
Kedua bocah yang duduk di meja makan itu tampak sangat menikmati sarapan paginya. baju seragam lengkap dengan penampilan yang sudah rapi si kembar tampak sangat bahagia karena mereka akan memasuki masa belajar untuk pertama kalinya.
"Mama, aku nanti katanya akan di jemput oleh opah rambut putih dan oma cantik," ujar Aro dengan suara kecil khasnya.
"Oh ya? Kamu kata siapa?"
"Opah rambut putih sendiri yang kemarin bicara padaku lewat telepon."
"Kenapa kalian memanggilny opah rambut putih? Harusnya, Kan, opah Addrian?" tanya nenek Anjani.
"Memangnya kenapa, Nek? Panggilan itu juga bagus."
"Iya, lain dari pada yang lain," sahut Nara atau Ara.
"Kalian ini memang pandai sekali sekarang kalau menjawab." Nenek Anjani tersenyum.
"Opah rambut putih senang jika kita memangilnya begitu." Ara menganggukan kepalanya.
Akira dan Nala yang mendengar perkataan si kembar hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tidak lama seperti apa yang diucapkan oleh Aro. Opah mereka datang dan mereka diantar ke sekolah oleh opah rambut putihnya.
Akira dan Nala menemui mereka di depan rumah. "Daddy, Mommy, apa kalian tidak mau masuk untuk sarapan dulu?"
"Tidak, terima kasih, Sayang. Kita mau segera mengantar si kembar ke sekolah, kita sudah tidak sabar mereka masuk ke sekolah di hari pertamanya."
"Maaf, ya Mommy, seharusnya kami yang mengantar mereka, tapi mereka bilang mereka ingin Opah dan Omanya yang mengantar," jelas Nala.
"Tidak apa-apa, Nala. Kami berdua malah senang mereka yang meminta kami untuk mengantar mereka di hari pertama sekolah."
"Ya sudah! Kita mau berangkat dulu. Kita tidak mau cucu-cucuku ini nanti terlambat masuk ke sekolah." Addrian menggandeng kedua cucunya dan masuk ke dalam mobil dan mereka duduk di tengah bersama opah dan omanya.
Di dalam mobil tidak hentinya mereka bernyanyi lagu yang mereka sudah hafal dari kecil. Addrian tampak sangat menikmati perannya sebagai kakek.
"Addrian, aku sangat senang melihat perubahan kamu dalam beberapa tahun kedepan ini. Kamu terlihat berbeda dengan kehadiran cucu kita."
"Mereka berdua telah membuat kehidupanku yang monoton dan kaku terasa lebih indah, Kei." Addrian tersenyum.
__ADS_1
"Iya, kita sekarang hanya tinggal menunggu Rhein juga menikah dan memiliki anak yang nantinya cucu kita akan bertambah lagi."
"Oh ya! Bicara soal Rhein, bagaimana kabarnya di sana? Dia sudah lama tidak menghubungi kita."
"Dia baik, hanya saja pekerjaanya sangat banyak."
"Apa dia tidak pernah bercerita tentang seorang wanita yang dekat dengannya?"
"Rhein sejak memilih merelakan Nala, dia tidak pernah bercerita tentang kehidupannya dengan siapapun di sana. Ya! Kita doakan saja saat pulang dia memberi kita kabar yang baik."
"Aku harap dia tidak salah memilih seorang wanita di sana. Di sana pergaulan sangat bebas. Aku tidak mau Rhein seperti dulu."
"Kita percaya saja sama putra kita, Addrian."
Di perlihatkan suasana malam di California saat ini, di mana Rhein sedang terlelap dalam tidurnya dengan memeluk seseorang di balik selimut hitam di apartemennya.
"Kei, sebentar lagi bukannya ulang tahun pernikahan Nala dan Akira. Apa menurut kamu mereka akan suka jika diam-diam kita membuat acara pesta ulang tahun pernikahan untuk mereka?"
"Sayang, itu ide yang bagus sekali. Aku tidak sampai memikirkan hal itu."
"Selama ini mereka tidak pernah merayakan pesta apapun, bahkan pernikahan mereka saja tidak pernah diadakan pesta."
"Pesta ulang tahun? Memangnya ayah dan mamaku akan berulang tahun ya, Opah?" celetuk Aro yang ternyata bocah ini diam-diam mendengar pembicaraan opah dan omanya.
Kei dan Addrian seketika saling melihat, mereka lupa jika kedua cucunya ini anak-anak yang cerdas. Bagaimana ini jika rencana ini akan bocor sebelum waktunya.
"Kami tidak akan bicara, kok. Asal nanti kita pulang sekolah diajak makan ice cream," celetuk Ara sambil tetap menyisir rambut boneka barbinya yang dia bawa di dalam tasnya.
"Setuju," jawab Aro yang main game tetris di tangannya.
"Ahahahaha! Kalian ini kecil-kecil sudah pandai mengajak negosiasi opah."
"Mereka berdua mirip seseorang?" Kei berpikir dan melirik pada suaminya.
"Mereka mirip denganku," jawab Addrian cepat dan Kei langsung tersenyum.
"Baiklah, opah dan oma nanti akan mengajak kalian makan ice cream kesukaan kalian, tapi kalian makan siang dulu. Oma tidak mau kalau sampai kalian sakit karena makan ice cream saat perut kosong."
__ADS_1
"Iya, mama nanti bisa ngomel," ucap Aro.
Mereka berempat tertawa bersama di dalam mobil. Tidak lama mereka sampai di sebuah gedung sekolah. Nala sengaja tidak menyekolahkan kedua anaknya di sekolah yang mewah, pilihan dan elit. Cukup sekolah yang menurutnya kedua anaknya bisa belajar dan mendapat pengajaran dengan baik. Nala tidak terlalu mengistimewahkan semua fasilitas dan kemewahan pada kedua anaknya.
Akira yang tau sifat istrinya yang sederhana dari dulu hanya bisa mengizinkan dan percaya jika Nala bisa mendidik kedua anaknya dengan baik.
"Kami akan mengantar kalian ke ruang kelas kalian. Bolehkan?"
"Tentu saja boleh, Oma, Opah."
Ara dan Aro ingat saat mereka di ajak oleh mamanya waktu mendaftar di sana, dan guru mereka menunjukkan kelas dengan dekorasi banyak bentuk bunga dan binatang yang terbuat dari kertas lipat, serta ada banyak sekali lukisan dari anak-anak yang dulu menempati kelas itu.
"Ini kelas kita, Opah, Oma. Baguskan?" ucap Aro
"Wow! Bagus sekali kelas kalian. Di sini juga sangat indah dan nyaman."
"Menantu kamu memang beda, aku menawari masuk sekolah Taman Kanak-Kanak di mana putra-putra kita sekolah dulu, tapi dia malah memilih di sini," ujar Addrian.
"Apa kamu masih belum mengenal menantu kamu itu, Addrian? Tapi sekolah ini juga salah satu sekolah terbaik di sini."
Tidak lama terdengar suara tangisan anak perempuan. Ara melihat ada di salah satu sudut bangku ada anak perempuan yang menangis dan ada boneka di atas mejanya. Ara menghampiri anak itu.
"Kamu kenapa menangis?"
"Boneka bu guru rusak, aku tidak sengaja merusakkannya. Aku takut di marahi bu guru." Gadis kecil itu kembali menangis.
"Jangan menangis, nanti minta maaf saja sama bu guru. Aku yakin bu guru tidak akan memarahi kamu kalau kamu meminta maaf."
"Ini tidak rusak, hanya tangannya patah. Sini! Biar aku betulkan." Aro mengambil boneka barbie itu dan memasang kembali tangannya yang copot. "Sudah bisa, Kan?" Aro memberikan boneka itu pada gadis kecil yang menangis dan gadis itu langsung tersenyum.
"Terima kasih," ucapnya lembut. Aro hanya tersenyum kecil dan kembali duduk di bangkunya.
"Dia Aro, saudara kembarku. Nama kamu siapa? Aku Ara." Ara mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan.
"Namaku Sita." Gadis itu menerima jabatan tangan Ara.
"Kalau begitu kita main boneka sama-sama. Kamu mau, Kan?" Sita mengangguk dan Ara mengeluarkan boneka dari dalam tasnya.
__ADS_1
Aro duduk di bangkunya sambil membaca buku cerita yang ada di dalam kelasnya.