memang orang yang romantis dulu sama mama."


"Bahkan sampai sekarang. Aku ingin sekali memiliki suami seperti ayah."


"Bisa saja. David itukan pria romantis kalau kata mama."


"Kenapa menjurusnya ke David?"


"Lalu siapa lagi yang harus Mama sebut? David memang terlihat sebagai pria yang romantis."


"Menurutku dia malah pria yang menyenangkan karena dia suka sekali memberikan joke lucu saat berbicara, aku saja sampai selalu di buat ketawa olehnya."


"Berarti dia calon suami yang bisa selalu membuat istri bahagia, Ara."


"Mama ini apaan sih?" Ara tampak mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Tidak lama ponsel Ara berbunyi. Ara mengambil dari sakunya dan melihat nama David pada layar ponselnya. Pun dengan Nala.


"Ya ampun! Ini David kenapa terasa kalau kita sedang membicarakan dia?"


"Ma, aku terima telepon David dulu, sekalian aku mau rebahan sebentar di kamarku."


"Iya-iya! Mama tau kok kamu tidak mau, Kan, kalau mama mendengar pembicaraan kalian?"


"Siapa yang tidak mau? Lagian David dan aku tidak ada pembicaraan yang aneh-aneh." Ara berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk menerima panggilan David.


"Halo, Ara."


"Halo, Mas David, ada apa?".


"Kamu sudah pulang kuliah ya, Ra?"


"Aku baru saja pulang kuliah tadi di jemput sama Aro."


"Maaf, ya, Ra. Sebenarnya aku tadi mau menjemput kamu pulang kuliah, tapi ternyata pekerjaan aku di sini tidak bisa di tinggal."


"Aku tidak keberatan kok, Ar, melakukan hal itu. Aku senang karena aku seolah memiliki seseorang yang bisa menjadi teman baik untuk bicara seperti kamu."


"Mas David boleh kok menghubungiku jika ada yang ingin di ceritakan, aku akan sangat senang sekali mendengarnya."


"Apa kamu yakin?"


"Tentu saja."


"Kalau aku cerita tentang bisnis, apa kamu nanti malah tidak mengantuk?"


"Hah? Bicara soal bisnis? Aku tidak tau malahan kalau bicara soal itu. Apa tidak ada cerita lainnya?"


"Ahahahaha! Jawaban kamu lucu sekali. Aku hanya bercanda, Ara. Tidak mungkin aku cerita tentang bisnis sama kamu, bisa-bisa pingsan di tempat, aku saja sering membaca dan mempelajari soal bisnis bikin mual sendiri."


"Ahahahaha! Lucu sekali, padahal itu makanan Mas David tiap hari." Mereka saling mengobrol dengan akrab.


Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Seorang pria dengan kacamata sedang duduk menikmati secangkir teh yang sudah hangat, dan di depannya duduk seorang wanita paruh baya memandangi pria itu.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan kamu dengan putramu?"


"Kita masih belum terlalu akrab, tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan mau menerimaku dengan tulus sebagai ayahnya."


"Ini juga karena salah kamu, dari awal kamu tidak mau mengakui jika dia putramu, dan pada akhirnya dia sudah menganggap orang lain sebagai kedua orang tuanya."


"Ibu tau sendiri bagaimana keadaanku waktu itu. Aku sama sekali tidak menyangka akan terjadi seperti ini, aku bahkan tidak memiliki rasa apapun padanya."


"Mungkin dulu dia menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya masuk ke jebakan wanita itu."


Pria itu menyeruput teh hangatnya. "Aku memang bodoh, kenapa melampiaskan kekecewaan aku dengan menidurinya, tapi apa mau di kata lagi. Semua sudah terjadi dan aku sekarang sudah memiliki seorang putra."


"Iya, setidaknya ibu memiliki ahli waris yang nanti akan meneruskan usaha keluarga kita dan putra kamu sungguh pandai dan bisa di banggakan."


"Dia mirip denganku."


"Dia juga mencintai gadis, anak dari wanita yang kamu cintai selama ini, Radit."


"Apa maksud Ibu?" Pria yang di panggil Radit itu melihat pada Ibunya.


"Anakmu jatuh cinta pada seorang gadis anak dari Nala dan Akira. Namanya Ara."


"Anak dari Nala dan Akira?"


"Iya, aku sudah tau lama, dan aku juga sudah mengatakan tentang siapa yang membuat kehidupan yang dialaminya itu ada turut campur dari keluarga gadis yang dicintainya."


"Lalu, apa tanggapan putraku?"


"Dia harus berpikir dua kali untuk mencintai gadis itu, atau dia bisa mendekatinya, tapi buat gadis itu merasakan penderitaan karena ulah orang tuanya pada kamu dahulu." Tatapan wanita paruh baya itu seketika menajam.


"Lalu, apa jawaban dari putraku, Bu?"


"Dia masih belum bisa menentukan pilihan, tapi aku berharap dia mau mengikuti apa yang aku minta. Aku benar-benar dendam pada mereka karena sudah membuat kamu mendekam di balik jeruji besi dan membuat aku dan cucuku menderita."


"Semua ini bukan salah Nala, tapi Akira. Dia sudah menyakiti Nala, tapi kenapa Nala masih sangat membelanya begitu besar. Sampai sekarang aku belum bisa melupakan Nala. Aku masih sangat-sangat mencintainya."


"Kamu memang benar-benar bodoh, Radit. Apa yang kamu cari dari wanita seperti Nala? Kadang ibu kesal dengan perasaan cinta kamu itu."

__ADS_1


__ADS_2