My Secret Love

My Secret Love
79


__ADS_3

Sementara di sisi Husna dan Azzam, pasangan suami istri yang besok akan melakukan pesta resepsi pernikahan mereka itu pun tentu saja saat ini suasana hati kedua nya sangat baik dan seperti nya memang selalu baik. Kedua nya adalah pasangan yang menikah yang di awali hanya dengan sebuah perasaan sepihak dari Azzam saja. Tapi kemudian ternyata kedua nya adalah pasangan yang sudah mengenal sebelum nya.


“Mas, aku lihat Gentala suka sama Zahra.” Ucap Husna.


Azzam yang menyetir pun tersenyum mendengar ucapan istri nya itu, “Mas juga tahu itu sayang. Bukan hanya Gentala saja. Tapi seperti nya Zahra juga mengagumi pria itu.” balas Azzam.


“Lalu bagaimana denganmu mas?” tanya Husna menatap lekat suami nya itu.


Azzam pun melirik istri nya bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh istri nya itu, “Maksud nya sayang?” tanya Azzam.


“Ck, mas masa gak ngerti sih. Itu loh apa mas setuju Gentala jadi adik ipar mas?” tanya Husna.


Azzam yang mendengar ucapan sang istri pun terkekeh, “Ouh itu … mas pikir apa. Jadi mas sedikit ngelek.”


“Adik ipar? Hum, mas gak punya kriteria tertentu untuk menentukan adik ipar. Selama adik menyukai pria itu dan pria itu juga mencintai nya. Kenapa tidak?” ucap Azzam.


“Terus bagaimana dengan finansial nya? Mas, aku tahu memang menikah itu pasti akan ada rezeki sendiri. Tapi bukan kah tetap saja sebagai seorang saudara mas juga harus memikirkan hal ini. Aku bukan mengatakan bahwa Gentala belum cukup mampu untuk itu karena Gentala itu sepupu nya Gilang yang note bene nya adalah keluarga kaya. Tapi--” ujar Husna tidak melanjutkan perkataan nya.

__ADS_1


“Mas tahu apa yang kau khawatirkan sayang. Mas juga tentu saja akan melakukan hal itu. Mas pasti akan melakukan seleksi untuk itu. Tapi tentu saja mas tidak akan jadi penghalang untuk kisah cinta adik mas. Mas tidak ingin memaksa nya.” Ucap Azzam.


“Aku tidak ingin Zahra menderita mas. Itu saja. Aku bukan tidak setuju Zahra dengan Gentala. Tapi mereka bisa di hitung seumuran dan masih sangat muda untuk membina sebuah rumah tangga. Aku memang tidak memungkiri takdir yang jika memang mendekatkan mereka. Hanya saja jika kita bisa mencegah hal itu kenapa tidak di lakukan. Aku ingin Zahra menikah saat dia sudah siap.” Ucap Husna mengeluarkan unek-unek atas kekhawatiran nya terhadap adik ipar nya itu.


Entah kenapa dia sangat mengkhawatirkan adik ipar nya itu. Dia ingin yang terbaik untuk kehidupan Zahra. Dia ingin Zahra mendapatkan pasangan yang mampu mengerti Zahra sama seperti suami nya yang sangat mengerti diri nya. Sungguh, Azzam adalah definisi suami sempurna dan terbaik menurut versi nya.


Azzam pun tersenyum mendengar penuturan istri nya yang memang sangat kentara dia mengkhawatirkan Zahra melebihi diri nya yang nota bene nya adalah kakak kandung Zahra. Tapi dia senang karena hal itu. Bukan kah setiap kekhawatiran timbul karena rasa sayang. Seperti nya istri nya itu sudah sangat menyayangi adik nya, “Mas tahu apa yang kau takutkan sayang. Kita akan mengusahakan yang terbaik untuk mengatasi apa yang kita takutkan dan kita khawatirkan itu tidak terjadi. Bukan kah kita juga terhitung menikah muda.” Ucap Azzam.


“Aku tahu mas. Tapi berbeda. Kita memang menikah muda tapi kau adalah sosok suami yang bertanggung jawab. Aku tidak mengatakan Gentala tidak akan bertanggung jawab tapi aku tetap saja takut dan khawatir jika harus melepaskan adik iparku kepada seseorang yang belum aku tahu seluk beluk nya.” Ucap Husna.


“Maaf mas jika aku terlihat sangat protektif pada adikmu. Kau saja kakak nya tidak begitu. Tapi aku justru seperti ini. Aku hanya takut mas.” Sambung Husna.


Husna pun hanya bisa menarik nafas panjang dan mengangguk saja membenarkan ucapan suami nya, “Aku sangat menyayangi nya seperti adik kandungku sendiri mas. Aku tidak ingin adikmu salah memilih. Cinta memang penting tapi jangan sampai buta karena itu. Hidup tidak akan bisa di jalani jika hanya dengan cinta saja. Tetap harus ada pendapatan dan penghasilan untuk merawat nya agar tetap awet. Aku realistis mas.” Ucap Husna.


“Mas tahu itu sayang. Tapi kini mas jadi tertarik kenapa kamu menerima lamaran mas saat itu padahal kamu gak tahu seperti apa calon suamimu.” Ucap Azzam mengalihkan pembicaraan.


Topik tentang Zahra seperti nya harus di tunda dulu karena seperti nya istri nya sedang sensitif ketika membahas Zahra. Lebih baik cari topic pembahasan lain.

__ADS_1


“Aku percaya pada pilihan abi dan umi. Mereka tidak akan menyerahkan putri tunggal dan kesayangan mereka ini pada sembarang pria. Untuk itu lah aku setuju menerima lamaranmu Mas. Selain itu juga di pengaruhi oleh factor the power is kepepet. Aku tidak punya pilihan. Maaf jika ini terlalu jujur mas tapi memang ini lah yang terjadi saat itu.” ucap Husna sangat jujur.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu pun tersenyum, “Lalu kenapa kau tidak khawatir dengan finansial calon suamimu? Apa kau pernah menanyakan itu kepada abi dan umi?” tanya Azzam lagi.


“Aku memang tidak menanyakan itu. Tapi bagiku tidak masalah jika memang finansial suamiku tidak seberapa karena aku punya penghasilan sendiri.” Ucap Husna.


Azzam pun lagi-lagi tertawa, “Kau ini ya sayang. Aneh. Masa iya hidupmu kau tidak khawatirkan tapi orang lain kau khawatirkan. Bagaimana jika memang benar kau menikahi pria yang finansial di bawah kata cukup.” Ucap Azzam.


“Hum, tapi kenyataan nya tidak bukan. Suamiku saat ini bahkan sangat kaya. Aku tidak akan memikirkan hal yang tidak terjadi padaku. Menambah beban pikiranku saja mas.” Ucap Husna tersenyum.


Azzam pun ikut tersenyum, “Begitu yaa. Terima kasih sudah menerima mas.” Ucap Azzam.


“Jangan selalu mengatakan itu mas. Aku sampai bosan mendengar ucapan terima kasihmu itu. Ini adalah takdir kita. Aku senang bisa menjadi istrimu walaupun aku juga menikah di usia muda. Tapi jika suamiku sepertimu mas maka aku pun siap menikah di usia lebih muda lagi.” Ucap Husna tersenyum.


Azzam yang mendengar ucapan istri nya itu tentu saja senang. Istri nya memang sangat pandai membuat nya senang hanya dengan perkataan nya saja.


“Jadi plan kehidupan nya sudah di ubah nih?” tanya Azzam.

__ADS_1


Husna mengangguk, “Sudah di ubah total mas. 360 derajat. Kau mengubah semua planning yang ku buat. Tapi aku senang akan hal itu. Aku menerima nya dengan senang hati.” Ucap Husna dengan senyuman di bibir nya. Azzam pun ikut tersenyum.


Kedua nya memang saling mencintai dan sangat menghargai pernikahan mereka itu walaupun mereka menikah di usia muda. 21 dan 26 tahun adalah usia muda tapi mereka memiliki kedewasaan mereka sendiri sehingga mampu mengelola rumah tangga mereka dengan baik.


__ADS_2